[Tulisan lama saya di tahun 2010]

Satu yang saya suka saat browsing di Internet adalah mencari informasi yang unik dari seluruh penjuru dunia. Unik dalam arti apapun, entah itu aneh, lucu, mengejutkan, keren, atau mengagumkan. Nah, informasi yang hendak saya share di post ini jatuh dalam kategori mengagumkan. Ketika browsing video di YouTube, secara tidak sengaja saya menemukan video tentang Emily Bear, seorang gadis berusia delapan tahun yang sangat sangat sangat berbakat bermain piano. Aliran classical, jazz, dan boogie bisa ia mainkan secara natural. Komposisi klasik top telah ia kuasai, dan lebih hebohnya lagi, ia pun sudah banyak mengarang komposisinya sendiri. Saking berbakatnya, banyak orang sudah membandingkannya dengan Mozart.

Emily dilahirkan tahun 2001 di Illinois, Amerika Serikat. Waktu ia berumur dua tahun, ia sudah bisa menyanyi dengan nada yang sempurna. Lalu ketika ia berumur dua tahun, neneknya yang juga seorang pemusik memperhatikan bakat luar biasanya dalam bermain piano. Akhirnya ia dimasukkan ke Music Institute of Chicago dan berguru kepada guru musik top, Emilio del Rosario. Hanya empat tahun belajar di sana, ia pun sudah diikutsertakan dalam program studi musik klasik di kampus Winnetka.

Kalau cuma bisa memainkan lagu-lagu klasik top saja, mungkin banyak anak seusianya yang juga bisa, di Indonesia juga banyak. Namun Emily Bear juga menulis komposisi musiknya sendiri sejak usia… tiga tahun! (Persis Mozart!!!) Sampai saat ini ia telah menulis 350 komposisi musik. Ia telah tampil di acara-acara terkenal ratusan kali dan meraih penghargaan yang banyak pula.

Anak seperti Emily Bear ini bisa disebut “child prodigy” alias anak-anak berbakat luar biasa. Melihat Emily dan anak-anak lain seperti dia selalu memunculkan pertanyaan filosofis mendalam pada diri saya… Dikasih makan apa sih dia oleh orang tuanya? He3. Sebenarnya saya masih percaya apa yang dikatakan Picasso, bahwa setiap anak dilahirkan sebagai artis (maksudnya: sangat kreatif) dan masalahnya adalah bagaimana caranya supaya tetap kreatif sampai dewasa nantil. Emily adalah anak spesial, bukan karena ia memiliki bakat hebat (semua anak punya), namun karena ia dan keluarganya bisa menemukan dan mengidentifikasi bakat (talent) dalam dirinya yang ternyata sangat sesuai dengan minatnya (passion) serta didukung untuk mengembangkan dan mengeksploitasinya habis-habisan menjadi strength.

Di Indonesia adakah anak seperti Emily ini yang sangat kuat di bidang musik? Kalau ada yang tahu, please share. Saya tidak tahu kalau untuk anak-anak, tapi hari Sabtu lalu saya menyaksikan penampilan luar biasa dari maestro piano dunia yang berasal dari Indonesia, yaitu Ananda Sukarlan, ketika ia menjadi penampil tamu dalam acara Panggung Musik Psikologi UI. Maestro kita ini dulunya lebih dikenal di luar negeri daripada di dalam negeri sendiri. (Banyak nih cerita seperti ini.) Saya ingat, ia baru dikenal luas di Indonesia setelah majalah Tempo menulis artikel tentang dirinya. Sampai saat ini ia masih berdomisili di Spanyol, namun sering berkunjung ke Indonesia untuk mempertunjukkan dan mengenalkan musik sastra (ia menolak disebut bergenre musik klasik). Memang lebih baik dia tinggal di luar negeri biar bisa memperkenalkan dan membawa nama baik Indonesia di luar sana. Tidak ada orang yang mengenal Ananda Sukarlan lalu meragukan nasionalismenya hanya karena ia tinggal di luar negeri. Orang ini lebih membawa manfaat dan nama baik bagi Indonesia daripada para politikus korup di Senayan yang ngakunya sangat nasionalis.

