Foto :
Video :
Para pecinta pendidikan,
Beberapa hari ini di sebuah kampung kecil di Surabaya terjadi sebuah kejadian yang tragis dan menunjukkan kebobrokan dunia pendidikan serta karakter masyarakat kita. Nyonya Siami, seorang ibu yang ingin mengajarkan kejujuran pada anaknya justru mendapatkan kesengsaraan dan diusir bersama keluarganya oleh warga desa tempat tinggalnya.
Cerita bermula saat AL, anak Ny. Siami yang tergolong cerdas dan bersekolah di SDN Gadel 2 Tandes, Surabaya, diminta oleh gurunya untuk ikut berbuat curang dan memberi contekan pada teman-temannya saat Ujian Nasional. Setelah mengetahui hal ini dari anaknya, Ny. Siami melakukan tindakan yang benar dengan melaporkan kepada Kepala Sekolah, namun tidak mendapat respon yang cukup. Ny. Siami lalu melaporkan kepada Komite Sekolah lalu kepada Diknas, juga dengan respon yang kurang memuaskan. Akhirnya sampailah berita ini di media dan ter-blow up. Pemkot Surabaya pun mengambil tindakan menelusuri kasus tersebut. Hasilnya, Kepala Sekolah dan dua guru di sekolah itu dicopot. Yang terjadi kemudian benar-benar menyesakkan dada.
Para wali murid yang lain marah dan menganggap keluarga Ny. Siami ingin sok jadi pahlawan dan membesar-besarkan masalah. Mereka mendatangi, mendemo dan mengintimidasi keluarga Ny. Siami beberapa kali dan menuntut permintaan maaf terbuka. Keluarga Ny. Siami menurutinya dengan mengadakan pertemuan di balai RW untuk meminta maaf [aneh, padahal mereka tidak salah]. Setelah permintaan ini dipenuhi pun warga malah menolak permintaan maaf, mencaci maki, dan berteriak2 mengusir keluarga Ny. Siami dari kampung. Demi keamanan, saat ini keluarga Ny. Siami terpaksa mengosongkan rumahnya dan mengungsi ke rumah saudaranya di kota lain.
Berita lengkap bisa dilihat di laman-laman berikut :
> Ny. Siami, Si Jujur yang Malah Ajur | http://bit.ly/l3Is4t
> Orang Tua AL Minta Maaf, Diteriaki Wali Murid “Tak Punya Hati Nurani” | http://bit.ly/iJvGCj
> Mediasi Ricuh, Warga dan Wali Murid Usir Ny. Siami | http://bit.ly/iD6jMF
> Keluarga Ny. Siami Dievakuasi Layaknya Penjahat | http://bit.ly/illiYL
> Diusir, Ny. Siami Akhirnya Kosongkan Rumah | http://bit.ly/jvQX2O
Apakah sudah sedemikian parahnya pendidikan dan karakter masyarakat kita? Sungguh ngeri saat kita dihadapkan pada kenyataan seperti yang ditweetkan oleh pak Goenawan Mohamad, “Yg bisa sewenang-wenang bukan hanya penguasa. Yg takut kejujuran bukan hanya politisi. Orang2 spt kita juga.” Beberapa pakar pendidikan pun menyatakan kondisi sebenarnya jauh lebih buruk. Karena kasus ini hanyalah pucuk dari gunung es yang terpendam. Apakah lalu kita akan membiarkan kejadian semacam ini dan menganggapnya normal? Apakah kita akan berkata, “Halaaah, itu kan sudah biasa, di mana-mana juga curang kok UN. Sudah lah, kita urus yang lain saja banyak yang lebih penting?” Apa yang akan kita didikkan pada anak-anak kita?
Bincang Edukasi mengundang rekan-rekan pecinta dan pemeduli pendidikan untuk membuat tulisan [blog post, Facebook note, email] mengenai pandangan rekan-rekan. Tulisan yang dibuat bisa spesifik mengenai kasus Ny. Siami ini, namun kita semua berharap kasus ini tidak akan berlama-lama. Momentum ini bisa juga kita manfaatkan untuk membuat tulisan tentang bobroknya sistem Ujian Nasional yang menciptakan kondisi ini, atau tentang budaya instan dan ketidakjujuran dalam pendidikan kita. Suarakan keprihatinan kita terhadap terajarkannya ketidakjujuran secara sistematis dalam dunia pendidikan anak-anak kita.
- Blog post dan Facebook note harap ditulis dengan diawali hashtag #indonesiajujur sebelum judul postingnya. Tidak harus panjang, bisa 2-3 paragraf singkat. Bisa juga berupa format “surat terbuka” untuk pihak2 yg terlibat seperti keluarga ibu Siami, atau kepada sebagian warga SDN Gadel 2, atau kepada pengelola sekolah SDN Gadel 2, dll. Yang penting pesan dan kepedulian kita tersampaikan. Contohnya seperti tulisan Bukik berikut: #indonesiajujur Jujur Itu Mujur.
- Kirimkan link blog post atau Facebook note kepada kami melalui email info@bincangedukasi.com untuk kami masukkan ke dalam daftar di bawah agar semua bisa melihat. Jangan lupa untuk Facebook note diatur terlebih dahulu agar bisa diakses oleh publik, bukan cuma oleh “friends” atau “friends of friends”.
- Bagi rekan-rekan yang ingin menulis namun tidak memiliki blog atau Facebook, silahkan kirimkan tulisan Anda ke email info@bincangedukasi.com beserta nama lengkap dan boleh juga dengan foto diri untuk kami posting di halaman Bincang Edukasi.
- Selain untuk pembelajaran kita semua, kumpulan tulisan dan posting nantinya akan kami sampaikan langsung kepada keluarga Ibu Siami, termasuk putranya AL, untuk memberi dukungan kepada mereka. Sebisanya, akan kami sampaikan kumpulan tulisan dan posting ini kepada pimpinan warga di daerah yang mengusir keluarga Ibu Siami, juga kepada SDN Gadel 2 Tandes, Diknas Kota Surabaya, dan juga Pemkot Kota Surabaya.
Kita tunjukkan bahwa bila sebagian warga berusaha mengusir satu keluarga yang memperjuangkan kejujuran dari kampungnya, maka satu negara tidak akan merelakan hal itu terjadi. Kita suarakan bahwa kita sudah muak dengan kebobrokan sistem pendidikan yang memberi reward dan punishment hanya pada hasil akhir dan bukan pada proses dan pengalaman belajar. Kita tunjukkan bahwa sistem seperti itu telah mendorong dan mendidikkan cara-cara instan yang penuh ketidakjujuran pada peserta dan pelaku pendidikan. Kita teriakkan bahwa kita tidak rela anak-anak pemegang masa depan Indonesia ditumbuhkan dengan karakter penuh cacat.
Karena kejujuran seharusnya tidak membawa kesengsaraan, namun kejujuran seharusnya membawa ketenangan dan kebahagiaan. Demi pendidikan Indonesia.
