Dalam penerbangan dari Jakarta ke Surabaya, saya menemukan sebuah artikel menarik di Inflight Magazine milik Mandala Airlines. Artikel yang ditulis oleh Gretel Hunnerup itu berjudul “Kelas di Rerumputan” dan menceritakan tentang Green School, sebuah sekolah alternatif di Bali yang berbasis lingkungan. Green School bertujuan membentuk siswanya menjadi warga negara dunia yang memiliki pengetahuan tentang dan turut bertanggung jawab menjaga keberlanjutan di muka bumi. Artikelnya sungguh menarik. Penasaran, saya cari informasi lebih jauh. Berikut beberapa poin menarik tentang Green School:

>> Dirintis tahun 2007 oleh John Hardy, seorang pengusaha perhiasan dan barang mewah dari Kanada yang telah membuka usahanya di Bali sejak tahun 1970-an. John Hardy menjual sahamnya di The John Hardy Company untuk membiayai perintisan Green School.

>> Saat ini terdapat 118 siswa dari 20 negara, 20% di antaranya adalah anak-anak Bali yang mendapatkan beasiswa dari donor. Anak-anak Bali ini mendapatkan keuntungan merasakan pendidikan internasional, sedangkan anak-anak dari negara lain mendapat pengalaman berinteraksi dengan budaya Bali melalui mereka.

>> Level kelas yang tersedia di Green School adalah mulai dari pra taman kanak-kanak sampai kelas 10. Green School berencana menambah kelas 11 di tahun 2012 dan kelas 12 di tahun 2013.

>> Ada tiga bagian utama dari kurikulum Green School. Yang pertama adalah pelajaran-pelajaran dasar seperti Bahasa Inggris, Matematika, dan Ilmu Pengetahuan Alam. Yang kedua, “Green Studies” atau pelajaran yang berkaitan dengan alam, seperti studi tentang alam, lingkungan, ekologi, dan juga sustainability. Pelajaran-pelajaran ini langsung diberikan di lapangan. Yang terakhir, pelajaran seni kreatif seperti musik, melukis, drama, mendongeng, kerajinan, dan lain-lain.

>> Untuk  pra taman kanak-kanak sampai taman kanak-kanak, kurikulum yang digunakan menekankan pada seni kreatif, namun sudah memberi pengenalan dasar tentang membaca, matematika, dan ilmu pengetahuan alam. Pendekatan pembelajaran yang digunakan dipengaruhi oleh model pedagogis Steiner.

>> Kelas 1 sampai kelas 6 menggunakan kurikulum internasional yang menggabungkan antara pelajaran dasar Bahasa Inggris, Matematika, dan Ilmu Pengetahuan Alam dengan pelajaran-pelajaran terkait dengan alam. Pada tingkatan ini, pelajaran mengenai alam dan ekologi sudah diberikan, dan juta pelajaran seni yang menekankan pada budaya dan seni Bali. Model pedagogis Steiner masih mempengaruhi pendekatan pembelajaran di tingkatan ini.

>> Kelas 7 dan kelas 8 juga mendapatkan gabungan antara mata pelajaran dasar dan yang terkait dengan alam, namun dengan tingkat yang lebih tinggi seperti pelajaran mengenai ekologi dan lingkungan. Pelajaran seni juga telah mengenalkan musik, seni lukis, dan drama dari seluruh dunia, namun tetap memberikan penekanan pada seni dan budaya Bali.

>> Kelas 9 dan 10 menggunakan panduan kurikulum dari International General Certificate of Secondary Education yang didesain oleh University of Cambridge International Examinations. Di tingkat ini, siswa mendapatkan tambahan mata studi seperti pelajaran Bisnis, Manajemen Lingkungan, Perspektif Global, dan Drama. Pada akhir tahun siswa boleh memilih untuk mengikuti ujian. Selain itu ada juga pelajaran Seni, Olah Raga, dan Life Skills.

>> Dalam situsnya, Green School mengutip sebuah penelitian bahwa faktor paling penting yang mempengaruhi performa siswa adalah kualitas gurunya. Saat ini Green School memiliki 21 guru dengan spesifikasi mulai dari sarjana S1 sampai doktor, banyak di antaranya memiliki sertifikasi guru Waldorf dan Steiner, serta ada yang memiliki spesialisasi di area Holisitic Education. Dalam setiap kelas, siswa selalu didampingi oleh seorang guru dari luar negeri dan seorang guru dari Indonesia. Perbandingan guru dan siswa di kelas-kelas Green School adalah 1:6.

>> Kampus Green School memang sangat luar biasa. Mereka berusaha menjadi sekolah internasional dengan carbon footprint paling rendah di dunia. Bangunan-bangunan di kompleksnya menggunakan bambu lokal, jalan-jalannya menggunakan batu kali, mereka menanam dan menumbuhkan makanannya sendiri di kebun sekolah, dan berusaha keras menghasilkan listrik sendiri melalui tenaga air. Bangunan utama di kampus Green School adalah salah satu bangunan bambu terbesar di dunia dan sungguh cantik. Bangunan itu didesain untuk menahan hujan, memanfaatkan ventilasi alami, serta merangsang kreativitas.

>> Para siswa belajar di kelas terbuka, duduk di kursi dan menulis di atas meja yang terbuat dari bambu, menggunakan buku-buku catatan yang terbuat dari kertas daur ulang, dan memperhatikan guru menerangkan di papan tulis yang juga terbuat dari bambu (papan tulisnya hanya sesekali digunakan karena lebih banyak di studi lapangan). Para siswa juga diajarkan menanam tanaman sendiri, makan makanan organik dari kebun kampus, minum dari air sumur yang dimurnikan, mendaur ulang sampah, serta menggunakan toilet kompos yang mengubah kotoran menjadi biogas sebagai sumber energi dapur di kampus.

>> Kepentingan lokal Bali tidak diabaikan. Selain menerima 20% siswa Bali yang mendapat beasiswa, Green School membuka lapangan pekerjaan dan berencana memberi kelas Bahasa Inggris bagi penduduk setmpat, memberi bantuan pengelolaan air dan penanaman bambu bagi lingkungan sekitar kampus, mengajarkan budaya Bali dan bahasa Indonesia kepada siswa-siswanya, serta yang paling mengagumkan, hanya menyewa tanah yang digunakan Green School agar menjaga kepemilikan tetap berada di orang-orang Bali.

>> Karena merupakan sekolah internasional, maka Green School bisa dibilang relatif mahal. Sekitar 80% siswanya membayar hampir US$ 10.000 per tahun. Green School juga mencari dana melalui donor, uang bangunan, dan sumbangan-sumbangan. John Hardy berencana mengembangkan Green School ini ke banyak daerah lain.