Gillian Lynne

Dalam posting saya yang berjudul “Sekolah Membunuh Kreativitas”, Sir Ken Robinson menceritakan tentang kisah Gillian Lynne dalam pidatonya yang sudah ditonton hampir lima juta kali di internet. Ceritanya sangat singkat namun mendobrak paradigma kita tentang pendidikan anak. Minggu lalu, ketika saya membeli buku Sir Ken Robinson yang berjudul The Element, kisah ini diangkat kembali sebagai pembuka dan diceritakan lebih mendetail. Berikut ini saya terjemahkan kisahnya:

Gillian Lynne baru berusia delapan tahun, namun masa depannya sudah diragukan. Gurunya menganggap tugas-tugas sekolahnya berantakan. Ia sering terlambat mengumpulkan tugasnya, tulisan tangannya sangat jelek, dan hasil-hasil ujiannya pun demikian. Bukan hanya itu, dia sering menjadi pengganggu bagi seluruh kelas, tidak bisa duduk diam dan tidak bersuara, atau sering melamun melihat keluar jendela sehingga membuat gurunya harus berhenti menerangkan pelajaran untuk meminta Gillian fokus kembali, dan ia pun sering mengganggu anak-anak lain di kelasnya. Gillian sendiri sebenarnya tidak terlalu peduli dengan hal ini – ia sudah biasa diperingatkan oleh guru-gurunya dan iia tidak menganggap dirinya sebagai anak bermasalah – namun sekolahnya merasa prihatin dengan hal ini. Akhirnya sekolahnya menulis kepada orang tuanya.

Sekolah menanggap Gillian memiliki semacam kelainan dalam belajar dan mungkin akan lebih baik baginya untuk dimasukkan ke sekolah bagi anak-anak berkebutuhan khusus. Oh ya, ini terjadi di sekitar tahun 1930-an. Kalau ini terjadi di masa sekarang, Gillian pasti sudah dianggap mengidap Attention Deficit Hyperactivity Disorder, kemudian diberi obat penenang atau semacamnya. Namun pada masa itu ADHD belum “ditemukan”. Kalau sudah, pasti sekolahnya langsung memilih mengkategorikan Gillian sebagai pengidap ADHD.

Orang tua Gillian menerima surat dari sekolah dengan rasa sangat khawatir dan langsung mengambil tindakan. Ibu Gillian mendadani anaknya dengan baju dan sepatu terbaik, merapikan dan menghias rambutnya, lalu membawanya ke psikolog untuk dievaluasi, dengan rasa khawatir menghadapi kenyataan terburuk.

Gillian bercerita bahwa ia ingat ia diajak masuk ke dalam ruangan besar dengan furnitur bermotif kayu oak dan buku-buku tebal bersampul kulit terletak di rak-rak buku. Di dalam ruangan, di sebelah meja besar, berdiri seorang laki-laki dengan jas berbahan wol tebal dan sikap yang sangat terjaga. Ia membimbing Gillian berjalan menuju ke salah satu ruangan di mana terdapat kursi sofa besar berbahan kulit dan mempersilahkannya duduk. Karena ukuran sofa yang besar, kaki Gillian tidak memijak lantai, dan entah mengapa ini membuatnya gugup. Karena kegugupannya ingin menjaga citra, Gillian sengaja menduduki tangannya sendiri agar ia tidak bergerak-gerak seperti kebiasannya.

Si psikolog kembali ke mejanya, dan selama 20 menit kemudian ia bertanya kepada ibu Gillian tentang kesulitan-kesulitan yang Gillian alami di sekolah dan juga masalah apa yang ia timbulkan. Walaupun si psikolog tidak bertanya langsung kepada Gillian, namun ia memperhatikan Gillian sepanjang waktu. Ini semakin membuat Gillian merasa tidak nyaman dan bingung. Walaupun masih berusia dini, ia tahu bahwa pria ini akan memiliki peran penting dalam menentukan arah hidupnya. Ia tahu bahwa di sinilah ia bisa ditentukan untuk dimasukkan ke sekolah anak-anak berkebutuhan khusus dan ia tidak mau hal itu terjadi. Ia benar-benar tidak merasa memiliki masalah, namun semua orang lain sepertinya merasa demikian. Dengan mendengar cara ibunya menjawab pertanyaan, ia merasa bahwa ibunya pun merasakan bahwa ada masalah pada dirinya. Mungkin, pikir Gillian, mereka benar.

Akhirnya, ibu Gillian dan si psikolog berhenti berbincang-bincang. Pria itu lalu berdiri, berjalan ke sofa, dan duduk di sebelah Gillian. “Gillian, kamu telah sabar mengikuti perbincangan ini, dan aku berterima kasih untuk itu,” katanya. “Namun sepertinya kamu masih harus bersabar sedikit lebih lama lagi. Aku butuh berbicara berdua saja dengan ibumu. Kami akan pergi ke luar ruangan untuk beberapa menit. Jangan khawatir, kami tidak akan lama-lama.”