Salam,
Bincang Edukasi
Update:
> Dalam berita di salah satu stasiun televisi, Walikota Surabaya Tri Risma menyatakan, “Di dalam hasil (ujian)nya, tidak bisa dibuktikan ada contekan tersistematis.” Penjelasan dari kami: Keterangan ini adalah dasar pengambilan keputusan tidak dilakukannya ujian ulang di SDN Gadel 2. Disinyalir saat ujian berlangsung, AL tidak selalu memberikan jawaban yang benar dan teman-temannya pun tidak selalu menaruh jawaban yang sama dengan contekan. Sedangkan apakah ada usaha contekan tersistematis? Tim Pemkot Surabaya dan tim independen yang melakukan pemeriksaan telah memutuskan sanksi pencopotan dan penurunan jabatan kepada kepala sekolah dan dua orang guru SDN Gadel 2. | http://bit.ly/lTdjpl
> Beberapa warga Gadel mulai melakukan otokritik, menenangkan dan mengedukasi warga, serta berusaha merehabilitasi reputasi kampungnya | http://bit.ly/j2GDit | http://bit.ly/m0UKWM | Langkah awal yang perlu didukung, sebelum diusahakan menuju rekonsiliasi dengan keluarga Ibu Siami. Walaupun mereka melakukan tindakan yang tidak tepat saat membiarkan emosi menguasai mereka dan mengusir keluarga Ibu Siami, akar segala permasalahan ini sebenarnya adalah sistem pendidikan yang mendorong orientasi [dan ketakutan] hanya pada hasil dan bukan pada proses dan pengalaman belajar. Gerakan #indonesiajujur selayaknya dijadikan momentum mendorong dan membantu reformasi pendidikan kita. Yuk! Demi pendidikan Indonesia.
> Beberapa teman menanyakan dan mengusulkan tentang pengumpulan dana oleh #indonesiajujur. Berikut keterangan kami: Kami berkoordinasi dengan teman-teman di lapangan dan juga Bapak-bapak dari Dewan Pendidikan Jatim yang menjadi tim mediasi kasus Ny. Siami. Informasi yang kami dapat sampai saat ini adalah belum diperlukan bantuan finansial yang mendesak untuk keluarga Ny. Siami. Gerakan #indonesiajujur juga tidak menginisiasi pengumpulan dana untuk penyediaan rumah pengganti / rumah aman untuk keluarga Ny. Siami. Tanpa bermaksud mengecilkan niat dan usaha baik inisiatif lain yang mengusahakan hal tersebut, kami percaya bahwa solusi terbaik adalah rekonsiliasi antara warga kampung Gadel dan Keluarga Ny. Siami sehingga Ny. Siami bisa kembali ke rumahnya sendiri yang memang haknya untuk ditempati. Inisiatif #indonesiajujur juga tidak akan berhenti pada kasus Ny. Siami yang kami harapkan cepat selesai. Kami berusaha mendorong pencarian dan pengungkapan “positive deviant” atau “penyimpangan positif” seperti Ny. Siami ini di daerah-daerah lain di Indonesia. Karena kejujuran haruslah dibela dan dihargai.
> Salah satu berita menarik lain tentang beratnya perjuangan kejujuran dalam sistem pendidikan kita yang mengutamakan hasil akhir dan bukannya proses dan pengalaman belajar. Nunung, siswa SMA Muhammadiyah 1 Kali Rejo, Lampung Tengah, adalah siswa yang tergolong cerdas dan rutin menjadi juara kelas, namun ia tidak lulus Ujian Nasional selama tiga kali berturut-turut karena nilai Matematika-nya kurang [tidak pintar Matematika bukan berarti tidak cerdas ya] DAN karena ia selalu MENOLAK menggunakan kunci jawaban yang dibagi-bagikan oleh gurunya. >> http://bit.ly/hC6O5u
Keterangan:
> hashtag #indonesiajujur diciptakan oleh Resa Handayani
> Foto oleh Faiq Nuraini diambil dari laman koran Surya > http://bit.ly/mARum0
> Update dan percakapan mengenai #indonesiajujur bisa diikuti via akun Twitter @bincangedukasi
__________________________________________________
DAFTAR POSTING #INDONESIAJUJUR
001 | Bukik [1] | #indonesiajujur: Jujur itu Mujur
002 | Inanda Tiaka | #indonesiajujur: Berkah Mengucur atau Hancur?
003 | Devi Riana Savitri | #indonesiajujur: jujur itu baik, tapi lulus dan nilai baik itu lebih penting
004 | Hamdani Pratama | #indonesiajujur: Tangis Pendidikan Indonesia
005 | Mehaga Bastanta | #indonesiajujur: Siapa Yang Bodoh?
006 | Titik Sri Wahyuningsih | #indonesiajujur: Jujur itu Mulia!
007 | Dwi Krisdianto | #indonesiajujur: Aku Tidak Jadi Mencuri di Sana
008 | Faizal Kamal | #indonesiajujur: Berani Tergusur Karena Jujur?
009 | Wietski Iskirra | #indonesiajujur: Kepada Atala [tentang contek massal]
010 | Andrie Firdaus | #indonesiajujur: Kejujuran Vs. Kebodohan
011 | Rudi Cahyo | #indonesiajujur: Curang Menjamin Bahagia?
012 | Dian Achdiani [1] | #indonesiajujur: Mati Dalam Berusaha
013 | Adrian Nanditya | #indonesiajujur: Bagaimana Caranya Kita Maju?
014 | Dina Mardiana | #indonesiajujur: Menakutkan Saat Kecurangan Dianggap Wajar
015 | Rachmadio N. Lazuardi | #indonesiajujur: Potret Pendidikan Indonesia
016 | Pandji Pragiwaksono | #indonesiajujur: Tanpanya, Indonesia Akan Hancur
017 | Bukik [2] | #indonesiajujur: Menjadi Waras, Nyanyikan Hio
018 | Fajar Ramdhana Sargani | #indonesiajujur: Mari Belajar Lewat Kisah Ibu Siami
019 | Dwi Mizanul | #indonesiajujur: Yang Jujur Pasti Menang!
020 | Rahadian P. Paramita | #indonesiajujur: Menakar Kejujuran di Kantin Sekolah
021 | Erlyza Prasty | #indonesiajujur: Ketika Maling Berteriak Maling
022 | Maria Magdalena | #indonesiajujur: Surat Dari Sesama Ibu
023 | Ade Fadli [1] | #indonesiajujur: Jujur… Ini Tidak Jujur…
024 | Risza Oki | #indonesiajujur: Jujur? Apa Itu?
025 | Rahkman Ardi | #indonesiajujur: Hanya Untuk Manusia Bahagia
026 | Widi Jatmiko | #indonesiajujur: Perlukah Kejujuran Itu Sekarang?
027 | Nayasari Aissa | #indonesiajujur: Yuk!
028 | Setyoko Andra Veda | #indonesiajujur: Tiada Pilihan Selain ke Sana
029 | Aca Tadesa | #indonesiajujur: Our Education is In Danger
030 | Lalita Fitrianti | #indonesiajujur: Arti “Pendidikan”
031 | Viona Grace | #indonesiajujur: Saat Kejujuran Hanya Ada di Buku PPKn
032 | Farida Ariani Rachmawati | #indonesiajujur: Seberapa Peduli Kita dengan Kejujuran?
033 | Yuswono Hadi | #indonesiajujur: Indonesia (harus belajar) JUJUR!
034 | Arti Ariefa | #indonesiajujur: Waspadai Arus
035 | Ninien Irnawati | #indonesiajujur: Tanamkan Nilai Mulia
036 | Iska Dinarristy | #indonesiajujur: Jujur – Asin, Pedes, Manis, Ramai Rasanya!
037 | Indiah Sari Kasmadi | #indonesiajujur: Perjuangan Keluarga Siami
038 | Sintamilia Rachmawati | #indonesiajujur: Karena Berusaha Jujur…
039 | Fikri Rasyid | #indonesiajujur: Indonesia Jujur & Washback Effect
040 | Veravinna Handoko | #indonesiajujur: Surat Untuk Ibu Guru
041 | Irene Aristia | #indonesiajujur: Demi Masa Depan Bangsa Indonesia
042 | Zaenal Abidin | #indonesiajujur: Jujur Saat Menandjak
043 | Dewi Sekar | #indonesiajujur: Tolong, Jangan Curangi Masa Depan Anak!
044 | Karina Adistiana | #indonesiajujur: Surat Untuk Wali Murid SD Gadel 2 Surabaya
045 | Radix J. Hidayat | #indonesiajujur: Ketika Jujur itu Salah
046 | dr. Henny | #indonesiajujur: Dari Mana Pohon Korupsi Berakar: Mencontek?
