Kepada Ibu Siami,

Selamat Ibu, baru saja lulus satu ujian kehidupan. Caci maki hanya datang sesaat, tapi nilai yang ALdapatkan melihat perjuangan ibunya untuk jujur akan bertahan selamanya. Semoga kejadian ini dapatmenginspirasi orang-orang lain. Terima kasih juga secara pribadi saya ucapkan, karena melalui kisah ibusaya belajar satu hal lagi cara mempertahankan integritas diri.

Saya yang berkecimpung dalam bidang pendidikan, termasuk mengajar juga, melihat ketidakjujuransudah menjadi hal biasa yang dimaklumi. Semua orang benci korupsi karena membuat sengsara. Tapikadang yang mereka tidak (mau) sadari adalah bibit korupsi dimulai dari hilangnya integritas diri untukmengatakan dan melakukan hanya yang benar. Sampai sekarang pun saya ragu-ragu untuk memasukanhasil Ujian Nasional sebagai indikator kualitas pendidikan dalam tugas-tugas saya di kantor, karena sayayakin hasilnya tak sesuai kenyataan.

Jujur menjadi barang langka, terutama karena tidak diajarkan kepada anak sejak kecil. Jangan menyesalibahwa ibu telah mengambil resiko dibenci orang sekampung untuk mengajarkan AL apa yang benar. Ibutelah memilihkan jalan yang pahit di awal bagi AL, tetapi sesuai dengan keyakinan saya bahwa jalan yangterlihat sulit di depan sebetulnya adalah jalan yang paling mudah di sepanjang perjalanan selanjutnya.Semangat Ibu! Jangan menyerah!

Salam,
Rajius Idzalika