Ujian Nasional Dihentikan… di Israel

Posted by on 29 Aug 2013 in blog | 1 comment

Pertengahan Agustus lalu muncul berita yang menjadi perbincangan dunia pendidikan global: Menteri Pendidikan Israel, Shai Piron, mengumumkan penghentian National Standardized Test [NST] atau yang biasa dikenal dengan external Meitzav. Disebut eksternal karena dilakukan oleh pemerintah pusat, sedangkan internal Meitzav dilakukan oleh sekolah. Singkatnya, external Meitzav adalah serupa Ujian Nasional, sedangkan internal Metizav adalah serupa Ujian Sekolah.

Alasan paling utama untuk penghentian seperti yang dikemukan oleh Menteri Pendidikan Israel adalah NST telah menyuburkan budaya pengukuran dan mematikan budaya belajar [yang dimaksud adalah learning, bukan sekadar studying]. Menurutnya, persiapan yang dilakukan sekolah dan siswa untuk NST telah memakan waktu kelas reguler dan bahkan waktu liburan. Siswa dan orangtua menghabiskan biaya untuk membeli materi persiapan NST. Selain itu, NST juga menimbulkan budaya “klasemen” yang membuat sekolah begitu khawatir tentang posisi mereka, yang dinilai dari hasil ujian NST siswanya, dibandingkan dengan sekolah-sekolah lain. Budaya “klasemen” ini diakui merugikan sekolah, terutama sekolah yang telah berusaha mengintegrasikan siswa dari status sosio-ekonomi rendah. Pada akhirnya Shai Piron mengatakan, “Intinya, NST sudah membuat kita jadi “gila” dan kebingungan. Pendidikan kita berbelok dari pembelajaran ke pengukuran.”

Menteri Keuangan Israel, Yair Lapid, ikut berkomentar mendukung penghentian NST. Menurutnya pendidikan bukanlah tentang pengukuran, tapi tentang pembelajaran. Pengetahuan dan kecerdasan tak seharusnya diberi nilai angka. Ia juga mengatakan kita tidak bisa membanding-bandingkan siswa saat kita belum memastikan mereka menikmati kondisi setara. Masih menurutnya, dalam dunia yang berbasis kerjasama dan pemikiran kreatif seperti saat ini, kita justru memperbudak anak-anak kita dengan hapalan-hapalan tak terhingga dan di ujung persekolahan memaksa mereka duduk sendiri berhadapan dengan kertas ujian sambil berharap mereka mendapat nilai lebih baik daripada anak yang duduk di sebelahnya [alih-alih berkolaborasi].

Keputusan ini disambut baik oleh para pendidik yang mengatakan bahwa NST telah berubah menjadi sapi emas [dari kisah Nabi Musa]. Maksud analoginya adalah NST telah memakan sumber daya waktu dan tenaga begitu banyak dari guru dan siswa, kemudian malah membawa dampak buruk bagi budaya belajar. Amnon Rabinovich, seorang guru sekolah menengah di Yerusalem, mengatakan bahwa dengan dihapuskannya NST maka guru akan memiliki lebih banyak waktu untuk menciptakan pembelajaran yang mendalam serta bereksperimen di kelas. Selama ini hal itu tidak dimungkinkan karena mereka harus lebih fokus pada persiapan NST.

Tidak semua orang setuju dengan keputusan Shai Piron. Mantan Menteri Pendidikan Israel, Gideon Sa’ar, mengecam keputusan penerusnya ini. Menurutnya tidaklah mungkin mengelola sebuah sistem, apalagi sistem besar seperti sistem pendidikan, tanpa pengukuran. Ia juga menganggap tidak mungkin ada pencapaian tanpa pengukuran data menurut standar. Ia juga mengecam keputusan menghentikan NST tanpa menciptakan alternatif lain terlebih dulu.

Keberanian Menteri Pendidikan Israel menghentikan NST mendapat pujian dari berbagai pakar pendidikan dunia seperti Pasi Sahlberg dan Diane Ravitch. Lebih hebat lagi bila kita lihat ia menghentikan NST karena nyata keburukannya, tanpa menunggu harus ada alternatifnya. Sesudah menghentikan NST, baru kemudian ia membentuk tim untuk memikirkan ulang bagaimana sebuah pemetaan pendidikan seharusnya dilakukan tanpa mengorbankan budaya belajar dan bernalar. Sebaliknya di Indonesia, dengan mudah kita temukan komentar dari para pejabat Kementerian Pendidikan yang menyatakan: “Kalau UN dihapus, apa penggantinya? Jangan dihapuskan lalu belum ada penggantinya.”

