Surat untuk Charlie Owen

Posted by on 17 Dec 2014 in blog | 0 comments

Pada pertengahan tahun 2014 lalu, sebuah surat dari seorang kepala sekolah di Inggris kepada siswa-siswa kelas 6 di SD-nya menjadi pembicaraan hangat di Internet. Surat tersebut menjadi penyerta hasil ujian standar yang dikirimkan kepada setiap siswa. Walaupun ada kontroversi tentang apakah surat tersebut merupakan hasil plagiarisme atau bukan, namun banyak orang merasa surat tersebut sangat perlu dibaca oleh para orangtua, guru dan pengelola pendidikan.

Read More

Kami Bermain, Kami Belajar

Posted by on 7 Dec 2014 in blog | 1 comment

Proyek board game sejarah murid-murid saya masuk Kompas hari Sabtu, 6 Des 2013 di rubrik INOVASI PENDIDIKAN. Proyek ini membutuhkan sekitar 3 minggu persiapan utama, dan beberapa hari untuk perbaikan detail.. Tidak banyak waktunya, karena mau mengejar kesempatan sharing juga di bincang edukasi, but you did it very well, kiddos! Semua jerih payah tidak ada yang sia-sia.. terima kasih untuk Pak Andy Sutioso (Korrdinator Utama Rumah Belajar Semi Palar) atas kemewahan eksplorasi, Fitri Hapsari (rekan fasilitator) buat kerja samanya, dan terutama untuk mas Eko Nugroho dan semua tim KummaraSebuah kehormatan bagi saya sebagai fasilitator saat kegiatan yang kami rancang di kelas diliput media besar dan semoga bisa bermanfaat bagi guru dan pembaca lain. 

Read More

Pembelajar Seumur Hidup*

Posted by on 25 Nov 2014 in blog | 0 comments

Oleh : Ardanti Andiarti

 

“Education is not preparation for life. Education is life itself.”

John Dewey

 

Bagi yang berkecimpung di dunia pendidikan, petikan di atas tentu tidak asing bagi kita. Nama John Dewey ini cukup sering lalu lalang di banyak artikel dan buku-buku pendidikan. Beliau bukan hanya dikenal sebagai tokoh pendidikan dan psikolog saja, namun juga diakui sebagai seorang filsuf, jurnalis, politikus juga. Saat memahami dan mengintepretasi sebuah petikan, kita perlu mencoba untuk melihat konteks bagaimana petikan itu bisa muncul : Siapa yang menuliskannya? Bagaimana latar belakangnya?  Apa tujuannya? Apa makna pendidikan untuk beliau? Persiapan macam apa yang dimaksud di situ? 

Kali ini saya hanya mencoba untuk mengambil makna di “kulit”-nya saja dahulu. Ketika kita terus belajar dan membiasakan untuk mengambil makna dalam setiap kejadian dalam hidup kita, ya betul, education is life itself. Sebuah pendidikan yang “tidak disengaja”. Kita menjalani apa yang menjadi ketetapan Tuhan. Melalui berbagai kesempatan, ujian, cobaan, Tuhan “mendidik” kita menjadi manusia yang lebih baik dan lebih baik lagi. Naik kelas dengan ujian yang lebih berat. Tinggal bagaimana kita menjadikan diri kita sebagai murid kehidupan. Bagaimana kita menjalani kehidupan adalah sebuah proses belajar.

Tapi, mengapa saat itu beliau berpikir bahwa sebagian orang menanggap pendidikan itu sebuah persiapan untuk hidup? Apa mungkin pendidikan yang dimaksud itu adalah sekolah? Sepertinya kita perlu mengingatkan kembali bahwa pendidikan itu tidak hanya sekolah. Sekolah hanya salah satu bentuk pendidikan yang “disengaja”.

 

Sekolah dan guru.

Saat menyebutkan kata “guru”, harus diakui saat ini masyarakat kita mengasosiasikannya dengan sekolah. Tidak bisa dimungkiri, pendidikan kita saat ini masih bergantung dengan sekolah sebagai pilihan paling umum sebuah bentuk transfer nilai-nilai. Masyarakat masih berharap sang “murid” akan memiliki bekal untuk menjalani hidup (yang diharapkan) dalam tatanan masyarakat tertentu.

