Membaca berita tentang diusirnya si Jujur di suatu tempat, tepat se
kecamatan dengan SD saya dulu membuat saya pedih.ya di
Tandes,Surabaya.se kecamatan dengan SD saya dulu sebelum dipisah.

Lalu saya coba menengok kembali ke belakang. Ketika saya SD  ada yg
ketahuan mencontek, maka guru saya pasti menggebrakkan penggaris kayu
itu di meja sehingga kami tersentak. Ya, mendengar bunyinya pun
membuat kami merinding saat itu.dan berpikir ulang untuk tidak jujur.
Ketika kami EBTANAS ikhtiar terujung ketika mentok adalah berdoa
seraya menghitung kancing :),sama sekali tidak terpikir untuk
mencontek.

Ketika saya membawa hasil ulangan bernilai 2 , yang digambar bebek
oleh guru saya. Maka ibu saya hanya tersenyum :),”Ini karena kamu
tidak belajar, besok belajar yang rajin, kalau kamu belajar, kamu yang
dapat bagus bukan mama”. Mujarab sekali kata-kata itu, karena
besok-besok saya tidak pernah dapat gambar bebek, tapi minimal
kacamata berdiri :).

Jadi, tentu saja saya merasa pedih, melihat si jujur terusir dari
tempatnya. Lebih pedih melihat betapa orang tua murid itu secara
berjamaah melakukan pengusiran si Jujur. Wah,apakah mereka dulu juga
dibiarkan mencontek? Apakah orangtua mereka selalu menuntut nilai yang
baik juga tanpa usaha? Ataukah karena ketakutan sekali anaknya dicap
bodoh? Atau sistem pendidikan kita yang harus ditinjau ulang?

Wahai wali murid pengusir si Jujur, tidakkah kalian nelangsa melihat
carut marutnya negeri ini karena ketidakjujuran? Pernahkah kalian
mengomel melihat contoh pejabat yang seharusnya jadi suri tauladan
tapi malah korup? Sakitkah hati kalian melihat jatah uang untuk
kesehatan publik dan sarana umum ditilep? Gemaskah kalian mendengar
berita bantuan yg raib? Kalau semua jawaban di atas ya, lalu mengapa
kau usir si Jujur itu? Jangan biarkan si Jujur pergi dari hatimu,
jangan kau ciptakan generasi tanpa Jujur di hatinya. Tahukah kalian,
anakmu sedang mencatat perbuatan ayah ibunya, “Oo, jadi begini cara
memperlakukan si Jujur?”. Kala anakmu telah menjadi dewasa dan
mempraktekkan ajaran orang tuanya, dengan skala yang lebih besar
tentu, tidakkah kalian nelangsa?atau memang itu yang diharapkan?
Banggakah kalian saat berkata, “Ooo,yang masuk TV karena korupsi itu
anak saya lho”..??

Jangan biarkan si Jujur pergi dari hati, sungguh bernilai mahal itu kini.

 

Intan Permata Rahmawati