Sebenarnya, apakah NST ini juga memiliki intensitas yang sama dengan Ujian Nasional di sini? Ternyata tidak. NST hanya dilakukan dua tahun sekali, dan di masing-masing periode, NST akan mengujikan dua dari empat subjek: Matematika, Sains dan Teknologi, Bahasa Inggris dan Bahasa Ibrani. Jadi masing-masing subjek diujikan setiap empat tahun sekali. Nah, yang seperti ini saja sudah dianggap membelokkan budaya belajar menjadi budaya pengukuran dalam pendidikan Israel, sampai-sampai NST harus dihentikan. Bagaimana dengan Ujian Nasional di sini? Apakah berbagai dampak buruk NST yang disebutkan Shai Piron dan Yair Lapid tadi tidak terlihat di Indonesia dengan UN-nya, atau justru lebih parah? Kita semua bisa menilai sendiri.

Berita terakhir menyatakan bahwa penghentian NST hanyalah langkah awal Israel dalam mereformasi pendidikannya. Yair Lapid menyatakan, “Kita tidak akan berhenti di sini. Penghentian NST adalah awalan dari gerakan yang lebih besar untuk mengurangi secara drastis berbagai ujian matrikulasi.” Bagaimana dengan di Indonesia? Pada Konvensi Nasional Pendidikan yang direncanakan akan diadakan bulan September ini oleh Kemdikbud, salah satu isu utama yang akan dibahas adalah tentang Ujian Nasional. Mari kita lihat, apakah pesertanya akan benar-benar memanfaatkan konvensi sebagai momen menghentikan segala kebijakan perusak pendidikan, atau konvensi hanya akan dijadikan ajang tawar menawar komposisi nilai Ujian Nasional dan Ujian Sekolah. ***

Sumber berita:

Ingin ikut menyuarakan kepada pemerintah untuk mereposisi Ujian Nasional? Silahkan baca dan dukung petisi yang sudah didukung lebih dari 8.000 orang ini >> http://bit.ly/petisiUN

Tren pengurangan beban akademik dan ketergantungan terhadap ujian tidak hanya di Israel. Cina, yang pendidikannya dikenal sangat ketat, juga melakukan perombakan besar-besaran. Lebih lengkapnya bisa dibaca di sini >> http://www.bincangedukasi.com/reformasi-pendidikan-cina.html

Bila ingin membaca opini dan tulisan pro-kontran seputar Ujian Nasional di situs Bincang Edukasi ini, silahkan klik >> http://www.bincangedukasi.com/tag/ujian-nasional

Read More

Reformasi Besar-besaran Pendidikan Cina

Posted by on 28 Aug 2013 in blog | 3 comments

Pendidikan di Cina selalu dibayangkan sebagai pendidikan yang sangat keras dan ketat. Siswa-siswa belajar keras untuk menghadapi berbagai ujian selama persekolahan serta satu ujian besar untuk memasuki perguruan tinggi yang dikenal dengan nama Gaokao. Namun tak banyak yang tahu, pemerintah Cina sebenarnya sedang melakukan reformasi sangat mendasar pada sistem pendidikannya. Penekanan terbesar reformasi pendidikan Cina ada pada pengurangan tekanan dan beban akademis pada siswa.

Read More

Pemikiran Pendidikan Paul Goodman

Posted by on 12 Aug 2013 in blog | 0 comments

Tulisan ini dimuat di majalah Voice+, Vol 12, Juli 2013

Paul Goodman, kritikus sosial dan cendekiawan publik dari AS pernah mempertanyakan di tahun ’60-an tentang fungsi persekolahan. Ia mengutarakan kritiknya tentang sistem pendidikan publik secara mendalam dalam karyanya, Growing Up Absurd dan Compulsory Miseducation.

Goodman mengingatkan pada kita bahwa sebelum muncul sistem pendidikan publik seperti yang kita lihat saat ini, pendidikan di seluruh peradaban terjadi secara insidental. Orang dewasa melakukan aktivitas sosialnya dengan melibatkan anak secara aktif alih-alih diisolasi dalam tembok sekolah.

Menurutnya, model sekolah saat ini menghambat tumbuh kembang alami anak. Memfasilitasi pertumbuhan melalui metode dan kurikulum baku dan tunggal hanya akan menyia-nyiakan potensi manusia untuk belajar dan berkarya. Hanya sebagian kecil anak yang “berbakat akademik” yang akan mampu melewati persekolahan tanpa merasa bosan atau dihambat. Bakat akademik memang memerlukan kecerdasan tinggi, namun salah apabila kita menganggap kecerdasan tinggi hanya terwakili oleh kemampuan akademik.

