Lutfhiyah Nurlaela

Guest post oleh Luthfiyah Nurlaela. Tulisan asal diunggah ke blog pribadi.

Saya termangu-mangu membaca status FB Restika Oktavina. Bunyi status itu seperti ini:

“9 Oktober 2013”
Satu sms masuk ke hpku. Tak kusangka sms itu datangnya dari Saumlaki (ibu kota kab. Maluku Tenggara Barat) yang isinya aku disuruh telpon. Ku pencet nomor tersebut dan tersambung.
“Halo, selamat pagi, ibu guru ada bikin apa disana” suara seorang perempuan menyapaku. Itu suara mama tua Glen, kak Eti namanya.
“Ibu, Glen ada mau bicara deng ibu” lanjutnya.
“Halo, ibu Vina, ibu ada buat apa di Jawa?” suara mungil menyapaku.
Itu suara Glen, salah satu muridku di SDN Romkisar, Maluku Barat Daya.
“Ibu baru selesai bacuci baju, Glen” jawabku.
“Glen, pi (pergi) Saumlaki ada buat apa? seng (tidak) sekolah kah?” tanyaku penasaran.
“Ibu, beta seng sekolah. Sekolah ada TUTUP. seng ada guru yang ajar” jawabnya ringan.

“Sekolah TUTUP.”
Ya Alloh, ingin rasanya aku kembali kesana. Mengajar, mendidik dan merangkul mereka. Menemani mereka menggapai cita-cita tertinggi. Semoga kata-kata itu tak ku dengar lagi. Ingin ku melihat senyum lebar mereka lagi.”

Tak terasa, air mata saya meleleh. Saya tak mampu menahan kesedihan  mendengar kabar sebuah sekolah tutup karena tidak ada gurunya. Dan sekolah itu ada di Romkisar, Maluku Barat Daya (MBD). Tempat tugas Romlah, Vina dan Yuni, para peserta SM-3T Unesa angkatan kedua, yang baru meninggalkan tempat itu sekitar sebulan yang lalu.

Padahal, dalam surat yang pernah dikirimkan ke saya, Romlah sudah memohon-mohon supaya sepeninggal dia dan teman-temannya, SDN Romkisar tetap mendapatkan guru SM-3T sebagai penggantinya. Bahkan dia juga sudah pesan, kalau bisa, guru yang ditugaskan di sana, adalah laki-laki. Romkisar adalah sebuah tempat yang sangat sulit dicapai, musti menyeberangi laut yang  gelombangnya hampir selalu tinggi. Jalan darat harus menembus hutan samun selama berjam-jam dan sangat berbahaya. Belum lagi hal-hal lain seperti masih kentalnya unsur magic dan berbagai keyakinan masyarakatnya yang masih sangat tradisional.

Saya seketika diliputi rasa bersalah. Ya, saya menjadi orang yang paling bersalah. Saya seharusnya memastikan, dengan sebenar-benarnya, bahwa Romkisar dan sekolah-sekolah lain yang sudah pernah ditempati guru-guru SM-3T, akan mendapatkan guru-guru lagi. Tidak sekedar percaya dan pasrah pada kebijakan dinas Dikpora.

Meski saat rapat koordinasi dengan kepala dikpora di Jakarta, saya sudah meminta supaya sekolah-sekolah yang sudah pernah ditempati guru-guru SM-3T agar diberi guru SM-3T lagi, namun rasa bersalah itu sangat membebani saya. Juga, saat di kegiatan prakondisi di Kodikmar, saya sudah kembali mengingatkan staf dikpora yang waktu itu hadir, untuk tetap menugaskan para guru SM-3T di sekolah-sekolah yang sudah pernah ditempati.

“Ya, ibu. Nanti yang dari UNP akan kami tugaskan di Mdona Hyera dan beberapa tempat yang dulu ditempati guru-guru dari Unesa. Sedangkan Unesa kami tempatkan di Pulau Babar dan sekitarnya.” Begitu kata pak Victor, staf dikporaMBD waktu itu.

Maka saya pun tenang. Namun status di FB Vina malam ini membuat hati saya pedih. Ditambah lagi dengan komentar kawan-kawan Vina yang menambah kesedihan di hati. Salah satunya dari Romlah sendiri.

Foto: Restika Oktavina

“Sy dan tmn2, bsrta warga Romksar sdh brusaha smampu kami. Mulai dr menyurati ibu lutfi, memohon k kepala UPTD Mdona Hyera, sampai sdikit mgompori peserta dr LPTK Padang (sarjana Pgsd, tapi realitanya dtmpatkan d SMP), namun memang, gusti Allah msh blum mengiyakan. Peserta dr LPTK Unesa mengabdi d wilayah babar n skitarx. Sdgkan LPTK univ. Padang k daerah LeMoLa (leti-moa-lakor) + Mdona Hyera yg rasanya memang ditmptkan untk sekolah menengah. Kepsek kami jg msh smpat menahan 1 guru bntu untk brthan d Romksar sampai kepsek pulang (dr kuliah d Kisar). Namun trxta, sang guru bantu yg sdh punya SK mutasi k Luang sjak bulan Juli pun sepertix tak mampu menepati janjix k kepsek shg hrus buru2 pindah krn alasan administrasi d SD yg bru.. d Tiakur (ibu kota kabupaten) dpt guru SM3T. Memang lbh merata penyebranx drpda yg dlu. Tapi pemerataan ini malah hrus mengorbankan 1 sekolah yg mmg bth guru. DEMI PEMERATAAN. Pengambil kbjakan dari Dikpora MBD sudah ketuk palu.. *saya hanya bs mengelus dada”

