Donovan Yahya

Oleh: Donovan Yahya

Sebagai seorang guru, saya pernah ditugaskan untuk menjaga pameran pendidikan untuk mempromosikan sekolah tempat saya bekerja. Pada waktu itu ada seorang calon orang tua murid bertanya tentang program sekolah kami. Salah satu hal yang ibu tersebut tanyakan adalah, “Pak, kalau program internasional itu apakah tetap ada pelajaran PKn ya?” “O ya tentu Bu, karena kita semua orang Indonesia perlu belajar untuk jadi warganegara yang baik”, jawab saya dengan ringan dan tersenyum. Lalu orangtua tersebut menjawab lagi, “Yah, tapi Pak pemerintahnya saja tidak menjadi teladan…” Saya hanya tersenyum, “Wah bu, kalau mau diskusi itu bisa panjang lebar dech.” Pertanyaan ini tidak saya temukan sekali dua kali saja terlontar dari orang tua siswa. Namun sudah beberapa kali selama saya menjadi pendidik di Indonesia terlontar pertanyaan serupa. Bahkan saya pernah mendengar ada seorang kawan yang mempunyai anak usia sekolah berkomentar, “Yah anak saya sekolah di sekolah ‘XYZ’ enak, tidak ada pelajaran yang tidak penting seperti PKn…”

Saya tidak tahu apakah sikap apatis atau antipati terhadap PKn seperti ini yang saya temukan representatif atas sikap sebagian besar masyarakat Indonesia, ataukah ini hanya sikap sebagian kecil orang saja (mungkin salah satu lembaga survey perlu mengadakan survey sikap tentang kewarganegaraan). Namun sangatlah disayangkan jika bangsa Indonesia apatis terhadap Pendidikan Kewarganegaraan.

Berdasarkan pengalaman saya bersekolah di era 80- dan 90-an, saya dapat memaklumi jika banyak orang merasa PKn adalah pelajaran yang tidak perlu. Pendidikan Kewarganegaraan sangat identik dengan hafalan yang kemudian akan kita lupakan: Saya harus menghafal butir-butir Pancasila, beberapa ayat-ayat UUD ’45 (dalam ulangan tidak boleh salah satu kata pun), nama menteri-menteri. Tentu pendekatan seperti ini membuat pelajaran PKn terkesan membosankan, monoton, tidak berguna (ngapain menghafal nama menteri, jaman sekarang sudah ada Google) dan bersifat mengindoktrinasi.

Waktu saya dianugerahi kesempatan belajar di Amerika Serikat, saya pernah mempelajari pendidikan kewarganegaraan di sana. Di California, siswa diwajibkan mengambil mata pelajaran American History dan American Government and civics sebagai salah satu syarat mendapat ijazah SMA. Saya banyak berdiskusi dengan teman-teman saya orang Amerika mengenai isu-isu tentang negara mereka. Kebanyakan dari mereka sangat faham dan mempunyai opini yang kuat terhadap isu-isu yang dihadapi negara mereka: Mereka mempunyai opini tentang sistem jaminan kesehatan, kontrol senjata api oleh pemerintah, kebijakan ekonomi, Obama, dsb. Dan biasanya mereka memiliki sikap menganut yang kuat pada suatu partai politik tertentu (Democrat atau Republican, liberal atau konservatif, sayap kiri atau sayap kanan). Yang lebih menakjubkan lagi, saking kuatnya paham politik yang mereka anut sehingga kadang bisa menimbulkan keretakan dalam pertemanan atau bahkan dalam pacaran (Salah satu tip kencan orang Amerika: Jangan pernah bicara politik dalam kencan pertama). Terlepas dari paham politik dan opini-opini mereka tentang negaranya, saya dapat menarik suatu kesimpulan mengenai orang Amerika: Bagi mereka kewarganegaraan Amerika adalah bagian yang sangat penting dari identitas diri mereka. Hal ini yang bisa mempersatukan mereka sebagai bangsa Amerika. Inilah hasil dari pendidikan kewarganegaraan yang berhasil.

Kalau Martin Luther King Jr. pernah memberikan pidato “I Have a Dream”-nya yang terkenal, izinkan saya untuk mengucapkan “I Have a Dream” versi saya pribadi: Saya bermimpi melalui pendidikan kewarganegaraan yang berhasil, bangsa Indonesia akan lebih sadar akan hak dan kewajiban kita sebagai warganegara. Saya bermimpi bangsa Indonesia akan sadar bahwa kita sesama orang Indonesia menempati ruang yang sama, di tanah air Indonesia, mau tidak mau harus berbagi ruang dan udara, sehingga kita dapat hidup berdampingan satu sama lain dengan harmonis. Saya bermimpi bahwa Si Asep dari Garut, Si Tobing dari Batak, Si Aliong dari Glodok, dan Si Slamet dari Brebes, dapat menerima satu sama lain sebagai sobat, walaupun berbeda suku dan ras, karena mereka sama-sama orang Indonesia. Saya bermimpi orang Indonesia akan sadar betul bahwa negara kita bukan negara agama, maka kita tidak bisa memaksakan paham agama tertentu kepada warganegara lain. Saya bermimpi orang Indonesia akan sadar betul bahwa ideologi Pancasila-lah dasar falsafah kebangsaan yang paling cocok untuk menyatukan bangsa kita yang majemuk ini. Melalui pendidikan kewarganegaraan yang berhasil di sekolah, niscaya kita akan dapat mewujudkan mimpi ini. Boleh kan numpang mimpi? Toh mimpi itu gratis. 🙂 ***

Donovan Yahya mengawali karir sebagai insinyur di Amerika. Namun, mulai tertarik dunia pendidikan sejak mengajar Sekolah Minggu. Ia memutuskan untuk terjun full time di bidang pendidikan tahun 2007, dengan mengajar Fisika dan Matematika di sebuah program homeschooling di Amerika Serikat, dan mengambil PhD bidang Intercultural Education dari Biola University. Tahun 2010 ia pulang ke Indonesia dan menyelesaikan disertasi sambil mengajar di sebuah sekolah swasta di Surabaya. Saat ini Donovan Yahya sedang merintis sebuah sekolah di Surabaya.