Sayangnya kita terlanjur percaya bahwa model persekolahan formal adalah satu-satunya jalan menjadi terdidik. Sedangkan Goodman malah mengusulkan agar pendidikan disebar ke pabrik, museum, taman, perkantoran, dll.

Beberapa hal lain yang juga diusulkan oleh Goodman:

  • Pendidikan insidental, di mana anak terlibat aktif dalam kegiatan sosial masyarakat, seharusnya menjadi model utama pembelajaran.
  • Tugas utama pendidik adalah menemukan dan menjembatani aktivitas di masyarakat yang menyediakan pembelajaran insidental. Pendidik juga bisa membantu menciptakan aktivitas di masyarakat yang memunculkan kesempatan pendidikan insidental.
  • Tujuan dari pedagogi dasar, sampai usia 12 tahun, adalah untuk melindungi tumbuh kembang alami anak. Jangan sampai masyarakat dan keluarga memberi tekanan berlebih pada anak dan tidak benar-benar memperhatikan mereka.
  • Kebanyakan sekolah menengah seharusnya ditiadakan dan diganti dengan berbagai gerakan kepemudaan yang melatih fungsi sosial mereka.
  • Pendidikan tinggi seharusnya mengikuti masuknya seseorang ke sebuah profesi, bukan sebaliknya.

Sejak Goodman mengeluarkan kritiknya tentang sistem pendidikan publik, tren persekolahan di dunia justru menuju arah sebaliknya. Ia pun menyadari bahwa usulannya akan dianggap radikal dan memerlukan perubahan besar. Namun saat ini integrasi persekolahan dan masyarakat mulai ramai disuarakan kembali oleh para pakar seperti Sir Ken Robinson, Sugata Mitra, John Moravec, dll.

Integrasi sekolah dan masyarakat kini semakin dimungkinkan oleh kemajuan teknologi. Dengannya, masyarakat dapat membangun jejaring-jejaring belajar dan terlibat aktif dalam proses pendidikan anak-anaknya. Apabila sekolah tidak mengubah paradigmanya dan memilih untuk semakin memperkuat tembok pemisah dengan masyarakat, maka tembok-tembok itu akan runtuh dengan sendirinya dengan membawa serta relevansi persekolahan di abad 21 ini.

Read More

Pendidikan Nirhasrat

Posted by on 10 Jul 2013 in blog | 0 comments

Sudah beberapa kali kita mendengar penguasa pendidikan kita berucap, “Kalau tidak ada UN maka anak-anak tidak akan belajar.” Atau ada juga mantan penguasa yang dengan yakin berkata, “Lebih baik seribu anak stress [karena UN] daripada sejuta anak bodoh.”

Dari pernyataan ini kita bisa melihat bahwa mereka bermazhab forced learning. Mereka percaya bahwa belajar bukanlah sesuatu yang secara alami ingin dilakukan oleh anak maka ia harus dipaksa, terutama dengan disinsentif seperti ketidaklulusan sekolah. Tapi apakah benar paksaan bisa menjadi insentif yang baik untuk belajar?

Ada beberapa masalah mendasar dalam paradigma forced learning, utamanya terkait pesan yang diterima oleh si anak. Yang paling mendasar adalah forced learning menghancurkan hasrat belajar anak.

Anak akan merasa belajar bukanlah sesuatu yang menyenangkan dan tujuan belajar adalah untuk menyenangkan figur otoritatif [misal: guru, pemerintah, dll] alih-alih untuk kepuasan dirinya sendiri. Ia akan berpikir bahwa untuk menjadi siswa yang baik ia harus mempelajari apa yang menjadi minat dan kepentingan orang lain.

Dengan forced learning, belajar dikaitkan dengan perasaan takut dan keterpaksaan. Keinginan dan kemampuan berpikir kritis akan terkalahkan oleh insentif untuk memenuhi standar minimum yang ditetapkan oleh figur otoritatif. Anak akan merasa bahwa meraih standar minimum sudah cukup, tak perlu mengejar penguasaan untuk sesuatu yang menjadi hasratnya.

Saat anak mendapat waktu luang untuk lepas dari paksaan ini maka ia akan berlari menghindar dari belajar dan berusaha mencari kesenangan dalam bentuk lain. Dengan paradigma forced learning, kita akan bisa memaksa anak studying, tapi jangan terlalu berharap mereka mendapatkan learning sebenarnya.

Lebih parah lagi ketika forced learning diterapkan untuk memaksa anak melewati satu alur pendidikan [baca: persekolahan] standar. Maka akan terjadi penciutan keragaman keahlian, pengetahuan dan cara berpikir.