Saya setuju, guru adalah ujung tombak pendidikan di sekolah, dan menjadi salah satu titik yang paling penting dalam pembelajaran. Guru, adalah orang di balik layar yang merencanakan sebuah proses yang menjadi sistematis dan terstruktur dengan metoda-metoda yang terencana sehingga murid bisa mempelajari beberapa hal tertentu lebih “cepat” dibandingkan jika kita tidak bersekolah. Namun, belajar yang “disengaja” ini juga bisa saja tidak melalui sekolah, misalnya saat kita meniatkan diri untuk merekayasa sebuah proses belajar. Kita tinggal mencari “guru” yang sesuai untuk membantu proses belajar kita.

 

Setiap orang adalah guru.

Saat kita membahas tentang seorang guru, kadang kita lupa bahwa guru tidak hanya orang-orang yang mendidik kita di sekolah. Kalau kita menilik kembali arti sebenarnya dari kata guru yang berasal dari bahasa Sansekerta, penghilang kegelapan, atau sebuah “perjalanan” dari gelap menuju terang, setiap orang yang kita jumpai bisa menjadi guru.

Melalui salah satu kacamata saya, sekolah sejatinya menjadi salah satu tempat penempaan di mana muridnya akan lebih berproses menjadi “manusia”, tempat mendidik diri menjadi pembelajar seumur hidup. Sekolah bisa membangun “guru-guru” yang baik, tidak hanya untuk orang lain tapi lebih penting bagi dirinya sendiri. Berusaha lebih baik di setiap waktunya, mengembangkan kemampuan dalam memanfaatkan akal dan hati kita untuk menjadi “manusia”, terlepas dari pendidikan macam apa yang dilewati. Sengaja ataupun tidak disengaja.

Di Hari Guru kali ini, saya ingin mengucapkan terima kasih untuk guru-guru saya, semua orang yang saya kenal dan tidak kenal yang membantu saya untuk melenturkan dan mengembangkan diri, terutama murid-murid saya di Rumah Belajar Semi Palar yang selalu membuat saya banyak belajar.

 

Selamat Hari Guru!

 

*Diterbitkan di Belia-Pikiran Rakyat pada 25 November 2014

 

 

 

 

 

Read More

Keseimbangan Pendidikan dan Difusi TRIMS

Posted by on 29 Oct 2014 in opini | 0 comments

Sistem pendidikan yang membangkitkan pengetahuan ilmiah serta memberlatihkan keterampilan tentu merupakan unsur pemasok pekerja berpengetahuan. Sedangkan difusi atau penyebaran pengetahuan ilmiah ke masyarakat dan industri salah satunya akan meningkatkan permintaan atas pekerja berpengetahuan. Keserasian antara pasokan-permintaan pekerja berpengetahuan ini merupakan mekanisme yang mendasari berjalannya pembangunan berbasis pengetahuan ilmiah.

Masyarakat BerTRIMS

Di sisi riset, benar adanya bahwa administrasi pendanaan kegiatan riset masih belum sempurna. Juga keserasian riset antar-kementerian masih perlu ditingkatkan. Khususnya, walau sistem pendidikan dan difusi pengetahuan ilmiah berbeda hakikatnya, kolaborasi riset antara Dikti dan Kemristek guna menjamin keseimbangan masih perlu ditingkatkan. Riset antar-kementerian ini juga sejalan dengan hakikat permasalahan masa kini yang kompleks serta perkembangan dunia riset yang gencar pada ranah antardisiplin. Misalnya, pemanfaatan Game Theory dalam Ilmu Politik, pemanfaatan Teori Peluang dalam mengkaji terorisme, dan yang lainnya.

Permasalahan pengembangan dan penerapan TRIMS (Teknologi, Rekayasa, Ilmu Pengetahuan, Matematika, dan Seni,) termasuk Desain, sejatinya tidak terbatas pada peran pemerintah sebagai subyek atau pelaku pengembang dan pemanfaat. Justru yang paling dibutuhkan sesungguhnya strategi dalam menyokong, melibatkan, dan memberdayakan BUMN dan masyarakat guna memanfaatkan TRIMS untuk menyelesaikan permasalahan yang dihadapi di lingkungannya. Masyarakat berTRIMS haruslah masyarakat sebagai subyek yang menyelesaikan masalahnya. Ini sejalan dengan gagasan umum Presiden Joko Widodo yang menekankan masyarakat sebagai subyek pembangunan.

