Agenda pendidikan kita bukan lagi bagaimana meningkatkan kualitas sekolah kita. Mengapa? Saya akan memaparkan sedikit penjelasannya

Berawal dari proses pematangan TemanTakita.com sebagai jejaring belajar di jaman digital yang dipertajam obrolan di twitter dengan @kreshna. Ada dua pertanyaan mendasar mengenai agenda pendidikan kita, pertanyaan lama, bagaimana meningkatkan kualitas sekolah kita. Dan selama ini, pemerintah, masyarakat dan bahkan dunia bisnis sibuk memberikan jawaban atas pertanyaan tersebut. Hasilnya? Berita terbaru ya mengenai carut marutnya Kurikulum 2013.

Kata Pak Ino, ketika memberikan berbagai jawaban dan jawaban tersebut tidak memuaskan maka kita perlu memikirkan kembali pertanyaan kita. Jawaban keliru atas pertanyaan yang benar memang tidak benar. Tapi jauh lebih berbahaya adalah upaya memberikan jawaban benar atas pertanyaan yang keliru. Kalau kualitas sekolah kita masih jalan ditempat, kita perlu melihat kembali pertanyaan yang menentukan agenda pendidikan kita.

Bila pertanyaan agenda pendidikan bukan bagaimana meningkatkan kualitas sekolah, lalu apa pertanyaan alternatifnya? Ada banyak pertanyaan, silahkan bila punya pertanyaan yang nyeleneh atau ajaib

Saya sepakat dengan pertanyaan alternatif yang diajukan oleh @kreshna, seandainya tidak ada sekolah, bagaimana kita merancang pendidikan ideal abad ke-21? Atau dalam istilah tim TemanTakita.com, bagaimana pendidikan ideal di jaman digital? Mengapa pertanyaan ini menarik? Begini…

Saya mengutip dua pernyataan Daniel Rosyid yang relevan untuk menjawab kebutuhan mengapa perlu mengajukan pertanyaan baru.

Perlu diicermati bahwa grand design persekolahan kita tidak berubah banyak sejak Belanda membukanya di Hindia Belanda untuk pertama kali hingga kita memasuki Abad 21 ini : menyiapkan pegawai – Daniel Rosyid di Masalahnya adalah Sekolah

“Di abad internet ini, belajar semakin tidak membutuhkan sekolah. Yang dibutuhkan adalah sebuah jejaring belajar (oleh Ivan Illich disebut learning web) yang lentur dan luwes” – Daniel Rosyid di Kurikulum 2013 

Sekolah dirancang sebagai lembaga pendidikan pada suatu jaman dengan suatu kebutuhan tertentu. Sekolah adalah solusi pada jamannya, jaman industri. Apa kebutuhan jaman industri? Buruh dan pegawai yang mempunyai kemampuan standar untuk bekerja pada organisasi dan lingkungan yang cenderung stabil. Kata kunci: standarisasi dan efisiensi. Standarisasi mulai dilakukan dari input (kualitas calon siswa, tahap pendidikan sebelumnya), proses pembelajaran (kualitas guru dan kurikulum) hingga output (ujian nasional). Hasilnya mungkin memuaskan untuk menjawab kebutuhan industri.

Generasi Digital Sayangnya, jaman tidaklah tidak berubah. Jaman mengalami perubahan, bisa dimaknai kemajuan maupun kemunduran, yang jelas berubah. Perubahan bukan sekedar perubahan pada tingkat kulit, tapi mendasar. Kita bisa lihat bagaimana sistem sosial politik yang mengalami “demokratisasi”. Sistem ekonomi yang semakin terintegrasi secara global. Teknologi yang juga mengalami perubahan dan berdampak pada kehidupan sehari-hari.

Perubahan jaman tersebut tidak mengubah kebutuhan masyarakat terhadap lembaga pendidikan. Lembaga pemerintahan tidak ajeg seperti jaman dulu yang murid-murid bisa menghafalkan nama menteri dan propinsi di Indonesia. Lembaga bisnis pun mengalami trasnformasi, tidak lagi butuh calon karyawan yang siap kerja, tapi calon karyawan yang siap belajar. Lembaga sosial politik tidak lagi menuntut warga negara yang patuh dan pasif, tapi warga negara yang aktif dan berpartisipasi dalam proses sosial politik. Mata pencaharian pun tidak selalu terjawab dengan menggantungkan diri pada organisasi besar, tapi bisa dengan jalan mandiri & kreatif.

Perubahan jaman tersebut bahkan juga mengubah anak-anak kita, peserta lembaga pendidikan. Anak-anak generasi digital mempunyai karakteristik yang berbeda dengan Soekarno – Hatta pada masa anak-anak. Perkembangan teknologi informasi telah melahirkan generasi digital native yang setidaknya mempunyai ciri sebagai berikut:

Ketika kebutuhan jaman telah berubah, masihkah sekolah yang menjadi solusi di masa lalu, menjawab kebutuhan tersebut? Ketika karakteristik anak-anak kita berubah, masihkah sekolah masih bisa membangun budaya belajar? Dua pertanyaan yang patut untuk kita tanyakan di masa kini. Tapi kita menyiapkan lembaga pendidikan bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan masa kini. Anak-anak kita akan tumbuh besar dan  menghadapi kebutuhan masa depan, yang sudah berbeda lagi dengan kebutuhan masa kini.

Jadi, saya akhiri tulisan ini dengan ajakan untuk menunda bayangan kita mengenai sekolah dan mengajukan pertanyaan pada diri sendiri, bagaimana  pendidikan ideal di jaman digital? Itulah agenda pendidikan kita di jaman digital. Ada yang mau sumbang pendapat? Memberikan pendapat ngawur lebih baik dari hanya membaca dan diam 😀