047 | Andiana | #indonesiajujur: Saya Tidak Mau (Sok) Pintar
048 | Satria Agung | #indonesiajujur: Jujur, Saya Curhat
049 | Alzena Masykouri | #indonesiajujur: Catatan Hati
050 | Masyhur A. Hilmy | #indonesiajujur: Salut Untuk Ibu Siami
051 | Pawith Marie | #indonesiajujur: Untuk Indonesia yang Lebih Makmur
052 | Rahayu Fatnawati | #indonesiajujur: Nyontek = Wujud Tidak Percaya Diri
053 | Ameilia Hernawati | #indonesiajujur: Sesungguhnya Anak-anak Mengerti
054 | Ilham Akhsanu Ridlo | #indonesiajujur: Redefinisi Kebaikan dalam Ungkapan Jujur
055 | Agoes Santosa | #indonesiajujur: Tidak Jujur Kok Dianggap Wajar?
056 | Fikry Fatullah | #indonesiajujur: Jangan Sampai Jadi Kufur
057 | Radif Fashlun Iradat | #indonesiajujur: Dukung Kejujuran AL untuk Masa Depan Indonesia
058 | Ria Widayati | #indonesiajujur: Indonesia Maju
059 | Deny Lestiyorini [1] | #indonesiajujur: Sebuah Legenda Ataukah Cita-cita
060 | Ima Purnamasari | #indonesiajujur: Jujur Vs. UNAS
061 | Rajius Idzalika | #indonesiajujur: Kepada Ibu Siami
062 | Muhammad Rusrailang | #indonesiajujur: Lelucon Kejujuran di Halaman Rumah Kita
063 | Yuni Khairun Nisa | #indonesiajujur: Mengapa yang Jujur yang Terusir?
064 | Ahmad Muttaqin | #indonesiajujur: Yuk… Mulai Dari Kita Sendiri
065 | Umi Kulsum [1] | #indonesiajujur: Nah, Bagaimana Lagi?
066 | Umi Kulsum [2] | #indonesiajujur: Pejuang ATM: Aku Tidak Mencontek
067 | Umi Kulsum [3] | #indonesiajujur: ATM – Babak Penyisihan
068 | Umi Kulsum [4] | #indonesiajujur: Tak Akan Hancur
069 | Yusro M. Santoso | #indonesiajujur: Mulai Dari Keluarga
070 | Elly Romdliyana | #indonesiajujur: Nilai Sebuah Kejujuran
071 | Andhika Wijaya | #indonesiajujur: Surat Untuk Ibunda Siami
072 | Firdaus Ridwan | #indonesiajujur: Mau Jujur Kok Bingung?
073 | Rizka Septania | #indonesiajujur: Bicara Tentang Ironi
074 | Intan Permata Rahmawati | #indonesiajujur: Apakah si Jujur Sudah Pergi?
075 | R.J. Sulistyo | #indonesiajujur: Turut Mendukung Kejujuran Ibu Siami
076 | Arief Mukhlas Prasetya | #indonesiajujur: Jujur, Tolong Saya…
077 | Anindita Pusparani | #indonesiajujur: Menjadi Pendidik yang Terdidik
078 | Dedy Bramantyo | #indonesiajujur: Kalau Tidak Mulai Sekarang, Terus Kapan?
079 | Ivan Pardede | #indonesiajujur: Saya Tidak Mau Indonesia Hancur
080 | Deny Lestiyorini [2] | #indonesiajujur: Tentang Sebuah Perjalanan Kejujuran
081 | Satiti Ingastrin | #indonesiajujur: Psyche Indonesia dan Kasus Mencontek Massal
082 | Tria Barmawi | #indonesiajujur: Teruntuk Ibu Siami
083 | Husein Azmi El Firdausi | #indonesiajujur: Colek Me If I’m Wrong
084 | Forthian Anang Wintarto | #indonesiajujur: Ooh… Ke-JUJUR-an
085 | Sulistyanto Soejoso [1] | #indonesiajujur: Benarkah Kita Orang Indonesia?
086 | Frenavit Putra | #indonesiajujur: Saat Kejujuran Mulai Terasing
087 | Atiek Puspa Fadhilah | #indonesiajujur: Hidup Saja di Lemari Debu
088 | Jannah Maryam Ramadhani | #indonesiajujur: Ibu Siami’s Becoming a Phenomenon Because She’s Honest
089 | Kusuma Winarni | #indonesiajujur: Aku Bersamamu Ibu Siami
090 | Alfa Kurnia | #indonesiajujur: Semua Berawal Dari Rumah
091 | Ginajar Lintang Adi | #indonesiajujur: Memiliki Ilmu itu Sebuah Pilihan
092 | Rizky Aldian | #indonesiajujur: Surat Dukungan Terbuka Untuk Ny. Siami
093 | Yuyuk Wardhana | #indonesiajujur: Kebiasaan yang Tidak Biasa
094 | Aziz Hadi | #indonesiajujur: Jujur itu Pilihan
095 | Mona Lisa | #indonesiajujur: (Mungkin) Karena Kita yang Menjaganya
096 | Sibair | #indonesiajujur: Korupsi Kecil yang Menjamur
097 | Bellanissa Brilia Zoditama | #indonesiajujur: Jujur itu Menyebar
098 | Fina Ardyarini | #indonesiajujur: Indonesia Jujur
099 | Agyl Fajar Rizki | #indonesiajujur: Pilih Jujur atau Tidak Jujur?
100 | Ade Fadli [2] | #indonesiajujur: Menjadi Tidak Jujur Sejak Lahir
101 | A. Faisal Abdullah Hardi | #indonesiajujur: Jujur Mesti Ikhlas
102 | Dipa Utomo | #indonesiajujur: Tak Ubahnya Mempertanyakan Paradoks
103 | Robbie Arsyadani | #indonesiajujur: Pentingnya Sebuah Nilai 6
104 | Reisha Humaira | #indonesiajujur: Kebodohan kok Dilestarikan Secara Massal Gini?
105 | Rahadian Faris Muttaqin | #indonesiajujur: Siami dan Sila Kedua
106 | Ika Damayanti | #indonesiajujur: Mewariskan Kebaikan
107 | Annisa R. Wibowo | #indonesiajujur: Kejujuran dan Pendidikan
108 | Rizky Muhammad Bagawie | #indonesiajujur: Manipulatif
109 | Mochammad Fikri | #indonesiajujur: Jujur Itu Penting
110 | Sonia Jusuf | #indonesiajujur: Nyontek Kok Dipelihara
111 | Ridlwan Cholil | #indonesiajujur: Jujur kok Dilawan? Ya Hancur!
112 | Farid Gunawan | #indonesiajujur: Jujur, Harga Mutlak Sebuah Masa Depan
113 | Aulia Halimatussadiah | #indonesiajujur: The Quest of #IndonesiaJujur
114 | Rangga Septyadi | #indonesiajujur: Dilema Ujian Nasional
115 | Devi Eriana Safira | #indonesiajujur: Tip of an Iceberg
116 | Adam Putera Pratama | #indonesiajujur: Tuhan itu Ada Atau Tidak Sih?
117 | Fahd Djibran | #indonesiajujur: Ihwal Kepalsuan
118 | Alfi – Suroboyo | #indonesiajujur: Mana Bisa? Mana Mungkin?
