Fungsi Persekolahan – John Gatto Vs. Alexander Inglis

Posted by on 27 May 2015 in blog | 0 comments

Apa saja fungsi dan peran yang dijalankan oleh sekolah dalam mencapai tujuannya? Begitu banyak pakar dan pegiat pendidikan yang mencoba menjawab pertanyaan ini. Salah satu yang menarik adalah tulisan John Taylor Gatto, “Against School”. John Gatto adalah seorang mantan guru teladan yang telah mengajar selama 30 tahun lalu menjadi aktivis pendidikan. Ia telah mengeluarkan banyak buku dan tulisan berisi kritik terhadap model persekolahan formal seperti yang pada umumnya kita lihat dan alami sekarang. Dalam “Against School”, John Gatto tidak menuliskan pendapatnya sendiri tentang fungsi sekolah, namun ia “mengutip” tulisan Alexander Inglis.
Read More

Memilih Sekolah Kondusif

Posted by on 16 Dec 2014 in blog, featured | 0 comments

514ype-+JGL._SX258_BO1,204,203,200_Biasanya orangtua memilih sekolah baik berdasarkan kriteria: nilai ujian siswa, passing grade, atau biayanya. Namun pakar pendidikan Ian Gilbert dalam bukunya, Independent Thinking, mengajukan 25 parameter yang bisa jadi panduan bagi orangtua dalam memilih sekolah dengan atmosfer pembelajaran yang kondusif bagi anaknya. Tentu saja daftar ini bukan harga mati, karena bisa-bisa kita tidak akan pernah menemukan sekolah seideal itu. Bagi pengelola sekolah [juga masyarakat di sekitar sekolah], daftar ini bisa jadi panduan tambahan untuk menciptakan atmosfer pembelajaran yang kondusif di dalam lingkungan sekolah.

Read More

Sistem Bintang Laut Vs. Jaring Laba-laba

Posted by on 15 Dec 2014 in blog | 0 comments

rebirth-education-lant-pritchettDalam buku The Rebirth of Education, Lant Prichett mengadopsi konsep Brafman & Beckstrom ttg analogi organisasi “jaring laba-laba” yang menganut sentralisasi dan organisasi “bintang laut” yang menganut desentralisasi.

Analogi jaring laba-laba digunakan karena walau laba-laba menggunakan jaringnya untuk memperluas jangkauan, namun satu laba-laba di pusat jaring lah yang harus memproses informasi yang muncul dari getaran di jaringnya, juga mengambil keputusan dan tindakan.

Sebaliknya, bintang laut, adalah organisme yang berbeda. Banyak spesies bintang laut sebenarnya tidak punya otak tunggal terpusat. Mereka ini organisme yang “terdesentralisasi” dengan jaringan syaraf yang terkoneksi secara longgar. Bintang laut bergerak bukan karena perintah dari otak tunggal, namun karena tindakan “lokal” dari setiap bagian tubuhnya terakumulasi menjadi gerakan.

Dalam banyak negara, sistem persekolahan adalah layaknya jaring laba-laba raksasa yang dikendalikan pemerintah. Sistem birokrasi top-down ini berusaha mengendalikan seluruh sistem dari tingkat nasional atau propinsi, menentukan sekolah mana yang harus dibangun, guru mana yang harus bertugas di sekolah mana, dan subjek apa saja yang perlu diajarkan. Sistem jaring laba-laba sangat kuat dalam tugas-tugas logistik, seperti penyebaran sekolah.

Namun, saat ini telah banyak diakui bahwa banyak masalah pendidikan bukanlah sekadar masalah yang bersifat logistik. Sistem jaring laba-laba yang secara ekstrem berusaha memaksakan memecahkan semua masalah pendidikan dengan paradigma logistik terpusat hanya akan menemui kegagalan.

