<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Bined</title>
	<atom:link href="http://www.bincangedukasi.com/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.bincangedukasi.com</link>
	<description>Bincang Edukasi</description>
	<lastBuildDate>Sat, 19 May 2012 05:35:43 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.2</generator>
		<item>
		<title>Insentif dan Pendidikan [3]</title>
		<link>http://www.bincangedukasi.com/insentif-dan-pendidikan-3.html</link>
		<comments>http://www.bincangedukasi.com/insentif-dan-pendidikan-3.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 19 May 2012 04:44:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Kreshna</dc:creator>
				<category><![CDATA[Blog]]></category>
		<category><![CDATA[ekonomi]]></category>
		<category><![CDATA[kualitas guru]]></category>
		<category><![CDATA[pelatihan guru]]></category>
		<category><![CDATA[pendidikan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.bincangedukasi.com/?p=699</guid>
		<description><![CDATA[Beberapa hari setelah saya berbagi panggung dan belajar dari Pak Anies Baswedan di acara ISAMMU 2,saya mengikuti diskusi pendidikan di Al Hidayah International Green School di Sumedang. Acara ini diadakan untuk mendiskusikan solusi bagi permasalahan rendahnya kualitas guru di Indonesia. Acara dihadiri berbagai elemen pendidikan, mulai dari pemilik sekolah alternatif, guru, psikolog, dewan pendidikan dan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Beberapa hari setelah saya berbagi panggung dan belajar dari Pak Anies Baswedan di acara ISAMMU 2,saya mengikuti diskusi pendidikan di Al Hidayah International Green School di Sumedang. Acara ini diadakan untuk mendiskusikan solusi bagi permasalahan rendahnya kualitas guru di Indonesia. Acara dihadiri berbagai elemen pendidikan, mulai dari pemilik sekolah alternatif, guru, psikolog, dewan pendidikan dan juga saya yang pada dasarnya adalah pengusaha online marketing. <img src='http://www.bincangedukasi.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Diskusi mengarah pada penyusunan standar kompetensi guru serta pelatihan guru. Cukup lama peserta diskusi mencoba membicarakan kompetensi apa saja yang perlu dimiliki oleh guru ideal. Dalam pembicaraan ini saya mendapatkan informasi bahwa sebenarnya sudah banyak orang atau lembaga yang membuat standar kompetensi guru di dunia, mulai dari Bobby de Porter sampai Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan kita pun sudah punya. Saya pun berpikir, bila memang sudah ada banyak panduan standar kompetensi guru yang bisa kita adopsi, apa memang yang sudah ada belum efektif sehingga kita perlu mendefinisikan dari awal? Ataukah ada masalah lain sehingga berbagai usaha meningkatkan kualitas guru kurang berjalan efektif?</p>
<p><span id="more-699"></span></p>
<p>Teringat kepada keterkaitan antara prinsip insentif dan efektivitas program-program pendidikan, saya menjadi penasaran apakah mungkin berbagai program peningkatan kualitas guru tidak berjalan efektif karena sistem insentif/disinsentif tidaklah tepat bagi para guru yang menjadi sasarannya? Pertanyaan lanjutan lalu muncul, sebenarnya apakah insentif/disinsentif yang efektif dan mengena bagi guru-guru kita? Atau lebih mendasar, apa saja faktor-faktor yang menggerakkan guru-guru kita untuk mau meningkatkan kualitas dan profesionalitasnya, dan juga sebaliknya, faktor-faktor apa yang menahan sehingga mereka enggan berusaha memperbaiki diri? Singkatnya, apakah ”drive” dan ”anti-drive” guru-guru kita?</p>
<p>Saya pun bertanya pada para peserta diskusi, apakah sudah ada penelitian semacam ini? Selama ini kita sering mengira-ngira faktor apa saja yang menjadi penggerak bagi guru, namun apakah sudah ada yang membuktikan dengan riset ilmiah? Jawaban yang saya terima, sepanjang pengetahuan para peserta diskusi belum ada riset semacam ini di Indonesia. (Beberapa hari kemudian saya juga mendapat jawaban yang sama dari Mbak Dhitta Puti, Direktur Litbang Ikatan Guru Indonesia.)</p>
<p>Akhirnya saya mengajukan permintaan kepada beberapa peserta diskusi yang juga akademisi di perguruan tinggi untuk mendorong diadakannya riset tentang faktor-faktor apa saja yang menjadi ”drive”, terutama ”external drive”, yang bisa kita sediakan bagi guru-guru agar mereka mau meningkatkan kualitas dirinya. Istilah untuk ”drive” ini ada banyak variannya. Ekonom menyebutnya ”insentif”, psikolog menggunakan istilah ”reinforcement”, ada juga yang menyebutnya ”katalisator” atau bahkan ”bahasa yang dimengerti oleh guru”. Apa pun istilahnya, riset terhadapnya perlu diadakan untuk membantu para inisiator program peningkatan kualitas guru menyusun ”reward” yang memang benar-benar tepat dan akan disambut oleh para guru. Saya juga merasa bahwa kompetensi guru ideal akan cukup seragam di seluruh dunia, namun untuk urusan drive akan lebih terpengaruh budaya sehingga akan berbeda-beda di tiap negara (bahkan  mungkin propinsi dan kabupaten/kota). Artinya, untuk standar kompetensi guru, masih mungkin kita mengadopsi dari contoh di negara lain. Namun untuk urusan drive rasanya kita perlu adakan riset tersendiri bagi guru di Indonesia.</p>
<p>Beberapa pertanyaan yang saya harap dapat ditemukan jawabnya melalui penelitian tersebut:<br />
>> Apakah faktor-faktor yang menjadi penggerak bagi para guru di Indonesia untuk mau meningkatan kualitas dan profesionalitas dirinya?<br />
>> Apakah faktor-faktor yang menjadi penahan bagi guru untuk mau meningkatkan kualitas dirinya?<br />
>> Apakah faktor-faktor yang menjadi pendorong, dan sebaliknya, penahan, bagi lulusan top perguruan tinggi untuk menjadi guru?<br />
>> Apakah variabel yang mempengaruhi masing-masing faktor-faktor pendorong dan penahan ini? Daerah asal? Usia? Pengalaman mengajar? Latar belakang keluarga? Tingkat ekonomi? Latar belakang pendidikan? Gender?<br />
>> Apakah faktor-faktor ini berubah-ubah atau cenderung tetap?<br />
>> &#8230; dan masih banyak pertanyaan lain</p>
<p>Riset semacam ini mungkin memerlukan kolaborasi dari keilmuan Pendidikan, Psikologi, Ekonomi dan Antropologi. Yang menggembirakan, dalam diskusi di Sumedang itu, permintaan saya langsung disambut oleh Ibu Rostiana, seorang psikolog yang juga mantan Dekan Fakultas Psikologi Universitas Tarumanegara. Beliau mengatakan akan mendorong diadakannya riset tersebut dan meminta bantuan kepada semua peserta diskusi untuk ikut menyebarkan kuisioner untuk riset itu nantinya. Tentu saja peserta diskusi antusias untuk membantu.</p>
<p>Semoga riset ini dapat benar-benar terwujud dan memberi manfaat bagi efektivitas program-program peningkatan kualitas guru yang diselenggarakan berbagai pihak. Tapi sementara itu, kira-kira faktor apa saja ya yang mungkin menjadi alasan pendorong atau penahan bagi guru-guru kita mau meningkatkan kualitas dan profesionalitas dirinya?***</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.bincangedukasi.com/insentif-dan-pendidikan-3.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Insentif dan Pendidikan [2]</title>
		<link>http://www.bincangedukasi.com/insentif-dan-pendidikan-2.html</link>
		<comments>http://www.bincangedukasi.com/insentif-dan-pendidikan-2.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 19 May 2012 04:17:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Kreshna</dc:creator>
				<category><![CDATA[Blog]]></category>
		<category><![CDATA[anies baswedan]]></category>
		<category><![CDATA[ekonomi]]></category>
		<category><![CDATA[indonesia mengajar]]></category>
		<category><![CDATA[insentif]]></category>
		<category><![CDATA[pendidikan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.bincangedukasi.com/?p=693</guid>
		<description><![CDATA[Masih melanjutkan tulisan saya sebelumnya tentang konsep insentif &#038; disinsentif dalam berbagai kebijakan dan inisiatif dunia pendidikan kita. Beberapa waktu lalu saya mendapat kesempatan berbagi tentang inisiatif Bincang Edukasi di acara ISAMMU 2 yang diadakan oleh Majalah Intisari. Namun bukan tentang sesi berbagi saya yang ingin saya bicarakan, melainkan tentang sesi seorang pembicara lain. Pembicara [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.bincangedukasi.com/wp-content/uploads/2012/05/20120519-123249.jpg"><img src="http://www.bincangedukasi.com/wp-content/uploads/2012/05/20120519-123249.jpg" alt="20120519-123249.jpg" class="alignnone size-full" /></a></p>
<p>Masih melanjutkan tulisan saya sebelumnya tentang konsep insentif &#038; disinsentif dalam berbagai kebijakan dan inisiatif dunia pendidikan kita. Beberapa waktu lalu saya mendapat kesempatan berbagi tentang inisiatif Bincang Edukasi di acara ISAMMU 2 yang diadakan oleh Majalah Intisari. Namun bukan tentang sesi berbagi saya yang ingin saya bicarakan, melainkan tentang sesi seorang pembicara lain.</p>
<p>Pembicara itu adalah Bapak Anies Baswedan dan (lagi-lagi) beliau diminta bercerita tentang inisiatif Indonesia Mengajar yang memang luar biasa. Saya sudah beberapa kali melihat beliau bicara tentang Indonesia Mengajar, namun dalam sesi kali ini saya mendapat tiga contoh kreativitas beliau mengutak-atik ”insentif” untuk berbagai program agar mendapat ”buy-in” dari banyak pihak.</p>