Ketika Mustofa Kamal, teman Romlah berkomentar, “inilah potret pendidikan di luar jawa”, Romlah menanggapi:  “La mau biking bgaimana, dong bilang lbh baik pi Tual jual kambing deng papa dari pada d kampung seng biking apa2. Ibu guru balik bole..”, “bu guru e, Romkisar seng dpat guru dr jawa lai. Kami su krim surat k bupati par minta guru, tapi seng ad jwban. Skolah su tutup, bu guru Leha yg dpasrahi tinggal oleh kepala sekolah su pi d sekolah baru,seng tunggu ibu kepsek dtang lai”, (ketakutanku slama ini, takut klau Angga, Andres, Mersi, Erdin, Monalisa, smua murid2 yg su mulai brharap kmbli mengubur asa mereka) *brtanya-tanya ttg jln kluar. “bu guru su senang d jawa, su lupa katong kapa? d Romkisar su seng ada guru lai. Bu guru balik do, la katong belajar” (haaaaa rasanya ingin kmbli…)”

Malam ini pun, saya langsung ber-SMS ke kepala Dikpora. “Bapak, sedih mendengar cerita Romkisar. Kenapa tdk ada guru yg dikirimkan ke sana utk menggantikan guru2 SM3T yang bertugas di Romkisar? Saya dengar sekolah tutup karena tdk ada guru? Mohon, bapak, ada perhatian utk SDN Romkisar. Terima kasih.”

Saya tidak tahu entah kapan SMS saya akan dibaca dan dibalas. Besok saya akan mencoba menghubungi pak kadis via telepon. Meski keterbatasan sinyal telepon di MBD membuat hati saya ciut, tapi saya akan tetap berusaha. Saya juga berkoordinasi dengan Bapen (bapak pendeta) Abraham Beresaby melalui FB message meski beliau jelas-jelas tidak sedang online. Tapi saya berharap, SMS saya ke kadis dan message saya ke bapen, entah besok, entah lusa, akan terbaca oleh beliau-beliau, dan semoga segera ditanggapi. Tentu saja, yang saya harapkan, semoga ada jalan keluar untuk Romkisar.

Malam ini saya tidak bersemangat untuk ngapa-ngapain. Tumpukan berkas skripsi dan tesis mahasiswa tidak saya sentuh sama sekali. Tak berselera. Wajah Romlah dan kawan-kawan berkelebat-kelebat di kepala saya. Senyum anak-anak sekolah berkulit hitam yang terpampang di status FB Vina serasa mengiris-iris ulu hati. Sekolah tutup karena guru tidak ada. Anak-anak seperti itik kehilangan induk. Seperti layang-layang yang putus talinya. Tak punya siapa-siapa lagi untuk sekedar mengajari menulis dan membaca. Adakah yang lebih menyedihkan dari ini semua?

Seperti inikah potret pendidikan di MBD, dan juga di banyak tempat lain di Indonesia ini? Setelah lebih dari enam puluh tahun merdeka? Betapa memprihatinkan.

Duka saya untuk Romkisar. Duka kami semua untuk dunia pendidikan.

Surabaya, dini hari, 12 Oktober 2013.

Wassalam,
Luthfiyah Nurlaela

———-

Tambahan redaksi. Tulisan di atas mendapat tanggapan tambahan dari Ahmad Suhardi sebagai berikut:

“Cerita itu memang mengharukan. Tetapi saya tidak heran, sebab saya pernah mengalaminya langsung. Di lokasi yang berbeda, tetapi masih di Maluku.

Ada yang membuat saya lebih prihatin, ternyata kondisi seperti yang diceritakan dalam surat itu sama sekali tidak berubah dengan kondisi tahun 1992, setelah 21 tahun saya tinggalkan.

Kalau cerita itu terjadi juga di sudut yang lain di Maluku, maka keyakinan saya terkonfirmasi, bahwa hal itu memang merata di sana.

Pada tahun itu saya dikirim oleh Unpatti Ambon untuk ber-KKN di Desa Waiperang, Kec. Buru Utara Timur, Kab.Maluku Tenggara, Prov. Maluku (saat itu Maluku masih satu provinsi).

Selama KKN saya diminta membantu mengajar di sebuah SD. Di SD itu hanya ada 2 guru PNS dan 1 penjaga yang ‘ditugaskan’ ikut mengajar. Satu guru yang benar-benar aktif, yang satunya Ibu Kepala Sekolah yang lebih banyak keluar untuk jual pakaian keliling kampung dengan sepeda motornya. Selama 3 bulan di sekolah itu saya hanya bertemu dua kali dengan Ibu Kepala Sekolah itu. Selebihnya saya harus mengajar 3 sampai 4 kelas dalam sehari. Jangan tanyakan sistimasi dan keberaturan. Sekolah di pengungsian mungkin lebih teratur.”