Kasus contek massal di Surabaya telah menyita perhatian masyarakat selama beberapa hari ini. Singkat cerita, terjadi proses kecurangan ujian, dipersoalkannya nama baik sekolah dan kampung, serta adanya upaya pengusiran terhadap pihak yang dianggap merusak nama baik itu. Jika inti ceritanya seperti itu, beberapa pertanyaan harus diajukan.

Pertama, siapa sesungguhnya yang merusak nama baik sekolah? Jika kita mau jujur, pihak yang membuat skenario contek massal, pihak-pihak yang menutup-nutupi kasus itu serta pihak-pihak yang membela pembuat skenario itulah yang sesungguhnya telah merusak nama baik sekolah. Bukan hanya itu, mereka telah merusak sendi-sendi pendidikan. Pihak yang dipaksa memberi contekan haruslah diposisikan sebagai korban utama. Karena kasus itu terjadi di tingkat SD, siswa masih di bawah umur, maka pihak yang menerima/dipaksa menerima contekan juga harus diposisikan sebagaia korban. Mengapa mereka adalah korban? Karena akhlak, moral dan karakter mereka telah diracuni dan didegradasi.

Kedua, siapa sesungguhnya yang merusak nama baik kampung? Jika kita mau jujur, warga yang menganggap dan menyatakan bahwa menyontek itu hal biasa, sesungguhnya adalah pihak yang telah merusak nama baik kampungnya. Celakanya, mereka juga telah merusak nama baik kotanya, negaranya, bangsa dan bahkan agamanya. Justru warga yang selalu berusaha menegakkan nilai-nilai kejujuran, berarti juga telah menjalankan perintah agama (agama apapun pasti mengajarkan dan memerintahkan tiap pemeluknya untuk jujur), adalah pihak yang benar-benar menjaga dan mengharumkan nama baik kampungnya, kotanya, negaranya, bangsanya dan terutama agamanya.

Dalam peristiwa contek massal di SDN Gadel 2 Tandes Surabaya itu, pihak yang dianggap merusak nama baik sekolah dan kampung, oleh sebagian warga diusir dari kampungnya. Pertanyaan ketiga bisa kita kemukakan. Siapa yang seharusnya diusir dari kampungnya ? Berdasar jawaban dari pertanyaan  kedua yang terdahulu, kalau mau jujur, sesungguhnya yang harus diusir dari kampung justru adalah  warga yang menyatakan bahwa nyontek itu biasa. Cukupkah mereka hanya diusir dari kampungnya? Dengan logika yang dipakai sebagian warga Kampung Gadel, jawabannya jelas tidak cukup. Karena ternyata yang dirusak namanya kan bukan hanya kampungnya, tetapi antara lain juga nama baik kotanya?! Seharusnya mereka juga diusir dari kotanya. Mereka harus pindah dan keluar dari Surabaya!!!  Nah lho.

Pertanyaan pamungkas yang bisa diajukan kemudian, adakah sesuatu yang bisa jadi peluang agar mereka (sebagian warga kampung gadel yang keblinger itu) tidak harus pindah dan keluar dari Surabaya? Jangan khawatir. Logika mayoritas masyarakat Surabaya tidaklah sama dengan logika SEBAGIAN Warga Kampung Gadel. Asal mereka dengan tulus mau menyadari dan mengakui bahwa apa yang telah mereka lakukan sebelum ini (menyatakan nyontek itu biasa, mendemo, meneror dan kemudian mengusir keluarga Bpk Widodo / Ibu Siami) ternyata memang salah. Asal mereka kemudian minta maaf kepada Keluarga Widodo dan warga Surabaya, pastilah warga Surabaya memaafkan (benar-benar memaafkan, bukan awu-awu, dan berencana menjadikan mereka untuk bulan-bulanan) dan mempersilahkan mereka tetap tinggal di Surabaya. Lebih elok lagi kalau dengan penuh kesadaran dan ketulusan, mereka beramai-ramai kemudian menjemput keluarga Bpk Widodo/Ibu Siami di tempat pengungsiannya. Mengajak keluarga itu dengan penuh sukacita untuk kembali ke kampungnya, kampung Gadel kecamatan Tandes kotamadya Surabaya dan kembali hidup berdampingan dengan penuh kerukunan.

Peristiwa contek massal di SDN Gadel 2 Tandes Surabaya beserta hal-hal yang terjadi sesudahnya merupakan suatu bencana dalam tata kehidupan sosial masyarakat kita. Kita jadi harus mempertanyakan, bagaimana dengan pendidikan kita selama ini.

Sesungguhnya, sudah kali yang kesekian, pendidikan kita telah menunjukkan tanda-tanda kegagalannya bahkan kerusakannya.  Lihatlah apa yang terjadi pada bangsa ini. Modal sosial masyarakat kita terus terkikis, terus tergerus. Keramah tamahan berubah jadi kebringasan dan kebrutalan. Kegotongroyongan berubah jadi sikap egois dan maunya sendiri. Kesopanan dan kesantunan berubah jadi kekurang ajaran. Bangga dengan kejujuran justru berubah jadi memusuhi orang jujur. Nurani berubah jadi tirani. Kearifan kearifan lokal kita juga semakin tersingkir dan tercampakkan. Hampir dalam segala bidang, bangsa ini sudah tidak memiliki kedaulatan. Sudah semakin banyak kebijakan yang dibuat tidak mengandung kebajikan. Bukankah semua itu harus kita jadikan sinyal, kita jadikan peringatan?

Ya, kita mesti berani melakukan perombakan total di bidang pendidikan. Pendidikan kita selama ini sudah tersesat terlalu jauh. Bangsa kita ini jadi terkesan tidak punya jati diri. Kita jelas bukan orang Amerika, juga bukan orang Belanda. Tapi mengapa kita sekarang juga seperti bukan orang Indonesia yang seharusnya?  Kita harus berani menatanya kembali. Prinsip-prinsip yang diajarkan Ki Hadjar Dewantara sudah terlalu lama kita tinggalkan, bahkan kita lupakan. Jika kita tidak segera melakukan perubahan dan penataan pendidikan, jangan kaget kalau bangsa lain mempertanyakan, bangsa macam apa kita ini?! Innaalillahi wa innaa illaihi raaji’uun.

Sulistyanto Soejoso
Warga Surabaya
Anggota Dewan Pendidikan Jawa Timur