Para pecinta pendidikan,

Beberapa hari ini di sebuah kampung kecil di Surabaya terjadi sebuah kejadian yang tragis dan menunjukkan kebobrokan dunia pendidikan serta karakter masyarakat kita. Nyonya Siami, seorang ibu yang ingin mengajarkan kejujuran pada anaknya justru mendapatkan kesengsaraan dan diusir bersama keluarganya oleh warga desa tempat tinggalnya.

Cerita bermula saat AL, anak Ny. Siami yang tergolong cerdas dan bersekolah di SDN Gadel 2 Tandes, Surabaya, diminta oleh gurunya untuk ikut berbuat curang dan memberi contekan pada teman-temannya saat Ujian Nasional. Setelah mengetahui hal ini dari anaknya, Ny. Siami melakukan tindakan yang benar dengan melaporkan kepada Kepala Sekolah, namun tidak mendapat respon yang cukup. Ny. Siami lalu melaporkan kepada Komite Sekolah lalu kepada Diknas, juga dengan respon yang kurang memuaskan. Akhirnya sampailah berita ini di media dan ter-blow up. Pemkot Surabaya pun mengambil tindakan menelusuri kasus tersebut. Hasilnya, Kepala Sekolah dan dua guru di sekolah itu dicopot. Yang terjadi kemudian benar-benar menyesakkan dada.

Para wali murid yang lain marah dan menganggap keluarga Ny. Siami ingin sok jadi pahlawan dan membesar-besarkan masalah. Mereka mendatangi, mendemo dan mengintimidasi keluarga Ny. Siami beberapa kali dan menuntut permintaan maaf terbuka. Keluarga Ny. Siami menurutinya dengan mengadakan pertemuan di balai RW untuk meminta maaf [aneh, padahal mereka tidak salah]. Setelah permintaan ini dipenuhi pun warga malah menolak permintaan maaf, mencaci maki, dan berteriak2 mengusir keluarga Ny. Siami dari kampung. Demi keamanan, saat ini keluarga Ny. Siami terpaksa mengosongkan rumahnya dan mengungsi ke rumah saudaranya di kota lain.

Berita lengkap bisa dilihat di laman-laman berikut :
> Ny. Siami, Si Jujur yang Malah Ajur | http://bit.ly/l3Is4t
> Orang Tua AL Minta Maaf, Diteriaki Wali Murid “Tak Punya Hati Nurani” | http://bit.ly/iJvGCj
> Mediasi Ricuh, Warga dan Wali Murid Usir Ny. Siami | http://bit.ly/iD6jMF
> Keluarga Ny. Siami Dievakuasi Layaknya Penjahat | http://bit.ly/illiYL
> Diusir, Ny. Siami Akhirnya Kosongkan Rumah | http://bit.ly/jvQX2O

Apakah sudah sedemikian parahnya pendidikan dan karakter masyarakat kita? Sungguh ngeri saat kita dihadapkan pada kenyataan seperti yang ditweetkan oleh pak Goenawan Mohamad, “Yg bisa sewenang-wenang bukan hanya penguasa. Yg takut kejujuran bukan hanya politisi. Orang2 spt kita juga.” Beberapa pakar pendidikan pun menyatakan kondisi sebenarnya jauh lebih buruk. Karena kasus ini hanyalah pucuk dari gunung es yang terpendam. Apakah lalu kita akan membiarkan kejadian semacam ini dan menganggapnya normal? Apakah kita akan berkata, “Halaaah, itu kan sudah biasa, di mana-mana juga curang kok UN. Sudah lah, kita urus yang lain saja banyak yang lebih penting?” Apa yang akan kita didikkan pada anak-anak kita?

