Melewati hari demi hari.
Tak terasa aku tumbuh dengan udara kejujuran,
panas teriknya matahari kejujujuran
dan senyum lembut rembulan kejujuran
dan sampai akhirnya aku terbaring
dalam gelap malam kejujuran.

Mana bisa aku berdalih, bersilat lidah,
mencoba berpaling dari kejujuran
bahwa pagi ini aku telah menghirup udara,
telah merasakan hangat sinar matahari.

Mana Bisa? Mana Bisa? Mana mungkin?
Andai aku berteriak akan dingin nya kota ku saat ini,
atau aku mengerang terkena terik matahari
itulah ungkapan kejujuran akan adanya dingin dan panas bagiku.

Yang indah, yang kokoh dan yang saling mencintai
itu adalah aroma kejujuran.
Sangat mudah untuk dirasa, dicerna dan disentuh.
Bukan karena kita harus memilki dan kemampuan
dan harus memilki kekuatan lebih untuk mencium,
menyentuh kejujuran itu sendiri.

Namun sebenarnya kejujuran itu telah dan senantiasa
menyapa kita tiap hari dan tiap detik.
Akankah kita mampu merasakan?
Akankah kita selalu menemukannya??

 

Alfi – Suroboyo