<p><span id="more-693"></span></p>
<p>Cerita pertama adalah tentang inisiasi Indonesia Mengajar. Masalah yang coba dipecahkan adalah distribusi guru berkualitas. Perlu diketahui bahwa rasio guru:murid di Indonesia adalah 1:20. Sebenarnya cukup. Yang jadi masalah adalah distribusinya tidak merata serta kualitas masih kurang. Pak Anies lalu mempertanyakan mengapa lulusan yang berkualitas dari perguruan tinggi jarang sekali yang ingin menjadi guru? Belum ada penelitian pasti, namun mungkin karena profesi guru tidak menjanjikan secara finansial untuk jangka panjang.</p>
<p>Nah, kalau begitu bagaimana bila mereka tidak perlu mengajar selamanya, namun cukup 1-2 tahun saja? Mereka akan dikirim ke daerah terpencil yang membutuhkan guru selama satu tahun secara bergantian, membantu memecahkan masalah kurangnya guru berkualitas di daerah-daerah itu, serta mendapatkan pengalaman tambahan yang akan sangat bagus untuk ditampilkan di CV mereka nantinya. Apakah ini bisa menjadi insentif yang menarik bagi lulusan berkualitas dari perguruan tinggi? Faktanya, ada 1.000+ pendaftar untuk batch pertama Indonesia Mengajar yang akan mengirimkan 40+ orang saja! Sedangkan pada batch ke-3, ada 8.000+ pendaftar yang memperebutkan 70+ posisi!</p>
<p>Cerita kedua masih tentang Indonesia Mengajar. Salah satu dari biaya terbesar dari program ini adalah biaya transportasi untuk menerbangkan para Pengajar Muda menuju daerah tujuan. Meminta dukungan dari salah satu perusahaan penerbangan menjadi pilihan yang logis. Maka menghadaplah Pak Anies kepada Garuda Indonesia. Namun, alih-alih meminta Garuda menyumbangkan tiket begitu saja bagi para Pengajar Muda, cara yang beliau usulkan benar-benar kreatif.</p>
<p>Beliau meminta Garuda membuka satu akun frequent flyer khusus bagi Indonesia Mengajar di mana para pelanggan Garuda bisa menyumbangkan poin frequent flyer-nya pada akun tersebut untuk membantu mengirim para Pengajar Muda ke tempat tujuan. Brilyan! Dengan cara ini Pengajar Muda bisa dikirim ke tempat tujuan secara gratis, banyak orang juga mendapat kepuasan karena turut berbuat sosial dengan membantu menyumbangkan poin frequent flyer mereka, dan Garuda pun mendapat citra positif sebagai pendukung inisiatif Indonesia Mengajar tanpa harus mengeluarkan biaya baru malah mengurangi piutang mereka! Benar-benar utak-atik insentif yang luar biasa.</p>
<p>Cerita terakhir Pak Anies bukan tentang Indonesia Mengajar, namun dari perguruan tinggi. Saya tidak jelas dari mana, kemungkinan Paramadina. Beliau mencari dukungan dari berbagai perusahaan dan organisasi untuk memberikan beasiswa. Program yang beliau ajukan bukanlah ”membiayai orang”, tapi ”membeli kursi”. Ini bukan hanya masalah perbedaan istilah, tapi perbedaan cara pandang terhadap masalah yang berujung pada cara penyelesaian yang kreatif.</p>
<p>Beliau memberi ilustrasi bahwa biaya yang dibutuhkan untuk seorang mahasiswa berkuliah sampai lulus selama empat tahun adalah 100 juta rupiah. Bukannya meminta perusahaan membantu 25 juta per tahun secara terus menerus, yang diajukan adalah perusahaan memberi bantuan 100 juta sejak awal periode. Uang 100 juta itu akan dimanfaatkan sambil diinvestasikan. Pada akhir tahun ke-4, pemanfaatan sambil investasi ini akan membawa return sebesar 30%. Bila hal ini dilakukan secara rutin selama lima tahun saja, maka satu kursi ini menjadi gratis untuk selamanya. Inilah konsep dana abadi. Perusahaan lebih tertarik dengan konsep seperti ini. Hanya ada satu penekanan tambahan dari Pak Anies. Beliau mengatakan pada para pemimpin perusahaan yang ingin mendukung bahwa jangan berpikir ini sebagai suatu investasi, namun pandanglah sebagai ”pay back” alias membayar hutang budi kepada dunia pendidikan yang telah membuat mereka duduk di posisi mereka saat ini.</p>
<p>Ketiga kisah yang disampaikan Pak Anies Baswedan saat acara ISAMMU 2 ini semakin meyakinkan saya tentang pentingnya memikirkan insentif dan disinsentif dari setiap program yang ingin kita jalankan. Bagaimana caranya membuat banyak pihak tidak hanya mendapat manfaat, namun juga secara alami merasa senang ikut terlibat. Serta memikirkan apa saja perilaku yang akan secara alami terdorong atau tertahan dengan program yang kita ajukan. Semoga para penguasa pendidikan kita juga memahami konsep Behavioral Economics seperti yang diterapkan oleh Pak Anies Baswedan dalam berbagai inisiatifnya. Omong-omong, adakah yang punya contoh lain penerapan prinsip insentif yang kreatif dalam berbagai program dan inisiatif di dunia pendidikan kita?***</p>
<p>[image by Crs Indika, released to public domain licensing, taken from Wikipedia]</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.bincangedukasi.com/insentif-dan-pendidikan-2.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Insentif dan Pendidikan [1]</title>
		<link>http://www.bincangedukasi.com/687.html</link>
		<comments>http://www.bincangedukasi.com/687.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 19 May 2012 04:07:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Kreshna</dc:creator>
				<category><![CDATA[Blog]]></category>
		<category><![CDATA[ekonomi]]></category>
		<category><![CDATA[insentif]]></category>
		<category><![CDATA[pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[ujian nasional]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.bincangedukasi.com/?p=687</guid>
		<description><![CDATA[Dunia pendidikan kita punya pengalaman buruk saat dipimpin Wapres berlatar belakang saudagar dan Menteri Pendidikan berlatar belakang ekonomi. Ujian Nasional dengan segala ekses permasalahannya muncul saat periode kepemimpinan ini. Namun tidak tepat kalau kemudian kita langsung menganggap ekonomi dan prinsip-prinsipnya tidak seharusnya punya peranan dalam dunia pendidikan kita. Justru sebaliknya, saya beranggapan bahwa beberapa kegagalan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.bincangedukasi.com/wp-content/uploads/2012/05/20120519-110702.jpg"><img src="http://www.bincangedukasi.com/wp-content/uploads/2012/05/20120519-110702.jpg" alt="20120519-110702.jpg" class="alignnone size-full" /></a></p>
<p>Dunia pendidikan kita punya pengalaman buruk saat dipimpin Wapres berlatar belakang saudagar dan Menteri Pendidikan berlatar belakang ekonomi. Ujian Nasional dengan segala ekses permasalahannya muncul saat periode kepemimpinan ini. Namun tidak tepat kalau kemudian kita langsung menganggap ekonomi dan prinsip-prinsipnya tidak seharusnya punya peranan dalam dunia pendidikan kita. Justru sebaliknya, saya beranggapan bahwa beberapa kegagalan dunia pendidikan kita adalah karena diabaikannya prinsip-prinsip ekonomi. Salah satu prinsip utama ekonomi yang sering diabaikan atau tersalahgunakan dalam dunia pendidikan kita adalah: semua manusia digerakkan oleh insentif (dan disinsentif).</p>
<p><span id="more-687"></span></p>
<p>Saat pemerintah mengeluarkan suatu kebijakan pendidikan, maka selayaknya dipikirkan pula bagaimana kebijakan itu diposisikan sebagai insentif atau disinsentif untuk perilaku-perilaku tertentu. Tidaklah cukup membuat kebijakan tanpa memikirkan apa saja perilaku yang akan terdorong atau tertahan oleh kebijakan itu, secara langsung maupun tidak langsung. Dalam hal ini, tampaknya pemerintah masih kedodoran.</p>
<p>Lihat saja kebijakan Ujian Nasional dan ekses-ekses yang ditimbulkannya. Ujian Nasional sebagai bentuk tes standar, yang dipaksakan saat standar layanan pendidikan di Indonesia masih terlalu luas variannya, juga diperlakukan sebagai tes berisiko tinggi bagi siswa, guru, sekolah dan pejabat Dikbud daerah. Penilaian performa dan hidup-mati mereka ditentukan oleh satu tes standar yang menguji low order of thinking dan diletakkan di ujung proses pembelajaran. Apakah jadi mengejutkan saat timbul berbagai ekses negatif Ujian Nasional seperti yang kita lihat saat ini?</p>
<p>Ujian Nasional seperti yang kita miliki saat ini menjadi insentif untuk perilaku teaching-to-the-test di sekolah. Sekolah berubah menjadi sekadar bimbingan tes. Untuk apa bersusah payah menjalankan proses pendidikan yang benar dan berkarakter? Lebih aman menjalankan persiapan Ujian Nasional dengan hapalan-hapalan dan latihan-latihan soal. Untuk apa bersusah payah mendidik anak tentang kesenian, komunikasi, pemecahan masalah, kolaborasi, karya sosial, dan lainnya? Hal-hal tersebut toh tidak ada di ujian penentuan. Bagi sekolah-sekolah di daerah termarjinalkan, untuk apa mati-matian mengejar ketertinggalan kualitas pendidikan dalam perlombaan yang jelas-jelas tidak adil? Lebih baik mencari cara-cara pintas mengakali Ujian Nasional. Teaching-to-the-test, kurikulum kejar tayang, hierarkisasi mata pelajaran, penyempitan kurikulum, dan masih banyak lagi, adalah efek-efek perilaku yang secara alami timbul dari penempatan Ujian Nasional yang serampangan.</p>
