Pendidikan Indonesia sekarang miris, miris sekali. Sekarang, tujuan pendidikan sudah diubah, pendidikan sekarang bukan bertujuan untuk mengubah manusia menjadi insan yang mulia, pendidikan sekarang malah mengajarkan kita untuk berbuat curang. Inilah pendidikan Indonesia, yang dilihat hanyalah nilai dan hasil akhir, bukan sebuah proses kerja. Untuk apa pemerintah mengadakan UN jika pada akhirnya berbuat curang?  Untuk apa ulangan kalau ada oknum yang berbuat curang? Untuk apa ada pendidikan kalau yang diajarkan hanyalah berbuat curang? Apa arti pendidikan, apa tujuannya? Bukankah di sekolah kita diajarkan untuk berbuat jujur oleh Guru kita. Tapi, pada kasus di link  http://www.surya.co.id/2011/06/10/ny-siami-si-jujur-yang-malah-ajur dimana sang ibu menerapkan dan mengajarkan kepada anaknya untuk jujur, malah dicaci, dihina, dan diusir oleh warga setempat. Apakah kejujuran sekarang sudah tidak ada artinya lagi dimata mereka? Yang mereka tahu anaknya lulus, dapat mengikuti jenjang pendidikan yang selanjutnya. Tapi, apakah anak-anak mereka mendapatkan ilmu yang diajarkan di sekolahnya? Untuk mengukur anak itu pintar atau tidak hanya dilihat dari nilai rapot, tapi apakah nilai di rapot itu MURNI hasil kita sendiri? Kalau kejujuran saja sudah dicekal hanya demi kepentingan masing-masing, bagaimana Indonesia mau maju? Lucu sekali negara ini, dituntut untuk jujur, ketika sudah jujur, malah dihina. Inikah potret pendidikan Indonesia? Ya! Karena di sekolah saya pun, baik ketika saya SD, SMP, maupun SMA mencontek adalah sebuah tradisi yang harus dilakukan di sekolah. Kalau hal ini dibiarkan saja, entah jadi apa negara tercinta kita ini. Ingatlah, lebih baik jadi orang bodoh tapi jujur daripada pintar namun suka berbohong.
Pesan kepada Ibu Siami:
Ibu tidak salah, teruslah bersikap jujur, walau terkadang itu pahit, tapi jujur lebih baik daripada harus berbohong. Ibu pasti akan mendapat balasan yang baik dari Tuhan, ingatlah sekarang ibu hanya diuji oleh-Nya. Saya mendukung ibu 100% dan pasti masih banyak orang yang mendukung Ibu.

Rachmadio Noval Lazuardi