Berikut ini adalah perbandingan antara sistem bintang laut dan sistem jaring laba-laba berdasarkan beberapa fiturnya. Tentu saja dikotomi dalam perbandingan ini dilakukan secara ekstrem untuk mempermudah pemahaman tentang perbedaan kedua sistem. Pada kenyataannya, terdapat spektrum yang luas antara kedua sistem Ada negara yang menerapakn sistem pertengahan, tersentralisasi di beberapa elemen, terdesentralisasi di elemen lainnya.

Keterbukaan

Bintang laut: Model sekolah dan satuan pendidikan yang beragam. Pendekatan unik bukan hanya dijinkan, tapi bahkan didorong untuk berkembang.

Jaring laba-laba: Hanya sekolah yang berada dalam kendali “laba-laba” [penguasa] yang mendapat dukungan.

Operasional Lokal

Bintang laut: Para pegiat pendidikan mendapat otonomi untuk menjalankan, mengeksplorasi dan menemukan cara beroperasi mereka sendiri.

Jaring laba-laba: Ada usaha untuk memegang kendali bukan hanya terhadap hasil dan parameter umum, namun juga sampai pengendalianoperasional harian di tingkat sekolah.

Tekanan Kinerja

Bintang laut: Kombinasi standar umum dan pengukuran untuk akuntabilitas. Ringan pada akuntabilitas hasil yang dituntut dari atas, dan lebih berfokus pada akuntabilitas proses di sekolah dan keterlibatan komunitas berdasar panduan yang dikembangkan dari bawah.

Jaring laba-laba: Sistem dikendalikan secara birokratis dengan akuntabilitas yang ringan pada input dan proses, ada usaha isolasi dari kendali lokal dan tidak ada penekanan pada pembelajaran.

Jejaring Profesional

Bintang laut: Guru/pendidik, sebagai kunci dari sistem, “mengakar” di sekolah namun didorong berjejaring secara horizontal dengan komunitas pendidik untuk bertukar praktik baik dan profesional.

Jaring laba-laba: Guru diorganisir secara hierarkis, baik oleh manajemen top-down dari pemerintah, juga manajemen top-down dari organisasi profesi guru.

Dukungan Teknis

Bintang laut: Sistem memberikan dukungan pada sekolah dan guru dalam mengembangkan kapabilitas mereka untuk meraih kesuksesan.

Jaring laba-laba: Sistem menyediakan pengawasan terhadap kepatuhan pada standar, bukan dukungan dan pemberdayaan terhadap inovasi.

Fleksibilitas Pembiayaan

Bintang laut: Pembiayaan diberikan mengikuti siswa dan kinerja. Penentuan alokasi pembiayaan lebih banyak ditentukan oleh lokal.

Jaring laba-laba: Pembiayaan dialirkan secara internal langsung kepada guru/sekolah, tak memperhatikan faktor kinerja.

 

Bab Pendahuluan dari buku The Rebirth of Education dapat dilihat di tautan ini.

Read More

Sekolah Penyeragam Peradaban?

Posted by on 16 Jan 2014 in blog | 0 comments

Dalam salah satu adegan di film Sokola Rimba, tokoh dr. Astrid, seorang peneliti asing, mengatakan pada Butet Manurung saat berbincang di pedalaman Bukit Dua Belas Jambi, “Kita suka merasa lebih tahu, padahal dalam banyak hal Orang Rimba justru lebih maju dari kita.” Dokter Astrid sedang bicara tentang “savior complex”, yaitu paradigma psikologis saat suatu pihak merasa perlu menjadi penyelamat pihak lain, semisal dari “keterbelakangan”. Savior complex biasanya disertai asumsi bahwa apa yang ia bawa pasti lebih baik daripada apa yang dimiliki orang lain dan oleh karenanya orang yang hendak diselamatkan tersebut perlu menerima bantuannya walau sebenarnya mungkin tak dibutuhkan. Pendidikan, atau lebih tepatnya persekolahan, sering menjadi alat pemuas savior complex.