Bincang Edukasi mengundang rekan-rekan pecinta dan pemeduli pendidikan untuk membuat tulisan [blog post, Facebook note, email] mengenai pandangan rekan-rekan. Tulisan yang dibuat bisa spesifik mengenai kasus Ny. Siami ini, namun kita semua berharap kasus ini tidak akan berlama-lama. Momentum ini bisa juga kita manfaatkan untuk membuat tulisan tentang bobroknya sistem Ujian Nasional yang menciptakan kondisi ini, atau tentang budaya instan dan ketidakjujuran dalam pendidikan kita. Suarakan keprihatinan kita terhadap terajarkannya ketidakjujuran secara sistematis dalam dunia pendidikan anak-anak kita.

  1. Blog post dan Facebook note harap ditulis dengan diawali hashtag #indonesiajujur sebelum judul postingnya. Tidak harus panjang, bisa 2-3 paragraf singkat. Bisa juga berupa format “surat terbuka” untuk pihak2 yg terlibat seperti keluarga ibu Siami, atau kepada sebagian warga SDN Gadel 2, atau kepada pengelola sekolah SDN Gadel 2, dll. Yang penting pesan dan kepedulian kita tersampaikan. Contohnya seperti tulisan Bukik berikut: #indonesiajujur Jujur Itu Mujur.
  2. Kirimkan link blog post atau Facebook note kepada kami melalui email info@bincangedukasi.com untuk kami masukkan ke dalam daftar di bawah agar semua bisa melihat. Jangan lupa untuk Facebook note diatur terlebih dahulu agar bisa diakses oleh publik, bukan cuma oleh “friends” atau “friends of friends”.
  3. Bagi rekan-rekan yang ingin menulis namun tidak memiliki blog atau Facebook, silahkan kirimkan tulisan Anda ke email info@bincangedukasi.com beserta nama lengkap dan boleh juga dengan foto diri untuk kami posting di halaman Bincang Edukasi.
  4. Selain untuk pembelajaran kita semua, kumpulan tulisan dan posting nantinya akan kami sampaikan langsung kepada keluarga Ibu Siami, termasuk putranya AL, untuk memberi dukungan kepada mereka. Sebisanya, akan kami sampaikan kumpulan tulisan dan posting ini kepada pimpinan warga di daerah yang mengusir keluarga Ibu Siami, juga kepada SDN Gadel 2 Tandes, Diknas Kota Surabaya, dan juga Pemkot Kota Surabaya.

Kita tunjukkan bahwa bila sebagian warga berusaha mengusir satu keluarga yang memperjuangkan kejujuran dari kampungnya, maka satu negara tidak akan merelakan hal itu terjadi. Kita suarakan bahwa kita sudah muak dengan kebobrokan sistem pendidikan yang memberi reward dan punishment hanya pada hasil akhir dan bukan pada proses dan pengalaman belajar. Kita tunjukkan bahwa sistem seperti itu telah mendorong dan mendidikkan cara-cara instan yang penuh ketidakjujuran pada peserta dan pelaku pendidikan. Kita teriakkan bahwa kita tidak rela anak-anak pemegang masa depan Indonesia ditumbuhkan dengan karakter penuh cacat.

Karena kejujuran seharusnya tidak membawa kesengsaraan, namun kejujuran seharusnya membawa ketenangan dan kebahagiaan. Demi pendidikan Indonesia.

Salam,
Bincang Edukasi

 

Update:

> Dalam berita di salah satu stasiun televisi, Walikota Surabaya Tri Risma menyatakan, “Di dalam hasil (ujian)nya, tidak bisa dibuktikan ada contekan tersistematis.” Penjelasan dari kami: Keterangan ini adalah dasar pengambilan keputusan tidak dilakukannya ujian ulang di SDN Gadel 2. Disinyalir saat ujian berlangsung, AL tidak selalu memberikan jawaban yang benar dan teman-temannya pun tidak selalu menaruh jawaban yang sama dengan contekan. Sedangkan apakah ada usaha contekan tersistematis? Tim Pemkot Surabaya dan tim independen yang melakukan pemeriksaan telah memutuskan sanksi pencopotan dan penurunan jabatan kepada kepala sekolah dan dua orang guru SDN Gadel 2. | http://bit.ly/lTdjpl

