Entah mengapa di satu hari itu saya mendapat beberapa pertanyaan (tepatnya: dipertanyakan) mengenai pilihan kata yang saya gunakan untuk Bincang Edukasi. Yang pertama, ada seseorang yang mempertanyakan kenapa saya memilih kata edukasi untuk Bincang Edukasi dan bukannya pendidikan. Saya cukup bingung dengan pertanyaan ini karena kata edukasi sudah ada di KBBI, jadi apa masalahnya? Saya jawab bahwa tidak ada yang salah dengan kata pendidikan dan tidak ada yang salah pula dengan kata edukasi. Kami memilih nama Bincang Edukasi karena dapat disingkat menjadi Bined yang lebih enak didengar sehingga mudah diingat.

Dari diskusi selanjutnya, rupanya sang penanya mempertanyakan preferensi kita semua dalam menggunakan kata-kata serapan daripada kata-kata yang “asli Indonesia”. (Oh ya, kata preferensi juga sudah ada di KBBI.) Ia mengingatkan bahwa dunia persekolahan kita dulu lebih memilih menggunakan istilah seperti ilmu alamilmu hewanilmu hayat dan ilmu bumi. Sekarang istilah-istilah itu sudah berubah menjadi biologifisikageologi, dan lainnya. Rupanya ia lupa bahwa ilmualamhewan dan hayat adalah kata serapan dari bahasa Arab, sedangkan bumi adalah kata serapan dari bahasa Sansekerta. Saya pahami kekhawatirannya, namun saat suatu kata sudah masuk ke dalam KBBI saya pikir tidak perlu lagi dipermasalahkan.

Kasus berbeda saya alami di pertanyaan kedua dari @arnellism, seorang pendidik muda dan luar biasa yang saya kenal melalui Twitter. Ia mempertanyakan pilihan kata presentan yang saya gunakan saat mengumumkan acara Bincang Edukasi, dan bukannya memilih kata pembicara. Saya katakan bahwa pembicara adalah terjemahan untuk kata speaker, sedangkan yang ingin saya ungkapkan adalah kata presenter. Serupa tapi tak sama. Seorang yang lain mempertanyakan apakah kata presentan ini ada dalam KBBI. Saya jawab belum ada, karena kata ini memang baru muncul dan baru digunakan oleh sebagian kalangan akademisi. Saya juga beri contoh bahwa kata unggah dan unduh yang dimunculkan untuk padanan kata upload dan download juga butuh waktu sebelum masuk KBBI. Kalau kita terpaku pada KBBI maka bahasa kita tidak akan berkembang.

Karena diskusi kami ini berlangsung di Twitter, saya sudah bisa menebak apa yang terjadi sesudahnya. Beberapa orang langsung menanyakan kepada mas @ivanlanin tentang pilihan kata presentan yang saya gunakan. Mas Ivan Lanin adalah praktisi bahasa Indonesia yang terkenal di Twitter. Ia kemudian menjelaskan bahwa ia menduga kata presentan terbentuk (dari kata presentasi, yang sudah ada di KBBI) seperti halnya kata akuntan terbentuk (dari kata akuntansi). Ia juga mengatakan bahwa kita sebenarnya bisa menggunakan kata penyaji. Saya masih belum puas dengan usulannya karena kata penyaji (dari kata dasar saji) menurut saya lebih pas untuk menerjemahkan kata servant (dari kata dasar serve), walaupun kata servant juga dapat diterjemahkan dengan kata pelayan. Misalnya, kalimat “dinner has been served” akan diterjemahkan menjadi “makan malam telah tersaji”. Saya sendiri sebenarnya pernah memikirkan kata padanan lain untuk presentation dan presenter, yaitu paparan dan pemapar. Namun kata ini dapat bertabrakan dengan kata expose yang juga bisa diterjemahkan menjadi papar. Misalnya, kalimat “our skins are exposed to the sun” akan diterjemahkan menjadi “kulit kami terpapar matahari”. Melalui alur berpikir inilah akhirnya saya tetap lebih memilih menggunakan kata presentan.

Apakah saya salah saat memilih menggunakan kata presentan yang relatif baru dan tidak lazim? Saya tidak tahu dan cukup ragu juga sebenarnya saat itu. Namun saat berkelana dari laman ke laman di internet untuk mencari referensi tentang kata-kata baru dalam bahasa Indonesia, saya menemukan artikel berjudul “Pasar Bahasa” yang ditulis oleh Pak @jajang_jahroni. Ia menjelaskan bahwa bahasa adalah pasar yang menempatkan kita semua sebagai penjual dan pembeli. Sebagai sesama penjual dan pembeli, kita selayaknya terus mencari, mencoba dan menemukan kata-kata baru untuk mengatasi berbagai persoalan kebahasaan kita. Pasar lah yang akan menentukan apakah eksperimen kita akan diterima. Dari artikel itu saya belajar bahwa bahasa adalah diskursus yang dinamis dan hidup. Dalam bahasa tidak ada kata yang “benar” atau “salah”, yang ada adalah kata yang “lazim” atau “diterima” dan yang “masih berproses” atau akan “tersingkir”.

Akhirnya saya merasa perlu berterima kasih kepada teman-teman yang bertanya tentang pilihan kata-kata saya di Bincang Edukasi saat itu dan membuat saya belajar hal baru tentang bahasa kita. Saya merasa lebih bersemangat untuk bereksperimen mencoba dan menguji kata-kata baru untuk kata-kata yang (saya merasa) belum ada padanannya di bahasa Indonesia. Saya jelas bukan ahli bahasa, tapi saya tidak mau tertinggal serunya bereksperimen dan bermain-main di pasar bahasa.***