<p>Prof. Slamet Iman Santoso, seorang pedagog dan perintis keilmuan Psikologi di Indonesia, menyatakan bahwa dunia pendidikan perlu dipimpin oleh seorang pedagog namun ia perlu memiliki enam penasehat di bawahnya. Salah satunya adalah ahli ekonomi. Dari kenyataan saat ini kita bisa lihat bahwa ahli ekonomi tersebut selayaknya memberi masukan tentang strategi penempatan kebijakan-kebijakan pendidikan sebagai insentif untuk perilaku-perilaku yang tepat dan bermanfaat dari para pelaku pendidikan.</p>
<p>Maka kenyataan bahwa banyak kebijakan pendidikan yang memberi insentif yang salah muncul justru saat Kementerian Pendidikan Nasional dipimpin oleh seorang ekonom benar-benar membuat saya bingung. Kenyataan lain bahwa kebijakan-kebijakan itu dipertahankan sampai sekarang membuat saya penasaran, sebenarnya apa insentif dan disinsentif yang diterima oleh para penguasa pendidikan ini sehingga mereka ngotot mempertahankan berbagai kebijakan pendidikan yang serampangan? Adakah yang bisa memberi saya pencerahan?***</p>
<p>[image from incentives.com.au]</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.bincangedukasi.com/687.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Amanat</title>
		<link>http://www.bincangedukasi.com/amanat.html</link>
		<comments>http://www.bincangedukasi.com/amanat.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 24 Mar 2012 09:07:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Guntar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Blog]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.bincangedukasi.com/?p=675</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Sulistyanto Soejoso, anggota Dewan Pendidikan Jawa Timur Pembukaan UUD adalah amanat dari para pendiri &#038; tokoh-tokoh negeri yang harus dilaksanakan oleh generasi yang sesudahnya. Sebagai generasi penerus, menjalankan amanat itu adalah kesadaran sekaligus keharusan. Dalam pembukaan UUD 45 (sekarang masih bisa disebut UUD 45 atau tidak? Karena sudah beberapa kali di amandemen kan?), salah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Oleh: Sulistyanto Soejoso, anggota Dewan Pendidikan Jawa Timur</em></p>
<p>Pembukaan UUD adalah amanat dari para pendiri &#038; tokoh-tokoh negeri yang harus dilaksanakan oleh generasi yang sesudahnya. Sebagai generasi penerus, menjalankan amanat itu adalah kesadaran sekaligus keharusan.</p>
<p>Dalam pembukaan UUD 45 (sekarang masih bisa disebut UUD 45 atau tidak? Karena sudah beberapa kali di amandemen kan?), salah satu yang diamanatkan adalah &#8220;mencerdaskan kehidupan bangsa&#8221;. Berkaitan dengan apakah amanat itu sudah dilaksanakan atau belum oleh generasi penerus (termasuk kita), tentu kita bisa menjadikan apa yang terjadi saat ini sebagai tolok ukur dan pembuktian.</p>
<p>Beberapa pertanyaan berikut ini tidak saya maksudkan untuk menyalahkan siapa-siapa, tetapi lebih saya maksudkan untuk jadi bahan renungan. Pertanyaan-pertanyaannya adalah sebagai berikut:</p>
<ol>
<li>Indonesia punya lebih dari 17.500 pulau, tetapi garam masih import. Apakah amanat mencerdaskan kehidupan bangsa sudah dijalankan anak-anak bangsa negeri ini?
<li>2/3 wilayah Indonesia adalah lautan, tetapi ikan masih import. Apakah amanat mencerdaskan kehidupan bangsa sudah dijalankan anak-anak bangsa negeri ini?</li>
<li>Indonesia berada di garis khatulistiwa, sebuah wilayah di daerah tropis yang sangat subur, tetapi cabe saja import. Apakah amanat mencedaskan kehidupan bangsa sudah dijalankan anak-anak bangsa negeri ini?</li>
<li>Guru-guru SD menyatakan kepada murid-muridnya, Indonesia adalah negara yang gemah ripah lohjinawi, tetapi di luar sekolahnya para siswa selalu melihat banyak orang untuk bisa makan harus mengais sampah. Apakah  amanat mencerdaskan kehidupan bangsa sudah dijalankan anak-anak bangsa negeri ini?</li>
<li>Era 1970-an, atas permintaan Malaysia, warganegara yang dikirim Indonesia kesana kebanyakan adalah guru.Sekarang, yang dikirim ke Malaysia kebanyakan kuli dan babu.</li>
<p>	Apakah amanat mencerdaskan kehidupan bangsa sudah dijalankan anak-anak bangsa negeri ini?
</ol>
<p>Tentu masih banyak yang bisa kita tambahkan untuk menambah daftar panjang pertanyaan terhadap 1 point amanat mencerdaskan kehidupan bangsa ini. Belum lagi kalau kita juga menelaah poin-poin amanat yang lain dalam pembukaan UUD negeri ini.</p>
<p>Mencerdaskan kehidupan bangsa adalah amanat tentang pendidikan. Pertanyaan-pertanyaan di atas memaparkan beberapa hal paradoks yang menunjukkan bahwa sesungguhnya pendidikan di negeri ini gagal total. Pilar-pilar pendidikan di negeri ini ternyata sudah sangat lama tidak menjalankan fungsinya karena terjebak dgn ukuran semu dan simbol-simbol. Bangsa ini sudah lama meremehkan dan bahkan melupakan ajaran-ajaran dan buah-buah pikiran bapak pendidikan bangsanya. Padahal ajaran-ajaran dan buah-buah pikiran bapak pendidikan bangsa ini dikagumi dan diadopsi oleh bangsa lain, termasuk negeri jiran itu.</p>
<p>Ironi? Tidaklah waras kita ini kalau melihat kondisi bangsa sekarang ini bukanlah sesuatu yang ironis. Tetapi, tentu kita tidak boleh berhenti hanya pada tingkatan merenung dan pasrah pada nasib saja. Tindak dan langkah nyata untuk perubahan harus segera dilakukan. Kebijakan-kebijakan pemerintah di bidang pendidikan yang masih sangat sentralistik harus segera diubah. Kekukuhan pemerintah pusat yang selalu menganggap benar kebijakan2 bidang pendidikan yang telah dibuatnya harus berubah menjadi kerelaan untuk memberi kesempatan kepada semua pihak yang punya alternatif lain mewujudkan dan menjalankan alternatif lain itu. Pemerintah daerah harus segera mengambil inisiatif mewujudkan otonomi bidang pendidikan di wilayahnya masing2. Apa yang bisa diperankan anggota masyarakat untuk perbaikan pendidikan negeri ini?</p>
<p>Mari kita tanyakan kepada diri kita masing-masing: &#8220;Apa yang bisa saya kontribusikan untuk mewujudkan perubahan ini?&#8221;.</p>
<p>Tetes demi tetes &#8220;darah&#8221; yang mengalir pada tubuh seluruh anak bangsa ini sesungguhnya adalah &#8220;darah&#8221; dari jenis bangsa yang BESAR, bangsa yang dulu memiliki kedaulatan di segala bidang dan pengaruhnya jauh menembus batas wilayah kekuasaannya. Kalau sekarang kita jadi bangsa pecundang karena kita tidak menjalankan dan bahkan mungkin malah sudah mengkhianati amanat dari para pendiri bangsa ini. Mari kita jalankan dengan sungguh-sungguh amanat-amanat itu agar kita bisa menegakkan kembali keINDONESIAan bangsa besar ini. SEMOGA.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.bincangedukasi.com/amanat.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bincang Edukasi Meetup #5</title>
		<link>http://www.bincangedukasi.com/bincang-edukasi-meetup-5.html</link>
		<comments>http://www.bincangedukasi.com/bincang-edukasi-meetup-5.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 07 Mar 2012 18:30:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Guntar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[News]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.bincangedukasi.com/?p=663</guid>
		<description><![CDATA[Bagi Anda yang kebetulan belum mengetahui, Bincang Edukasi adalah sebuah acara meetup dua bulanan di beberapa kota bagi para penggerak, pemerhati dan pemeduli pendidikan untuk saling berbagi mengenai gerakan, inisiatif dan ide pendidikan yang mereka miliki atau telah jalankan, serta mendiskusikan berbagai topik dan tren terhangat di dunia pendidikan. Kali ini, kita sudah sampai pada [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Bagi Anda yang kebetulan belum mengetahui, Bincang Edukasi adalah sebuah acara meetup dua bulanan di beberapa kota bagi para penggerak, pemerhati dan pemeduli pendidikan untuk saling berbagi mengenai gerakan, inisiatif dan ide pendidikan yang mereka miliki atau telah jalankan, serta mendiskusikan berbagai topik dan tren terhangat di dunia pendidikan.</p>
<p>Kali ini, kita sudah sampai pada event yang ke-5</p>
<p>Bincang Edukasi Meetup #5 ini adalah Bincang Edukasi pertama yang diadakan di kota Bandung. Acara akan dibagi menjadi dua sesi besar. Sesi pertama adalah sesi presentasi di mana 4 pembicara akan berbagi tentang gerakan dan ide pendidikannya. Masing-masing pembicara akan mendapat waktu 17 menit tanpa tanya jawab. [Tanya jawab dilakukan di sesi informal sesudah acara.] Sesi kedua adalah sesi diskusi pendidikan dengan format World Cafe Conversation di mana semua peserta dan pembicara akan memunculkan ide-ide praktis bagi perbaikan pendidikan Indonesia.</p>
<p>Pembicara Bincang Edukasi #5:</p>
<p>1. Andy Sutioso &#8211; Rumah Belajar Semi Palar<br />
2. Kandi Sekarwulan &#8211; Komunitas Sahabat Kota | <a href="http://twitter.com/kandi_chan" target="_blank">@kandi_chan</a>, <a href="http://twitter.com/sahabatkota" target="_blank">@sahabatkota</a><br />
3. Dhitta Puti Sarasvati &#8211; Rumah Mentari | <a href="http://twitter.com/warnapastel" target="_blank">@warnapastel</a><br />