> Beberapa warga Gadel mulai melakukan otokritik, menenangkan dan mengedukasi warga, serta berusaha merehabilitasi reputasi kampungnya | http://bit.ly/j2GDit | http://bit.ly/m0UKWM | Langkah awal yang perlu didukung, sebelum diusahakan menuju rekonsiliasi dengan keluarga Ibu Siami. Walaupun mereka melakukan tindakan yang tidak tepat saat membiarkan emosi menguasai mereka dan mengusir keluarga Ibu Siami, akar segala permasalahan ini sebenarnya adalah sistem pendidikan yang mendorong orientasi [dan ketakutan] hanya pada hasil dan bukan pada proses dan pengalaman belajar. Gerakan #indonesiajujur selayaknya dijadikan momentum mendorong dan membantu reformasi pendidikan kita. Yuk! Demi pendidikan Indonesia.

> Beberapa teman menanyakan dan mengusulkan tentang pengumpulan dana oleh #indonesiajujur. Berikut keterangan kami: Kami berkoordinasi dengan teman-teman di lapangan dan juga Bapak-bapak dari Dewan Pendidikan Jatim yang menjadi tim mediasi kasus Ny. Siami. Informasi yang kami dapat sampai saat ini adalah belum diperlukan bantuan finansial yang mendesak untuk keluarga Ny. Siami. Gerakan #indonesiajujur juga tidak menginisiasi pengumpulan dana untuk penyediaan rumah pengganti / rumah aman untuk keluarga Ny. Siami. Tanpa bermaksud mengecilkan niat dan usaha baik inisiatif lain yang mengusahakan hal tersebut, kami percaya bahwa solusi terbaik adalah rekonsiliasi antara warga kampung Gadel dan Keluarga Ny. Siami sehingga Ny. Siami bisa kembali ke rumahnya sendiri yang memang haknya untuk ditempati. Inisiatif #indonesiajujur juga tidak akan berhenti pada kasus Ny. Siami yang kami harapkan cepat selesai. Kami berusaha mendorong pencarian dan pengungkapan “positive deviant” atau “penyimpangan positif” seperti Ny. Siami ini di daerah-daerah lain di Indonesia. Karena kejujuran haruslah dibela dan dihargai.

> Salah satu berita menarik lain tentang beratnya perjuangan kejujuran dalam sistem pendidikan kita yang mengutamakan hasil akhir dan bukannya proses dan pengalaman belajar. Nunung, siswa SMA Muhammadiyah 1 Kali Rejo, Lampung Tengah, adalah siswa yang tergolong cerdas dan rutin menjadi juara kelas, namun ia tidak lulus Ujian Nasional selama tiga kali berturut-turut karena nilai Matematika-nya kurang [tidak pintar Matematika bukan berarti tidak cerdas ya] DAN karena ia selalu MENOLAK menggunakan kunci jawaban yang dibagi-bagikan oleh gurunya. >> http://bit.ly/hC6O5u

Keterangan:
> hashtag #indonesiajujur diciptakan oleh Resa Handayani
> Foto oleh Faiq Nuraini diambil dari laman koran Surya > http://bit.ly/mARum0
> Update dan percakapan mengenai #indonesiajujur bisa diikuti via akun Twitter @bincangedukasi

__________________________________________________

DAFTAR POSTING #INDONESIAJUJUR

001 | Bukik [1] | #indonesiajujur: Jujur itu Mujur
002 | Inanda Tiaka | #indonesiajujur: Berkah Mengucur atau Hancur?
003 | Devi Riana Savitri | #indonesiajujur: jujur itu baik, tapi lulus dan nilai baik itu lebih penting
004 | Hamdani Pratama | #indonesiajujur: Tangis Pendidikan Indonesia
005 | Mehaga Bastanta | #indonesiajujur: Siapa Yang Bodoh?

