“Kalau anak saya memang nilainya kurang, ya jangan dinaikkan.”

23 Juni 2011, saya diundang panitia seminar pendidikan di Universitas Negeri Malang (dulu IKIPMalang), untuk menjadi salah satu nara sumber dalam seminar dengan topik “Urgensi PendidikanProfesi Guru (PPG) sebagai Sarana Meningkatkan Profesionalisme Guru di Indonesia”. Malamsebelumnya (22 Juni 2011), saya dapat SMS dari seseorang (sebut saja “Andi). Isi SMS tentangcuplikan pengalaman pribadinya. Gambarannya seperti berikut.

Ketika “Andi” kelas 1 SMA (di kota Kediri Jatim), dia mengetahui ada rapat kenaikan kelasyang dipimpin kepala sekolah dan diikuti semua guru. Di tengah-tengah rapat, kepala sekolahmenyatakan : “Kalau anak saya ada pelajaran yang nilainya memang kurang, ya jangan dinaikkan.Jika dinaikkan, bebannya jadi berlipat. Nanti malah tidak bisa apa-apa. Kasihan.” Rupanya anakkepala sekolah itu, sekolahnya ya di situ. Jadi kepala sekolahnya ya bapaknya sendiri. Begitu hasilrapat diumumkan ke murid-murid berupa pembagian rapor, apa yang terjadi ? Ternyata anakkepala sekolah itu benar-benar tidak naik kelas.

Alhamdulillah, dari SMS itu, saya dapat tambahan bahan yang bisa saya berikan dalam seminartgl. 23 Juni 2011 itu. Begitu saya sampaikan hal itu, banyak peserta seminar yang tercenung.Saya juga jelaskan bahwa anak kepala sekolah itu, sekarang berprofesi sebagai dokter kandunganyang dikenal luas di kota Malang. Nara sumber sebelum saya langsung menyatakan bahwa istrinyaadalah pasien si dokter kandungan itu. Berkat penanganan dokter tadi, akhirnya ia memiliki anak.

Anak kepala sekolah itu adalah “Andi”, yang SMS ke saya. Dia sangat saya kenal dan dia pastimengenal saya. Karena kami kakak beradik, saudara kandung.

Mudah-mudahan ada manfaat yang bisa didapat dari tulisan ini.Lillahi ta’ala, ini benar-benar kisah nyata, bukan dongeng.

 

SULISTYANTO SOEJOSO
Anggota Dewan Pendidikan Jatim