Pendidikan adalah perihal yang penting bagi bentukan peradaban suatu bangsa. Selama ini kita mempercayakan pendidikan kita kepada -yang semoga dimuliakan Tuhan- para guru-guru kita.Dan menjadi guru itu sendiri tidaklah mudah dengan begitu banyaknya peran yang harus dia jalankan.

Guru adalah seorang komunikator, pendisiplin, penyampai informasi, evaluator, manajer kelas, penasehat, anggota kelompok, pengambil keputusan, suritauladan, dan perwakilan orang tua. Setiap peran membutuhkan keterampilan dan pembiasaan. Tapi yang tak kalah penting adalah mentalitas dan cara pikir yang harus dimiliki, karena itulah yang nantinya akan mengantarkan pada penguasaan kompetensi.

Pengajar yang baik memiliki rasa cinta yang dalam dan kaya. Dia tidak hanya cinta pada siswa, pada anak-anak, pada mata pelajaran yang diajarnya, tapi secara mendasar dia cinta pada apa yang dia sedang dan senantiasa lakukan sebagai guru/pengajar.

Anda ingat cerita tiga tukang bangunan yang sedang mengaduk semen dan menata bata? Ketika ditanya,”Kamu sedang apa?”, maka orang pertama menjawab,”Lha masa ndak bisa liat, aku ini kan ya lagi ngaduk semen ama nata bata.”. Orang kedua memberi tanggapan yang berbeda; dia berkata, “Aku sedang membangun masjid”. Rupanya dia bisa melihat gambaran lebih besar dan implikasi dari apa yang saat ini sedang dilakukannya. Adonan semen dan tumpukan bata adalah apa yang dia lihat sekarang. Tapi apa dia pilih untuk lihat adalah akan jadi apa adukan semen dan tumpukan bata di hadapannya saat ini. Dan dia adalah orang yang lebih termotivasi dalam bekerja ketimbang orang pertama.

Lantas bagaimana dengan orang ketiga?
Orang ketiga memberikan tanggapan yang bahkan lebih menarik daripada kedua rekannya. Dia menjawab, “Aku sedang membangun peradaban mulia melalui masyarakat yang kian cinta dan dicintai oleh Tuhan.” Ternyata dia bahkan melihat lebih jauh ketimbang sekedar masjid. Dia melihat apa yang bisa disumbangsihkan oleh sebuah masjid terhadap masyarakat sekitarnya, dan bagaimana itu lantas berdampak pada masyarakat di lingkup lebih besar. Penglihatan dia atas apa yang dia kerjakan, apa-apa yang dia impikan, semua lebih besar ketimbang dirinya sendiri sekarang, ketimbang adonan semen dan tumpukan batu bata di hadapannya sekarang.

Ketiga orang tukang bangunan itu memberikan jawaban yang benar, tapi adalah jawaban ke-3 yang membuat seseorang bakal lebih berjuang dengan damai dan suka hati untuk hasil kerja yang mendatangkan decak kagum dari para malaikat dan manfaat besar bagi ummat.

Sama juga , jika “mengajar siswa di kelas” adalah hasrat tertinggi dari seorang guru/pengajar, maka kualitas pengabdian dia pastilah kalah dengan pengajar yang berhasrat untuk kebesaran siswanya di masa depan dan apa-apa yang siswa itu kemudian bisa sumbangsihkan bagi banyak orang.

Cintanya Sang Guru, Penentu Kualitas Kontribusinya Bagi Bangsa

(credits: pembuat gambar belum saya ketahui, silahkan infokan jika Anda tahu)

Pengajar yang baik menyadari betul amalannya adalah bentuk amal jariyyah (yang pahala & kebaikannya terus mengalir), sehingga dia akan sangat berhati-hati dengan apa yang dia lakukan saat ini. Dia sadar betul bahwa segala yang dia ucap dan lakukan akan jadi referensi sikap & tindak bagi siswa2nya di kemudian hari. Dia sadar betul bahwa secara tabiat memang guru -SMP SMA terutama- sedang menghadapi masa nakal-nakalnya siswa. Bahwa tobatnya siswa, tahu diri dan tahu aturannya siswa, baik tindak tanduknya siswa, semua itu amat bisa jadi tidak dia rasakan di saat dia SMP/SMA, melainkan nanti. Tapi dia tahu, bentukannya itu semua dimulai dari SMP/SMA.

Sehingga dia sang guru tidak terlalu memanjakan sampai pada tingkat permisif akan kesalahan siswa, mengobral nilai dengan mudahnya, tidak memasang ekspektasi yang tinggi, mengajari siswa untuk curang demi ujian mereka, semua agar dirinya disukai dalam jangka pendek. Guru yang baik tidak segan bertindak tegas pada siswanya dan secara umum bersikap yang membuat dirinya dibenci oleh siswa.

Dari cintanya pada peran yang dijalaninya dan keyakinan akan dampak dari kiprahnya terhadap segmen kehidupan siswa di masa sekolah, guru yang baik menjadi lebih konsisten dalam mencontohkan perilaku yang baik kepada siswanya.

Semisal saja; pengajar yang baik adalah pengajar yang penuh sikap hormat & menghargai. Mereka berhenti dan mendengarkan baik-baik apa yang diucapkan oleh siswanya. Wajah mereka tak berbohong dalam ketertarikan yang ditampakkannya. Meskipun dia sadar penghargaan yang dia berikan pada siswanya tidak lantas berbalas secara adil, tapi dia sadar betul bahwa dirinya adalah suritauladan, bahwa ketulusan niatnya pastilah dipandang oleh Tuhan dan bagaimanapun bentuknya akan mendapat balasan. Pengajar yang baik merasa damai dengan pilihan sikap penghargaan pada siswa-siswanya.

Karena dia tahu, apa yang terpenting bukanlah dirinya, melainkan pembelajaran dari siswa-siswanya dari apa yang diajarkan, dilihat dan ditiru dari para gurunya.

Di akhir hari sekolah, guru yang baik bukanlah mereka yang bertanya, “Sudahkah aku mengajar?”, melainkan mereka yang bertanya, “Sudahkah siswaku belajar?”. Karena sekolah bukanlah tempat guru mengajar, melainkan tempat siswa untuk belajar (Sulistyanto Soejoso, Daniel Rosyid Ph.D).