4. Kolaborasi Cozy Street Corner &#8211; Save Our Music &amp; Karina Adistiana &#8211; Peduli Musik Anak | <a href="http://twitter.com/cozystcorner" target="_blank">@cosystcorner</a>, <a href="http://twitter.com/anyi_karina" target="_blank">@anyi_karina</a></p>
<p>Pendaftaran peserta bisa dilakukan melalui laman berikut &gt;&gt; <a href="http://bit.ly/bined05" target="_blank">http://bit.ly/bined05</a>, atau juga bisa dengan mengirim email kepada info@bincangedukasi.com dengan menyebutkan nama dan nomor telepon.</p>
<p>Inisiator Bincang Edukasi: @kreshna, @bukik, @salsabeela, @inandatiaka, @akhmadguntar, @dwikrid</p>
<p>Kurator Bincang Edukasi Bandung: @ratnakristanti, @mbakdan</p>
<p>Keterangan:<br />
&gt;&gt; Acara ini gratis dan tidak dipungut biaya</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.bincangedukasi.com/bincang-edukasi-meetup-5.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>High-Tech High, Sekolah Teknologi Berbasis Liberal Arts dan Project Based Learning</title>
		<link>http://www.bincangedukasi.com/high-tech-high.html</link>
		<comments>http://www.bincangedukasi.com/high-tech-high.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 05 Oct 2011 00:45:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Kreshna</dc:creator>
				<category><![CDATA[Blog]]></category>
		<category><![CDATA[high tech high]]></category>
		<category><![CDATA[pendidikan abad 21]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan Alternatif]]></category>
		<category><![CDATA[project based learning]]></category>
		<category><![CDATA[sekolah alternatif]]></category>
		<category><![CDATA[sekolah teknologi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.bincangedukasi.com/?p=654</guid>
		<description><![CDATA[Pas browsing, nemu satu lagi sekolah alternatif keren: Gary and Jerri-Ann Jacobs High Tech High (biasa disingkat HTH). Sekolah ini sungguh berbeda dari sekolah umum, baik metodenya yang menggunakan project based learning, maupun lingkungan sekolahnya yang lebih mirip gabungan antara tempat kerja perusahaan high tech dan galeri seni. Dipimpin oleh Larry Rosenstock, seorang edukator kawakan, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pas browsing, nemu satu lagi sekolah alternatif keren: <a href="http://www.hightechhigh.org/" target="_blank">Gary and Jerri-Ann Jacobs High Tech High</a> (biasa disingkat HTH). Sekolah ini sungguh berbeda dari sekolah umum, baik metodenya yang menggunakan project based learning, maupun lingkungan sekolahnya yang lebih mirip gabungan antara tempat kerja perusahaan high tech dan galeri seni. Dipimpin oleh Larry Rosenstock, seorang edukator kawakan, HTH memiliki visi edukasi dimana pembelajaran muncul dari minat pribadi, gairah penjelajahan dan penemuan, serta kesenangan akan seni, teknologi, kerajinan, dan eksperimen. Kebetulan ada videonya di YouTube (keren!), saya embedd di bawah ini. Silahkan dilihat dan baca lebih lanjut ulasan singkat yang saya kumpulkan dari beberapa situs.</p>
<p><iframe src="http://www.youtube.com/embed/6rv_rmJYorE" frameborder="0" width="420" height="236"></iframe></p>
<p>Sekolah di San Diego, Amerika, ini didirikan oleh Gary dan Jerri-Ann Jacobs di tahun 2000. Alasan berdirinya adalah karena keheranan Gary Jacobs atas sistem pendidikan sekolah lokal di daerah mereka yang gagal menyediakan tenaga kerja berkualitas untuk industri teknologi canggih dan biotech di San Diego. (Saya juga suka heran kenapa Jurusan Pertambangan terbaik di Indonesia adanya di ITB dan bukan di Uncen.) Berangkat dari keheranan dan ketidakpuasan ini, Gary Jacobs dan beberapa pengusaha lain mendirikan sekolah ini. Metode yang digunakan dalam HTH sangat berbeda dengan sekolah umum. HTH menggunakan metode project-based learning (saya akan buat posting khusus untuk ini lain kali), di mana siswa diberi proyek untuk dikerjakan secara individu maupun tim selama tahun ajaran untuk diselesaikan. Dari proyek itulah nilai untuk subjek-subjek pelajaran diambil. Di kelas 11, para siswa melakukan magang selama tiga minggu di perusahaan biotech, perusahaan IT, lembaga non profit, atau di sekolah lain.</p>
<p>Walaupun namanya High Tech High, ternyata teknologi bukanlah fokus utama sekolah ini. Yang jadi fokus utama HTH justru liberal arts di mana pelajaran seni dan kemanusiaan mendapat prioritas yang sama dengan matematika dan ilmu pengetahuan alam. Teknologi digunakan sebagai alat untuk memfasilitasi pembelajaran siswa pada subjek-subjek pelajaran yang beraneka ragam itu. Bagaimana konten dari pelajaran-pelajaran itu akan teraplikasikan dalam dunia nyata, di situlah teknologi memainkan peran di kelas-kelas HTH. Jadi teknologi mendukung pedagogi dan bukan sebaliknya.</p>
<p><iframe src="http://www.youtube.com/embed/Yie4q8LscBs" frameborder="0" width="420" height="315"></iframe></p>
<p>Saat ini HTH sudah memiliki beberapa cabang di daerah lain dan juga sudah membuka sekolah dasar dan bahkan sekolah guru. Saya berharap ada pengusaha-pengusaha di Indonesia yang memiliki kegelisahan akan sistem pendidikan kita dan kemudian membuka sekolah-sekolah alternatif semacam HTH ini. Kadang-kadang kita beruntung ada orang asing yang jadi pengusaha di Indonesia lalu kemudian berbuat baik dengan menggunakan kekayaannya untuk membangun sekolah alternatif di Indonesia seperti pada contoh Green School di Bali. Tapi itu juga jarang kan? Apa kita harus menunggu HTH buka cabang di Indonesia ya?***</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.bincangedukasi.com/high-tech-high.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menari dan Matematika, Sama Pentingnya!</title>
		<link>http://www.bincangedukasi.com/menari-dan-matematika-sama-pentingnya.html</link>
		<comments>http://www.bincangedukasi.com/menari-dan-matematika-sama-pentingnya.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 04 Oct 2011 02:45:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Kreshna</dc:creator>
				<category><![CDATA[Blog]]></category>
		<category><![CDATA[dancing]]></category>
		<category><![CDATA[ketut gede bendesa]]></category>
		<category><![CDATA[league of extraordinary dancers]]></category>
		<category><![CDATA[menari]]></category>
		<category><![CDATA[pelajaran menari]]></category>
		<category><![CDATA[pendidikan tari]]></category>
		<category><![CDATA[sanggar tari]]></category>
		<category><![CDATA[sekar dewata]]></category>
		<category><![CDATA[tari anak]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.bincangedukasi.com/?p=649</guid>
		<description><![CDATA[Ketika menyampaikan TEDTalk berjudul “Benarkah Sekolah Membunuh Kreativitas?”, profesor pendidikan Sir Ken Robinson menunjukkan fakta bahwa selalu ada hierarki subjek pada sistem pendidikan di seluruh dunia, di mana pelajaran seperti Matematika dan Bahasa menempati prioritas tertinggi sedangkan pelajaran seni dan kemanusiaan menempati posisi terbawah. Dalam tiap hierarki itu pun ada sub hierarki lagi, seperti di [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ketika menyampaikan TEDTalk berjudul “Benarkah Sekolah Membunuh Kreativitas?”, profesor pendidikan Sir Ken Robinson menunjukkan fakta bahwa selalu ada hierarki subjek pada sistem pendidikan di seluruh dunia, di mana pelajaran seperti Matematika dan Bahasa menempati prioritas tertinggi sedangkan pelajaran seni dan kemanusiaan menempati posisi terbawah. Dalam tiap hierarki itu pun ada sub hierarki lagi, seperti di pelajaran seni yang menempatkan menggambar dan menyanyi jauh lebih penting daripada seni peran dan menari. Ia kemudian menyampaikan keheranannya mengapa di sekolah kita tidak mengajari anak-anak meari seperti kita mengajari mereka Matematika? Bukankah anak-anak menari setiap saat? Mengapa seiring bertambahnya usia anak, kita semakin berfokus pada kepala saja? Mengapa menari hanya menjadi pelajaran ekstra kurikuler? Seberapa (tidak) pentingkah menari dalam pendidikan anak?</p>
<p>Secara umum tari memiliki beberapa fungsi antara lain: ekspresi budaya, media komunikasi, salah satu bentuk seni, dan alat sosialisasi pula. Mengajarkan tari pada anak-anak secara spesifik akan membawa banyak manfaat, seperti:</p>
<p>&gt;&gt; Kebugaran fisik. (Ya iya lah!) Ini saya tulis pertama karena yang paling terlihat manfaatnya. Saat menari entah berapa banyak otot yang bekerja, dan anak dilatih menjadi lebih kuat, seimbang, berstamina, koordinatif dan fleksibel. Walaupun anak sudah terlihat tidak punya bakat menjadi penari profesional nantinya namun kalau ia suka menari kemungkinan besar ia akan memiliki pola hidup yang lebih aktif sampai dewasa nanti. Selain kekuatan dan lainnya, dengan berlatih menari postur tubuh juga menjadi lebih baik. Cara berdiri, duduk, berjalan, dan semua aktivitas lain akan menjadi lebih baik (dan lebih anggun). Terbiasa memiliki postur tubuh yang benar dalam kegiatan sehari-hari saja sudah akan mengurangi banyak penyakit. Tidak percaya? Silahkan baca tentang Alexander Technique ini.</p>
