Pas browsing, nemu satu lagi sekolah alternatif keren: Gary and Jerri-Ann Jacobs High Tech High (biasa disingkat HTH). Sekolah ini sungguh berbeda dari sekolah umum, baik metodenya yang menggunakan project based learning, maupun lingkungan sekolahnya yang lebih mirip gabungan antara tempat kerja perusahaan high tech dan galeri seni. Dipimpin oleh Larry Rosenstock, seorang edukator kawakan, HTH memiliki visi edukasi dimana pembelajaran muncul dari minat pribadi, gairah penjelajahan dan penemuan, serta kesenangan akan seni, teknologi, kerajinan, dan eksperimen. Kebetulan ada videonya di YouTube (keren!), saya embedd di bawah ini. Silahkan dilihat dan baca lebih lanjut ulasan singkat yang saya kumpulkan dari beberapa situs.

Sekolah di San Diego, Amerika, ini didirikan oleh Gary dan Jerri-Ann Jacobs di tahun 2000. Alasan berdirinya adalah karena keheranan Gary Jacobs atas sistem pendidikan sekolah lokal di daerah mereka yang gagal menyediakan tenaga kerja berkualitas untuk industri teknologi canggih dan biotech di San Diego. (Saya juga suka heran kenapa Jurusan Pertambangan terbaik di Indonesia adanya di ITB dan bukan di Uncen.) Berangkat dari keheranan dan ketidakpuasan ini, Gary Jacobs dan beberapa pengusaha lain mendirikan sekolah ini. Metode yang digunakan dalam HTH sangat berbeda dengan sekolah umum. HTH menggunakan metode project-based learning (saya akan buat posting khusus untuk ini lain kali), di mana siswa diberi proyek untuk dikerjakan secara individu maupun tim selama tahun ajaran untuk diselesaikan. Dari proyek itulah nilai untuk subjek-subjek pelajaran diambil. Di kelas 11, para siswa melakukan magang selama tiga minggu di perusahaan biotech, perusahaan IT, lembaga non profit, atau di sekolah lain.

Walaupun namanya High Tech High, ternyata teknologi bukanlah fokus utama sekolah ini. Yang jadi fokus utama HTH justru liberal arts di mana pelajaran seni dan kemanusiaan mendapat prioritas yang sama dengan matematika dan ilmu pengetahuan alam. Teknologi digunakan sebagai alat untuk memfasilitasi pembelajaran siswa pada subjek-subjek pelajaran yang beraneka ragam itu. Bagaimana konten dari pelajaran-pelajaran itu akan teraplikasikan dalam dunia nyata, di situlah teknologi memainkan peran di kelas-kelas HTH. Jadi teknologi mendukung pedagogi dan bukan sebaliknya.

Saat ini HTH sudah memiliki beberapa cabang di daerah lain dan juga sudah membuka sekolah dasar dan bahkan sekolah guru. Saya berharap ada pengusaha-pengusaha di Indonesia yang memiliki kegelisahan akan sistem pendidikan kita dan kemudian membuka sekolah-sekolah alternatif semacam HTH ini. Kadang-kadang kita beruntung ada orang asing yang jadi pengusaha di Indonesia lalu kemudian berbuat baik dengan menggunakan kekayaannya untuk membangun sekolah alternatif di Indonesia seperti pada contoh Green School di Bali. Tapi itu juga jarang kan? Apa kita harus menunggu HTH buka cabang di Indonesia ya?***