Post Event Interview with Karina Adistiana

Bincang Edukasi #2 Jakarta | 27 Juli 2011

Pegiat pendidikan, setelah acara Bincang Edukasi 02 [Video], kami melakukan wawancara dengan Mbak Karina Adistiana, inisiator Gerakan Peduli Musik Anak. Berikut ini petikan wawancaranya.

 

Bisa tolong ceritakan bagaimana latar belakang pendidikan Mbak Karina?

Saya lulusan Magister Profesi Psikologi Pendidikan dari Universitas Indonesia. Dari lahir sampai SMA saya sekolah di Surabaya, baru tahun 2000 saya ke Depok untuk kuliah S1 & S2. Kalau pendidikan non-formal saya nggak pernah dapat ijazah kursus, hanya saya suka ikut seminar, workshop & pelatihan, khususnya yang terkait dengan pendidikan dan juga bencana. Pernah juga ikut pelatihan hypnotherapy tapi hanya dimanfaatkan untuk diri sendiri.

 

Konsep pendidikan seperti apa yang diterapkan di dalam keluarga Mbak Karina? 

Saya dan kakak saya adalah korban salah asuhan kalau dari ukuran orangtua anak Indonesia pada umumnya. Orangtua saya menikah muda jadi mereka punya pola asuh yang melenceng dari kebiasaan umum. Mereka tak banyak mengatur. Saya jarang disuruh belajar,sejak kecil orangtua menegaskan kewajiban mereka hanya memberi pendidikan dan kami harus bertanggungjawab atas masa depan kami sendiri. Ngaji dikasih guru sampai khatam lalu selanjutnya terserah kami. Apapun pilihan didukung asal kami bisa menjelaskan alasan2 logis. Waktu SD diberi uang jajan mingguan dan disuruh atur sendiri, SMP dan SMA bulanan, kalau habis nggak bisa minta lagi kecuali bisa kasih alasan yang kuat. Kami dibebaskan untuk mengemukakan pendapat, karena itu meja makan jadi ‘medan tempur’. Maklum, orangtua mantan demonstran, wkt SMA papa saya ditahan 40 hari krn pimpin demo teman2 SMA-nya, mama saya berhasil sembunyi tidak tertangkap. Kedua orangtua saya keluar dari kuliah karena keinginan sendiri tapi bukan krn merasa tidak sesuai dgn ilmunya ya, pindah ke jurusan lain lalu keluar lagi. Tapi papa saya yg tak punya gelar S1 bisa lulus S2 dan sampai skrg ijazahnya tak diambil krn tidak penting katanya. Terkait latar belakang pendidikan orangtua, anak2nya tidak pernah dipaksa menyelesaikan sekolah formal, boleh keluar asal punya alasan kuat. Saya pilih selesai krn terlanjur jatuh cinta dengan ilmu psikologi sejak SMP.
Orangtua saya jarang menasehati anak2nya. Tapi kalau dipikir-pikir, mereka itu kasih contoh lewat perilaku dan kegiatan yang menyenangkan sebagai metode pengajaran.. Sejak kecil mama selalu menyanyi untuk anak2nya,kami nyanyi bareng. Kadang mama main harmonika dan kami juga kadang meniru dalam gerak lirik yg sedang dinyanyikan. Mama juga sering bahas isi lagu yang dinyanyikan. Dulu mama saya juga asuh kami sambil kuliah, jadi kalau mama masuk kelas, saya duduk di kantinnya, akrab dengan penjaga kantin juga dgn mahasiswa2 teman2 mama. Pulang kuliah mama jadi relawan di panti asuhan Katolik (kami muslim), jadi saya ikut memandikan (atau mandi bareng tepatnya) anak2 panti dan duduk makan bersama mereka. Belajar toleransi. Kalau pergi keluar kami harus berpakaian rapi, menghargai diri sendiri kata mereka. Kami diajarkan berhemat untuk berbagai hal tapi kalau untuk buku orangtua selalu mengupayakan ada uang, toko buku mmg jd tempat hmamaran selain taman (jaman dulu jarang mall ya). Waktu SMA, thn 98 lagi ramai2nya demo orde baru,Papa ajak saya demo di Taman Bungkul Surabaya, denger beliau orasi, kami juga pergi rapat2 bersama berbagai organisasi. Di situ sy belajar banyak tentang perbedaan pendapat dan metode pengambilan keputusan serta pencarian solusi dari ayah dan ibu saya.

 

Bagaimana pandangan Mbak Karina tentang kondisi umum pendidikan Indonesia saat ini dan apa yang paling mendesak untuk diperbaiki?