Mazhab alternatif dari forced learning adalah self-directed learning yang berusaha membangkitkan hasrat belajar anak dan mendorongnya mengarahkan sendiri serta bertanggung jawab penuh pada proses pembelajarannya.

Sugata Mitra, pakar teknologi pendidikan, membuat heboh dunia dengan eksperimen Hole in the Wall-nya yang membuktikan bahwa anak-anak mampu mengajari diri mereka sendiri dan memimpin arah proses pembelajarannya.

Meminjam istilah Prof. Iwan Pranoto, tugas pendidik yang utama adalah membuat anak kasmaran belajar. Learning should be a reward in itself. Memang sulit, tapi bukan alasan untuk ditinggalkan. Itulah mengapa guru adalah profesi mulia.

Maka ketika kita mendengar seorang pendidik mengatakan bahwa anak-anak tidak akan belajar bila tidak dipaksa, sesungguhnya ia sedang mengakui bahwa ia gagal membuat siswanya berhasrat belajar.

Read More

Modernisasi Persekolahan

Posted by on 9 Jul 2013 in blog | 0 comments

Dalam 20 tahun terakhir, perkembangan dunia semakin cepat. Kemajuan teknologi berdampak pada kehidupan ekonomi dan sosial masyarakat dunia. Dunia sains menghasilkan penemuan dan pengetahuan baru secara cepat. Namun paradigma dan praktek persekolahan kita relatif tak berubah sejak 100 tahun yang lalu.

Tak hanya pakar pendidikan, bahkan pakar IT Sugata Mitra dan pakar manajemen Seth Godin pun telah meneriakkan betapa sistem persekolahan saat ini telah tertinggal. Banyak institusi, seperti Stanford University dan Hewlett Foundation, pun telah membuat dan menyebarkan program panduan bagi sekolah untuk memodernisasi dirinya.

Beberapa poin yang dirasa perlu diubah dalam praktek persekolahan, di antaranya:

Integrasi dengan masyarakat. Pendidikan dahulu dilakukan secara insidental. Anak dilibatkan secara aktif dalam berbagai kegiatan sosial masyarakat dan mendapat pembelajaran darinya. Perkembangan teknologi saat ini memungkinkan siswa mendobrak tembok persekolahan, menjadikan semua orang sebagai sumber pengetahuan dan berkontribusi bagi masyarakat sekitar dan juga masyarakat global sekaligus. Pendidik harus membawa siswa terlibat aktif dan menemukan kesempatan pembelajaran dalam kegiatan sosial masyarakat.

Pendidikan orangtua.  Orangtua adalah pendidik pertama dan utama bagi anak. Tidak tepat apabila orangtua mengalihkerjakan pendidikan anak sepenuhnya kepada sekolah. Namun kita tak bisa berharap seluruh orangtua telah memiliki pengetahuan memadai tentang prinsip-prinsip pendidikan anak. Sekolah punya peran dalam menginisiasi sinergi dan berbagi pada orangtua tentang prinsip-prinsip pendidikan yang coba diterapkan. Sekolah pun selayaknya merancang proses belajar mengajar yang secara aktif melibatkan orangtua.

Brain-based learning. Kemajuan neurosains selama 20 tahun terakhir ini sangat pesat dan membuka pemahaman baru tentang cara kerja alami otak manusia. Sekolah perlu mengadopsi prinsip-prinsip neurosains ini ke dalam proses pembelajaran. Salah satunya terkait masalah penjadwalan. Misalnya, bila menuruti siklus alami otak anak, maka sekolah harusnya baru dimulai pukul 9-10 pagi, banyak berkegiatan di ruang terbuka, ada jeda yang cukup panjang antar perpindahan kelas, olahraga mendapat prioritas, tak ada PR bertumpuk, dll.

Evaluasi otentik. Ujian di sekolah sangat berpengaruh pada arah proses pembelajaran. Maka sekolah perlu menerapkan sistem evaluasi yang bersifat otentik dan mendorong siswa memperhatikan proses, bukannya fokus pada nilai akhir. Penggunaan portfolio assessment, misalnya, akan memancing siswa untuk membangun dan mengumpulkan karya secara kontinyu.

Masih banyak perbaikan lain yang bisa diterapkan untuk memodernisasi persekolahan kita, seperti penggunaan project-based learning, deeper learning, dll. Tergantung pada penguasa dan pengelola persekolahan untuk mengubah paradigma dan terbuka pada perubahan yang baik dan tertata demi menjaga relevansi persekolahan di abad ke-21 ini.

Menurut Anda, apa lagi yang perlu dilakukan dalam rangka memodernkan praktik persekolahan sesuai tuntutan abad ke-21 saat ini?***

Read More