<p>&gt;&gt; Tambahan sedikit soal koordinasi. Coba lihat video di bawah ini tentang seorang anak yang sedang bermain game Dance Dance Revolution di rumahnya. Skornya sempurna, koordinasi tubuhnya luar biasa, dan video ini sudah dilihat lebih dari 5 juta kali di YouTube. Kebanyakan orang yang melihat ini mungkin akan berkomentar, “Gila nih orang tuanya, anak dibiarin main ginian terus. Pasti gak pernah belajar nih!” Hmm, justru anak ini belajarnya sudah luar biasa sampai bisa seperti itu. Kalau saya mungkin akan berkomentar, “Gila aja nih orang tuanya kalau sampai anak kaya’ gini nggak disekolahin ke sekolah tari atau atlet. Ini sih sudah kelihatan passion-nya memang di situ dan jenius pula kecerdasan kinestetiknya!”</p>
<p><iframe src="http://www.youtube.com/embed/6JzcqALklRs" frameborder="0" width="420" height="315"></iframe></p>
<p>&gt;&gt; Percaya diri dan fokus. Kenapa percaya diri bisa meningkat dengan menari? Alasan yang langsung terlihat adalah karena mereka akan merasa senang dengan tubuhnya dan kemampuannya mengolah gerak. Namun bukan hanya itu, Anthony Robbins, sekorang pakar NLP dan motivasi top dunia, selalu menyarankan semua orang yang ingin mengubah nasib hidupnya dengan memulai dari mengubah tubuhnya dulu menjadi lebih sehat dan bugar. Dengan memperhatikan kesehatan dan kebugaran fisik terlebih dahulu, kita akan benar-benar merasa memegang kendali dan bertanggung jawab atas diri kita sendiri (bukan berarti melupakan Tuhan ya). Kemampuan untuk berfokus juga akan meningkat dengan belajar menari. Jelas lah ini. Gimana bisa menari dengan baik kalau nggak fokus?</p>
<p>&gt;&gt; Melatih berkomitmen dan disiplin. Berlatih menari yang baik butuh latihan berkali-kali. Anak akan belajar untuk memiliki komitmen dan dedikasi yang kuat, serta disiplin berlatih terus menerus bersama rekan-rekannya (menari biasanya tidak sendiri) agar bisa menari dengan baik. Penari-penari profesional seringkali harus melewati perjalanan karir yang dipenuhi dengan latihan-latihan intensif setiap harinya selama bertahun-tahun untuk mencapai kesuksesan. Jangan dikira menjadi penari itu cukup latihan part time. Silahkan lihat dokumenter tentang Dance School Julliard (seri 1, seri 2, dan seri 3) ini untuk melihat betapa berdedikasinya para siswa sekolah tari. Jauh banget dari gambaran anak-anak sekolah formal&#8230; yang kita lihat di sinetron. He he.</p>
<p>&gt;&gt; Sosialisasi dan kerjasama tim. Menari adalah kegiatan berkelompok yang memerlukan komunikasi, pengertian, dan kekompakan tim. Ini sih sudah jelas ya? Tapi lebih dari itu, belajar kerjasama juga didapat dari komitmen untuk datang dan berlatih. Anak akan belajar untuk tidak mengecewakan rekan-rekan satu timnya dengan bermalas-malasan karena performa seluruh tim akan terpengaruh pula. Ini lah yang saya sebut mengajari anak berkolaborasi, bukan hanya berkompetisi.</p>
<p>&gt;&gt; Menari juga bisa menjadi saluran bagi anak dalam menyalurkan emosi. Menari digunakan untuk merepresentasikan banyak perasaan seperti kebebasan, harapan, gairah, keberanian, kekuatan, dan keanggunan. Bukan itu saja, menari juga bisa menjadi sarana pelampiasan emosi negatif. Dalam psikologi ada konsep Mekanisme Pertahanan Ego, yaitu strategi mempertahankan citra ego yang kita gunakan saat menghadapi kenyataan yang tidak mengenakkan. Ada banyak cara, kebanyakan negatif, seperti: displacement, regression, repression, isolation, dll. Dari namanya aja udah seram begitu. Namun ada juga yang positif seperti altruism, anticipation, humor, dan sublimation. Nah yang terakhir ini, sublimasi, adalah saat kita mentransformasi emosi atau naluri negatif menjadi aksi, emosi dan perilaku positif. Contohnya saat kita kesal luar biasa karena dicaci maki bos di depan rekan-rekan kerja, kita tidak lalu menendang kucing kurang beruntung yang sedang lewat saat kita pulang, namun kita memilih untuk shalat, atau berlatih pencak silat, atau&#8230; menari! Luar biasa bukan kalau anak sedari kecil sudah diberi saluran mekanisme pertahanan ego yang baik bagi mereka?</p>
<p>Bayangkan betapa banyak manfaat yang bisa didapat oleh anak saat mereka belajar dan berkegiatan menari. Jadi mengapa menari tidak diajarkan pada anak-anak seperti kita mengajari mereka Matematika? Tanya pemerintah, atau tanya orang tuanya donk. <img src='http://www.bincangedukasi.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> (To be noted: I’m very good at Mathematics, and I’m very awful at dancing.)</p>
<p>Beberapa catatan penutup, yang pertama, anak-anak memiliki rentang perhatian yang pendek. Kalau mengajari mereka menari, usahakan tidak lebih dari 30-45 menit setiap sesinya. Guru atau orang tua harus memperhatikan ketertarikan si anak, membuat kelas penuh gerak dan tidak membosankan. Seperti pada pelajaran lain, yang penting adalah anak bisa bersenang-senang dengannya. Serta yang paling-paling penting, setelah membaca posting ini dan mengetahui pentingnya menari, tapi anak kita ternyata tidak menyukai aktivitas menari, ya jangan dipaksa.</p>
<p>Sebagai bonus posting (halah!), silahkan dinikmati performa dari grup The League of Extraordinary Dancers di video di bawah ini. Luar biasa! Modern dan street dance yang sering kita pandang “nggak nyeni” bisa ditampilkan sebagai paparan yang begitu artistik dan menyentuh. Mau nangis lihatnya&#8230; Ha ha. Mereka juga membuat film-film online yang sudah diluncurkan. Silahkan lihat website LXD untuk melihat video performa mereka selama ini. Enjoy dancing with your children!***</p>
<p>Catatan: <a href="http://sekardewata.blogspot.com/2010/04/photo-anak-menari.html" target="_blank">Foto di atas</a> saya ambil dari situs <a href="http://sekardewata.blogspot.com/" target="_blank">Sanggar Tari Sekar Dewata</a> di Bali yang didirikan oleh Ketut Gede Bendesa. Yang saya kagum pada sanggar tari ini adalah mereka membuka kesempatan bagi para penyandang cacat untuk ikut belajar dan mengalami menari. Luar biasa!</p>
<p><object width="526" height="374" classid="clsid:d27cdb6e-ae6d-11cf-96b8-444553540000" codebase="http://download.macromedia.com/pub/shockwave/cabs/flash/swflash.cab#version=6,0,40,0"><param name="allowFullScreen" value="true" /><param name="allowScriptAccess" value="always" /><param name="wmode" value="transparent" /><param name="bgColor" value="#ffffff" /><param name="flashvars" value="vu=http://video.ted.com/talk/stream/2010/Blank/TheLXD_2010-320k.mp4&amp;su=http://images.ted.com/images/ted/tedindex/embed-posters/TheLXD-2010.embed_thumbnail.jpg&amp;vw=512&amp;vh=288&amp;ap=0&amp;ti=786&amp;lang=eng&amp;introDuration=15330&amp;adDuration=4000&amp;postAdDuration=830&amp;adKeys=talk=the_lxd_in_the_internet_age_dance_evolves;year=2010;theme=spectacular_performance;theme=a_taste_of_ted2010;event=TED2010;tag=Arts;tag=Entertainment;tag=art;tag=collaboration;tag=dance;tag=gaming;&amp;preAdTag=tconf.ted/embed;tile=1;sz=512x288;" /><param name="src" value="http://video.ted.com/assets/player/swf/EmbedPlayer.swf" /><param name="pluginspace" value="http://www.macromedia.com/go/getflashplayer" /><param name="allowfullscreen" value="true" /><param name="allowscriptaccess" value="always" /><embed width="526" height="374" type="application/x-shockwave-flash" src="http://video.ted.com/assets/player/swf/EmbedPlayer.swf" allowFullScreen="true" allowScriptAccess="always" wmode="transparent" bgColor="#ffffff" flashvars="vu=http://video.ted.com/talk/stream/2010/Blank/TheLXD_2010-320k.mp4&amp;su=http://images.ted.com/images/ted/tedindex/embed-posters/TheLXD-2010.embed_thumbnail.jpg&amp;vw=512&amp;vh=288&amp;ap=0&amp;ti=786&amp;lang=eng&amp;introDuration=15330&amp;adDuration=4000&amp;postAdDuration=830&amp;adKeys=talk=the_lxd_in_the_internet_age_dance_evolves;year=2010;theme=spectacular_performance;theme=a_taste_of_ted2010;event=TED2010;tag=Arts;tag=Entertainment;tag=art;tag=collaboration;tag=dance;tag=gaming;&amp;preAdTag=tconf.ted/embed;tile=1;sz=512x288;" pluginspace="http://www.macromedia.com/go/getflashplayer" allowfullscreen="true" allowscriptaccess="always" /></object></p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.bincangedukasi.com/menari-dan-matematika-sama-pentingnya.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bined #02 &#8211; Nandha Julistya &#8211; Post-event Interview</title>
		<link>http://www.bincangedukasi.com/bined-02-nandha-julistya-interview.html</link>
		<comments>http://www.bincangedukasi.com/bined-02-nandha-julistya-interview.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 29 Sep 2011 04:18:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Kreshna</dc:creator>
				<category><![CDATA[Blog]]></category>
		<category><![CDATA[Bincang Edukasi]]></category>
		<category><![CDATA[Bined 02]]></category>
		<category><![CDATA[Nandha Julistya]]></category>
		<category><![CDATA[Reading Bugs]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.bincangedukasi.com/?p=642</guid>