Ananda Sukarlan mulai berlatih piano sejak usia lima tahun. Tidak seperti Emily Bear yang langsung mendapat publikasi luas sejak kecil dan akhirnya mendapat dukungan dari banyak orang, Ananda Sukarlan harus melewati masa-masa sulit mencari uang untuk biaya studinya. Kemauannya yang kuat (dia sendiri bilang dia keras kepala, walaupun semua orang lain bilang dia sangat rendah hati), membuat ia bisa menemukan jalan untuk terus belajar dan berlatih menjadi seperti sekarang.

Pertunjukan Ananda Sukarlan yang saya saksikan hari Sabtu lalu itu hanya berisi empat komposisi. Itu pun sudah cukup untuk membuat semua orang terkagum-kagum dan memberi standing ovation di akhir pertunjukkan. Yang membuat lebih kagum lagi: ia menggunakan kemampuannya untuk misi-misi sosial. Dalam pertunjukan itu ia berbagi tentang dua misi yang sedang ia jalankan. Yang pertama adalah membuat komposisi musik yang bisa dimainkan dengan piano oleh anak-anak penyandang disabilitas/difabilitas, seperti yang hanya memiliki satu atau dua jari di tangan kanan, lalu yang hanya memiliki satu kaki (bermain piano juga butuh kaki karena ada pedalnya juga lho), dll. Ia memberi contoh beberapa komposisi musik yang telah ia tulis untuk proyek ini.

Misi Ananda Sukarlan lainnya: memperkenalkan musik Indonesia kepada dunia. Saat ini ia menulis serial komposisi yang dinamai Rapsodia Nusantara, di mana komposisi-komposisi itu terinspirasi oleh lagu-lagu daerah di Indonesia. Kemarin saya berkesempatan mendengarkan ia memainkan Rapsodia Nusantara No. 3, yang terinspirasi oleh lagu-lagu daerah dari Maluku. Setiap nomor rapsodi terinspirasi dari lagu tradisional dari satu daerah di Indonesia. Dalam video YouTube di bawah, Anda bisa dengarkan ia memainkan Rapsodia Nusantara No. 1 yang terinspirasi lagu daerah dari Jakarta.

Kalau saya beruntung nantinya bisa membantu anak saya mengidentifikasi minat dan bakatnya sejak usia dini, tentu saya juga akan arahkan ia untuk mengejarnya. Namun tidak selalu minat dan bakat ini bisa ditemukan sejak usia dini. Banyak yang baru melek saat telah dewasa, lebih banyak lagi yang tetap tidak tahu dan tidak mengejar minat dan bakatnya sampai mati. Kalau kita termasuk yang demikian, segera melek! Belum terlambat untuk mengejar passion Anda. Baca buku “Your Job is Not Your Career” karya Rene Suhardono yang sudah terbit tiga kali dalam waktu dua bulan ini saking lakunya. Namun yang lebih penting lagi, sebisa-bisanya jangan biarkan anak kita mengalami nasib yang sama dengan kebanyakan orang yang kebingungan dan pasrah menjalani hidup apa adanya.

Yang jelas, menurut buku Outliers karya Malcolm Gladwell, semua orang yang hebat dalam bidang tertentu di dunia ini telah melewati apa yang disebut Hukum 10.000 Jam. Hukum itu secara sederhana menyatakan butuh waktu 10.000 jam latihan intensif agar kita menjadi termasuk yang terbaik di dunia dalam bidang tertentu. Lha kalau seperti itu, tentu rugi kalau waktu anak dibuang-buang untuk persiapan UN di sekolah dan di bimbel (bahkan dilanjut mengerjakan tugas di rumah) yang makan waktu seharian penuh sampai larut malam, bikin anak kelelahan mengejar sesuatu yang kemungkinan besar tidak sesuai dengan passion-nya. Kasihanilah anak Anda!***