Adora Svitak adalah penulis cerita pendek dan blogger yang sangat produktif sejak ia berusia 7 tahun (saat ini ia berusia 12 tahun). Ia gila membaca sejak berusia 3 tahun, dan keseriusannya dalam menulis sejak usia 5 tahun hanya dibatasi oleh kemampuannya menulis tangan serta mengeja kata-kata. (Namun kemampuan verbalnya sudah setara dengan anak yang dua kali lebih tua dari dirinya.) Sejak ibunya membelikan laptop, ia pun tidak terhentikan. Saat ini ia aktif mengampanyekan literasi dengan berbicara di depan ribuan pendidik dan siswa. Video di bawah ini adalah saat ia berbicara di konferensi TED, yaitu konferensi tempat para pakar top dunia saling berbagi ide. Sebuah pidato yang memukau tentang bagaimana orang dewasa bisa belajar dari anak-anak.

Berikut ini transkrip terjemahannya:

Saya ingin memulai dengan sebuah pertanyaan, “Kapan terakhir kali Anda dibilang kekanak-kanakan?” Untuk anak-anak seperti saya, dibilang kekanak-kanakan seringkali terjadi. Setiap kali kami mengajukan permintaan irasional, menunjukkan perilaku tidak bertanggung jawab, atau memperlihatkan ciri-ciri lain menjadi warga negara Amerika yang normal, kami dibilang kekanak-kanakan. Ini sebenarnya cukup mengganggu bagi saya.

Lagipula, coba lihat contoh-contoh berikut: imperialisme, kolonialisme, perang dunia, George W. Bush… Tanya diri Anda sendiri, siapa yang bertanggung jawab untuk hal-hal tersebut? Orang dewasa!

Coba lihat lagi apa yang telah dilakukan oleh anak-anak? Anne Frank menyentuh hati jutaan orang melalui catatan pribadinya tentang holocaust, Ruby Bridges membantu mengakhiri diskiriminasi dan segregrasi rasial di Amerika Serikat, dan baru-baru ini, Charlie Simpson dengan sepeda kecilnya membantu menginisiasi pengumpulan dana sebesar $120.000 untuk disumbangkan pada korban gempa Haiti.

Jadi dengan melihat contoh-contoh tersebut, Anda bisa menyimpulkan bahwa usia bukan lah faktor utama. Karena sifat-sifat yang hendak digambarkan oleh kata “kekanak-kanakan” justru sering muncul di orang dewasa, maka selayaknya lah kita menghapus penggunaan kata yang mendiskriminasi usia ini untuk mengkritisi cara berpikir irasional dan bertindak tidak bertanggung jawab.

Namun kalau kita pikir lebih jauh, siapa yang bisa memastikan bahwa pemikiran irasional tertentu justru tidak diperlukan di dunia ini? Mungkin Anda dulu pernah punya rencana besar, namun kemudian berhenti dan berpikir, “Hmm, itu sepertinya tidak mungkin terwujud!” atau, “Biayanya terlalu mahal!” atau, “Hal itu tidak akan membawa manfaat untukku.” Kami para anak-anak tidak terlalu terbebani oleh pikiran-pikiran semacam itu saat mempertimbangkan untuk tidak melakukan sesuatu. Anak-anak bisa dipenuhi dengan aspirasi inspiratif dan pemikiran penuh harap. Seperti harapan saya bahwa tidak akan ada orang kelaparan lagi atau semua di dunia ini bisa diperoleh dengan gratis. Berapa dari Anda yang masih memiliki impian seperti itu dan percaya dengan kemungkinan terwujudnya?

Kadang-kadang, pengetahuan tentang sejarah dan kegagalan dari cita-cita idealis masa lalu dapat menjadi beban, karena Anda tahu kalau semuanya menjadi gratis maka stok makanan akan cepat berkurang dan semuanya akan menjadi kacau. Namun di sisi lain, kami para anak-anak masih memimpikan kesempurnaan. Ini adalah hal yang baik, karena sebelum membuat sesuatu menjadi kenyataan, kita harus memimpikannya terlebih dahulu.

Dalam banyak hal, kengototan kita untuk bermimpi dapat membantu mendorong batasan-batasan kemungkinan. Contohnya Museum of Glass di negara bagian Washington, tempat asal saya, memiliki program “Kids Design Glass” di mana anak-anak merancang seni pecah belah mereka sendiri. Beberapa seniman profesional di museum ini mengatakan bahwa mereka mendapat ide-ide terbaik mereka setelah terinspirasi dari rancangan anak-anak di program itu, karena anak-anak tidak dibatasi oleh pikiran bahwa akan sulit memproduksi pecah belah dengan bentuk-bentuk tertentu. Anak-anak itu hanya memikirkan desain yang terlihat bagus. Ketika Anda berpikir tentang desain seni pecah belah, mungkin Anda akan berpikir desain konvensional yang penuh warna, atau mungkin desain vas Italia. Namun anak-anak menantang para orang dewasa untuk membuat lebih dari itu, dengan bentuk-bentuk semacam “Ular Patah Hati”, atau “Bacon Boy”. Seperti Anda lihat, mereka memiliki visi yang unik.

Sebenarnya, “kebijaksanaan bawaan” anak-anak tidak selalu berarti berasal dari diri sendiri. Anak-anak belajar banyak dari orang dewasa dan kami memiliki banyak hal untuk dibagi. Saya pikir orang dewasa pun seharusnya mulai belajar dari anak-anak. Saya sering berpidato di depan orang-orang berpendidikan seperti para guru dan siswa, dan saya suka dengan analogi berikut: daripada para guru berdiri di depan kelas memberitahu para siswa bahwa mereka harus melakukan ini dan itu, para siswa malah seharusnya mengajari para gurunya. Proses pembelajaran antara orang dewasa dan anak-anak seharusnya bersifat timbal balik.