119 | Febriani Pratiwi [1] | #indonesiajujur: A Pearl in the Mud
120 | Tri Dhamayanto |#indonesiajujur: Ketika Jujur Menjadi Barang Langka
121 | Danny Brahmantyo | #indonesiajujur: Kita Bukan Bangsa Krupuk
122 | Diana Wardani | #indonesiajujur: Kesetiaan yang Dilecehkan
123 | Dody Widya Rusmana | #indonesiajujur: Pendidikan Moral Telah Terlupakan
124 | Octaviani Nurhasanah | #indonesiajujur: Memberikan Ilmu yang Halal dan Menerimanya dengan Halal
125 | Mira Julia [1] | #indonesiajujur: Jujurlah Anakku
126 | Bana Khoiri | #indonesiajujur: Dosa Itu Bernama Kejujuran
127 | Dian Achdiani [2] | #indonesiajujur: Aku Ingin, Aku Tak Ingin
128 | Phantom Priyandoko | #indonesiajujur: Contek Massal; Tuhan Baru Bernama UNAS
129 | Urip Widodo | #indonesiajujur: Harga Sebuah Kejujuran
130 | Ayu Windiyaningrum | #indonesiajujur: Jujur Itu Tidak Instant
131 | Vicky Laurentina | #indonesiajujur: Trik Curang Ujian
132 | Mira Julia [2] | #indonesiajujur: Ongkos Kejujuran
133 | Ananda Ladeva | #indonesiajujur: Simpati Untuk Ibu Siami
134 | Karina A.T. | #indonesiajujur: Yang Jujur Harus Mundur
135 | Siswandoyo Muhammad | #indonesiajujur: Salah Kaprah Mengukur Prestasi Anak
136 | Hariyanto | #indonesiajujur: Kita Harus Berani Mengubah
137 | Zani Yustina | #indonesiajujur: Disadarkan Oleh Anak
138 | Febriani Pratiwi [2] | #indonesiajujur: Dukungan Untuk Nunung: “Terpaksa Belajar”
139 | Baha Andes | #indonesiajujur: Jujur Hanya Slogan dan Nihil Pengamalan
140 | Kenia Huwada | #indonesiajujur: Sebarkan Virus Kejujuran
141 | Ardian Bumi | #indonesiajujur: Jujur, Kesulitan yang Nikmat
142 | Endang Pertiwi | #indonesiajujur: Cobaan Ny. Siami Menerapkan Amar Makruf Nahi Munkar
143 | Ria Wibisono | #indonesiajujur: Is Honesty Still the Best Policy?
144 | Trisna Manggala Yudha | #indonesiajujur: Hilangnya Nilai Kejujuran, Pertanda Apakah Ini?
145 | R. Indra Kusuma Sejati | #indonesiajujur: Nurani Blogger Menggugat
146 | Ratna Hartiningtyas | #indonesiajujur: Jangan Gunakan Mata Uang Lainnya
147 | M. Lutfi | #indonesiajujur: Jika 3 atau 6 tahun = 72 atau 96 jam
148 | Kris Cahyogi | #indonesiajujur: Pembunuhan Karakter
149 | Yohana Yang | #indonesiajujur: Perkara Moral Mencontek dan Dicontek
150 | G. Lini Hanafiah | #indonesiajujur: Ibu Siami: Potret Budaya “Sakit”
151 | Haitami | #indonesiajujur: Ny. Siami – Tapi Ibu…
152 | Fatima Aulia | #indonesiajujur: Surat Untuk Adik Kecilku AL
153 | Sophie Siregar | #indonesiajujur: Mana Terangmu
154 | Petronela Putri | #indonesiajujur: Betapa Mahalnya Sebuah Kejujuran
155 | Alia Nur Fitri | #indonesiajujur: Bukankah Jujur itu Murah?
156 | Kurnia Septa | #indonesiajujur: Belajar Nilai Kejujuran Dalam Sebuah Ujian
157 | Saraya Adzani | #indonesiajujur: Kecurangan Itu Berlangsung di Depan Mata Saya
158 | Sulistyanto Soejoso [2] | #indonesiajujur: Bisa Kita?!
159 | Sulistyanto Soejoso [3] | #indonesiajujur: Bukan Dongeng?
160 | Dinda Setyo Prayogo | #indonesiajujur: Tanggung Jawab Masing-masing
161 | Nurhalimah | #indonesiajujur: Jujur Awal dari Keberhasilan
162 | Fira Nurahmal Al Amin | #indonesiajujur: Kisah dari Sebuah Kejujuran
163 | …

Bagaimana caranya menge-post tulisan #IndonesiaJujur ke sini?
Kirim tulisannya ke email info@bincangedukasi.com dengan sertakan nama lengkap, boleh juga kalau mau sertakan foto diri. Btw, ditaruh di Tumblr juga gak pa pa, setelah itu tolong kirimkan info linknya ke info@bincangedukasi.com. Ditunggu yaaa…
Published! http://6aytidnan.tumblr.com/post/6408746414/indonesiajujur-bagaimana-caranya-kita-maju
Kejujuran harus ditegakan demi kelangsungan dalam proses pendidikan untuk membangun fondasi yang kuat dan penuh integritas bagi anak-anak kita..karena bangsa ini akan hancur jika kejujuran diabaikan..
untuk ibu Siami maju terus dan jangan menyerah, kamulah pahlawan kebenaran…
Ada batas waktunya, gak?
Tidak ada batas waktu untuk melawan ketidakjujuran dalam pendidikan.
Ditunggu yaa…
Siyaaappp…
saya jg udah share linknya lwt fb, smg bnyk yg tergerak..
sudah dikirim mas
Boleh ikut nulis disini gak?
Boleh, sudah ada beberapa yang dipostingnya di blog ini. Kirim tulisan dan nama lengkapnya ke info@bincangedukasi.com ya. Ditunggu…
Gila. Edan. Gendheng. Embuh kata apa lagi yang cocok dialamatkan kepada sistem pendidikan yang justru menisbikan nilai kejujuran… Lawan!!
Ikut prihatin. Menyedihkan, budaya masyarakat berubah manjadi barbar. .
sedikit coretan saya…. Jujur .. ini tidak jujur –> http://timpakul.web.id/jujur-ini-tidak-jujur-indonesiajujur.html
tulisan kedua saya… http://timpakul.web.id/indonesiajujur-menjadi-tidak-jujur-sejak-lahir.html
… dan nama saya itu di nama pengkomentar… tapi nggak apa-apa juga disebut timpakul mahalabiu .. krn saya belajar dari timpakul ( http://id.wikipedia.com/wiki/timpakul )
Oh, maaf, akan kami revisi. Terima kasih.
Pingback: Our Education Is in Danger! « The Pursuit of Excellence
Salut untuk Bincang Edukasi. Kejujuran memang harus diperjuangkan sejak kecil. Dukung #indonesiajujur.
sudah saya buat : http://pengendara.wordpress.com/2011/06/11/indonesiajujur-saat-menandjak/
silahkan dilihat
Bos kl lewat twitter gmn bos??trims
Koment saya cukup sedikit saja:
Untuk mereka(terutama ibu2) yg ngotot bahwa nyontek itu “tidak apa-apa”, “masih kecil tidak apa-apa”, dll berarti sama saja bikin statement bahwa anaknya Bodo krn tdk bisa garap soal. Pada sadar gak tuh???
Satu pertanyaan untuk mereka yg dukung ketidak jujuran:
Nanti kalau anaknya sdh besar kira2 mau jadi orang model gimana?
Kejujuran seakan merupakan kata yg sederhana, tetapi mempunyai makna yg dalam. Perilaku jujur harus dimulai sejak dini. Orang bisa menyadari kejujuran merupakan sesuatu yg berharga bilamana ada keyakinan dalam mengarungi hidup ini. dan keyakinan itu muncul dari setiap pribadi manusia.
Jujur agar tdk dihubungkan dengan surga, agar anda tdk putus asa. Jujur, jujur sajalah
suroboyo ternyata masih ada pejuang yang tertinggal. walaupun musuhnya adalah tetangganya sendiri.