		<description><![CDATA[Post Event Interview with Nandha Julistya Bincang Edukasi #2 Jakarta &#124; 27 Juli 2011 &#160; Pegiat pendidikan, setelah acara Bincang Edukasi 02 [Video], kami melakukan wawancara dengan Mas Nandha Julistya, inisiator Reading Bugs. Berikut ini petikan wawancaranya. &#160; Dapat diceritakan bagaimana latar belakang pendidikan Mas Nandha? Saya adalah lulusan jurusan Komunikasi FISIP UI dan Teknik Mesin [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Post Event Interview with Nandha Julistya</strong></p>
<p><strong>Bincang Edukasi #2 Jakarta | 27 Juli 2011</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Pegiat pendidikan, setelah acara Bincang Edukasi 02 [<a href="http://www.bincangedukasi.com/bined-02-nandha-julistya.html" target="_blank">Video</a>], kami melakukan wawancara dengan Mas Nandha Julistya, inisiator Reading Bugs. Berikut ini petikan wawancaranya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Dapat diceritakan bagaimana latar belakang pendidikan Mas Nandha?</strong></p>
<p>Saya adalah lulusan jurusan Komunikasi FISIP UI dan Teknik Mesin Politeknik ITB.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Konsep pendidikan seperti apa yang diterapkan di dalam keluarga Mas Nandha? </strong></p>
<p>Orangtua saya sangat keras dalam mewajibkan anak-anaknya sekolah, namun sangat longgar dalam mewajibkan anaknya belajar setelah pulang sekolah. Belajar oleh orangtua saya tidak melulu dilihat dengan mengerjakan PR. Setiap waktu kebersamaan saya dengan orangtua, selalu ada hal-hal baru yang orangtua sampaikan untuk memenuhi keingintahuan kami. Begitulah cara saya belajar. Mereka dapat sangat antusias memfasilitasi anak-anaknya untuk menggali sesuatu lebih jauh apabila kami begitu tertarik atas suatu topik tertentu. Itu akhirnya menjadi sebuah tantangan buat saya untuk terus menggali informasi.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Bagaimana pandangan Mas Nandha tentang kondisi umum pendidikan Indonesia saat ini?</strong></p>
<p>Sejujurnya saya cukup miris melihat kondisi pendidikan saat ini. Para pemangku kepentingan (orangtua, guru, sekolah) sering melihat terlalu jauh ke depan namun lupa akan apa yang ada di depan mata. Mereka sangat ‘result oriented’ namun melupakan proses-proses alami yang seharusnya peserta didik lewati. Buat mereka, ukuran-ukuran pendidikan hanyalah nilai ujian yang tinggi, fasilitas yang mewah, prestise yang dihasilkan, dll. Banyak orangtua yang lupa atau tidak mau tahu bagaimana proses untuk mendapatkan hal-hal di atas yang sesungguhnya membutuhkan keterlibatan mereka. Kondisi ini kemudian dimanfaatkan oleh yayasan-yayasan pendidikan yang hanya mengejar materi untuk mencari keuntungan sebesar-besarnya. Nilai-nilai pendidikan dan pengajaran akhirnya tidak lagi menjadi prioritas atau ‘spirit’ yang menjiwai sebuah lembaga pendidikan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Apakah yang paling <em>urgent </em>untuk diperbaiki dari pendidikan kita saat ini? </strong></p>
<p>Paradigma dari para pemangku kepentingan. Banyak orangtua yang memaksakan anaknya untuk menguasai sesuatu dengan instan. Banyak guru yang menjadi guru karena terpaksa akibat kalah berkompetisi dalam mencari pekerjaan. Banyak sekolah diperlakukan sebagai ‘profit center’ oleh pengelola pendidikan sebagaimana bisnis pada umumnya. Para pemangku kepentingan bersikap seolah-olah hanya mereka yang mengetahui apa yang terbaik bagi anak-anak peserta didik. Peserta didik hanya menjadi obyek dari para pemangku kepentingan di atas. Semua itu harus diubah dan diperbaiki segera.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Mengapa memilih jalan perjuangan melalui Reading Bugs?</strong></p>
<p>Reading Bugs itu seperti sebuah kejutan yang menyenangkan buat saya. Dia seperti melengkapi rantai kampanye peduli pendidikan yang sudah saya lakukan selama ini. Dengan mengusung konsep Read Aloud, Reading Bugs menjadi gerbang masuk buat kami untuk mempengaruhi orangtua, guru, dan sekolah dalam memandang anak atau peserta didik saat menjalani proses pendidikan. Konsep ini membuat orangtua dan guru harus berperan lebih aktif dalam proses tersebut. Sistem komunikasi yang terbangun akhirnya menjadi sebuah sistem komunikasi dua arah, dimana orangtua, guru, dan sekolah juga harus mendengar suara/pendapat seorang anak atau peserta didik karena keberhasilan pendidikan adalah refleksi dari sebuah upaya bersama antara peserta didik dan para pemangku kepentingan di atas.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Apa saja rencana dan target Reading Bugs ke depan? </strong></p>
<p>Kami berharap orangtua, guru, dan sekolah yang menerapkan konsep Read Aloud menjadi semakin luas. Apabila ini terjadi, kemampuan membaca sebagai fundamental pendidikan yang harus dikuasai oleh anak atau peserta didik akan semakin mudah tercapai. Orangtua tidak perlu takut anaknya tidak bisa membaca saat sudah masuk usia sekolah. Di sisi lain, anak akan senang membaca akibat peran aktif orangtua dalam membangun pengalaman membaca yang menyenangkan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Bagaimana caranya bila ada orang yang tertarik dan ingin mendukung Reading Bugs?</strong></p>
<p>Banyak bentuk dukungan yang bisa diberikan, di antaranya dengan menjadi relawan Reading Bugs, trainer Read Aloud, dukungan publikasi, dukungan akses, ataupun sponsorship. Semua pada dasarnya dikembalikan kepada individu masing-masing. Bagi yang tertarik bisa menghubungi saya melalui email : <span style="text-decoration: underline;">nandha_julistya@yahoo.com</span> atau HP : 0811 833773. Apabila tidak terangkat, mohon untuk meninggalkan SMS di nomor tersebut agar bisa saya tindaklanjuti.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Apa tips yang dapat diberikan untuk orang-orang yang ingin membangun gerakan pendidikan?</strong></p>
<p>Mulailah dari hati. Bawa hati kita dalam gerakan yang kita bangun. Selalu mengacu pada nilai-nilai luhur pendidikan yang ingin kita tuju.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Apa harapan untuk pendidikan Indonesia ke depannya?</strong></p>
<p>Kembalinya nilai-nilai luhur pendidikan dalam pelaksanaan pendidikan di Indonesia serta pemerataan kesempatan pendidikan yang dapat dirasakan oleh seluruh putra-putri Indonesia.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Menurut Mas Nandha, bagaimana cara terbaik untuk mencapainya (dari harapan yang telah disebutkan diatas)?</strong></p>
<ul>
<li>Mengajak sebanyak mungkin elemen masyarakat untuk turut terlibat dalam kegiatan-kegiatan kami.</li>
<li>Mengajak masyarakat untuk melihat, apakah paradigma yang selama ini dianut sudah sesuai dengan harapan yang mereka inginkan berdasarkan nilai atau norma yang berlaku?</li>
<li>Mengajak masyarakat untuk melihat, apakah pelaksanaan pendidikan saat ini sudah meletakkan peserta didik pada tempat yang seharusnya?</li>
<li>Berusaha menjadikan Reading Bugs sebagai bagian dari pressure group kepada pemerintah untuk mengeluarkan kebijakan-kebijakan yang pro pada esensi pendidikan seutuhnya.***</li>
</ul>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.bincangedukasi.com/bined-02-nandha-julistya-interview.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bined #02 &#8211; Karina Adistiana &#8211; Post-event Interview</title>
		<link>http://www.bincangedukasi.com/bined-02-karina-adistiana-interview.html</link>
		<comments>http://www.bincangedukasi.com/bined-02-karina-adistiana-interview.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 29 Sep 2011 03:19:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Kreshna</dc:creator>
				<category><![CDATA[Blog]]></category>
		<category><![CDATA[Bincang Edukasi]]></category>
		<category><![CDATA[Bined 02]]></category>
		<category><![CDATA[Karina Adistiana]]></category>
		<category><![CDATA[Musik Anak]]></category>
		<category><![CDATA[Peduli Musik Anak]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.bincangedukasi.com/?p=630</guid>
		<description><![CDATA[Post Event Interview with Karina Adistiana Bincang Edukasi #2 Jakarta &#124; 27 Juli 2011 Pegiat pendidikan, setelah acara Bincang Edukasi 02 [Video], kami melakukan wawancara dengan Mbak Karina Adistiana, inisiator Gerakan Peduli Musik Anak. Berikut ini petikan wawancaranya. &#160; Bisa tolong ceritakan bagaimana latar belakang pendidikan Mbak Karina? Saya lulusan Magister Profesi Psikologi Pendidikan dari Universitas [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Post Event Interview with Karina Adistiana</strong></p>
<p><strong>Bincang Edukasi #2 Jakarta | 27 Juli 2011</strong></p>
<p>Pegiat pendidikan, setelah acara Bincang Edukasi 02 [<a href="http://www.bincangedukasi.com/bined-02-karina-adistiana.html" target="_blank">Video</a>], kami melakukan wawancara dengan Mbak <a href="http://twitter.com/anyi_karina" target="_blank">Karina Adistiana</a>, inisiator Gerakan Peduli Musik Anak. Berikut ini petikan wawancaranya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Bisa tolong ceritakan bagaimana latar belakang pendidikan Mbak Karina?</strong></p>