Sejak saya sekolah sampai sekarang, pendidikan Indonesia masih berorientasi pada nilai akhir dan bukan proses. Sekolah berfungsi sebagai laundry, orangtua masukkan anak, berharap keluar pintar dan baik. Hafalan teori diagung-agungkan, termasuk dalam pelajaran matematika, fisika, dan kimia. Wajar pelajaran2 ini menjadi momok. Bahkan dalam pelajaran seni seperti musik dan lukis lagi2 teori, gambar yang bagus itu seperti apa, main musik harus bagaimana, dll. Siswa-siswa yang dapat piala untuk bidang pelajaran di sekolah saya dulu dipuja-puji oleh guru, dijadikan contoh di semua kelas. Yang ‘nakal’ juga dapat perhatian melalui hukuman, juga dicemooh. Paling kasihan yang ditengah-tengah, tak diingat oleh guru. Padahal setiap murid punya keunikan sendiri, punya potensi. Setelah jadi psikolog, saya sering sekali melakukan pemeriksaan psikologis untuk anak SMA, sedih sekali saat saya sadar sebagian besar dari mereka tidak tahu mau masuk jurusan apa, tidak tahu kemampuan atau kelebihannya, menganggap diri punya lebih banyak kekurangan. Baca-baca hasil penelitian, ketemu guru-guru, juga orang-orang di dunia industri kerja lebih membuat saya lebih kaget lagi karena jumlah pengangguran banyak, guru merasa dipaksa kejar nilai ujian, para lulusan baru dianggap tidak perform dan tidak punya kesiapan karir yang baik. Jadi apa gunanya sekian tahun pendidikan yang dijalani kalau mereka tak kenal diri sendiri, tak punya perencanaan dan kesiapan untuk terjun ke dunia nyata?? Bukankah ini yang seharusnya jadi tujuan pendidikan? Ini yang menurut saya perlu diperbaiki. Stop berorientasi pada nilai ujian akhir, beri kesempatan anak untuk eksplorasi kemampuan, sikap kerja, dan kenal serta kembangkan aspek2 kepribadiannya.

 

Mengapa memilih jalan perjuangan melalui Gerakan Peduli Musik Anak?

Saya alami sendiri senangnya belajar dengan musik. Banyak nilai yang disampaikan Mama saya melalui lagu yang dinyanyikannya masih jadi pegangan hidup saya sampai sekarang. Ketika saya kuliah saya miris lihat anak-anak, dari pengamen jalanan sampai anak-anak sekolah internasional nyanyi lagu-lagu yang isinya negatif dan tidak sesuai tahap perkembangan mereka seperti perselingkuhan dan keputusasaan. Tak ada yang menyanyikan lagu yang menggambarkan semangat dan daya juang. Di kuliah saya juga ketemu teman-teman yang punya idealisme bermusik yang keren, sering diskusi dengan mereka, termasuk dengan calon suami saya yang musisi (penyanyi, pencipta lagu) dan manajer band independen selain bekerja di fakultas tempat saya kuliah. Ini saya lihat dimana-mana, pergi ke beberapa daerah (untuk urusan pekerjaan dan bencana) baik di Jawa, Kalimantan, Sumatera, maupun Sulawesi memberi saya kesempatan ngobrol dengan guru dan orangtua serta anak ternyata kondisinya sama. Waktu susun tugas akhir S2 saya mesti bikin program intervensi dan saya pilih intervensi terapi musik, disitu saya banyak baca teori dan hasil penelitian tentang peran musik selain sebagai hiburan. Musik bisa jadi alat pendidikan yang kuat dan hal ini belum disadari oleh banyak orang. Itu kalau dari alasan manfaat. Dari segi praktis,saya dikelilingi oleh sumberdaya yang memadai untuk melakukan sesuatu berkaitan dengan musik anak, saya belajar teori-teori perkembangan dan pendidikan, suami saya dan banyak teman kami bisa nyanyi dan menciptakan lagu. Label record juga suami dan teman-temannya sudah buat dari belasan tahun lalu. Jadi ya kenapa tidak dimanfaatkan?

 

Apa saja rencana dan target Gerakan Peduli Musik Anak ke depan? 

Rencana terdekat kembangkan website pedulimusikanak.com yang saat ini belum sempat diisi. Selain itu, menyebarkan CD Yo’ Mari Berdendang (sudah dua ribu CD kami sebarkan gratis) juga konser dan buat rekaman CD lain. Untuk konser sedang digarap konsepnya CD juga sedang dalam pembuatan lagu-lagu. Kami juga sedang buat modul workshop karena ada permintaan agar kami berbagi lebih dari penjelasan. Kami sempat dapat kesempatan talkshow di radio (5 sesi) dan berencana mencari radio lain yang mungkin bisa menjadi tempat siaran lagi. Saya juga sedang mengumpulkan keberanian untuk menulis buku tentang mendidik melalui musik (mohon doanya).
Target kami adalah lebih banyak orangtua dan guru menyadari kekuatan musik sebagai alat pendidikan sehingga mereka juga bisa memilah musik untuk diperdengarkan pada anaknya. Kita tak punya sistem seperti di Amerika yang menuliskan panduan usia di album musik sehingga semua sangat tergantung pada orang dewasa di sekeliling anak untuk menyaring lagu. Harapannya beberapa tahun ke depan kita juga bisa kerjasama dengan media dan tempat publik yang sering jadi tempat kumpul keluarga seperti mall dan restoran agar bisa pasang lagu yang ramah anak (topiknya positif dan sesuai tahap perkembangan anak).