006 | Titik Sri Wahyuningsih | #indonesiajujur: Jujur itu Mulia!
007 | Dwi Krisdianto | #indonesiajujur: Aku Tidak Jadi Mencuri di Sana
008 | Faizal Kamal | #indonesiajujur: Berani Tergusur Karena Jujur?
009 | Wietski Iskirra | #indonesiajujur: Kepada Atala [tentang contek massal]
010 | Andrie Firdaus | #indonesiajujur: Kejujuran Vs. Kebodohan

011 | Rudi Cahyo | #indonesiajujur: Curang Menjamin Bahagia?
012 | Dian Achdiani [1] | #indonesiajujur: Mati Dalam Berusaha
013 | Adrian Nanditya | #indonesiajujur: Bagaimana Caranya Kita Maju?
014 | Dina Mardiana | #indonesiajujur: Menakutkan Saat Kecurangan Dianggap Wajar
015 | Rachmadio N. Lazuardi | #indonesiajujur: Potret Pendidikan Indonesia

016 | Pandji Pragiwaksono | #indonesiajujur: Tanpanya, Indonesia Akan Hancur
017 | Bukik [2] | #indonesiajujur: Menjadi Waras, Nyanyikan Hio
018 | Fajar Ramdhana Sargani | #indonesiajujur: Mari Belajar Lewat Kisah Ibu Siami
019 | Dwi Mizanul | #indonesiajujur: Yang Jujur Pasti Menang!
020 | Rahadian P. Paramita | #indonesiajujur: Menakar Kejujuran di Kantin Sekolah

021 | Erlyza Prasty | #indonesiajujur: Ketika Maling Berteriak Maling
022 | Maria Magdalena | #indonesiajujur: Surat Dari Sesama Ibu
023 | Ade Fadli [1] | #indonesiajujur: Jujur… Ini Tidak Jujur…
024 | Risza Oki | #indonesiajujur: Jujur? Apa Itu?
025 | Rahkman Ardi | #indonesiajujur: Hanya Untuk Manusia Bahagia

026 | Widi Jatmiko | #indonesiajujur: Perlukah Kejujuran Itu Sekarang?
027 | Nayasari Aissa | #indonesiajujur: Yuk!
028 | Setyoko Andra Veda | #indonesiajujur: Tiada Pilihan Selain ke Sana
029 | Aca Tadesa | #indonesiajujur: Our Education is In Danger
030 | Lalita Fitrianti | #indonesiajujur: Arti “Pendidikan”

031 | Viona Grace | #indonesiajujur: Saat Kejujuran Hanya Ada di Buku PPKn
032 | Farida Ariani Rachmawati | #indonesiajujur: Seberapa Peduli Kita dengan Kejujuran?
033 | Yuswono Hadi | #indonesiajujur: Indonesia (harus belajar) JUJUR!
034 | Arti Ariefa | #indonesiajujur: Waspadai Arus
035 | Ninien Irnawati | #indonesiajujur: Tanamkan Nilai Mulia

036 | Iska Dinarristy | #indonesiajujur: Jujur – Asin, Pedes, Manis, Ramai Rasanya!
037 | Indiah Sari Kasmadi | #indonesiajujur: Perjuangan Keluarga Siami
038 | Sintamilia Rachmawati | #indonesiajujur: Karena Berusaha Jujur…
039 | Fikri Rasyid | #indonesiajujur: Indonesia Jujur & Washback Effect
040 | Veravinna Handoko | #indonesiajujur: Surat Untuk Ibu Guru

041 | Irene Aristia | #indonesiajujur: Demi Masa Depan Bangsa Indonesia
042 | Zaenal Abidin | #indonesiajujur: Jujur Saat Menandjak
043 | Dewi Sekar | #indonesiajujur: Tolong, Jangan Curangi Masa Depan Anak!
044 | Karina Adistiana | #indonesiajujur: Surat Untuk Wali Murid SD Gadel 2 Surabaya
045 | Radix J. Hidayat | #indonesiajujur: Ketika Jujur itu Salah

