Mendadak terkenang cerita  yang pernah saya baca….. 

Dalam perjalanan penyamaran dengan sebuah perahu menyusuri sungai untuk melihat persoalan yang dihadapi rakyat, raja ditemani oleh perdana menteri dan 4 orang tukang dayung. Arus sungai yang tenang, matahari tidak terlalu terik, hutan hijau yang memasok banyak oksigen membuat raja dan perdana menteri tidak kuat menahan kantuk. Mereka memutuskan untuk beristirahat di dalam bilik yang tersedia di perahu tersebut. Para tukang dayung harus tetap bekerja setelah mendapatkan beberapa arahan dari sang Raja.

Perdana menteri dengan cepat pulas karena kebetulan tadi malam tidur sedikit sehubungan dengan tugas yang harus dilakukannya, sedangkan sang Raja hanya tidur tiduran saja di biliknya. Sambil tetap bekerja para tukang dayung berbisik bisik diantara mereka yang intinya adalah membandingkan diri mereka dengan perdana menteri “Enak sekali Perdana Menteri tersebut, sama sama bawahan tetapi dia bisa tidur nyenyak. Padahal dia hanya beruntung dan kemampuannya sama dengan kita para tukang dayung”. Raja yang tidak sedang tidur mendengar ketidak puasan tersebut tetapi dia tetap diam.

Tidak berapa lama tiba tiba terdengar gonggongan anjing di tengah hutan. Raja keluar dari biliknya sedangkan Perdana menteri tetap pulas dalam tidurnya. Sang raja minta perahu dipinggirkan dan minta kepada 2 orang pendayung untuk melihat apa yang terjadi. Kedua orang tersebut segera berlari ke tengah hutan dan tidak lama kemudian mereka kembali. Mereka melaporkan bahwa anjing anjing tersebut menggonggong dan sedang mengepung seekor babi yang terperosok ke dalam lubang. Sang raja bertanya “ada berapa ekor anjing yang mengepung ?”, maka kedua orang tersebut berlari lagi masuk hutan dan ketika kembali melaporkan bahwa ada 7 ekor anjing disana. Pertanyaan raja berikutnya adalah “apa warna ketujuh anjing tersebut ?”. Dengan nafas terengah engah mereka kembali masuk hutan dan ketika kembali melaporkan bahwa ada 2 yang berwarna coklat, 2 ekor berwarna hitam dan 3 ekor berwarna belang. Raja bertanya lagi “ada berapa ekor anjing betina diantara ketujuh anjing tersebut ?”, sekali lagi mereka masuk kedalam hutan dan dengan tersengal sengal mereka melaporkan ada 5 betina di dalamnya.

Raja kemudian minta Perdana Menteri dibangunkan dan ketika Perdana Menteri telah menghadap maka dimintanya dia untuk melihat apa yang terjadi di tengah hutan sehingga anjing anjing menggonggong. Perdana menteri kemudian berjalan masuk ke hutan dan tak lama kemudian datang melaporkan apa yang dilihatnya. “Ada 5 ekor anjing betina dan 2 ekor anjing jantan yang sedang mengepung seekor babi yang terperosok ke dalam sebuah lubang. 2 diantara anjing betina tersebut baru saja melahirkan.”. Ketika Raja bertanya warna ketujuh anjing tersebut, dengan cepat dan tepat Perdana Menteri bisa menggambarkannya. Raja kemudian menoleh kepada pendayung dan berkata ”kalian telah melihat kenapa aku angkat dia jadi Perdana Menteri”.

Pelajaran dari cerita di atas adalah

  1. Memiliki ilmu berarti memiliki visi dan tujuan yang jelas (tahu kapan harus diam dan kapan harus bertindak)
  2. Memiliki ilmu berarti memiliki kemampuan untuk mengantisipasi persoalan/pertanyaan berikutnya
  3. Memiliki ilmu berarti memiliki kemampuan untuk menilai orang lain, tidak mudah iri dan jujur kepada diri sendiri
  4. Memiliki ilmu berarti tidak perlu terengah engah menghadapi persoalan hidup

 

Ikut berduka cita karena masih banyak dari kita memilih dengan bangga untuk tidak memiliki ilmu sehingga kita selalu kerepotan dan terengah engah juga kesulitan untuk mengakui KEBENARAN.

 

Salam

Ginanjar Lintang Adi,

Seorang anak yang ingin memimpin
PERUBAHAN yang LEBIH BAIK
bagi Indonesia