Sedangkan dalam upaya mendorong masyarakat berTRIMS, mendesain, dan berinovasi, tak harus mulai dengan memaksakan TRIMS yang canggih. Berkaitan dengan hal ini, strategi pelibatan BUMN dan masyarakat berTRIMS dapat mengadopsi manajemen inovasi di balik Jugaad Innovation (Radjou et al, 2012) atau inovasi hemat-cerdas yang berkembang subur di layanan usaha milik negara dan swasta, sampai masyarakat awam di pedesaan di India.

designpublic.in

Masyarakat di daerah terpencil disokong dalam memanfaatkan TRIMS sederhana, yang dapat dipahaminya, dengan cara mendasar serta sesuai dengan fasilitas dan kearifan lokal untuk menyelesaikan permasalahan yang memang dihadapi dan dirasakannya. Misalnya, seperti menciptakan lemari pendingin untuk menyimpan produk susu nir-listrik sampai jamban nir-air yang memanfaatkan bakteri anerobik guna meluruhkan kotoran menjadi gas methan. Sedangkan Perguruan tinggi, LSM, pemda, dan pemerintah pusat mendampingi sekaligus menggelorakan budaya penyelesaian masalah sendiri.

Pemanfaatan TRIMS berbasis bahan lokal dan melibatkan masyarakat sebagai penerap TRIMS akan menguntungkan, karena masyarakat akan merasa memiliki dan akan memperjuangkan keberlangsungannya. Khususnya, masyarakat akan mampu memodifikasi dan merawat inovasinya sendiri.

Difusi TRIMS

Dalam Capital in The Twenty-First Century, Thomas Piketty berpendapat bahwa dibutuhkan upaya negara guna menjamin berimbangnya kelajuan pendidikan dan difusi (penyebaran) teknologi (Piketty, 2014, pp. 304-315). Ini untuk menjamin penyebaran kesejahteraan.

Walau dengan catatan, Piketty sesungguhnya mengadopsi gagasan tersebut dari buku The Race Between Education and Technology (Goldin & Katz, 2008.) Terkhusus, Piketty menyepakati pendapat Goldin dan Katz bahwa investasi dalam pendidikan mutlak dibutuhkan untuk pembangunan ekonomi. Dan di era ini, investasi harus ditujukan pada pembukaan peluang masyarakat di dasar piramida ekonomi guna mengenyam pendidikan bermutu. Kata kunci di sini pada kata bermutu dan masyarakat di dasar piramida. Ini sisi pertama.

Pada sisi kedua, harus ada difusi pengetahuan ilmiah. Di Indonesia, masyarakat dengan disokong lembaga-lembaga terkait perlu menjadi pelaku pemanfaat TRIMS untuk menyelesaikan masalah lokalnya. Ini salah satu bentuk penyuburan difusi atau penyebaran TRIMS.

Tanpa kelajuan difusi TRIMS yang memadai di dalam negeri, institusi pendidikan akan kelebihan menyuplai tenaga kerja berpengetahuan. Akibatnya, penyerapan tenaga kerja di dalam negeri akan terhambat dan mengakibatkan sistem pendidikan sekedar menyediakan tenaga kerja bagi negara lain dan perusahaan luar negeri. Pengangguran pekerja berpengetahuan di dalam negeri akan bertambah. Dampaknya, masyarakat luas tak dapat langsung merasakan manfaat investasi negara dalam pendidikan tinggi. Ini membuat kesejahteraan pun terhambat menyebar.

Sebaliknya, jika laju difusi TRIMS lebih tinggi ketimbang laju pengembangan pengetahuan dan pelatihan keterampilan di sistem pendidikan, akan terjadi kekurangan pasokan tenaga berpengetahuan di dalam negeri. Ini dampak jauhnya akan memperparah kesenjangan pula.

Sistem pendidikan serta pelatihan di satu pihak dan upaya difusi TRIMS di lain pihak perlu senantiasa dikelola kelajuannya agar seimbang, tetapi keduanya tak boleh dicampuradukkan. Ini salah satu tantangan utama dan mendesak bagi tim pemikir di pemerintahan baru. Juga, Kebudayaan dan Pendidikan Tinggi tak boleh terpisahkan.

kabarinews.com

Sebenarnya difusi teknologi dan pengetahuan ilmiah sudah merupakan satu misi Kemenristek. Dan, strategi Prof. B.J. Habibie dalam difusi pengetahuan ilmiah dan teknologi juga sudah sejalan dengan pendapat di atas. Dengan meletakkan beberapa industri berbasis teknologi tinggi, diharapkan mampu menyebarkan, memicu, dan mengimbas pemanfaatan TRIMS pada jajaran industri pendukung dan masyarakat luas.