Sayangnya, kenyataannya sedikit berbeda dan hal itu banyak disebabkan oleh faktor kepercayaan, atau lebih tepatnya, ketidakpercayaan. Bukankah bila Anda tidak percaya pada seseorang maka Anda akan menempatkan banyak batasan untuk dirinya? Contohnya, bila saya meragukan kemampuan kakak saya untuk mengembalikan pinjaman uang terakhirnya dari saya dengan bunga 10%, maka saya akan membatasi akses bagi dirinya untuk mendapatkan uang dari saya lagi sampai ia membayar pinjaman terakhirnya. Ini kisah nyata lho.

Para orang dewasa sepertinya memiliki sikap di mana mereka sangat membatasi anak-anak, mulai dari membatasi cara penggunaan buku catatan sampai membatasi pemanfaatan internet di sekolah. Sejarah telah membuktikan bahwa rezim pemerintahan mulai menekan rakyatnya saat rezim ini merasa takut akan kehilangan kendali. Walaupun para orang dewasa tidak sampai pada level seperti para rezim totalitarian itu, namun anak-anak tidak ikut punya suara dalam menentukan peraturan-peraturan bagi mereka. Padahal hubungan ini seharusnya bersifat timbal balik. Maksudnya, orang dewasa seharusnya juga belajar dan mempertimbangkan aspirasi generasi yang lebih muda.

Ada lagi yang lebih parah dari pembatasan, yaitu saat orang dewasa sering meremehkan kemampuan anak-anak. Kami suka tantangan, namun saat ekspektasi terhadap kami rendah-rendah saja, percayalah, kami hanya akan menghasilkan sebatas itu saja. Orang tua saya tidak memiliki ekspektasi rendah terhadap saya dan kakak perempuan saya. Mereka memang tidak mengatakan pada kami agar menjadi dokter atau pengacara atau yang lainnya, namun ayah kami membacakan karya-karya Aristoteles dan buku “Pioneer Germ Fighters” pada kami ketika anak-anak lain membaca dongeng anak-anak. Ya, kami juga dibacakan dongeng anak-anak, namun buku “Pioneer Germ Fighters” itu keren sekali!

Saya suka menulis sejak saya berusia empat tahun, dan ketika saya berusia enam tahun, ibu saya membelikan saya sebuah laptop lengkap dengan Microsoft Word-nya. Terima kasih Bill Gates, dan terima kasih Ibu. Saya telah menulis 300 cerita pendek dengan laptop itu dan saya ingin sekali cerita-cerita itu diterbitkan. Alih-alih meremehkan atau mengatakan pada saya, “Tunggu sampai kamu dewasa,” orang tua saya sangat mendukung. Namun banyak penerbit yang tidak mendukung. Salah satu penerbit buku anak-anak terbesar secara ironis mengatakan bahwa mereka tidak berbisnis dengan anak-anak. Penerbit buku anak-anak tidak bekerja sama dengan anak-anak? Mereka mengabaikan konsumen yang sangat besar!

Salah satu penerbit, Action Publishing, bersedia melakukan lompatan besar dengan mempercayai saya dan mendengarkan apa pendapat saya. Mereka menerbitkan buku pertama saya, Flying Fingers, dan setelah itu saya mendapat banyak undangan untuk berbicara di ratusan sekolah dan di depan ribuan pemirsa seperti para pendidik, dan sampai akhirnya hari ini, saya berbicara di depan Anda semua. Saya sangat menghargai perhatian Anda hari ini, karena dengan menunjukkan Anda benar-benar peduli, Anda mendengarkan.

Namun ada juga masalah dengan gambaran yang berbunga-bunga tentang bagaimana anak-anak lebih baik daripada orang dewasa ini. Anak-anak toh akhirnya akan tumbuh menjadi orang dewasa, seperti Anda semua. Atau benarkah akan menjadi seperti Anda? Tujuannya sebenarnya bukan mengubah anak-anak menjadi seperti Anda, namun menjadi orang dewasa yang lebih baik daripada Anda. Ini tentu pekerjaan yang menantang bagi orang dewasa. Namun, dunia ini berkembang karena generasi baru umat manusia tumbuh dan berkembang menjadi lebih baik daripada generasi sebelum mereka. Ini adalah alasan kita tidak berada di jaman kegelapan lagi.

Apapun posisi Anda dalam kehidupan ini, sangatlah penting menciptakan kesempatan bagi anak-anak agar kami dapat tumbuh dan mengejutkan Anda dengan karya-karya kami. Wahai para orang dewasa, Anda perlu mendengarkan kami anak-anak, dan memercayai kami  serta berharap lebih banyak dari kami. Anda harus “meminjamkan telinga” Anda hari ini, karena kami adalah para pemimpin di masa depan. Artinya, kami lah yang akan mengambil tanggung jawab mengurus dunia ini untuk Anda nanti. Kami akan menjadi generasi berikutnya, generasi yang akan membawa dunia ini maju ke depan.

Dunia ini memerlukan kesempatan untuk pemimpin baru dan ide-ide baru. Anak-anak memerlukan kesempatan untuk memimpin dan menjadi sukses. Apakah Anda siap untuk mempertemukan kedua hal ini? Karena masalah-masalah dunia ini tidak seharusnya menjadi masalah turun temurun bagi umat manusia. Terima kasih.***