Apa saja fungsi dan peran yang dijalankan oleh sekolah dalam mencapai tujuannya? Begitu banyak pakar dan pegiat pendidikan yang mencoba menjawab pertanyaan ini. Salah satu yang menarik adalah tulisan John Taylor Gatto, “Against School”. John Gatto adalah seorang mantan guru teladan yang telah mengajar selama 30 tahun lalu menjadi aktivis pendidikan. Ia telah mengeluarkan banyak buku dan tulisan berisi kritik terhadap model persekolahan formal seperti yang pada umumnya kita lihat dan alami sekarang. Dalam “Against School”, John Gatto tidak menuliskan pendapatnya sendiri tentang fungsi sekolah, namun ia “mengutip” tulisan Alexander Inglis.

John Taylor Gatto

John Gatto menuliskan bahwa Alexander Inglis, salah satu bapak pendidikan modern, tanpa malu-malu menyebutkan enam fungsi persekolahan modern dalam bukunya “The Principles of Secondary Education” yang terbit pada tahun 1918. Enam fungsi tersebut adalah:

  1. Adjustive atau adaptive function. Sekolah bertujuan menanamkan reaksi yang tetap terhadap otoritas. Tujuannya adalah menghilangkan pemikiran kritis seutuhnya. Fungsi ini juga menegasikan konsep bahwa sekolah perlu mengajarkan materi yang menarik, karena kita tidak akan bisa menguji kepatuhan reaktif kecuali kita membuat anak mau belajar dan melakukan hal-hal yang bodoh dan membosankan.
  2. Integrating function. Bisa juga disebut sebagai conformity function karena tujuannya adalah membuat setiap anak menjadi mirip dan serupa satu sama lain. Orang-orang yang patuh menjadi mudah ditebak, dan oleh karenanya akan bermanfaat bagi pihak-pihak yang ingin memanfaatkan mereka untuk menjadi tenaga kerja massal.
  3. Diagnostic and directive function. Sekolah dimaksudkan untuk menentukan peran sosial yang pantas bagi setiap siswa. Hal ini dilakukan dengan memasukkan “bukti-bukti” matematik pada catatan kumulatif. Catatan ini menempel secara permanen pada setiap individu.
  4. Differentiating function. Sesudah setiap peran sosial mereka ditentukan, anak-anak kemudian dipilah berdasarkan peranan itu serta dilatih hanya sebatas untuk memenuhi tujuan yang telah ditentukan oleh sekolah itu dan tidak lebih dari itu. Tidak ada usaha untuk membuat siswa menjadi dirinya yang terbaik.
  5. Selective function. Fungsi ini bukan menggambarkan kewenangan pilihan oleh siswa, namun menggambarkan teori seleksi alami Darwin yang di[salah]gunakan untuk memilih “ras favorit”. Singkatnya, fungsi ini bertujuan meningkatkan mutu “kawanan ternak”. Sekolah digunakan untuk menandai mereka yang dianggap tidak layak – dengan nilai rendah, pengulangan kelas, dan hukuman-hukuman lain – secara sangat kentara sehingga para sesamanya akan menganggap mereka inferior dan menyingkirkan mereka dari pergaulan sosial dan “undian reproduktif”. Itulah tujuan dari segala tindakan yang mempermalukan siswa sejak kelas awal: agar mereka terbuang ke selokan.
  6. Propaedeutic function. Sistem sosial yang diimplikasikan oleh berbagai fungsi ini membutuhkan pasukan elit yang akan menjaga kelanggengan sistemnya. Oleh karenanya, sebagian kecil dari anak-anak di sekolah akan dilatih diam-diam untuk memastikan keberlanjutian proyek ini, bagaimana mengawasi dan mengendalikan populasi yang sengaja dibuat bodoh dan tidak berdaya agar pemerintah dapat berjalan tanpa tantangan dan perusahaan selalu mendapatkan persediaan tenaga kerja yang patuh.
Screen Shot 2015-05-27 at 10.37.08 AMWow! Keras sekali penjelasan dari Alexander Inglis seperti dikutip John Gatto ini. Namun apakah benar sekeras dan sevulgar itu Inglis menulis? Bila buku Inglis, Principles of Secondary Education, dibaca kembali maka sebenarnya ditemukan penjelasan yang berbeda dari yang dikutip Gatto. Alexander Inglis menulis bahwa fungsi-fungsi sekolah adalah:
  1. Adjustive atau adaptive function. Sekolah perlu menyediakan sarana agar siswa mampu melakukan adaptasi dan re-adaptasi dengan lingkungannya yang dinamis dan terus berubah dengan cepat. Namun di sisi lain sekolah juga perlu mengembangkan prinsip-prinsip tertentu diri siswa yang teguh dan tidak terombang-ambing dengan perubahan yang cepat.
  2. Integrating function. Masyarakat juga memiliki tuntutan kepada sekolah untuk menyiapkan siswa-siswa yang mampu berintegrasi ke dalam masyarakat dalam arti memiliki visi dan tujuan yang sejalan. Perkembangan kehidupan yang semakin heterogen membutuhkan benang merah penghubung berupa nilai-nilai, pengetahuan dan tindakan yang diterima secara umum [misal di Indonesia: Pancasila].