046 | dr. Henny | #indonesiajujur: Dari Mana Pohon Korupsi Berakar: Mencontek?
047 | Andiana | #indonesiajujur: Saya Tidak Mau (Sok) Pintar
048 | Satria Agung | #indonesiajujur: Jujur, Saya Curhat
049 | Alzena Masykouri | #indonesiajujur: Catatan Hati
050 | Masyhur A. Hilmy | #indonesiajujur: Salut Untuk Ibu Siami

051 | Pawith Marie | #indonesiajujur: Untuk Indonesia yang Lebih Makmur
052 | Rahayu Fatnawati | #indonesiajujur: Nyontek = Wujud Tidak Percaya Diri
053 | Ameilia Hernawati | #indonesiajujur: Sesungguhnya Anak-anak Mengerti
054 | Ilham Akhsanu Ridlo | #indonesiajujur: Redefinisi Kebaikan dalam Ungkapan Jujur
055 | Agoes Santosa | #indonesiajujur: Tidak Jujur Kok Dianggap Wajar?

056 | Fikry Fatullah | #indonesiajujur: Jangan Sampai Jadi Kufur
057 | Radif Fashlun Iradat | #indonesiajujur: Dukung Kejujuran AL untuk Masa Depan Indonesia
058 | Ria Widayati | #indonesiajujur: Indonesia Maju
059 | Deny Lestiyorini [1] | #indonesiajujur: Sebuah Legenda Ataukah Cita-cita
060 | Ima Purnamasari | #indonesiajujur: Jujur Vs. UNAS

061 | Rajius Idzalika | #indonesiajujur: Kepada Ibu Siami
062 | Muhammad Rusrailang | #indonesiajujur: Lelucon Kejujuran di Halaman Rumah Kita
063 | Yuni Khairun Nisa | #indonesiajujur: Mengapa yang Jujur yang Terusir?
064 | Ahmad Muttaqin | #indonesiajujur: Yuk… Mulai Dari Kita Sendiri
065 | Umi Kulsum [1] | #indonesiajujur: Nah, Bagaimana Lagi?

066 | Umi Kulsum [2] | #indonesiajujur: Pejuang ATM: Aku Tidak Mencontek
067 | Umi Kulsum [3] | #indonesiajujur: ATM – Babak Penyisihan
068 | Umi Kulsum [4] | #indonesiajujur: Tak Akan Hancur
069 | Yusro M. Santoso | #indonesiajujur: Mulai Dari Keluarga
070 | Elly Romdliyana | #indonesiajujur: Nilai Sebuah Kejujuran

071 | Andhika Wijaya | #indonesiajujur: Surat Untuk Ibunda Siami
072 | Firdaus Ridwan | #indonesiajujur: Mau Jujur Kok Bingung?
073 | Rizka Septania | #indonesiajujur: Bicara Tentang Ironi
074 | Intan Permata Rahmawati | #indonesiajujur: Apakah si Jujur Sudah Pergi?
075 | R.J. Sulistyo | #indonesiajujur: Turut Mendukung Kejujuran Ibu Siami

076 | Arief Mukhlas Prasetya | #indonesiajujur: Jujur, Tolong Saya…
077 | Anindita Pusparani | #indonesiajujur: Menjadi Pendidik yang Terdidik
078 | Dedy Bramantyo | #indonesiajujur: Kalau Tidak Mulai Sekarang, Terus Kapan?
079 | Ivan Pardede | #indonesiajujur: Saya Tidak Mau Indonesia Hancur
080 | Deny Lestiyorini [2] | #indonesiajujur: Tentang Sebuah Perjalanan Kejujuran

081 | Satiti Ingastrin | #indonesiajujur: Psyche Indonesia dan Kasus Mencontek Massal
082 | Tria Barmawi | #indonesiajujur: Teruntuk Ibu Siami
083 | Husein Azmi El Firdausi | #indonesiajujur: Colek Me If I’m Wrong
084 | Forthian Anang Wintarto | #indonesiajujur: Ooh… Ke-JUJUR-an
085 | Sulistyanto Soejoso [1] | #indonesiajujur: Benarkah Kita Orang Indonesia?