 

Bagaimana caranya bila ada orang yang tertarik dan ingin mendukung Gerakan Peduli Musik Anak?

Anda bisa bantu dengan cara apapun, minimal dengan menyebarkan ide pemilahan dan pemilihan lagu yang tepat untuk anak-anak di sekitar Anda. Bisa kontak saya di twitter @anyi_karina atau e-mail cupum4n@gmail.com dankarina.adistiana@gmail.com untuk mendapatkan CD. Anda juga bisa bantu menyebarkan ide ini ke institusi pendidikan lengkap dengan penjelasan tentang pesan pemilahan lagu untuk anak (jangan Cuma kasih CD). Bila ada tempat yang bersedia untuk jadi tempat pick-up point CD juga bisa hubungi kami. CD ini kami sebar gratis karena merupakan bagian dari presentasi program namun untuk pembuatan dan penggandaan CD sampai saat ini kami belum memiliki strategi pembiayaannya, karena itu kami juga sangat senang seandainya ada yang mau ikut menjadi donatur. Dan tentunya yang sangat kami butuhkan adalah jaringan, kami akan sangat terbantu seandainya ada saran atau referensi untuk membantu jalannya program (pembuatan CD, konser, siaran radio, dll) serta mengembangkan gerakan ini agar dapat memberi lebih banyak manfaat untuk orang lain. Terkait materi lagu, kami juga membuka diri bila Anda berkenan menawarkan lagu yang sesuai dengan kriteria ramah anak.

 

Apa tips yang dapat diberikan untuk orang-orang yang ingin membangun gerakan pendidikan?

Jangan ragu, yakinlah bahwa pendidikan merupakan jalan untuk mengembangkan bangsa ini. Siapkan diri untuk menerima berbagai komentar negatif. Bangun jaringan dengan gerakan pendidikan lain untuk menguatkan gerakan Anda dan selalu buka diri terhadap kritik dan saran serta selalu update informasi baru. Ada baiknya cari tahu juga gerakan yang sudah ada dan kondisi pendidikan yang membuat Anda ‘gatal’ untuk terjuni bidang ini. Tetapkan komitmen dan yang penting mulai dulu, kalau banyak yang dipertimbangkan dan banyak keraguan yang ada nanti Anda tidak mulai-mulai bergerak.

 

Apa harapan untuk pendidikan Indonesia ke depannya?

Berorientasi pada proses dan pengembangan karakter. Mengacu pada pendidikan karir (bukan kerja), memfasilitasi anak untuk mengenal dirinya (kemampuan, sikap kerja, kepribadian, keinginan) serta membantu anak melihat kesempatan-kesempatan yang ada sehingga ia dapat membuat rencana masa depan dan hidup mandiri di masa mendatang.

 

Menurut Mbak Karina, bagaimana cara terbaik untuk mencapainya (dari harapan yang telah disebutkan di atas)?

Idealnya dari segi sistem hapuskan ujian nasional sebagai acuan baik buruknya siswa bahkan baik buruknya sekolah. Perkuat hubungan orangtua-guru, perkuat kompetensi guru di sekolah, perkuat pendidikan nilai. Kalau mau sebetulnya departemen pertama yang harus dibersihkan oleh KPK adalah departemen pendidikan nasional. Seluruh jajaran harus bersih. Tak boleh ada korupsi di bidang pendidikan karena ini merupakan contoh nyata untuk anak, termasuk sampai ke institusi-institusi pendidikan termasuk sekolah dan perguruan tinggi. Seandainya anggaran pendidikan betul-betul turun semua itu saja menurut saya sudah akan banyak membuat sekolah bisa bernapas lebih lega dan lebih fokus untuk memberi pendidikan yang baik. Anak juga melihat langsung contoh integritas yang akan bermanfaat bagi mereka.
Di sisi lain, lama kalau menunggu perbaikan sistem dari pemerintah, karena itu gerakan-gerakan pendidikan yang terjun langsung ke masyarakat juga harus lebih aktif menggeliat. Sadarkan masyarakat akan fungsi utama pendidikan yaitu mempersiapkan generasi penerus untuk terjun ke dunia karir dan mengembangkan bangsa ini. Hendaknya memang gerakan-gerakan pendidikan yang ada sekarang ini terus membuat jaring-jaring kerjasama dan berbagi informasi serta saling menunjang. ***