Jer Basuki Mawa Bea. segala sesuatu ada harganya. benar-benar keluarga pejuang. rela membayar hidupnya demi sebuah kejujuran.
dialah orang surabaya sebenarnya.
Sejak mula juga kita dihadapkan pada kenyataan yang mencemaskan, bahwa kejujuran itu menjadi lelucon di halaman rumah kita meski saban hari dikhotbahkan para pemuka agama hingga mulut berbusa-busa.
sudah saya buat di blog saya, linknya:
http://www.daengrusle.net/indonesiajujur-lelucon-kejujuran-di-halaman-rumah-kita/
benar mas kejujuran bagai lipstik, kapan perlu saja digunakan
Keprihatinan saya menyaksikan niat baik keluarga Ny Siami dibalas dengan “air tuba”, justeru oleh para tetangganya. Sejak era reformasi, ada suatu keterbalikan sikap masyarakat kita dan semakin menonjol, yang disebabkan oleh eforia yang berkelebihan dan justeru dimulai oleh para promotor reformasi. Publik jadi semakin mudah mengeroyok, memaki, menghakimi sendiri, menyepakati ketidakbenaran, termasuk naiknya sikap kemunafikan mulai dari lapisan bawah sampai atas. Kepura-puraan menjadi bagian dari manner, behaviour, attitude publik. Pura2 “suci” padahal korupsi, pura2 “mulia” padahal “maling”. Pura2 “alim” tetapi justeru tidak suka pada kebenaran yang hakiki. Tidaklah heran apabila dekadensi moral dan spiritual publik semakin terpuruk. Negara dan tanah air ini sebetulnya sangat bagus, indah, ramah dan terpuji; sayangnya para pengelolanya yang terperosok ke lembah nista dalam perbuatan dan sikap. Dan apa yang dilakukan oleh pemimpin tentunya juga dipanuti oleh masyarakat lapisan bawah. Semoga Allah SWT menunjukkan keadilanNya bagi keluarga Ny Siami, para tetangga sedesanya, para guru dan kepala sekolah. Amin.
Saya gemas sekali dengan sikap masyarakat di sana.
Betapa justru kejujuranlah yang dimusuhi. Mau jadi apa anak-anaknya, ketika mengetahui para ibu dan bapaknya mencaci maki kejujuran dan membela perilaku yang curang ?
Tidak sadarkah mereka, bahwa anak-anak mereka menyaksikan semuanya dan merekamnya di dalam kepala. Maka jangan heran, jika suatu saat anak-anaknya mencurangi para orang tuanya dan mereka bisa berkata : ” Ini kan hal yang biasa !”
Oh ya, ini alamat blog yang memuat tulisan keprihatinan saya :
http://yuniezalabella.multiply.com/journal/item/438/_Indonesia_jujur_Mengapa_yang_jujur_yang_terusir_
Saya, tanpa berusaha meniru pak SBY, sangat prihatin dengan kondisi yang ada. Ingin marah dan gemas juga sama warga dan guru di sana, tapi saya sadar akar masalahnya bukan di mereka. Mereka hanya merespon insentif yang diberikan oleh pemerintah. Reward dan punishment pendidikan difokuskan pada hasil saja [yang juga semu], bukan pada proses dan pengalaman belajar. Para wali murid ini bertindak atas dasar cinta pada anak2nya dan ketakutan luar biasa bahwa masa depan anak2nya akan sangat terancam bila tidak lulus UN. Guru dan pengelola sekolah? Sama saja. Masa depan mereka [dan keluarganya] ditentukan pada target jumlah kelulusan siswanya. Reformasi sistem pendidikan, terutama masalah UN yang dilekatkan dengan syarat kelulusan, inilah yang jadi fokus gerakan #indonesiajujur. Yuk kita perjuangkan bersama. Terima kasih kontribusinya.
prihatin sama pemerintah dan sistem UN nya,
prihatin sama guru-guru dan pengelola sekolahnya,
dan prihatin sama masyarakatnya juga.
Walau nasib ( secara ekonomi) berada di tangan pemerintah ( yang pada dasarnya hanya merupakan perantara rejeki ) dan ada desakan untuk meluluskan siswa, namun guru pada dasarnya adalah individu merdeka yang tidak berhak mencontohkan apalagi memerintah perbuatan curang itu.
Saya pun guru, dan saya kecewa dgn para guru yang memberi contekan hanya karena mengejar kelulusan semata.
Alhamdulillah Allah SWT telah menuntun kita untuk melihat kedalam, berintrospeksi secara total tentang dunia pendidikan melalui keberanian ibu Siami mengungkap kasus ini.
Seorang ibu yang berlatar belakang pendidikan lulusan smp dari keluarga yang sangat sederhana tetapi memiliki kepedulian yang tinggi memperjuangkan kejujuran. Dan ini semua berangkat dari dalam hati nuraninya yang tidak terima putranya dijadikan objek dari teman satu sekolahan melakukan kebohongan berupa mencontek masal. Padahal masalah kejujuran ini menjadi prioritas utama dalam keluarga ibu Siami dalam mendidik putranya. Ibu Siami saya pribadi berterimakasih kepada anda, perjuangan ibu beserta ridho Allah SWT. Indonesia memerlukan pahlawan pejuang kejujuran seperti anda. Berbahagialah ibu..
Pingback: Indonesia Jujur: Yuk… mulai dari kita sendiri | muttaQin
kejadiannya mirip ketika saya SMA pas mau ebtanas….
Waduh …
Kok bisa begitu ya ?
Bagaimana kok bisa warga satu kata mengusir Ny Siami ?
Mungkin pelu juga digali cerita versi warga …
Dan mudah-mudahan ada warga yang dengan gentle ikut bersuara … menyuarakan apa sebabnya mereka kok berbuat seperti itu …
Mengapa kok mereka mengusir dan mengintimidasi Ny Siami dan keluarga ?
Adakah sebab lain ?
salam saya
Setuju. Supaya sama-sama tahu juga kenapa warga bertindak begitu. Saya meski tentu miris dan tidak setuju, tapi sedikit banyak mengerti apa sebab guru yg justru menyuruh murid mencontek. Tapi tindakan warga mengusir Ibu Siami benar2 sesuatu yang sangat sulit untuk saya mengerti. =S
Semoga tulisan-tulisan ini bisa “mencerahkan” dan bisa ikut memberi kekuatan bagi Para Pejuang ke-JUJUR-an…
Saya sudah posting di blog tentang kejadian semasa SD dan SMA yang pernah menjadi(calon) korban Oknum Guru. Bisa dikatakan ini sudah sekelas mafia karena sistemnya tertata dengan rapi. Sistem kecurangan tingkat tinggi.
Silahkan baca di
http://dlestiyorini.blogspot.com/2011/06/indonesiajujur-sebuah-legenda-ataukah.html
Nice movement mas.
Saya yakin gerakan ini akan mengarah pada suatu kesimpulan yang kita harapkan, maju terus #indonesiajujur
Prihatin sangat. Dan perhatikan teman2, ini baru awal perjuangan dr kel.AL.. Bukan tak mungkin mereka akan kehilangan pekerjaan, sulit mencari pekerjaan baru karena orang ‘takut’ berhubungan dgn kel. AL. Bisakah kita tunjukkan kepedulian lebih nyata? Saya usul buat gerakan seperti koin untuk prita. Karena percuma kita hy berikan dukungan moral. Kenyataannya bila AL merasa kejujurannya membuat keluarganya susah, jatuh miskin, dibenci orang, maka sangat mungkin nilai kejujurannya ditukar dengan uang. RELAKAH kita?? BISAkah kita berbuat LEBIH?? BISA !
mari kita berubah pelan-pelan.. insyaallah kita bisa..
gusti Allah mboten sare..( Allah gak tidur),…
Beberapa pakar pendidikan pun menyatakan kondisi sebenarnya jauh lebih buruk. Karena kasus ini hanyalah pucuk dari gunung es yang terpendam. Kita tak boleh diam. mulai dari sini kita belajar untuk memperbaiki moral bangsa ini. mulailah dari sekarang pelajaran dan perbuat jujur itu dimulai dari tingkat SD. moral bangsa rusak sejak awal. pendidikan budi pekerti seperti dulu di hapus, padahal itu cara bangsa ini percaya jati diri. bukan harus percaya dengan orang lain. kembalikan jadi diri bangsa ini sejak awal.