  3. Differentiating function. Inglis menekankan bahwa integrating function tidak boleh dilihat terpisah dan tidak berkorelasi dengan differentiating function. Dua fungsi ini bersifat suplementer satu terhadap yang lain. Saat integrating function berfungsi mengembangkan sebagian kecil sifat homogenitas dari populasi yang heterogen untuk memastikan solidaritas sosial, maka differentiating function berfungsi menangkap, mengembangkan dan memanfaatkan perbedaan-perbedaan individual untuk tujuan kemajuan sosial. Siswa di sekolah memiliki perbedaan yang sangat beragam dalam kemampuan, minat dan sikap alami. Kegagalan menyadari fakta adanya perbedaan ini akan menimbulkan kegagalan mengembangkan kemajuan sosial semaksimal mungkin. Kebutuhan dunia sosial dan industri modern yang juga semakin beragam membutuhkan individu-individu yang tidak seragam. Kesemuanya ini tidak mungkin disediakan oleh satu model pendidikan yang seragam. Aktivitas-aktivitas kehidupan yang beragam membutuhkan model-model pendidikan yang beragam.
  4. Propaedeutic function. Fungsi ini menjelaskan bahwa persiapan menuju jenjang pendidikan yang lebih tinggi tidak selayaknya dianggap sebagai tujuan yang terpisah dari persekolahan. [Ingat di jaman Inglis menulis di awal tahun 1900-an ini, sangat sedikit siswa yang meneruskan ke pendidikan tinggi, sehingga banyak sekolah saat itu yang mengabaikan sama sekali persiapan bagi siswa yang ingin melanjutkan ke pendidikan tinggi.] Inglis menulis perlu ada keseimbangan dalam pendidikan menengah untuk menyiapkan siswa yang ingin melanjutkan ke pendidikan tinggi dan yang ingin langsung bekerja sesudah pendidikan menengah. Melebih-lebihkan atau, sebaliknya, mengabaikan salah satunya tidak akan membawa manfaat.
  5. Selective function. Fungsi seleksi muncul akibat adanya perbedaan individu yang menjadi faktor yang semakin penting saat siswa menapaki jenjang pendidikan. Perbedaan individu ini tidak memungkinkan ada satu model pendidikan yang fits for all, sehingga perlu ada fungsi seleksi untuk mengarahkan siswa ke model-model pendidikan yang berbeda [walau dengan keterbatasannya masing-masing pula]. Ada dua paradigma seleksi, yang pertama adalah mengeliminasi individu-individu yang tidak memenuhi satu set tuntutan standar tertentu yang seragam. Inglis menyatakan teori yang mendukung paradigma ini perlu dimodifikasi secara sangat signifikan [artinya: teori itu meragukan]. Paradigma ke-2 yang kontras terhadap paradigma pertama adalah seleksi berdasarkan diferensiasi.Ada  dua pertimbangan yang menjadi justifikasi paradigma ini:
    1. Setiap individu sangat berbeda dalam kapasitas, minat dan sikap. Perbedaan-perbedaan dalam kapasitas, minat dan sikap itu tidak bisa dinilai secara kumulatif menjadi satu penilaian karakter total, namun tetap harus dilihat sebagai bagian-bagian sifat diri yang terpisah dan berbeda namun saling terhubung dan berkaitan;
    2. Tidak ada satu subjek atau kelompok yang dapat menyatakan dirinya eksklusif dan patut mendapat perhatian utama dalam persekolahan. Setiap subjek atau kelompok memiliki kedudukan setara. Artinya, seorang siswa yang lemah dalam satu kemampuan atau minat tertentu, namun memiliki kemampuan dan minat di bidang lain, maka siswa itu perlu mendapatkankan pendidikan dalam area di mana ia memiliki minat dan kemampuan. Ia tidak boleh dilucuti hak dan kesempatannya untuk mendapatkan pendidikan yang ia butuhkan hanya karena ia tidak memiliki minat dan kemampuan dalam subjek-subjek tertentu yang lebih disukai secara resmi oleh penguasa.
  6. Diagnostic and directive function. Demi mencapai kebahagiaan dan kesejahteraan individu dan demi mencapai kemajuan bersama, maka setiap individu sebisa mungkin difasilitasi untuk melakukan hal-hal terbaik dan positif yang menjadi kekuatannya. Untuk menemukan apa yang bisa dilakukan dengan sangat baik dan dengan bahagia oleh setiap siswa maka siswa perlu dipaparkan pada sebanyak-banyaknya pengalaman yang berbeda. Maka sistem persekolahan yang dibangun perlu sebisa mungkin menyediakan ragam materi dan kegiatan yang memberikan kesempatan pada siswa untuk mencoba dan menjelajahi minat dan kemampuannya, serta membantu memberikan arah dan bimbingan. Selain arah dan bimbingan secara umum, perlu juga disediakan arah dan bimbingan dalam aspek-aspek yang lebih sempit, yaitu bimbingan moral, bimbingan sosial, bimbingan fisik dan bimbingan vokasional.
Sesudah membaca dengan lengkap tulisan Alexander Inglis, maka muncul pertanyaan apakah John Gatto membaca tulisan yang berbeda? Apakah ia salah membuat interpretasi? Ataukah ia sengaja membuat peringatan bagi pembacanya bahwa fungsi-fungsi sekolah sebagaimana disusun oleh Inglis dapat dengan mudah terbelokkan seperti yang ia lihat pada banyak sekolah saat ini? Yang jelas, dengan membaca kedua ini maka para pegiat pendidikan akan mendapatkan pengingat tentang bagaimana fungsi persekolahan yang ideal dan sebisa mungkin diwujudkan seperti yang ditulis Alexander Inglis, serta bagaimana fungsi persekolahan yang seharusnya dihindari seperti yang ditulis oleh John Gatto. ***