Gillian mengangguk dan kedua orang dewasa itu meninggalkan ia duduk sendiri di ruangan itu. Namun sebelum mereka keluar ruangan, si psikolog berjalan ke mejanya dan menyalakan radio. Segera sesudah mereka keluar ruangan, si psikolog berkata pada ibunya, “Kita berdiri di sini saja dan perhatikan apa yang akan Gillian lakukan.” Ada jendela di ruangan itu dan mereka berdua berdiri mengintip dari salah satu sisinya yang tidak tampak oleh Gillian. Hanya beberapa saat saja, Gillian langsung berdiri, bergerak di sekitar ruangan mengikuti aliran musik. Kedua orang dewasa itu berdiri di luar untuk beberapa menit sambil mengagumi keanggunan Gillian dalam bergerak. Semua orang pasti bisa melihat ada sesuatu yang natural dalam gerakan Gillian. Mereka juga memperhatikan betapa wajah Gillian memancarkan rasa gembira saat ia bergerak.

Akhirnya si psikolog berkata kepada ibu Gillian, “Anda tahu, Nyonya Lynne? Gillian tidak menderita apapun. Ia adalah penari. Bawa ia ke sekolah tari.”

Gillian lalu menceritakan bahwa ibunya melakukan apa yang disarankan oleh si psikolog dan membawanya ke sekolah tari. “Aku tidak punya cukup kata-kata untuk menjelaskan betapa bahagianya aku saat itu,” kata Gillian. “Aku berjalan ke dalam ruangan di sekolah tari ini dan aku melihat ruangan itu penuh dengan orang-orang seperti aku. Orang-orang yang tidak bisa berdiri diam. Orang-orang yang harus bergerak untuk dapat berpikir.”

Ia pun rutin datang ke sekolah tari setiap minggunya dan berlatih di rumah setiap harinya. Kemudian ia mengikuti audisi untuk masuk ke Royal Ballet School di London dan diterima. Setelah masuk ke sekolah itu, ia diterima di Royal Ballet Company dan menampilkan pertunjukan solo ke seluruh dunia. Ketika bagian dari karirnya ini berakhir, ia mendirikan perusahaan teater musiknya sendiri dan memproduksi banyak pertunjukan super sukses di London dan New York. Pada akhirnya, ia bertemu dengan Andrew Lloyd Webber dan bersama-sama menciptakan beberapa produksi teater musik paling sukses sepanjang sejarah, termasuk Cats dan Phantom of the Opera.

Gillian kecil, Gillian dengan masa depan yang diragukan, dikenal oleh dunia sebagai Gillian Lynne, salah satu koreografer paling sukses sepanjang sejarah, seseorang yang membawa hiburan bagi jutaan orang, dan seseorang yang telah meraih jutaan dollar sebagai penghasilan. Hal ini dapat terjadi karena seseorang melihat jauh ke dalam matanya – seseorang yang telah melihat anak-anak seperti Gillian sebelumnya dan memahami bagaimana cara membaca gejala-gejalanya. Sedangkan seseorang yang lain bisa saja memberi Gillian obat penenang dan menyuruhnya duduk diam. Namun Gillian ternyata memang bukan anak bermasalah. Ia tidak perlu dimasukkan ke dalam sekolah untuk anak-anak berkebutuhan khusus.

Ia hanya perlu dibiarkan menjadi siapa dirinya sesungguhnya.

Seru ya ceritanya? Perbedaan pandangan antara guru-guru di sekolah Gillian dan psikolog yang menanganinya ternyata sangat menentukan masa depan Gillian. Seperti Sir Ken Robinson, saya juga tidak menganggap bahwa ADHD itu adalah bohong. Tidak. Memang ada anak-anak dengan masalah seperti itu. Namun rasanya terlalu gampang kita menghakimi anak menderita kelainan belajar tanpa benar-benar berusaha memahami si anak terlebih dahulu. Mungkin bisa dianalogikan seperti isu (saya tidak tahu kebenarannya) tentang kecenderungan dokter kandungan untuk melakukan operasi cesar kepada pasiennya walaupun sebenarnya bisa melahirkan normal hanya karena lebih cepat, lebih mudah, lebih aman dari tuntutan bila terjadi kesalahan, dan lebih menguntungkan bagi si dokter.

Sekarang pertanyaannya , ada berapa ribu anak seperti Gillian di sekolah-sekolah kita yang tidak beruntung bertemu dengan orang yang memahaminya dan malah dianggap bermasalah, disuruh duduk diam dan mengikuti pelajaran yang telah ditentukan untuknya, serta akhirnya dipaksa menjalani hidup tidak sesuai dengan minat dan bakatnya? Jangan-jangan kita termasuk anak-anak seperti itu? Kalau iya, belum terlambat untuk menyadarkan diri sendiri. Serta jangan lupa memastikan anak-anak kita tidak menjadi korban kemalasan orang dewasa untuk memahami dan mencari tahu apa yang terbaik bagi diri mereka.***