Selain tujuan praktis sebagai penyedia pekerja berpengetahuan, pendidikan mempunyai tujuan luhur. Yang utama justru pendidikan ditujukan agar warga memiliki noble life atau kemuliaan hidup. Ini berarti bahwa pendidikan dasar, menengah, sampai tinggi harus menyatu terpadu dan menjamin kebersambungan antarjenjangnya guna mewujudkan kemuliaan hidup tiap warga. Khususnya, profil satu jenjang ke jenjang di atas dan di bawahnya harus terkait erat. Profil calon mahasiswa ideal harapan PT harus menjadi profil lulusan sekolah menengah. Selanjutnya profil calon murid sekolah menengah harus dipenuhi oleh lulusan sekolah dasar. Oleh karenanya, sistem pemisahan Dirjen berdasar jenjang pendidikan dasar, menengah, dan tinggi seperti sekarang perlu ditinjau ulang. Misalnya, dapat dikaji alternatif pembagian kerja berdasar teritori, seperti layaknya di sistem komando pertahanan keamanan RI. Ini akan membuat rancangbangun pendidikan dari dasar sampai tinggi akan gamblang, kokoh, dan terpadu utuh.

Perkembangan sistem pendidikan terpadu utuh dan kelajuan difusi TRIMS yang seimbang akan menguatkan pembangunan bangsa. ***

Read More

Menyehatkan Republik Nalar

Posted by on 7 Jul 2014 in blog | 0 comments

Saat mendengarkan pembacaan wasiat Prof. Oetarjo Diran (alm), 18 September 2013 lalu, di Aula Timur ITB, langsung terasa beliau menggunakan dan mensyukuri kemampuan bernalarnya. Guru besar teknik penerbangan ITB ini dalam wasiatnya telah menetapkan sendiri lokasi jenazahnya ingin disemayamkan jika meninggal, disolatkan, bahkan koordinat tempatnya ingin dimakamkan telah ditetapkan dengan cermat. Beliau bernalar sungguh-sungguh bagi hidupnya.

BERNALAR

Prof. Morrie Schwartz dan Mitch Albom

Saat memahami pernalaran pak Diran yang begitu logis menghadapi kehidupan dan kematian, langsung mengingatkan buku Selasa bersama Morrie (Albom, Gramedia, 1997). Di buku itu dikisahkan bahwa Prof. Morrie Schwartz meminta upacara pelepasan jenazah untuknya dilaksanakan saat masih hidup, agar beliau dapat melihat dan merasakannya. Ini kehidupan yang dinalar. Sebaliknya, betapa nirnalarnya pengumbaran kata-kata pujian yang tidak disampaikan bagi seseorang saat masih hidup, tetapi menunggu setelah terbujur kaku. Betapa nirnalarnya perilaku manusia Indonesia modern di kota maupun di desa yang mengadakan pesta pernikahan, memberi makan ratusan tamu, bahkan kadang sampai perlu berhutang.

Menyimak bagaimana hidup berbudaya bernalar dua guru agung seperti di atas sungguh menyejukkan pikiran dan jiwa. Kesejukan dari gema nalar ini pula yang terasa saat membaca pernyataan Wagub DKI, Ir. Basuki T. Purnama bahwa, “Dalam kehidupan bernegara”, kata Basuki, “konstitusi harus tetap dikedepankan ketimbang kitab suci.” (Kompas, 21 September 2013) Ini tentunya masuk akal, wajar, dan seharusnya demikian.

Kesejukan pikiran yang sama terasa saat mendengarkan pernyataan Dalai Lama dan Paus Francis akhir-akhir ini yang sarat nalar. Kehidupan religiositas menjadi hidup ceriah, menyenangkan, dipenuhi kebersahajaan, jauh dari membosankan apalagi kepongahan yang meyakini diri benar mutlak. Pesan-pesannya bukan menghakimi orang lain, tetapi tindakan dan ucapannya adalah gema ajakan berbuat bagi sesama. Saat kehidupan sudah menganaktirikan nalar, membaca pernyataan seperti di atas justru menjadi janggal, tetapi sungguh menyejukkan. Ucapan pak Basuki yang wajar, masuk akal, menjadi menggemparkan. Begitu lama tak mendengar nalar dalam bahasa penguasa kita.