Kejujuran memang mahal harganya. maka mulai sekarang harus kita gali dan laksanakan pembelajaran kejujuran sejak usia dini. tanpa itu bangsa ini bakal kehilangan arah dan tujuan awal membangun jati dirinya. siapa yang mau berteman dengan suatu negara yang oirang didalaminya tidak jujur? seperti keadaan kita sekarang, adalah sangat memprihatinkan.
Kejujuran di zaman ini bagaikan mencari mutiara di tengah samudera yang luas. Mahal, dan sungguh sangat mahal… tak dapat dibeli dengan uang seberapa pun banyaknya. Ia akan tetap tersembunyi bila kita tak dapat berjuang untuk terus mencari, mendapatkan, dan merangkulnya, yang kemudian kita jadikan sebagai modal hidup kita dalam berelasi dengan orang lain, pun dengan diri sendiri. Kejujuran merupakan buah dari suara hati yang tulus dan murni…. salam.
Sedikit lagi 100 nih. xDD
Orang yg tidak jujur mengira dia akan hidup selamanya… Sebab kalau tidak, kenapa dia tidak mau berbuat jujur?
Bukankah dia mengira dengan berbuat tidak jujur dia akan lebih beruntung, lebih maju, lebih baik, lebih kaya, dll…?
Smoga peringatan Allah dibawah bs bermanfaat untuk kita:
“Barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan (15). Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka, dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia, dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan (16)” (QS Hud 11: 15-16)
Saya pribadi berharap, ketidakjujuran akan hilang jika manusia sadar bahwa hal itu belum tentu membawa keberuntungan di dunia, dan pasti di akhirat kelak hanya membawa kerugian.
Sedangkan kejujuran, adalah salah satu sifat yg membuat kita pantas memasuki SurgaNya.
Jadi, pilih jujur atau tidak jujur?
Wallaahu a’lam bisshowab.
saya sangat mendukung tindakan ibu yang mulia ini yang berani bersuara…n berdiri di atas kejujuran….jangan takut bu Allah bersamamu….,sadarlah wahai kalian orang2 pedusta…karena banyaklah kalian merasa benar…tapi kalau kau tahu tindakan kalian sangatlah busuk….,ibu ciami yang mulia jangan menyerah kami mendukungmu mari kita bertekad untuk jujur…..
ini baru surabaya. saya yakin di tempat lain masih ada masyarakat seperti ini. aduuuuuuh…indonesia, sembuh doooooong!!!!!
masih bagus, orang surabaya nggak munafik, dan Allah masih menunjukkan contoh ini untuk kita sebagai pelajaran. Semoga kita semua belajar, jadi lebih baik, dan indonesia bisa sembuh (aamiin…).
saat dewan curang dan korupsi, pedagang mengurangi timbangan, saat dokter mal praktek, saat hakim menerima suap, maka rakyat protes, mahasiswa demo.
tapi saat anak2 sekolah dan orangtuanya mendukung kecurangan, masih ada yg pro dan kontra.
padahal anak2 inilah calon anggota dewan,pedagang, dokter, hakim bahkan guru di masa depan.
Saat bibit diberi makan racun, dibilang “gpplah yg penting bertahan hidup”. Saat bibit tumbuh dan berkembang lalu berbuah dan meracuni sekitarnya, barulah mulai pada terdengar protes dan teriakan “musnahkan si pembawa racun”
Padahal ia hanya memuntahkan apa yang dulu dimakan dari pemberian orang2 sekitarnya.
Masih mau dukung ketidakjujuran?
Cara Tuhan memisahkan intan dengan lumpur.. Alhamdulillah bu Siami bisa memperoleh tempat yang baru yang mudah2an lebih baik bagi perkembangan anak2 nya kelak.
Itu kampung isinya ex koruptor semua ya btw? Jangan2 ntar ada syarat tambahan lagi buat masuk PNS/Polri: Surat keterangan bukan alumi Gades2, LoL.
whihih sudah banyak aja yang posting nih
semangat ya teman-teman
Kejujuran adalah salah satu kunci dalam kepribadian seseorang, jika ini berubah nilai… eksesnya pada indisipliner dalam aturan hukum ditingkat rendah sampai yang tertinggi. Kejujuran ditanamkan dalam keluarga, masyarakat dan sekolah, yang seharusnya tidak ada manipulasi seperti di SDN Gadel II. Kejujuran, sportivitas, untuk menjunjung tinggi kebenaran dan keadilan adalah kunci sukses keberhasilan pembangunan dalam keluarga, sekolah, masyarakat, bangsa dan negara. Simak saja ulah para elite pejabat yang menutupi ketidakjujurannya dengan diplomasi dan sakit mendadak dengan jurus pamungkas kabur ke negara yang tidak memiliki perjanjian ekstradisi dengan Indonesia…..SAYA MENDUKUNG KELUARGA BU MIAMI DIANGKAT DAN DINOBATKAN SEBAGAI ‘PAHLAWAN KEJUJURAN’…………….
kejujuran sebenarnya sudah di contohkan dalam beribadah kepada Tuhan, tapi maknanya belum sampai dalam kehidupan keseharian oleh manusia.perlu dikaji secara serius cara-cara pemahaman agama yang di terapkan dalam kehidupan keseharian.kita semua ngaji dan kaji lagi dalam memaknai beragama ini….
weleh,weleh,weleh,…aku jadi geram melihat warga yang dengan pedenya berdemo serta mengusir keluarga bu siami dan pak widodo,yang mencoba menyuarakan kejujuran.mereka(warga)itu ngerti ngga sih atau hanya ikut-ikutan.
ini adalah cermin tidak beresnya dunia pendidikan di negara ini.salut buat keluarga bu siami dan Alif,yang berani menyuarakan kejujuran.
http://emfkri.tumblr.com/post/6519507012/jujur-itu-penting
ini dari saya, semoga Indonesia semakin jujur.!!
“Ketika kejujuran dimusuhi”.
Sungguh menyedihkan….
Semoga fenomena ibu Sia yg menguak ketidakjujuran di dunia pendidikan akan membuka setiap mata hati seluruh rakyat Indonesia utk berhenti berlaku curang di setiap aspek kehidupan. Mari doakan dan dukung semoga akan ada banyak Ibu Sia yang lain yg muncul melawan ketidakjujuran ini. Jangan gentar. GO HONEST…
#indonesiajujur – nyontek kok dipelihara
http://fruhlingblute.wordpress.com/2011/06/14/indonesiajujur-nyontek-kok-dipelihara/
kejujuran sudah punah…
serius! gue bener2 emosi ama sikap tuh guru & warga! arghhhh….
orang jujur kok malah diusir, ANEH!
Gue Dukung Bu Siami & Keluarga.
#indonesiajujur: Suarakan dukunganmu akan kejujuran!
” MENIRU MAFIA HUKUM ”
Kesuksesan MAFIA HUKUM dalam menyalahkan, mengucilkan, menyingkirkan, memusuhi bahkan mengancam orang yang berani mengungkap kebenaran yaitu SUSNO DUAJI telah ditiru mentah-mentah oleh masyarakat Indonesia secara luas bahkan sampai ketingkat yang paling bawah.
