Dimuat di Media Indonesia, Senin 20 Mei 2013

Angka pada usia adalah keniscayaan, tetapi keterpakuan pada gagasan usang lah yang menakutkan. Terlebih, jika gagasan usang dipaksakan pada kebijakan pendidikan publik, akan membahayakan generasi mendatang.

Gagasan Usang

Pemaksaan gagasan usang dan tak sesuai itu juga yang kerap menjadi akar kebanyakan masalah pendidikan nasional. Padahal, syarat kesesuaian antara pendidikan dengan generasi anak sudah diingatkan, antara lain oleh Ali bin Abi Thalib ra: “Didiklah anakmu sesuai dengan zamannya.”

Di ucapan itu terkandung tiga pesan. Pesan pertama mengingatkan bahwa penentu kebijakan pendidikan harus mampu merumuskan kecakapan apa yang dibutuhkan di masa depan, agar dapat membekali para siswa dengan kecakapan tersebut. Dan sebaliknya, agar menghindari membekali siswa dengan kecakapan basi yang tak relevan. Oleh karenanya, menjadi aneh saat mendengar pendapat pembelaan politisi pencetus UN, yang membandingkan soal tahun 1950an dengan soal matematika tahun 2000an. Terlebih lagi saat dikatakan bahwa soal tahun 1950an lebih susah dibanding sekarang. Itu dua disiplin dan masa yang sangat berbeda. Yang satu namanya Berhitung, sedang yang sekarang bernama Matematika. Selain itu, di kehidupan tahun 1950 belum ada kalkulator, sedang sekarang benda itu tersedia dan bahkan lebih murah dari harga sebungkus nasi Padang.

Matematika kerap dimaknai keliru sebagai keilmuan yang sudah tak berkembang lagi. Padahal kegiatan bermatematika dan peran matematika dalam kehidupan sekarang dibanding 60an tahun lampau jauh berbeda. Sekarang, kemampuan mematematikakan situasi sehari-hari jauh lebih dicari ketimbang berhitung. Merepotkan siswa dengan perhitungan ruwet nirmakna sudah bukan masanya.

Tampaknya, para pemaksa kebijakan UN ini layaknya berupaya memaksa memutar balikkan arah jarum jam pada siswa. Karena kecakapan basi semata yang diujikan lewat Ujian Nasional, para siswa jadi menghargai kecakapan berhitung rutin dan berpikir tingkat rendah. Kebijakan sejenis ini telah merusak citra matematika, yang sejatinya merupakan seni berpikir menjadi sekedar ketrampilan berhitung. Seharusnya, para siswa sekarang belajar utamanya kecakapan yang tak dapat dikerjakan mesin. Kecakapan berhitung mendasar memang masih harus dipelajari, namun itu bukan satu-satunya.

Pesan kedua menyatakan bahwa penentu kebijakan pendidikan harus paham bagaimana cara siswa sekarang belajar. Perkembangan ilmu syaraf modern membantu memahami bagaimana siswa belajar. Siswa di SD kelas 1 sekarang sampai mahasiswa tahun ke-2 di pendidikan tinggi termasuk generasi unik, yang disebut Generasi Z. Mereka belajar dengan cara sangat berbeda dengan gurunya apalagi dengan para penguasa pendidikan. Sudah sadarkah penentu kebijakan pendidikan bahwa warga asli dunia digital ini lebih suka belajar dari mesin, seperti video dan kegiatan interaktif, ketimbang dari manusia langsung?

Layaknya semua perubahan, gelombang digital berdampak baik sekaligus buruk. Generasi ini dikatakan sulit konsentrasi dalam waktu yang lama, enggan membaca buku, haus keberhasilan yang seketika, dsb. Tetapi, mereka ini cerdas dan dikenal penggarap tugas-banyak, mengerjakan banyak hal secara bersamaan. Kemudian, yang tak dapat disangkal lagi, gelombang kehidupan digital sudah merasuk dalam kehidupan manusia sehari-hari dan tak mungkin lagi menolaknya. Yang lebih arif adalah merancang persiapan dan peralatan guna berselancar bersama gelombang digital tersebut.

Pesan ketiga mengatakan bahwa ketersediaan metode serta teknologi mutakhir dalam dunia pendidikan harus dimanfaatkan secara optimum. Khususnya, saat sekarang ini, permasalahan utama pendidikan adalah keterbatasan mutu serta penyebaran guru di daerah terpencil dan sulit dijangkau. Itu adalah permasalahan abad 19 yang masih dihadapi bangsa ini sampai sekarang. Saat menyimak usulan rencana sistem pelatihan tatap muka untuk dapat melayani lebih dari 2,8 juta guru, termasuk di daerah-daerah sulit dijamah pula, membuat dahi berkerut. Ditambah lagi, mana mungkin pelatihan hanya sekali, katakanlah selama dua pekan, langsung dapat membuat guru cakap? Ini layaknya menyelesaikan permasalahan abad 19 dengan cara abad 19. Tentu rumit.