<p>Saya lulusan Magister Profesi Psikologi Pendidikan dari Universitas Indonesia. Dari lahir sampai SMA saya sekolah di Surabaya, baru tahun 2000 saya ke Depok untuk kuliah S1 &amp; S2. Kalau pendidikan non-formal saya nggak pernah dapat ijazah kursus, hanya saya suka ikut seminar, workshop &amp; pelatihan, khususnya yang terkait dengan pendidikan dan juga bencana. Pernah juga ikut pelatihan hypnotherapy tapi hanya dimanfaatkan untuk diri sendiri.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Konsep pendidikan seperti apa yang diterapkan di dalam keluarga Mbak Karina? </strong></p>
<p>Saya dan kakak saya adalah korban salah asuhan kalau dari ukuran orangtua anak Indonesia pada umumnya. Orangtua saya menikah muda jadi mereka punya pola asuh yang melenceng dari kebiasaan umum. Mereka tak banyak mengatur. Saya jarang disuruh belajar,sejak kecil orangtua menegaskan kewajiban mereka hanya memberi pendidikan dan kami harus bertanggungjawab atas masa depan kami sendiri. Ngaji dikasih guru sampai khatam lalu selanjutnya terserah kami. Apapun pilihan didukung asal kami bisa menjelaskan alasan2 logis. Waktu SD diberi uang jajan mingguan dan disuruh atur sendiri, SMP dan SMA bulanan, kalau habis nggak bisa minta lagi kecuali bisa kasih alasan yang kuat. Kami dibebaskan untuk mengemukakan pendapat, karena itu meja makan jadi ‘medan tempur’. Maklum, orangtua mantan demonstran, wkt SMA papa saya ditahan 40 hari krn pimpin demo teman2 SMA-nya, mama saya berhasil sembunyi tidak tertangkap. Kedua orangtua saya keluar dari kuliah karena keinginan sendiri tapi bukan krn merasa tidak sesuai dgn ilmunya ya, pindah ke jurusan lain lalu keluar lagi. Tapi papa saya yg tak punya gelar S1 bisa lulus S2 dan sampai skrg ijazahnya tak diambil krn tidak penting katanya. Terkait latar belakang pendidikan orangtua, anak2nya tidak pernah dipaksa menyelesaikan sekolah formal, boleh keluar asal punya alasan kuat. Saya pilih selesai krn terlanjur jatuh cinta dengan ilmu psikologi sejak SMP.<br />
Orangtua saya jarang menasehati anak2nya. Tapi kalau dipikir-pikir, mereka itu kasih contoh lewat perilaku dan kegiatan yang menyenangkan sebagai metode pengajaran.. Sejak kecil mama selalu menyanyi untuk anak2nya,kami nyanyi bareng. Kadang mama main harmonika dan kami juga kadang meniru dalam gerak lirik yg sedang dinyanyikan. Mama juga sering bahas isi lagu yang dinyanyikan. Dulu mama saya juga asuh kami sambil kuliah, jadi kalau mama masuk kelas, saya duduk di kantinnya, akrab dengan penjaga kantin juga dgn mahasiswa2 teman2 mama. Pulang kuliah mama jadi relawan di panti asuhan Katolik (kami muslim), jadi saya ikut memandikan (atau mandi bareng tepatnya) anak2 panti dan duduk makan bersama mereka. Belajar toleransi. Kalau pergi keluar kami harus berpakaian rapi, menghargai diri sendiri kata mereka. Kami diajarkan berhemat untuk berbagai hal tapi kalau untuk buku orangtua selalu mengupayakan ada uang, toko buku mmg jd tempat hmamaran selain taman (jaman dulu jarang mall ya). Waktu SMA, thn 98 lagi ramai2nya demo orde baru,Papa ajak saya demo di Taman Bungkul Surabaya, denger beliau orasi, kami juga pergi rapat2 bersama berbagai organisasi. Di situ sy belajar banyak tentang perbedaan pendapat dan metode pengambilan keputusan serta pencarian solusi dari ayah dan ibu saya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Bagaimana pandangan Mbak Karina tentang kondisi umum pendidikan Indonesia saat ini dan apa yang paling mendesak untuk diperbaiki?</strong></p>
<p>Sejak saya sekolah sampai sekarang, pendidikan Indonesia masih berorientasi pada nilai akhir dan bukan proses. Sekolah berfungsi sebagai laundry, orangtua masukkan anak, berharap keluar pintar dan baik. Hafalan teori diagung-agungkan, termasuk dalam pelajaran matematika, fisika, dan kimia. Wajar pelajaran2 ini menjadi momok. Bahkan dalam pelajaran seni seperti musik dan lukis lagi2 teori, gambar yang bagus itu seperti apa, main musik harus bagaimana, dll. Siswa-siswa yang dapat piala untuk bidang pelajaran di sekolah saya dulu dipuja-puji oleh guru, dijadikan contoh di semua kelas. Yang ‘nakal’ juga dapat perhatian melalui hukuman, juga dicemooh. Paling kasihan yang ditengah-tengah, tak diingat oleh guru. Padahal setiap murid punya keunikan sendiri, punya potensi. Setelah jadi psikolog, saya sering sekali melakukan pemeriksaan psikologis untuk anak SMA, sedih sekali saat saya sadar sebagian besar dari mereka tidak tahu mau masuk jurusan apa, tidak tahu kemampuan atau kelebihannya, menganggap diri punya lebih banyak kekurangan. Baca-baca hasil penelitian, ketemu guru-guru, juga orang-orang di dunia industri kerja lebih membuat saya lebih kaget lagi karena jumlah pengangguran banyak, guru merasa dipaksa kejar nilai ujian, para lulusan baru dianggap tidak perform dan tidak punya kesiapan karir yang baik. Jadi apa gunanya sekian tahun pendidikan yang dijalani kalau mereka tak kenal diri sendiri, tak punya perencanaan dan kesiapan untuk terjun ke dunia nyata?? Bukankah ini yang seharusnya jadi tujuan pendidikan? Ini yang menurut saya perlu diperbaiki. Stop berorientasi pada nilai ujian akhir, beri kesempatan anak untuk eksplorasi kemampuan, sikap kerja, dan kenal serta kembangkan aspek2 kepribadiannya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Mengapa memilih jalan perjuangan melalui Gerakan Peduli Musik Anak?</strong></p>
<p>Saya alami sendiri senangnya belajar dengan musik. Banyak nilai yang disampaikan Mama saya melalui lagu yang dinyanyikannya masih jadi pegangan hidup saya sampai sekarang. Ketika saya kuliah saya miris lihat anak-anak, dari pengamen jalanan sampai anak-anak sekolah internasional nyanyi lagu-lagu yang isinya negatif dan tidak sesuai tahap perkembangan mereka seperti perselingkuhan dan keputusasaan. Tak ada yang menyanyikan lagu yang menggambarkan semangat dan daya juang. Di kuliah saya juga ketemu teman-teman yang punya idealisme bermusik yang keren, sering diskusi dengan mereka, termasuk dengan calon suami saya yang musisi (penyanyi, pencipta lagu) dan manajer band independen selain bekerja di fakultas tempat saya kuliah. Ini saya lihat dimana-mana, pergi ke beberapa daerah (untuk urusan pekerjaan dan bencana) baik di Jawa, Kalimantan, Sumatera, maupun Sulawesi memberi saya kesempatan ngobrol dengan guru dan orangtua serta anak ternyata kondisinya sama. Waktu susun tugas akhir S2 saya mesti bikin program intervensi dan saya pilih intervensi terapi musik, disitu saya banyak baca teori dan hasil penelitian tentang peran musik selain sebagai hiburan. Musik bisa jadi alat pendidikan yang kuat dan hal ini belum disadari oleh banyak orang. Itu kalau dari alasan manfaat. Dari segi praktis,saya dikelilingi oleh sumberdaya yang memadai untuk melakukan sesuatu berkaitan dengan musik anak, saya belajar teori-teori perkembangan dan pendidikan, suami saya dan banyak teman kami bisa nyanyi dan menciptakan lagu. Label record juga suami dan teman-temannya sudah buat dari belasan tahun lalu. Jadi ya kenapa tidak dimanfaatkan?</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Apa saja rencana dan target Gerakan Peduli Musik Anak ke depan? </strong></p>
<p>Rencana terdekat kembangkan website <a href="http://pedulimusikanak.com/" target="_blank">pedulimusikanak.com</a> yang saat ini belum sempat diisi. Selain itu, menyebarkan CD Yo’ Mari Berdendang (sudah dua ribu CD kami sebarkan gratis) juga konser dan buat rekaman CD lain. Untuk konser sedang digarap konsepnya CD juga sedang dalam pembuatan lagu-lagu. Kami juga sedang buat modul workshop karena ada permintaan agar kami berbagi lebih dari penjelasan. Kami sempat dapat kesempatan talkshow di radio (5 sesi) dan berencana mencari radio lain yang mungkin bisa menjadi tempat siaran lagi. Saya juga sedang mengumpulkan keberanian untuk menulis buku tentang mendidik melalui musik (mohon doanya).<br />
Target kami adalah lebih banyak orangtua dan guru menyadari kekuatan musik sebagai alat pendidikan sehingga mereka juga bisa memilah musik untuk diperdengarkan pada anaknya. Kita tak punya sistem seperti di Amerika yang menuliskan panduan usia di album musik sehingga semua sangat tergantung pada orang dewasa di sekeliling anak untuk menyaring lagu. Harapannya beberapa tahun ke depan kita juga bisa kerjasama dengan media dan tempat publik yang sering jadi tempat kumpul keluarga seperti mall dan restoran agar bisa pasang lagu yang ramah anak (topiknya positif dan sesuai tahap perkembangan anak).</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Bagaimana caranya bila ada orang yang tertarik dan ingin mendukung Gerakan Peduli Musik Anak?</strong></p>