Jangan heran jika sekarang timbul istilah baru untuk memperlakukan para pengungkap kebenaran yaitu…” DI SUSNO DUAJI KAN !!! “.
“Men Susno Duaji kan ” adalah perbuatan berkomplot untuk menyalahkan, mengucilkan, menyingkirkan, memusuhi bahkan mengancam orang yang berani mengungkap kebenaran.
Ibu Siami adalah salah satu contoh orang yang ” di Susno Duaji kan “.
Ia bukan orang pertama juga bukan orang terakhir yang ” di Susno Duaji kan “.
Kelak jangan heran jika tak ada lagi orang yang berani mengungkap kebenaran karena takut ” di Susno Duaji kan “.
Masih adakah orang yang siap untuk ” di Susno Duaji kan ” ?????
Ketidakjujuran dalam hal ini dapat disempitkan dalam tindakan mencontek sepertinya sudah sangat membudaya… dan seperti yg saya perhatikan ternyata tindakan tersebut sudah merupakan suatu hal yg biasa dilakukan, dan seakan mencontek itu bukan merupakan hal yg salah dan tidak benar….
Ternyata benar juga, mengapa mencontek seakan suatu hal yg biasa, karena sudah dipupuk dan ditumbuhkembangkan sejak dini…. hmmmmm
Sedikit share saja di forum ini…
Sangat kebetulan saya jg seorang tenaga pendidik yg dimata para peserta didik saya itu termasuk galak, sadis, killer dll, dan dimata sesama rekan tenaga pendidik saya disebut terlalu idealis, mengapa demikian???
Hal itu terjadi karena saya merupakan org yg paling anti dan paling tidak toleran terhadap peserta didik yg mempunyai kebiasaan mencontek (nyaris semua peserta didik saya)… sehingga jika ketika sedang ulangan/tes/ujian, baik dikelas maupun secara bersama, kadang mereka dibuat tidak berkutik dan tidak bisa melakukan aktivitas rutin ketika ulangan/tes/ujian yaitu mencontek. Dan sebagai resultnya.. nilai mereka tidak bergeser dari 0 hingga 20 (skala tertinggi 100).
Apakah sudah sedemikian parahkah di dunia pendidikan kita ini, hingga mencontek itu diHALALkan demi mencapai tujuan yaitu nilai yg baik???
Mari bangun Indonesia yang penuh dengan kejujuran diawali dengan diri kita sendiri.
Kejadian yang terjadi di desa Gadel, Surabaya, Ny. Siami dipersalahkan oleh orangtua murid yang lain karena mengadukan ketidakjujuran sekolah. Sudah jelas bukan, yang meminta sekolah untuk tidak jujur bukan sekedar pejabat pendidikan saja tapi orangtua yang menitipkan pendidikan anaknya di sekolah.
Saya guru kelas 9 salah satu SMP di Jakarta. Setelah selesai pengumuman kelulusan, ada orangtua murid yang mempertanyakan sekolah, kenapa tidak ikutan berbuat tidak jujur supaya nilai UN siswa2 bisa tinggi seperti sekolah lain. Orangtua itu bilang, tidak jujur tidak apa-apa, asal anak-anak bisa masuk SMA unggulan atau SMA yang dianggap bagus.
Jadi mari kita tanyakan lagi kepada orangtua yang menyekolahkan anak-anaknya, hasil apa yang ingin dicapai dari hasil belajar anak-anak mereka di sekolah? Kalau sekedar supaya mendapat nilai setinggi-tingginya agar anaknya dapat masuk sekolah lanjutan yang unggulan, lebih baik tidak usah disekolahkan, daftarkan saja mereka ke Lembaga Bimbingan Belajar.
Saya sangat miris dengan dunia pendidikan kita.Anak-anak yang masih polos dan jujur diajarkan untuk berbuat kecurangan dan tidak jujur.Padahal anak-anak ini akan menjadi generasi penerus bangsa. Dan terbayangkan pemimpin masa depan akan dipimpin oleh orang yang tidak jujur.Bagaimana nasib bangsa ini.Saya bermimpi bangsa ini dipimpin oleh orang yang jujur, amanah dan mempunyai nasionalisme yang tinggi serta tidak korupsi.SEMOGA INDONESIA JAYA RAYA dan Koruptor hangus dari muka bumi. Amin.
Semoga Indonesia akan jadi lebih baik..^^ Mari bersama wariskan kebaikan..
http://notesofika.wordpress.com/2011/06/14/indonesiajujur-mewariskan-kebaikan/
dunia pendidikan sangat penting peranannya krena dapat menjadi tempat atau wadah untuk kita belajar dari hal2 yang baik,bukanya membuat menjadi buruk,,,,,kenapa kasus yanag terjadi pada bu siami,justru membuatnya d benci masyarakat sekitar?????apa arti dari kejujuran untuk jaaman sekarang????
buat bu siami sekeluarga tetap semangat untuk menegakkan kejujuran,,,karena kami akan sellu mendukung mu,,,merdeka indonesia ku……thanks buat indonesia jujur.
cukup salut dengan kejujuran Ibu Siami dan keluarga, tapi apakah Ibu Siami dan keluarga dan kita semua sudah cukup “JUJUR”, bahwa sistem pendidikan negara kita yg menganut schoolling system/sistem sekolah merupakan “kebohongan besar” yg dilegitimasi hukum negara ini?… Bagaimana tidak saking paranoidnya dgn Unas membuat sekolah, guru2, dan para wali kelas dan wali murid tega melakukan apa saja demi sebuah Ijazah berpredikat “LULUS”, lantas masikah kita mengatasnamakan Kejujuran sedangkan kita masih berbangga membohongi diri kita sendiri… lalu masihkah kita mengatakan, warga gadel itu munafik, ibu siami&keluarga itu pahlawan siang bolong…. hihihi Wallahu alam bi showaff
ikut partisipasi ya mas….http://getoekgoreng.blogspot.com/2011/06/indonesia-jujur-sebarkan-virus.html. makasih atas ruangnya…:D
mari berjuang bersama….
hampir disetiap lini kehidupan kita ini, banyak sekali ketidak jujuran, saya seorang guru sangat tahu hal itu, harus lapor kemana ?, semua memang begitu, saling berkomplot satu dengan lainnya untuk memenangkan ketidak jujuran, sungguh yang jujur tak bisa maju kedepan walau banyak pengalaman, tapi yang tidak jujur bisa menjadi pimpinan walaupun sangat menyesatkan. Astagfirulahhal’adziim. Inilah hidup di Indonesia saya sudah jadi guru sejak 1982 sebelum PNS dan PNS 1989 sampai sekarang dengan beberapa ganti pimpinan/kepala sekolah, semuanya sama saja tidak berubah keadaannya, Hanya orang-orang yang jujur dan Allah saja yang bisa merubahnya. Amiin. Ayooo ! Tegakkan kejujuran di Bumi Indonesia ini.