086 | Frenavit Putra | #indonesiajujur: Saat Kejujuran Mulai Terasing
087 | Atiek Puspa Fadhilah | #indonesiajujur: Hidup Saja di Lemari Debu
088 | Jannah Maryam Ramadhani | #indonesiajujur: Ibu Siami’s Becoming a Phenomenon Because She’s Honest
089 | Kusuma Winarni | #indonesiajujur: Aku Bersamamu Ibu Siami
090 | Alfa Kurnia | #indonesiajujur: Semua Berawal Dari Rumah

091 | Ginajar Lintang Adi | #indonesiajujur: Memiliki Ilmu itu Sebuah Pilihan
092 | Rizky Aldian | #indonesiajujur: Surat Dukungan Terbuka Untuk Ny. Siami
093 | Yuyuk Wardhana | #indonesiajujur: Kebiasaan yang Tidak Biasa
094 | Aziz Hadi | #indonesiajujur: Jujur itu Pilihan
095 | Mona Lisa | #indonesiajujur: (Mungkin) Karena Kita yang Menjaganya

096 | Sibair | #indonesiajujur: Korupsi Kecil yang Menjamur
097 | Bellanissa Brilia Zoditama | #indonesiajujur: Jujur itu Menyebar
098 | Fina Ardyarini | #indonesiajujur: Indonesia Jujur
099 | Agyl Fajar Rizki | #indonesiajujur: Pilih Jujur atau Tidak Jujur?
100 | Ade Fadli [2] | #indonesiajujur: Menjadi Tidak Jujur Sejak Lahir

101 |  A. Faisal Abdullah Hardi | #indonesiajujur: Jujur Mesti Ikhlas
102 | Dipa Utomo | #indonesiajujur: Tak Ubahnya Mempertanyakan Paradoks
103 | Robbie Arsyadani | #indonesiajujur: Pentingnya Sebuah Nilai 6
104 | Reisha Humaira | #indonesiajujur: Kebodohan kok Dilestarikan Secara Massal Gini?
105 | Rahadian Faris Muttaqin | #indonesiajujur: Siami dan Sila Kedua

106 | Ika Damayanti | #indonesiajujur: Mewariskan Kebaikan
107 | Annisa R. Wibowo | #indonesiajujur: Kejujuran dan Pendidikan
108 | Rizky Muhammad Bagawie | #indonesiajujur: Manipulatif
109 | Mochammad Fikri | #indonesiajujur: Jujur Itu Penting
110 | Sonia Jusuf | #indonesiajujur: Nyontek Kok Dipelihara

111 | Ridlwan Cholil | #indonesiajujur: Jujur kok Dilawan? Ya Hancur!
112 | Farid Gunawan | #indonesiajujur: Jujur, Harga Mutlak Sebuah Masa Depan
113 | Aulia Halimatussadiah | #indonesiajujur: The Quest of #IndonesiaJujur
114 | Rangga Septyadi | #indonesiajujur: Dilema Ujian Nasional
115 | Devi Eriana Safira | #indonesiajujur: Tip of an Iceberg

116 | Adam Putera Pratama | #indonesiajujur: Tuhan itu Ada Atau Tidak Sih?
117 | Fahd Djibran | #indonesiajujur: Ihwal Kepalsuan
118 | Alfi – Suroboyo | #indonesiajujur: Mana Bisa? Mana Mungkin?
119  | Febriani Pratiwi [1] | #indonesiajujur: A Pearl in the Mud
120 | Tri Dhamayanto  |#indonesiajujur: Ketika Jujur Menjadi Barang Langka

121 | Danny Brahmantyo | #indonesiajujur: Kita Bukan Bangsa Krupuk
122 | Diana Wardani | #indonesiajujur: Kesetiaan yang Dilecehkan
123 | Dody Widya Rusmana | #indonesiajujur: Pendidikan Moral Telah Terlupakan
124 | Octaviani Nurhasanah | #indonesiajujur: Memberikan Ilmu yang Halal dan Menerimanya dengan Halal
125 | Mira Julia [1] | #indonesiajujur: Jujurlah Anakku

