20100516_raising-obedient-children_poster_imgPatuh, kepatuhan, itu adalah satu karakter yang harus dipelajari anak. Melalui  kepatuhan, anak akan terhindar dari bahaya dan dari cap negatif dalam masyarakat. Namun, mengajarkan kepatuhan itu bukanlah hal yang instant, tidak cukup hanya dengan memberi nasehat atau teguran sesekali. Tak cukup juga dengan memberi contoh perilaku patuh sesekali.

Karakter tiap anak berbeda. Ada anak yang sudah sejak bayi diajarkan untuk patuh, dan dengan mudahnya menurut dan mengingatnya. Tapi ada juga anak yang tidak mudah diajarkan kepatuhan. Walaupun sudah berulang kali diberi petunjuk, nasehat, bahkan diterapkan sistem hadiah dan hukuman, tapi si anak tetap sulit menerapkan kepatuhan jika tidak diingatkan.

Namun, sebagai orang tua dan pendidik, kita juga harus meneliti, apakah yang ada dibalik sikap patuh tersebut? Apakah sekedar patuh karena takut pada hukuman? Apakah patuh karena takut pada amarah orang tua? Apakah patuh karena paham tentang akibat dari ketidakpatuhan? Apakah patuh ditunjukkan hanya karena ingin dipuji? Nah, dasar-dasar ini yang harus kita pahami.

Anak, dilahirkan tanpa pengetahuan tentang peraturan kemasyarakatan. Anak juga dilahirkan tanpa berbekal pengetahuan tentang akibat dari tiap perbuatannya. Orang tua telah lahir lebih dahulu dan banyak mengetahuinya, sehingga sudah menjadi kewajiban orang tua untuk mengajarkan tentang peraturan kemasyarakatan dan konsekuensi perbuatan pada anak. Namun, anak dilahirkan sebagai sosok yang ingin mengeksplorasi banyak hal di dunia yang baru baginya. Terkadang, saking asyiknya bereksplorasi, anak lupa tentang hal yang boleh atau tidak boleh dilakukan. Dalam hal ini, anak seringkali dikatakan sebagai anak yang tidak patuh, bahkan dicap sebagai anak yang nakal, tanpa ada kepedulian untuk mempelajari apa yang ada dibalik ketidakpatuhan itu.

Problema lain adalah adanya kecenderungan membentuk anak jadi patuh yang hanya sekedar patuh, tanpa memperhitungkan pemahaman si anak tentang akibat dari kepatuhan atau ketidakpatuhannya. Misalnya, ketika melarang anak bermain korek api, orang tua tidak membeberkan tentang akibat yang bisa timbul jika si anak yang masih kecil bermain korek api, tapi hanya memberikan ancaman-ancaman yang tidak masuk diakal. Kemarahan atau hukuman terhadap ketidakpatuhan hanya akan memberikan kepatuhan jangka pendek, sebab anak hanya akan mempertimbangkan apakah orang tuanya bakal marah atau tidak, bakal menghukumnya atau tidak, tanpa paham akibat negatif utama yang akan muncul jika dia tidak patuh.

Lalu, bagaimana membentuk kepatuhan yang bisa berjalan sesuai harapan orang tua dan sesuai dengan pola pikir anak?

1. Dilakukan secara konsisten. Segala peraturan yang dibuat orang tua bagi anak sebaiknya diterapkan secara konsisten. Tanpa konsistensi, anak akan bingung, dan akan menimbulkan perilaku yang disebut orang dewasa sebagai “nakal”, efeknya tentu tidak baik. Kalau anak harus patuh pada suatu peraturan disuatu waktu, maka di lain waktu dia juga harus patuh pada peraturan yang sama. Masalahnya, orang tua yang suka bergantung pada perasaan sesaat (mood) seringkali tidak konsisten. Misalnya, kalau perasaan sedang tidak baik, maka kepatuhan wajib dilakukan. Kalau perasaan sedang sangat senang, kepatuhan anak tak perlu dilakukan.

2. Sediakan contoh nyata. Anak lebih mudah meniru perbuatan orang tuanya daripada nasehat orang tuanya. Oleh karena itu, apa orang tua juga wajib menunjukkan kepatuhan. Selain memberi contoh dari diri sendiri, sediakan pula contoh akibat jika seseorang tidak patuh, dan contoh akibat jika seseorang patuh. Tunjukkan dari contoh-contoh nyata itu akibat positif dari kepatuhan dan akibat negatif dari ketidakpatuhan.

3. Beritahukan walaupun ketika kepatuhan tidak sedang dituntut. Sebaiknya, mendidik karakter kepatuhan juga dilakukan terus menerus. Tidak hanya ketika kepatuhan itu sedang dituntut harus dilakukan. Ketika anak sedang santai, ceritakanlah tentang kepatuhan, bisa melalui dongeng, atau sharing pengalaman orang tua. Karena pada waktu seperti ini anak tidak panik, sehingga cerita atau sharing tersebut bisa lebih dipahami oleh anak. Dengan begini, kepatuhan benar-benar diresapi dan mudah ditunjukkan dalam perbuatan nyata. Berbeda dengan ketika anak mendapat teguran kepatuhan hanya ketika dia dituntut patuh, dalam keadaan ini anak panik, hingga dia hanya memahami kepatuhan sebagai suatu larangan tanpa mengerti alasan bahwa dia harus patuh.

4. Berikan gambaran nyata dari akibat yang timbul jika tidak patuh, bukan menakut-nakuti. Menakut-nakuti anak supaya patuh seringkali dilakukan orang tua pada anak balita. Yang paling sering saya dapati adalah ditakut-takuti “ditangkap polisi”. Ini sangat tidak baik, akibatnya hanya akan menimbulkan ketakutan yang irrasional tentang sosok polisi. Topik kepatuhannya malah bergeser, menjadi patuh tanpa alasan yang benar. Kepatuhan yang muncul pun sifatnya hanya sesaat. Memang, bagi orang tua, dengan menakut-nakuti ini efeknya instant. Anak jadi langsung patuh. Orang tua pun tenang melanjutkan aktivitasnya sendiri. Tapi bukankah lebih baik jika kepatuhan itu sifatnya menetap dan memiliki alasan logis yang benar-benar dipahami anak?

Dalam hal kepatuhan, orang tua seringkali menyalahkan anak karena ketidakpatuhan anak. Tapi sudah pernahkah orang tua berkaca, melihat bagaimana pola mendidiknya selama ini? Apakah sudah sesuai dengan pola pikir anak? Belajar hanya akan efektif jika sesuai dengan pola pikir pembelajar.***