Berapa banyak sudah energi yang kita keluarkan untuk menanggulangi berbagai persoalan yang melanda negri ini akibat yang ditimbulkan dari sumber segala sumber permasalahan dalam berbangsa dan bernegara yaitu ketidak-jujuran. Pikiran, waktu, tenaga, biaya dsb. terbuang percuma dan sia-sia. Berbagai persoalan sosial, poltik, budaya, ekonomi, hukum, HAM, bahkan dibidang olahraga dan pendidikan sebagai motor penggerak sportifitas, telah porak poranda. Bagaimana bisa kita membangun pondasi sumber daya manusia indonesia yang kuat dan kokoh dengan elemen-elemen kepalsuan, kebohongan, pencitraan, gengsi, materialisme dan sejenisnya. Lihatlah para penyelenggara negara di republik ini, mulai dari eksekutif, yudikatif dan legislatif. Apakah mereka bisa menduduki posisi seperti sekarang ini dengan cara yang jujur? cara yang tidak bertentangan dengan hati nurani? cara yang sesuai dengan kaidah hukum dan konstitusi yang berlaku? Jika jawabannya tidak maka alangkah mirisnya hidup di negara yang gemah ripa loh jinawi ini. Maka wajar saja kalau ALLAH menghujani kita dengan berbagai bencana alam, bencana kemanusiaan, bencana krisis pangan, krisis kepercayaan, krisis ekonomi dsb. Lalu dimana peran agama yang selama ini kita yakini mampu membawa kita kepada keselamatan dan kebahagiaan dunia dan akhirat jika perilaku kita dalam mencapai tujuan bertentangan dengan norma norma agama? Untuk apa Bung Karno bersusah payah menggali PANCASILA sebagai dasar negara kalau hanya sekedar dihafal tapi tidak untuk diamalkan? padahal kemarin baru saja kita peringati. Apakah kita telah melupakan peran orang tua kita yang telah bersusah payah mendidik dan menanamkan pada diri kita nilai-nilai kesusilaan, sopan santun, etika, tata krama, tepo seliro, kejujuran dsb. Kasus ibu SIAMI “si pejuang kejujuran” kita jadikan sebagai momen untuk melihat kedalam dan menata kembali sistem pendidikan kita. Masalah pendidikan adalah masalah besar, memerlukan perhatian yang ekstra khusus dan menjadi prioritas utama yang harus segera dibenahi. Bangunlah jiwanya… bangunlah badannya… untuk Indonesia raya.
Saya peduli dengan kejujuran. saya akan mencoba dengan kemampuanku untuk menulis tetang kejujuran.
Akhirnya saya bisa menyelesaikan tulisan sepontanitasku dalam rangga mengajak jujur.
#indonesiajujur | Jujur Hanya Slogan dan Nihil Pengamalan
salam dan semangat pagi pa moderator. Maaf, punya saya judulnya bukan #indonesiajujur | Jujur Hanya Slogan dan Nihil pengalaman tapi #indonesiajujur | Jujur Hanya Slogan dan Nihil Pengamalan
terima kasih sudah di masukan daftar di No. 135
semoga Indonesia bangkit menjadi lebih baik
http://biliktiwi.blogspot.com/#indonesiajujur:cobaan NY.Siami menerapkan amar makruf nahi munkar
trima kasih tela memasukkan postingan saya di no.142.
Dukung Mas !dan sudah di Publikasikan di : http://ejawantahnews.blogspot.com/2011/06/indonesiajujur-nurani-blogger-menggugat.html
Sukses selalu
Salam
Ejawantah’s Blog
Link tulisan saya https://www.facebook.com/note.php?saved&¬e_id=10150152366919800
Ini note saya beberapa bulan lalu membahas kegundahan saya mengenai kejujuran yang semakin menipis di lingkungan masyakarat kita. Sekarang fokus ke depan untuk Indonesia lebih baik, dimulai dari kita sendiri.
http://nengratna.blogspot.com/2011/06/indonesiajujur-jangan-gunakan-mata-uang_8944.html
Respond dari pemerintah kurag greget. Padahal nilai kejujuran ini sangat mendasar dalam dunia pendidikan. Tidak heran masalah korupsi ngga kunjung selesai, malah makin gedhe saja para pengemplang duit rakyat.
Mari kita mulai dari lingkukan kita.
Tetap semangat, Indonesia masih bisa menuju lebih baik.
Salam
Pingback: #Indonesiajujur: Jujur mesti ikhlas « Payjo
eh? rasanya blum kirim linknya tau2 nongol. padahal barusan aja kirim
eniwei, makasih ya
Pingback: Mari ber-Bincang Edukasi « bukik ideas
Pingback: #indonesiajujur Ibu Siami: Potret Budaya “Sakit”
#indonesiajujur ” mari budayakan jujur ”
Salut buat orang orang yang masih kekeuh utk memepertahankan suatu kejujuran di zaman seperti sekarang ini, saya pun pernah mengalami kepahitan karena berusaha untuk jujur…
waktu itu saya mengikuti training untuk masuk ditempat saya bekerja, dan hari hari saya lalui sebagaimana teman2 yg lain, sampai tiba saat ujian, waktu itu ada beberapa orang dari eksternal yg baru bergabung dgn perusahaan tempat saya bekerja , tp ada juga yg berasal dari pihak internal sehingga mereka sudah banyak menguasai materi. Nah, utk kami yg berasal dari eksternal memang semua merasa kesulitan utk secara instan mengetahui all ttg pekerjaan kami nanti, terlebih kami blm pernah sama sekali bekerja di bidang yg akan kami jalani nanti. Walhasil, dari beberapa org yg berasal dari eksternal hanya saya saja yg nilainnya minim dan perlu mengulang, jelaslah…saya sudah tau ini akan terjadi, karena pd saat ujian hanya saya saja yg “sok tdk mau nyontek / ngerpe / buka buku” krn saya tau itu melanggar peraturan. tapi saya akhirnya buktikan di ujian ulangan, saya berhasil, dan itu lebih memuaskan saya tentunya, dibanding dengan teman2 saya yang lulus dari hasil ngerpe’ / nyontek. ( Bu Siami, saya juga sama, sok anti nyontek, apapun hasilnya ).
Dan lagi , baru baru ini saya menemukan hal unik di sekitar tempat saya tinggal, saya kagum pd seorang pedagang bensin eceran, dia tdk pernah menunggui kiosnya, krn pd kios tersebut sudah dipasangi spanduk bertuliskan “kios kejujuran”, artinya setiap pembeli dapat dgn bebas melayani dirinya sendiri, dan membayar sesuai tarif harga : jika jujur, atau main ambil aja bensinnya, tanpa harus bayar : jika tdk jujur. Entah bagaimana dengan hasilnya, yang pasti pedagang tersebut hanya ingin mengajak semua lapisan masyarakat untuk hidup jujur / menegakkan kejujuran dimana pun berada. “salute”. sampai saat ini kios tersebut masih buka, tepatnya di daerah Jl Veteran Kediri, di sekitaran depan markas brimob Kediri.
sedikit pertanyaan untuk kita semua
*sudahkah kita jujur dalam segala hal
*sudahkah kita mencontohkan kejujuran ke anak istri kita
*sudahkah kita mengajak dan mengajarkan kejujuran pada keluarga kita
jika kita sudah melakukanya dan semua keluarga di negeri inpun sudah melaksanakanya maka saya yakin tidak akan ada lagi kisah seperti yang di atas..
mari mulai dari diri sendiri dan keluarga
untuk jujur…
tidak ada kata terlambat untuk belajar hidup jujur.
jujur hanya buat orang beriman bukan dari ucapan
Yaitu dia yang berlaku tidak bercela, yang melakukan apa yang adil dan yang mengatakan kebenaran dengan segenap hatinya,
yang tidak menyebarkan fitnah dengan lidahnya, yang tidak berbuat jahat terhadap temannya dan yang tidak menimpakan cela kepada tetangganya;
yang memandang hina orang yang tersingkir, tetapi memuliakan orang yang takut akan TUHAN; yang berpegang pada sumpah, walaupun rugi;
yang tidak meminjamkan uangnya dengan makan riba dan tidak menerima suap melawan orang yang tak bersalah. Siapa yang berlaku demikian, tidak akan goyah selama-lamanya.
ya saya juga seorang Guru SD merasa prihatin gaya pemikiran masyarakat kita sekarang ini kejujuran yang orsinil dianggap sok pahlawan, bukan bu siami yang salah gaya pikir masyarakatnya yang masih kolot bercampur iri dengki.
bukan disurabaya saja dikalimanta tempat saya diam masih banyak pemikir-pemikir kolot