Sebuah film dokumenter berjudul “Schooling the World” secara spesifik membahas tentang pendidikan sebagai alat pemuas savior complex. Film yang mengangkat kasus di Ladakh, Himalaya, ini berangkat dari pertanyaan: apa yang sesungguhnya terjadi saat cara sebuah budaya/peradaban belajar dan memahami dunia mereka kita ganti dengan cara kita? Apa yang terjadi ketika kita membangun persekolahan di masyarakat tradisional di sekeliling dunia dengan keyakinan bahwa sekolah adalah cara satu-satunya atau cara terbaik bagi anak-anak pribumi untuk meraih kehidupan yg lebih baik? Adakah asumsi dan arogansi superioritas budaya yang terbawa di balik berbagai proyek bantuan pendidikan yang bertujuan “memajukan” masyarakat primitif? Apakah institusi pendidikan yang digadang-gadang sebagai alat penyelamat peradaban telah berhasil memenuhi janji-janjinya?

Film Schooling the World dapat disaksikan di YouTube melalui tautan-tautan berikut:

Beberapa kutipan menarik dari beberapa tokoh dalam dokumenter Schooling the World, antara lain:

“Untuk membuat para Indian menjadi beradab… celupkan mereka ke dalam peradaban kita, dan saat mereka telah terendam dalam peradaban kita maka jaga mereka tetap di sana sampai benar-benar meresap.” ~Jenderal Richard Pratt, pendiri Sekolah Indian Carlisle

“Biarkan segala yang berbau Indian di dalam dirimu mati.” ~Pidato pelantikan di Sekolah Indian Carlisle

“Kita harus berusaha sekuat tenaga untuk membentuk… satu kelompok manusia, dengan warrna kulit dan darah India, namun memiliki selera, opini, moral dan kecerdasan bangsa Inggris.” ~Lord Macaulay dalam “Minute on Indian Education”

“Kita terbiasa berpikir kita mendidik anak-anak kita, kita mengirim mereka ke sekolah, kita memiliki model tertentu untuk menyiapkan anak masuk ke dalam masyarakat [yaitu pendidikan]. Lalu kita anggap masyarakat yang tidak meniru cara-cara dan pola-pola pendidikan kita adalah masyarakat yang tidak mendidik anak-anaknya. Tentu saja ini pandangan yang absurd.” ~Wade Davis

“Saat ini, persekolahan model Barat adalah pihak yang bertanggung jawab atas penyebaran keseragaman budaya di seluruh dunia. Pada dasarnya, kurikulum yang serupa diajarkan di seluruh dunia dengan tujuan menyiapkan anak untuk mengejar pekerjaan yang langka dalam lingkungan urban dan budaya konsumtif. Keberagaman budaya dan juga keberagaman keunikan individu manusia dihancurkan melalui cara ini.” ~Helena Norberg-Hodge

“Ada asumsi bahwa pendidikan Barat, pengetahuan Barat, lebih superior… Ada asumsi bahwa kita telah bertumbuh menjadi manusia dalam tingkat yang lebih tinggi, dan bahwa orang-orang lain, tak peduli seberapa menyenangkannya mereka, akan mendapat keuntungan dari pengetahuan superior yang kita pikir kita miliki.” ~Helena Norberg-Hodge

“Salah satu yang paling mengganggu pikiranku – dalam tingkatan keadilan dan moralitas – adalah kita membangun institusi [sekolah] yang ditempatkan di seluruh dunia yang melabeli jutaan dan jutaan orang-orang tak bersalah sebagai produk gagal.” ~Manish Jain

Film ini dapat menjadi alat bagi kita untuk melakukan refleksi. Sekolah seperti apa yang menjadi alat pembunuh keberagaman serta kearifan lokal, dan sebaliknya sekolah seperti apa yang membuat siswa-siswanya menyadari benar-benar kelebihan, kebutuhan dan tantangan unik di dalam masyarakatnya serta siap berperan di dalamnya? Sekolah seperti apa yang mendorong siswa menjadi interdependen terhadap masyarakatnya, atau malah sebaliknya, justru membuatnya terasing di tengah lingkungannya sendiri? Pertanyaan-pertanyaan ini perlu terus dipikirkan oleh para pegiat pendidikan dan juga oleh penguasa pendidikan. ***

Read More