Paling sebal kalau di jalan melihat pengendara motor membonceng anak kecil lalu melanggar lampu merah walaupun jalan sedang benar-benar kosong. Atau membawa anak menyeberang jalan tidak pada tempatnya walaupun tidak ada kendaraan yang sedang melintas. Atau saat ada telepon dari orang yang tidak disukai lalu meminta istri mengangkat dan bilang tidak ada, saat anaknya sedang ada di dekatnya dan turut melihat. Atau saat menggosipkan kejelekan orang lain saat arisan padahal ada anak-anak yang turut mendengarkan. Apa tidak terpikir ya kalau saat itu anak-anak merekam dalam otak apa yang dilakukan orang tuanya, mencernanya sebagai tindakan yang tidak mengapa untuk dilakukan, dan siap menirunya lain kali. Anak-anak sangat hebat dalam observational learning. Mereka belajar dari apa yang mereka lihat. Coba lihat video di bawah ini, lalu saya akan bahas lebih jauh soal ini.

 

 

Pesan di video itu sangat jelas, bukan? Sekarang saya beri sedikit dasar teorinya dulu. Observational learning terjadi saat seseorang belajar dari melihat, mengingat, dan mereplikasi perilaku orang lain. Orang dewasa juga melakukan hal ini, namun pada anak kecil efeknya lebih besar. Ketika bicara observational learning, selalu dibahas juga tentang Bobo Doll Experiment yang dilakukan psikolog Albert Bandura. Sekumpulan anak berusia 3-6 tahun dibagi menjadi tiga kelompok. Anak-anak ini secara bergiliran diletakkan dalam satu ruangan berisi mainan agresif (palu, pistol, dll) dan mainan tidak agresif (boneka, mobil mainan, dll). Dalam ruangan itu juga ada satu orang dewasa dan juga ada Bobo Doll. Di kelompok pertama, anak-anak itu melihat si orang dewasa melakukan tindakan agresif kepada Bobo Doll, baik secara fisik maupun verbal. Di kelompok kedua, si orang dewasa tidak melakukan tindakan agresif kepada Bobo Doll, malah mengabaikannya. Kelompok ketiga adalah kelompok kontrol, di mana tidak ada orang dewasa dalam ruangan. Setelah itu, anak-anak itu dipindah ke ruangan lain yang berisi mainan yang sama dan kemudian diamati. Hasilnya?

Anak-anak di kelompok kedua dan ketiga tidak menunjukkan perilaku agresif terhadap Bobo Doll. Sedangkan anak-anak di kelompok pertama menirukan apa yang dilakukan orang dewasa yang agresif, malah secara lebih parah. Orang dewasa dalam ruangan tidak menggunakan pistol mainan untuk menyerang Bobo Doll, hanya menggunakan palu dan tangan kosong. Namun anak-anak kecil sesudahnya menggunakan pistol mainan juga untuk menyerang Bobo Doll. Dalam kelompok kedua dan ketiga, anak-anak tidak tertarik pada pistol mainan. Seram juga kan?

 

 

Eksperimen Bobo Doll ini menimbulkan banyak diskusi, debat, dan eksperimen lanjutan. Saya bukan psikolog, jadi saya tidak bisa membahas lebih dalam soal eksperimen ini. Bila ada yang psikolog, silahkan menambahkan apa yang perlu kita tahu dari eksperimen ini di bagian comment. Namun tanpa eksperimen ini pun kita sudah bisa tahu sendiri dengan memperhatikan anak-anak. Mereka memang peniru yang ulung. Anak-anak sudah terbiasa mengobservasi dan meniru orang tuanya bahkan sebelum mereka masuk sekolah, yaitu mulai dari saat belajar berjalan dan belajar berbicara menirukan kata uamg diucapkan orang tua. Saat anak bersekolah, mereka mulai meniru apa yang dilakukan teman-temannya atau oleh anak yang lebih tua atau yang mereka lihat di televisi. Saat mereka masuk usia remaja, mereka mulai saling meniru dan menyesuaikan dengan “gank”-nya. Coba pikirkan, perilaku apa yang ditiru anak-anak Anda dari teman-temannya saat ia bersekolah?

Dalam versi eksperimen Bobo Doll yang lain, anak-anak dibagi menjadi tiga kelompok, semuanya melihat orang dewasa memukuli Bobo Doll. Bedanya ada di akhir eksperimen. Kelompok pertama melihat si orang dewasa dimarahi dan dihukum oleh peneliti karena memukuli Bobo Doll. Kelompok kedua melihat orang dewasa malah dipuji dan diberi hadiah karena berperilaku agresif pada Bobo Doll. Kelompok ketiga tidak diberi kedua ending ini sama sekali. Hasilnya pada kelompok di mana perilaku buruk orang lain itu dibiarkan atau malah mendapat hukuman, anak-anak secara signifikan lebih meniru tindakan buruk itu.

Dari semua eksperimen di atas kita bisa belajar bahwa kita mutlak berperilaku yang baik saat ada anak-anak, karena mereka akan memperhatikan dan meniru kita. Guru juga harus demikian saat ada murid-muridnya. Kalau sudah terlanjut berperilaku buruk jangan malah gembira (misal, jadi senang karena berhasil membujuk polisi untuk tidak menilang dengan cara berbohong), tapi tunjukkan penyesalan di depan anak agar mereka tahu bahwa itu adalah salah. Observational learning ini juga bisa kita manfaatkan untuk mengajarkan perilaku tertentu pada anak. Bagaimana cara membuat anak senang membaca? Bacakan buku cerita pada mereka dan tunjukkan bahwa kita pun senang dan mendapat kepuasan dari membaca. Kalau ingin anak mendapat pembelajaran yang baik saat mereka mengobservasi sekelilingnya, maka kita harus menjadi contoh ideal seperti bersikap ramah, kooperatif, suka membantu orang lain, dan baik hati. Jadi ingat, kalau sedang bawa anak dalam kendaraan di hari Minggu saat jalanan kosong, jangan langgar lampu merah!***