Oleh: Ifa H. Misbach
Psikolog Pendidikan dan Karakter
Ketua Bidang Penelitian, Pusat Psikologi Terapan, Universitas Pendidikan Indonesia, Bandung

Dimuat di Media Indonesia, 7 Oktober 2013

STRES DALAM PIDATO POLITIS

Menanggapi polemik keluhan banyak siswa yang stres karena Ujian Nasional (UN), politisi Jusuf Kalla (JK) dalam pidato konvensi UN menilai para siswa justru harus dibiasakan belajar menghadapi stres. Dalam pandangannya, stres bukan hanya perkara ujian, karena kita sering berhadapan dengan stres dalam keseharian. JK menekankan dua hal. Pertama, UN dipertahankan agar pendidikan Indonesia memiliki standar nasional. Kedua, UN memberi dorongan agar anak terpacu giat belajar.

Secara politis, isi pidato JK adalah penting untuk kepentingan penyelenggara UN. Hanya sayangnya tidak disertai kajian akademik dan bukti empirik yang kuat. Melakukan generalisasi bahwa stres adalah baik tanpa memahami konteks UN sebagai jenis high-stakes testing akan menggiring kedangkalan pemahaman yang keliru. Kita perlu mengenali lebih dalam jenis stres seperti apa yang dikatakan baik? Sejauhmana kadar stres diperlukan untuk meningkatkan prestasi belajar? Lalu apakah UN memenuhinya?

JENIS STRES

Dalam teori stres, tidak semuanya stres berperan baik meningkatkan tantangan tapi tidak selamanya stres adalah buruk. Hidup tanpa tantangan juga dapat memicu hipostress yaitu “nihil” stres, yang ditandai dengan kebosanan ekstrem. Sebetulnya, dalam kadar rendah atau medium yang tidak membahayakan fisik dan psikologis, stres diperlukan oleh sistem imun tubuh. Jenis stres yang bermanfaat positif adalah eustress yang dapat merangsang sinyal pada organ-organ tubuh agar tetap bekerja waspada. Istilah Eu artinya “good” berasal dari bahasa Yunani. Eustress pertama kali diperkenalkan oleh Hans Seyle, ahli endokrinologi. Seseorang mengalami eustress saat merasakan situasi menantang. Dalam jangka pendek, jenis stres ini dapat memiliki efek positif pada kesehatan dan kinerja individu.

Sebaiknya, distress adalah jenis stres yang berdampak buruk pada kesehatan fisik dan emosional. Distress diklasifikasikan menjadi tiga jenis. 1. Acute distresse, 2. Episodic acute distress, 3. Chronice distress.

Pertama, acute distresse biasanya datang mendadak, menjadikan individu ketakutan dan bingung. Ini terjadi saat kita tidak siap tapi harus siap. Gejala fisik yang terasa yaitu: keringat mengucur deras, sakit kepala, detak jantung tidak teratur, tekanan darah berlebihan, persendian lemas atau dingin. Gejala emosi yang terasa adalah takut, cemas atau panik. Kendali terhadap kesadaran menurun drastis dan hilang arah. Acute distresse hanya berlangsung singkat, namun sering menghasilkan reaksi ‘fight’ (mengatasi ancaman) atau ‘flight’ (menghindari ancaman).

foto: tempo.co

Kedua, episodic acute distress biasanya timbul cepat, tajam, menyakitkan dan berulang. Episodic acute distress ditandai dengan frekuensi seringnya acute distresse datang secara berulang. Hal ini menyebabkan kegelisahan, lekas marah, terburu-buru, tegang, migrain, hipertensi, dan nyeri dada.

Ketiga, chronice distress adalah jenis stres yang bertahan sampai jangka waktu lama, bisa hitungan bulan bahkan tahunan. Chronice distress biasanya berasal dari keadaan yang tidak dapat dikontrol. Contohnya: kemiskinan, perasaan terperangkap dalam beban hidup menghimpit, pengalaman trauma masa lalu yang tak selesai adalah beberapa contoh peristiwa yang dapat menyebabkan chronice distress. Jika terus menetap sampai tahunan, chronice distress akan berujung pada kondisi fatigue, yaitu kelelahan mental dan fisik yang amat sangat disertai penurunan sistem imun. Hal ini bisa berujung pada gangguan fisik seperti serangan jantung dan stroke. Sedangkan, gangguan mental yang dialami adalah depresi, apatis, atau bunuh diri dalam kasus ekstrim.