126 | Bana Khoiri | #indonesiajujur: Dosa Itu Bernama Kejujuran
127 | Dian Achdiani [2] | #indonesiajujur: Aku Ingin, Aku Tak Ingin
128 | Phantom Priyandoko | #indonesiajujur: Contek Massal; Tuhan Baru Bernama UNAS
129 | Urip Widodo | #indonesiajujur: Harga Sebuah Kejujuran
130 | Ayu Windiyaningrum | #indonesiajujur: Jujur Itu Tidak Instant

131 | Vicky Laurentina | #indonesiajujur: Trik Curang Ujian
132 | Mira Julia [2] | #indonesiajujur: Ongkos Kejujuran
133 | Ananda Ladeva | #indonesiajujur: Simpati Untuk Ibu Siami
134 | Karina A.T. | #indonesiajujur: Yang Jujur Harus Mundur
135 | Siswandoyo Muhammad | #indonesiajujur: Salah Kaprah Mengukur Prestasi Anak

136 | Hariyanto | #indonesiajujur: Kita Harus Berani Mengubah
137 | Zani Yustina | #indonesiajujur: Disadarkan Oleh Anak
138 | Febriani Pratiwi [2] | #indonesiajujur: Dukungan Untuk Nunung: “Terpaksa Belajar”
139 | Baha Andes | #indonesiajujur: Jujur Hanya Slogan dan Nihil Pengamalan
140 | Kenia Huwada | #indonesiajujur: Sebarkan Virus Kejujuran

141 | Ardian Bumi | #indonesiajujur: Jujur, Kesulitan yang Nikmat
142 | Endang Pertiwi | #indonesiajujur: Cobaan Ny. Siami Menerapkan Amar Makruf Nahi Munkar
143 | Ria Wibisono | #indonesiajujur: Is Honesty Still the Best Policy?
144 | Trisna Manggala Yudha | #indonesiajujur: Hilangnya Nilai Kejujuran, Pertanda Apakah Ini?
145 | R. Indra Kusuma Sejati | #indonesiajujur: Nurani Blogger Menggugat

146 | Ratna Hartiningtyas | #indonesiajujur: Jangan Gunakan Mata Uang Lainnya
147 | M. Lutfi | #indonesiajujur: Jika 3 atau 6 tahun = 72 atau 96 jam
148 | Kris Cahyogi | #indonesiajujur: Pembunuhan Karakter
149 | Yohana Yang | #indonesiajujur: Perkara Moral Mencontek dan Dicontek
150 | G. Lini Hanafiah | #indonesiajujur: Ibu Siami: Potret Budaya “Sakit”

151 | Haitami | #indonesiajujur: Ny. Siami – Tapi Ibu…
152 | Fatima Aulia | #indonesiajujur: Surat Untuk Adik Kecilku AL
153 | Sophie Siregar | #indonesiajujur: Mana Terangmu
154 | Petronela Putri | #indonesiajujur: Betapa Mahalnya Sebuah Kejujuran
155 | Alia Nur Fitri | #indonesiajujur: Bukankah Jujur itu Murah?

156 | Kurnia Septa | #indonesiajujur: Belajar Nilai Kejujuran Dalam Sebuah Ujian
157 | Saraya Adzani | #indonesiajujur: Kecurangan Itu Berlangsung di Depan Mata Saya
158 | Sulistyanto Soejoso [2] | #indonesiajujur: Bisa Kita?!
159 | Sulistyanto Soejoso [3] | #indonesiajujur: Bukan Dongeng?
160 | Dinda Setyo Prayogo | #indonesiajujur: Tanggung Jawab Masing-masing

161 | Nurhalimah | #indonesiajujur: Jujur Awal dari Keberhasilan
162 | Fira Nurahmal Al Amin | #indonesiajujur: Kisah dari Sebuah Kejujuran
163 | …