Post Event Interview with Nandha Julistya

Bincang Edukasi #2 Jakarta | 27 Juli 2011

 

Pegiat pendidikan, setelah acara Bincang Edukasi 02 [Video], kami melakukan wawancara dengan Mas Nandha Julistya, inisiator Reading Bugs. Berikut ini petikan wawancaranya.

 

Dapat diceritakan bagaimana latar belakang pendidikan Mas Nandha?

Saya adalah lulusan jurusan Komunikasi FISIP UI dan Teknik Mesin Politeknik ITB.

 

Konsep pendidikan seperti apa yang diterapkan di dalam keluarga Mas Nandha? 

Orangtua saya sangat keras dalam mewajibkan anak-anaknya sekolah, namun sangat longgar dalam mewajibkan anaknya belajar setelah pulang sekolah. Belajar oleh orangtua saya tidak melulu dilihat dengan mengerjakan PR. Setiap waktu kebersamaan saya dengan orangtua, selalu ada hal-hal baru yang orangtua sampaikan untuk memenuhi keingintahuan kami. Begitulah cara saya belajar. Mereka dapat sangat antusias memfasilitasi anak-anaknya untuk menggali sesuatu lebih jauh apabila kami begitu tertarik atas suatu topik tertentu. Itu akhirnya menjadi sebuah tantangan buat saya untuk terus menggali informasi.

 

Bagaimana pandangan Mas Nandha tentang kondisi umum pendidikan Indonesia saat ini?

Sejujurnya saya cukup miris melihat kondisi pendidikan saat ini. Para pemangku kepentingan (orangtua, guru, sekolah) sering melihat terlalu jauh ke depan namun lupa akan apa yang ada di depan mata. Mereka sangat ‘result oriented’ namun melupakan proses-proses alami yang seharusnya peserta didik lewati. Buat mereka, ukuran-ukuran pendidikan hanyalah nilai ujian yang tinggi, fasilitas yang mewah, prestise yang dihasilkan, dll. Banyak orangtua yang lupa atau tidak mau tahu bagaimana proses untuk mendapatkan hal-hal di atas yang sesungguhnya membutuhkan keterlibatan mereka. Kondisi ini kemudian dimanfaatkan oleh yayasan-yayasan pendidikan yang hanya mengejar materi untuk mencari keuntungan sebesar-besarnya. Nilai-nilai pendidikan dan pengajaran akhirnya tidak lagi menjadi prioritas atau ‘spirit’ yang menjiwai sebuah lembaga pendidikan.

 

Apakah yang paling urgent untuk diperbaiki dari pendidikan kita saat ini? 

Paradigma dari para pemangku kepentingan. Banyak orangtua yang memaksakan anaknya untuk menguasai sesuatu dengan instan. Banyak guru yang menjadi guru karena terpaksa akibat kalah berkompetisi dalam mencari pekerjaan. Banyak sekolah diperlakukan sebagai ‘profit center’ oleh pengelola pendidikan sebagaimana bisnis pada umumnya. Para pemangku kepentingan bersikap seolah-olah hanya mereka yang mengetahui apa yang terbaik bagi anak-anak peserta didik. Peserta didik hanya menjadi obyek dari para pemangku kepentingan di atas. Semua itu harus diubah dan diperbaiki segera.

 

Mengapa memilih jalan perjuangan melalui Reading Bugs?

Reading Bugs itu seperti sebuah kejutan yang menyenangkan buat saya. Dia seperti melengkapi rantai kampanye peduli pendidikan yang sudah saya lakukan selama ini. Dengan mengusung konsep Read Aloud, Reading Bugs menjadi gerbang masuk buat kami untuk mempengaruhi orangtua, guru, dan sekolah dalam memandang anak atau peserta didik saat menjalani proses pendidikan. Konsep ini membuat orangtua dan guru harus berperan lebih aktif dalam proses tersebut. Sistem komunikasi yang terbangun akhirnya menjadi sebuah sistem komunikasi dua arah, dimana orangtua, guru, dan sekolah juga harus mendengar suara/pendapat seorang anak atau peserta didik karena keberhasilan pendidikan adalah refleksi dari sebuah upaya bersama antara peserta didik dan para pemangku kepentingan di atas.

 

Apa saja rencana dan target Reading Bugs ke depan? 

Kami berharap orangtua, guru, dan sekolah yang menerapkan konsep Read Aloud menjadi semakin luas. Apabila ini terjadi, kemampuan membaca sebagai fundamental pendidikan yang harus dikuasai oleh anak atau peserta didik akan semakin mudah tercapai. Orangtua tidak perlu takut anaknya tidak bisa membaca saat sudah masuk usia sekolah. Di sisi lain, anak akan senang membaca akibat peran aktif orangtua dalam membangun pengalaman membaca yang menyenangkan.

 

Bagaimana caranya bila ada orang yang tertarik dan ingin mendukung Reading Bugs?

Banyak bentuk dukungan yang bisa diberikan, di antaranya dengan menjadi relawan Reading Bugs, trainer Read Aloud, dukungan publikasi, dukungan akses, ataupun sponsorship. Semua pada dasarnya dikembalikan kepada individu masing-masing. Bagi yang tertarik bisa menghubungi saya melalui email : nandha_julistya@yahoo.com atau HP : 0811 833773. Apabila tidak terangkat, mohon untuk meninggalkan SMS di nomor tersebut agar bisa saya tindaklanjuti.

 

Apa tips yang dapat diberikan untuk orang-orang yang ingin membangun gerakan pendidikan?

Mulailah dari hati. Bawa hati kita dalam gerakan yang kita bangun. Selalu mengacu pada nilai-nilai luhur pendidikan yang ingin kita tuju.

 

Apa harapan untuk pendidikan Indonesia ke depannya?

Kembalinya nilai-nilai luhur pendidikan dalam pelaksanaan pendidikan di Indonesia serta pemerataan kesempatan pendidikan yang dapat dirasakan oleh seluruh putra-putri Indonesia.

 

Menurut Mas Nandha, bagaimana cara terbaik untuk mencapainya (dari harapan yang telah disebutkan diatas)?

  • Mengajak sebanyak mungkin elemen masyarakat untuk turut terlibat dalam kegiatan-kegiatan kami.
  • Mengajak masyarakat untuk melihat, apakah paradigma yang selama ini dianut sudah sesuai dengan harapan yang mereka inginkan berdasarkan nilai atau norma yang berlaku?
  • Mengajak masyarakat untuk melihat, apakah pelaksanaan pendidikan saat ini sudah meletakkan peserta didik pada tempat yang seharusnya?
  • Berusaha menjadikan Reading Bugs sebagai bagian dari pressure group kepada pemerintah untuk mengeluarkan kebijakan-kebijakan yang pro pada esensi pendidikan seutuhnya.***