STUDI EUSTRESS VS. DISTRESS

Suatu studi menarik tentang peran stres dalam proses pembelajaran, diulas oleh Lipman, mantan wakil redaktur The Wall Street Journal. Ia mengulas sejumlah studi empirik dari para ahli psikologi pendidikan tentang eustress yang dapat menantang siswa giat belajar. Studi ini menjelaskan bahwa proses belajar yang sedikit menyakitkan itu perlu. Di bawah tekanan guru yang keras, disiplin kuat, dan kualitas standar tinggi, siswa tidak hanya berprestasi baik tetapi memiliki self-motivation untuk menghasilkan kinerja optimal. Tidak semua guru killer berdampak positif membangkitkan self-motivation pada siswa. Hanya jenis guru killer yang teguh pada prinsip disertai feedback yang jelas dalam memperbaiki kekurangan, membuat siswa merasakan keseriusan atensi guru yang tulus. Saat guru menetapkan target sedikit lebih tinggi di atas kemampuannya, siswa merasa tertantang karena merasa dipercaya mampu menaklukan target. Meski siswa jatuh bangun frustasi karena gagal, mereka terus diberi ruang kesempatan mencoba kembali. Sangking seringnya siswa tertantang terus mencoba, siswa tidak menyadari lagi performance mereka terus meningkat dari waktu ke waktu. Akhirnya yang dikejar bukan lagi score, tetapi kegairahan untuk terus meningkatkan personal growth. Guru berkualitas dalam sistem evaluasi yang menyediakan ruang kegagalan memberi sinyal kuat pada siswa bahwa kegagalan adalah bagian dari proses belajar. Inilah bahan bakar eustress yang menantang siswa untuk terus do the best dan membangun self-motivation dalam jangka panjang. Sebaliknya, UN sebagai jenis high-stakes testing tidak menyediakan ruang kegagalan ketika siswa tidak lulus. Para ahli pengukuran sebagai sutradara soal hanya menguji output kriteria standar nasional. Kalau peserta tidak lulus itu bukan urusan ahli pengukuran, itu urusan peserta sendiri.

DISTRESS DAN UJIAN NASIONAL

Hasil survei pengalaman UN periode 2004-2013 oleh pusat psikologi terapan UPI menunjukkan bahwa UN ternyata tidak dimaknakan para responden sebagai tantangan untuk meningkatkan motivasi belajar. Jenis tekanan distress terdeteksi lebih tinggi 60% dari eustress pada 597 responden yang terjaring dari 25 propinsi. Selama 6 bulan persiapan dan 3 hari pelaksanaan UN, telah memicu episodic acute distress karena secara berulang menghasilkan emosi intens, seperti: gelisah, tidak percaya diri, takut, dan cemas. Perasaan cemas sekaligus malu jika tidak lulus UN membuat responden dihantui putus sekolah. Serangan episodic acute distress ini membuat banyak siswa melarikan diri pada ritual keagamaan sampai ritual yang bersifat klenik demi untuk lulus. 67% responden memilih apatis dan menyatakan UN adalah pengalaman buruk yang mencekam bukan menggairahkan apalagi menantang gairah belajar untuk mengembangkan nalar. Dalam wawancara terpisah, 5 responden menyaksikan temannya menjadi korban bunuh diri ketika gagal UN.

foto: kabar24.com

Dalam survei, terdeteksi hal yang jauh lebih membahayakan moral di masa depan. 75% responden menyatakan pengalaman buruk UN bukan karena takut tidak lulus, tetapi karena mereka memendam stres harus menyaksikan sekaligus terlibat kecurangan yang sistematis. Rasa bersalah pada nurani meninggalkan chronice distress sampai tahunan sebagai bentuk trauma moral yang tak selesai. Para responden mengakui mengalami kekacauan dalam moral reasoning-nya. Mereka kesulitan memahami relevansi  nilai-nilai moral kejujuran yang diajarkan di kelas tapi keyakinan moral itu runtuh saat mereka menyaksikan sendiri para role model: guru, pengawas, kepsek melakukan kecurangan mengkatrol nilai, membocorkan kunci jawaban dan membiarkan mereka menyontek masal. Pencetus UN yakin bahwa UN dapat meningkatkan harkat bangsa melalui standar nasional. Sebaliknya, responden menyatakan UN adalah sistem evaluasi belajar yang keliru. Mereka marah diperlakukan tidak hanya seperti objek pesakitan dengan kehadiran aparat keamanan, tetapi juga mereka tidak percaya jika pemerintah bersih. Mereka menilai sistem UN telah mengajarkan mereka melakukan konspirasi untuk berbuat curang dan tanpa bekerja keras sudah pasti akan diluluskan. Mereka meyakini ini adalah bibit perilaku korupsi di masa mendatang.

PESAN MORAL

Negara tidak pernah serius menangani kemerosotan moral dan tekanan psikologis sejauh tidak berkorelasi positif pada kriteria standar nasional. Hal ini tampak pada 27 rekomendasi hasil Konvensi UN, persoalan multidimensi UN hanya dituangkan ke dalam masalah teknis dan manajemen UN. Alam berpikir pemerintah yang merasa berkuasa mengendalikan kelulusan membuat siswa tidaklah lebih dari sekumpulan objek kategori statistik. Manfaat siswa bagi negara hanya dihitung sejauh prestasi UN berkontribusi positif bagi kurva kekuasaan pendidikan dengan kelulusan 99%. Di luar itu, mimpi, aspirasi, harapan siswa, atau korban mati dianggap tidak relevan. Selama persoalan moral UN tidak pernah dipulihkan, dengan sendirinya sudah menghancurkan pendidikan karakter dalam kurikulum 2013. Moraturium UN harus segera dilakukan, jika tidak, “to educate a person in the mind but not in morals is to educate a menace” (Theodore Roosevelt). ***