<p>Anda bisa bantu dengan cara apapun, minimal dengan menyebarkan ide pemilahan dan pemilihan lagu yang tepat untuk anak-anak di sekitar Anda. Bisa kontak saya di twitter @anyi_karina atau e-mail <a href="mailto:cupum4n@gmail.com">cupum4n@gmail.com</a> dan<a href="mailto:karina.adistiana@gmail.com">karina.adistiana@gmail.com</a> untuk mendapatkan CD. Anda juga bisa bantu menyebarkan ide ini ke institusi pendidikan lengkap dengan penjelasan tentang pesan pemilahan lagu untuk anak (jangan Cuma kasih CD). Bila ada tempat yang bersedia untuk jadi tempat pick-up point CD juga bisa hubungi kami. CD ini kami sebar gratis karena merupakan bagian dari presentasi program namun untuk pembuatan dan penggandaan CD sampai saat ini kami belum memiliki strategi pembiayaannya, karena itu kami juga sangat senang seandainya ada yang mau ikut menjadi donatur. Dan tentunya yang sangat kami butuhkan adalah jaringan, kami akan sangat terbantu seandainya ada saran atau referensi untuk membantu jalannya program (pembuatan CD, konser, siaran radio, dll) serta mengembangkan gerakan ini agar dapat memberi lebih banyak manfaat untuk orang lain. Terkait materi lagu, kami juga membuka diri bila Anda berkenan menawarkan lagu yang sesuai dengan kriteria ramah anak.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Apa tips yang dapat diberikan untuk orang-orang yang ingin membangun gerakan pendidikan?</strong></p>
<p>Jangan ragu, yakinlah bahwa pendidikan merupakan jalan untuk mengembangkan bangsa ini. Siapkan diri untuk menerima berbagai komentar negatif. Bangun jaringan dengan gerakan pendidikan lain untuk menguatkan gerakan Anda dan selalu buka diri terhadap kritik dan saran serta selalu update informasi baru. Ada baiknya cari tahu juga gerakan yang sudah ada dan kondisi pendidikan yang membuat Anda ‘gatal’ untuk terjuni bidang ini. Tetapkan komitmen dan yang penting mulai dulu, kalau banyak yang dipertimbangkan dan banyak keraguan yang ada nanti Anda tidak mulai-mulai bergerak.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Apa harapan untuk pendidikan Indonesia ke depannya?</strong></p>
<p>Berorientasi pada proses dan pengembangan karakter. Mengacu pada pendidikan karir (bukan kerja), memfasilitasi anak untuk mengenal dirinya (kemampuan, sikap kerja, kepribadian, keinginan) serta membantu anak melihat kesempatan-kesempatan yang ada sehingga ia dapat membuat rencana masa depan dan hidup mandiri di masa mendatang.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Menurut Mbak Karina, bagaimana cara terbaik untuk mencapainya (dari harapan yang telah disebutkan di atas)?</strong></p>
<p>Idealnya dari segi sistem hapuskan ujian nasional sebagai acuan baik buruknya siswa bahkan baik buruknya sekolah. Perkuat hubungan orangtua-guru, perkuat kompetensi guru di sekolah, perkuat pendidikan nilai. Kalau mau sebetulnya departemen pertama yang harus dibersihkan oleh KPK adalah departemen pendidikan nasional. Seluruh jajaran harus bersih. Tak boleh ada korupsi di bidang pendidikan karena ini merupakan contoh nyata untuk anak, termasuk sampai ke institusi-institusi pendidikan termasuk sekolah dan perguruan tinggi. Seandainya anggaran pendidikan betul-betul turun semua itu saja menurut saya sudah akan banyak membuat sekolah bisa bernapas lebih lega dan lebih fokus untuk memberi pendidikan yang baik. Anak juga melihat langsung contoh integritas yang akan bermanfaat bagi mereka.<br />
Di sisi lain, lama kalau menunggu perbaikan sistem dari pemerintah, karena itu gerakan-gerakan pendidikan yang terjun langsung ke masyarakat juga harus lebih aktif menggeliat. Sadarkan masyarakat akan fungsi utama pendidikan yaitu mempersiapkan generasi penerus untuk terjun ke dunia karir dan mengembangkan bangsa ini. Hendaknya memang gerakan-gerakan pendidikan yang ada sekarang ini terus membuat jaring-jaring kerjasama dan berbagi informasi serta saling menunjang. ***</p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.bincangedukasi.com/bined-02-karina-adistiana-interview.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bined #02 &#8211; Ainun Chomsun &#8211; Post-event Interview</title>
		<link>http://www.bincangedukasi.com/bined-02-ainun-chomsun-post-event-interview.html</link>
		<comments>http://www.bincangedukasi.com/bined-02-ainun-chomsun-post-event-interview.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 28 Sep 2011 14:33:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Kreshna</dc:creator>
				<category><![CDATA[Blog]]></category>
		<category><![CDATA[Ainun Chomsun]]></category>
		<category><![CDATA[Akademi Berbagi]]></category>
		<category><![CDATA[Bincang Edukasi]]></category>
		<category><![CDATA[Bined 02]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.bincangedukasi.com/?p=617</guid>
		<description><![CDATA[Post Event Interview with Ainun Chomsun Bincang Edukasi #2 Jakarta &#124; 27 Juli 2011 &#160; Pegiat pendidikan, setelah acara Bincang Edukasi 02 [Video], kami melakukan wawancara dengan Mbak Ainun Chomsun, inisiator Akademi Berbagi. Berikut ini petikan wawancaranya. &#160; Bisa tolong ceritakan bagaimana latar belakang pendidikan Mbak Ainun? Latar belakang pendidikan saya Sarjana Akuntansi dari Universitas [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Post Event Interview with Ainun Chomsun</strong></p>
<p><strong>Bincang Edukasi #2 Jakarta | 27 Juli 2011</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Pegiat pendidikan, setelah acara Bincang Edukasi 02 [<a href="http://www.bincangedukasi.com/bined-02-ainun-chomsun.html" target="_blank">Video</a>], kami melakukan wawancara dengan Mbak <a href="http://twitter.com/pasarsapi" target="_blank">Ainun Chomsun</a>, inisiator <a href="http://www.akademiberbagi.org" target="_blank">Akademi Berbagi</a>. Berikut ini petikan wawancaranya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Bisa tolong ceritakan bagaimana latar belakang pendidikan Mbak Ainun?</strong></p>
<p>Latar belakang pendidikan saya Sarjana Akuntansi dari Universitas Islam Bandung lulus tahun 1997, dari SD sampai SMA di Salatiga. <img src='http://www.bincangedukasi.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Konsep pendidikan seperti apa yang diterapkan di dalam keluarga Mbak Ainun? </strong></p>
<p>Keluarga saya mewajibkan seluruh anaknya untuk kuliah (apapun yang terjadi), dan Pendidikan agama tetap yang terpenting. Selain itu kita sih bebas memilih mau sekolah di mana, walaupun ada arahan pastinya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Bagaimana pandangan Mbak Ainun tentang kondisi umum pendidikan Indonesia saat ini?</strong></p>
<p>Kondisi umum sih pendidikan belum terjangkau oleh semua lapisan masyarakat, dan tingkat kualitasnya sangat timpang antara daerah perkotaan dan pedalaman, antara Jawa dan luar jawa. Untuk di kota besar, cukup banyak sekolah yang memadai walaupun beberapa harganya mahal. Jadi akses ke pendidikan yang murah dan berkualitas belum merata.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Apakah yang paling <em>urgent </em>untuk diperbaiki dari pendidikan kita saat ini? </strong></p>
<p>Kemudahan akses pendidikan dan kualitas pengajar.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Mengapa memilih jalan perjuangan melalui Akademi Berbagi?</strong></p>
<p>Karena itu yang paling mungkin saya kerjakan dengan segala keterbatasan saya. Karena saya tetap seorang ibu yg harus bekerja, jadi konsep akademi berbagi memudahkan saya bergerak membantu teman-teman yang ingin belajar. Dan teknologi sangat membantu kegiatan ini.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Apa saja rencana dan target Akademi Berbagi ke depan? </strong></p>
<p>Rencana ke depan adalah : memperbanyak volunteers di berbagai daerah dan membekali mereka dengan skill yg cukup untuk mengelola Akber dan mengembangkan di daerah masing-masing, serta membuat sekolah-sekolah khusus dengan konsep Akber di beberapa daerah.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Bagaimana caranya bila ada orang yang tertarik dan ingin mendukung Akademi Berbagi?</strong></p>
<p>Bisa bergabung di kami sebagai volunteers dengan mendaftarkan dirinya via email ke : akademiberbagi@gmail.com</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Apa tips yang dapat diberikan untuk orang-orang yang ingin membangun gerakan pendidikan?</strong></p>
<p>Pendidikan bukan semata-mata sebuah lembaga formal, tetapi proses pembelajaran yang utama. Siapa saja bisa membuat &#8220;sekolah&#8221; selama di situ ada transfer ilmu atau pengalaman.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Apa harapan untuk pendidikan Indonesia ke depannya?</strong></p>
<p>Harapan saya siapa pun bisa mendapat pendidikan dan pembelajaran berkualitas dengan mudah dan terjangkau</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Menurut Mbak Ainun, bagaimana cara terbaik untuk mencapainya (dari harapan yang telah disebutkan diatas)?</strong></p>
<p>Kalau menunggu pemerintah mungkin lama, jadi siapa saja yang mempunyai misi yang sama bisa berkolaborasi untuk mewujudkan harapan tersebut. Dengan banyak yang berhimpun dan bekerjasama harapan itu lebih cepat terwujud. Karena saya percaya masih banyak orang baik dan pintar di negeri ini. <img src='http://www.bincangedukasi.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' />  ***</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.bincangedukasi.com/bined-02-ainun-chomsun-post-event-interview.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