Penguasa dan birokrat berbahasa, namun kalimat yang belum melalui proses bernalar yang matang. Kalimatnya merupakan perintah, nuansanya mengendalikan. Yang mungkin dilupakan banyak orang bahwa dari kalimat dan pernyataan seseorang, sebagian masyarakat kita dapat meresapi dan menakar kedalaman proses bernalar yang sudah dilaluinya. Buktinya banyak dari kita dapat tertawa terbahak-bahak menyimak orang-orang yang berbicara dengan kata-kata yang canggih tetapi tak tampak kedalaman proses bernalarnya.

Prof. Daoed Joesoef

Bernalar adalah satu unsur mutlak Republik ini. Bahkan dalam tulisannya di buku 90th pak Subroto, Prof. Daoed Joesoef mengungkapkan bahwa lagu Indonesia Raya juga merupakan hasil dari proses perenungan yang visionary, atau bermimpi agung.  Republik ini dibangun berdasar nalar dan bersumber pada sebuah mimpi agung. Republik ini dibangun dengan susunan gagasan yang masuk akal.

Jika Republik diimajinasikan Rocky Gerung sebagai gagasan minimum guna menyelenggarakan keadilan, kesetaraan, dan kemajemukan, tentunya hal ini baru mungkin terwujud jika pemimpin mampu berbahasa ke rakyat dengan masuk akal. Dan, selanjutnya, rakyat Republik harus mampu bernalar bersama pemimpinnya.

Kejenuhan banyak masyarakat terdidik hari ini pada gagasan penguasa bersumber pada ketakberhasilannya menunjukkan masuk akalnya gagasan tersebut. Sekarang, kebijakan-kebijakan publik yang kerap tak mempunyai dasar pemikiran kuat harus tetap berjalan. Apalagi, masyarakat tak diperbolehkan menyangkal kebijakan publik yang tak masuk akal, bahkan sampai dikafirkan jika tetap berseberangan. Misalnya, kebijakan pendidikan dasar sampai tinggi, seperti Ujian Nasional, Kurikulum 2013, Otonomi Perguruan Tinggi, sistem seleksi masuk mahasiswa baru dsb, harus berjalan terus walau meragukan dasar logikanya. Masyarakat dipaksa mematuhi gagasan walau tak masuk di akalnya.

KESALEHAN BERPIKIR

Kemudian, guru-guru agung ini juga menebarkan kesalehan. Namun, bukannya kesalehan permukaan, bukan pula kesalehan sebatas baju atau pernak-pernik lambang kesalehan. Kesalehan para guru agung ini tak langsung terlihat dengan mata naif. Kesalehannya sudah diolah lanjut dan larut mewujud menyatu dalam pemikiran. Oleh karenanya, penyimak perlu bernalar untuk mampu memahami dan merasakan kesalehan ini. Masalahnya, apakah kemampuan bernalar untuk memahami kesalehan berpikir ini masih dimiliki kebanyakan masyarakat kebanyakan? Semoga masyarakat sekarang masih mampu memahami kesalehan lebih jauh dari sekedar formalitas lambang dan ritual semata.

Khusus untuk pemimpin dalam dunia pendidikan atau budaya belajar di pemerintahan mendatang, kecuali memiliki kesatuan rasionalitas dan kesalehan pikiran itu, diperlukan pula kecakapan berpolitik. Politik dan pendidikan tidak tabu untuk bersentuhan. Sepatutnya, pemimpin kementerian pendidikan atau budaya belajar di pemerintahan mendatang piawai dalam berpolitik demi memperjuangkan nilai-nilai luhur pendidikan.

Yang perlu dihindari adalah memanfaatkan pendidikan untuk berpolitik. Sungguh berbahaya bagi Republik ini jika politisinya memperalat pendidikan sampai mengorbankan prinsip-prinsip pendidikan guna mempertahankan kekuasaanya. Jika ini terjadi, pendidikan akan kehilangan kebaikannya.

Pada akhirnya, seorang pemimpin apalagi penentu kebijakan dunia pendidikan dan kebudayaan ditentukan oleh gairahnya mencintai semua insan. Dan inilah puncak rasionalitas. Sangat tepatlah yang diucapkan Morrie Schwartz, bahwa tak ada tindakan manusia yang lebih rasional daripada mencintai. Jika sebuah kebijakan tak rasional, mungkin karena tak dilandasi cinta. ***

Read More