Loris Malaguzzi [kanan]

Seperti sudah saya tulis di posting sebelumnya, Loris Malaguzzi sebagai penemu Reggio Emilia Approach juga membuat sebuah Charter of Rights yang mencantumkan hak-hak yang dimiliki oleh anak-anak, para guru, dan para orang tua dalam lingkungan pendidikan Reggio Emilia. Charter ini menjadi basis utama dari Reggio Emilia Approach. Jujur saja saya kesulitan menerjemahkannya, walaupun menerjemahkan berdasarkan konteks dan bukan kata per kata, karena Charter of Rights ini dipenuhi dengan kalimat-kalimat majemuk dan kata-kata “bersayap”. J Berikut ini adalah terjemahannya.

 

HAK ANAK-ANAK

Anak-anak memiliki hak untuk diakui sebagai subjek dari hak individu, legal, sipil, dan sosial; sebagai sumber dan pembangun dari pengalaman mereka sendiri dan oleh karenanya menjadi partisipan aktif dalam pengorganisasian identitas, kemampuan, dan otonomi mereka, melalui hubungan dan interaksi dengan kawan sebaya, dengan orang dewasa, dengan ide dan konsep, dengan objek, dan dengan kejadian nyata maupun imajiner dalam dunia yang saling terkait dalam komunikasi. Semua ini, sambil tetap meneguhkan premis dasar untuk menghasilkan “warga dunia” yang lebih baik dan meningkatkan kualitas interaksi manusia, juga menghargai anak-anak, dan setiap individu dari mereka, dengan keberlimpahan kemampuan dan potensi bawaan, serta kekuatan dan kreativitas. Penderitaan dan pengerdilan anak bisa terjadi saat fakta-fakta ini tidak diperhatikan.

Berangkat dari pemahaman ini, kami mengakui hak anak-anak untuk menyadari dan mengembangkan potensinya, menitikberatkan kemampuan mereka bersosialisasi, menerima minat dan kepercayaannya, dan memuaskan kebutuhan dan keinginan mereka untuk belajar. Semua ini akan lebih nyata apabila anak-anak diyakinkan oleh para orang dewasa dalam hidupnya yang membentuk kerja sama efektif di antara mereka, para orang dewasa yang selalu siap membantu, yang lebih menitikberatkan pada pencarian strategi pemikiran dan tindakan yang konstruktif daripada sekedar pemberian pengetahuan dan keterampilan secara langsung.

Strategi konstruktif ini memberi kontribusi pada pembentukan kecerdasan kreatif, kebebasan berpikir, serta rasa keunikan diri yang sensitif dan awas, melalui proses diferensiasi dan integrasi dengan orang dan pengalaman lain secara berkelanjutan.

Apabila hak-hak anak-anak ini diakui sebagai hak dari seluruh anak di dunia maka ini adalah pertanda tingkat kemanusiaan yang lebih maju

.

HAK PARA GURU

Adalah hak para guru dan pekerja setiap sekolah untuk ikut berkontribusi pada pengkajian dan persiapan model-model konseptual untuk mendefinisikan konten, tujuan, dan pratek pendidikan. Kontribusi ini terjadi melalui proses diskusi terbuka antar staf pendidik, dengan koordinator pedagogis dan komite orang tua, selaras dengan hak orang tua dan keluarga; melalui kerja sama dalam pemilihan metode, didaktis, proyek riset dan observasi; melalui pendefinisian area pengalaman, training mandiri para guru dan pengembangan staf umum yang berkelanjutan, inisiatif budaya, dan tugas-tugas manajemen komunitas. Kerja sama ini juga meluas kepada organisasi dan lingkungan kerja sehari-hari di sekolah.

Jaringan proses interaktif majemuk dan kooperatif seperti ini, yang menjadi wahana bagi kontribusi ide dan kemampuan setiap individual dan semua yang terlibat di dalamnya – dan selalu terbuka kepada eksperimentasi dan modifikasi – menjadi model untuk riset, interaksi edukatif, pengalaman, dan juga hidup. Ini adalah model yang tidak hanya memberikan kehidupan baru kepada peran sekolah dan keluarga namun juga mempengaruhi dan mendorong secara mendalam bentuk sosial dari konstruksi dan rekonstruksi pengetahuan, memberikan kepada anak sesuatu yang hidup dan menstimulasi, yang berintegrasi secara sempurna kepada kebutuhan dan keinginan dunia relasi dan kepatutan kognitif mereka.

Bagi setiap dan seluruh guru, ini adalah kondisi yang meningkatkan komunikasi dan komparasi antara ide dan pengalaman, yang keseluruhannya memperkaya alat evaluasi profesional.

 

HAK PARA ORANG TUA

Adalah hak para orang tua untuk berpartisipasi secara aktif dalam penumbuhan, perawatan, dan pengembangan anak mereka yang dipercayakan kepada institusi publik, dengan tetap menghormati prinsip-prinsip dasar. Ini artinya tidak ada delegasi dan tidak ada alienasi. Sebaliknya, hal ini menegaskan pentingnya kehadiran dan peran orang tua, yang selalu sangat dihargai pada institusi tradisional kami.

Kami memiliki sekolah yang berusaha secara kuat dan terkoordinasi untku melibatkan orang tua karena kami memiliki kesadaran tentang banyaknya manfaat yang bisa didapat dari kolaborasi erat dengan keluarga siswa demi rasa aman dan nyaman mereka.

Partisipasi orang tua memungkinkan terbentuknya jaringan komunikasi yang berujung pada pengetahuan yang lebih utuh dan bersifat timbal balik, serta pencarian yang lebih efektif terhadap metode, konten, dan nilai-nilai pendidikan terbaik.

Kami juga bekerja sama dengan para orang tua yang umumnya masih muda, dari berbagai latar belakang, profesi, pengalaman, dan suku bangsa. Namun semura orang tua ini harus berjuang mengatasi kurangnya waktu, mahalnya biaya hidup, beratnya tanggung jawab sebagai orang tua, dan keinginan untuk mengidentifikasi, mendiskusikan dan merefleksikan masalah mereka, terutama yang terkait dengan pertumbuhan dan pendidikan anak-anak mereka. Ketika sekolah dan orang tua mampu menjalin kerja dan pengalaman bersama, serta pengalaman interaktif yang rasional dan memberikan pilihan yang menguntungkan bagi semua pihak (kami selalu mengejar pengalaman bermakna), maka akan mudah untuk dilihat betapa bersahabat dan suburnya strategi partipasi dan riset bersama ini.

Pada kenyataannya, partisipasi dan riset adalah dua istilah yang menyimpulkan keseluruhan konsep teori pendidikan kami. Dua istilah ini juga dapat dilihat sebagai prasyarat terbaik untuk menginisiasi dan mempertahankan pemahaman kooperatif antara orang tua dan guru, yang kesemuanya memberikan nilai tambah bagi prospek edukasi anak-anak.***