Namun, jika permasalahan tersebut dikaji menggunakan ketersediaan peralatan dan teknologi mutakhir, sebenarnya sederhana dan relatif mudah. Penerapan perlatihan nirdinding dan nirkabel akan mampu melayani pengembangan profesi para guru di pelosok. Penggunaan ponsel dan ponsel cerdas, harus dimanfaatkan dalam upaya pengembangan profesi para guru ini. Lewat pesan pendek, video sekitar lima menitan, dan forum berbagi guru, upaya peningkatan kecakapan guru mengajar dapat dilakukan secara lebih rutin, seperti mingguan.

Kampanye Kurikulum 2013 lewat SMS sudah gencar dilakukan. Mengapa tak memanfaatkan cara ini untuk melatih guru? Ketimbang uang pajak dan keringat rakyat dihabiskan untuk kampanye politik seperti itu, mengapa tak langsung saja melatihkan cara membelajarkan Bahasa Indonesia, Fisika, Sejarah, dsb lewat SMS? Ini era digital baru!

Pendidikan 2.0

Dalam dunia teknologi informasi, Internet 2.0 ditandai dengan keadaan saat masyarakat bukan lagi sebagai penyerap informasi pasif belaka, tetapi juga sebagai sumber informasi. Jaring sosial semacam Facebook, Twitter, YouTube, Slideshare, Wikis, dsb merupakan ilustrasi yang tepat atas esensi Internet 2.0. Berbagai situs ini sebenarnya tak menguasai informasi, tetapi penggunanya justru yang membagikan informasinya.

Analoginya, jika di Pendidikan 1.0 siswa menyerap pengetahuan dari guru, di Pendidikan 2.0 siswa saling membagikan pengetahuannya. Dengan ketersediaan jaringan Internet, Pendidikan 2.0 ini sangat cepat menjamur dan mewabah ke seluruh penjuru dunia. Guru dan siswa sekarang saling mengembangkan ilmu pengetahuan.

Yang tadinya guru menentukan siapa siswanya, dalam Pendidikan 2.0 justru siswa menentukan ingin belajar dengan siapa gurunya. Ini seperti Era Yunani kuno dan tradisi pesantren. Di era Pendidikan 2.0, setiap warga dunia maya dapat belajar dengan guru terbaik yang ada. Sangat jamak jika sekarang warga yang tinggal di pelosok Kalimantan dapat belajar langsung dengan prof. Sebastian Thrun yang pakar kecerdasan buatan atau prof. Keith Devlin yang pakar matematika. Gratis. Sekarang, diperlukan kolaborasi Balitbang Dikbud, Pustekkom, berbagai QITEP bersama Kominfo guna menyediakan layanan listrik dan Internet untuk daerah terpencil, agar Pendidikan 2.0 dapat dinikmati setiap warga. Peran utama Kemdikbud adalah pompa, bukan filter, bukan seperti kebijakan UN itu.

Di Pendidikan 2.0, siswa menentukan subjek apa dan kapan dia mau pelajari. Akibatnya, persekolahan formal bukan satu-satunya tempat belajar lagi. Mahluk bernama kurikulum nasional untuk negara seluas Indonesia menjadi suatu gagasan yang sangat tak relevan, jika tak mau dikatakan usang. Dalam buku The New Digital Age (Schmidt dan Cohen, 2013) difirmankan kurang-lebih sebuah berita gembira: “Siswa yang terpaksa berada dalam sistem sekolah dengan kurikulum dangkal atau hanya mengajarkan kecakapan menghafal, akan terselamatkan, karena sekarang akan memiliki peluang belajar di dunia maya yang mendorong penjelajahan keingintahuan dan berpikir kritis.”

Segera perlu dikampanyekan gerakan agar tiap warga saling menularkan virus hasrat membangun jaringan belajar mandiri. Mari berjuang dan belajar dengan menjadi guru, murid, bahkan pelatih guru di Pendidikan 2.0.  Perjuangan tanpa penyorak ini sudah lahir. Masing-masing kita segera membangun jaringan belajar, menjadi guru pejuang di Pendidikan 2.0. Masa depan republik di tangan kita warga, bukan Kurikulum 2013.

Dengan berselancar pada gelombang digital baru, nyalakan gagasan kemerdekaan di benak setiap anak republik. ***