Ketidakjujuran itu bagaikan arus, semakin banyak partisipan kecurangan, semakin deraslah arus itu.Banyak yang berusaha teguh mempertahankan kejujuran akhirnya hanyut terbawa dan sampai ke muaratujuan atau tenggelam dan mati, jikapun selamat ia harus ke pinggir. Banyaknya kecurangan yang terjadidi dunia pendidikan lebih disebabkan oleh ‘arus’ sistem, memaksa pelajar sebagai objek yang dididikmencapai hasil akhir yang di syaratkan menyandang sebuah predikat siswa yang ‘LULUS’ bagaimanapuncaranya. Tanyakan pada lubuk hati terdalam wahai orang tua, guru, pelajar, semuanya..apakah kitamenyekolahkan anak, mengajar dan belajar untuk menjadi curang? Saya yakin tidak, lalu kenapatidak sedikit orang tua dan atau guru yang merestui anak-anaknya curang? pelajar pun demikian,begitu banyak yang mengambil jalan kecurangan untuk mencapai kelulusan, sering kali alasan yangmengemuka adalah karena semua orang berlaku demikian, keumuman dijadikan pembenaran itulaharus ketidakjujuran yang kian lama menderas.

Bu Siami dan anaknya yang dipaksa memberikan contekan saat ujian adalah orang yang terpinggir oleharus kecurangan, lebih menyedihkan lagi arus itu ternyata guru, masyarakat Gadel tempat Bu Siami(tadinya) tinggal, kepala sekolah bahkan dinas pendidikan yang seharusnya berada di garda terdepanmelawan kecurangan, sebuah ironi, anomali apapun itu namanya,karena apa yang mereka lakukansangat bertentangan dengan sikap mereka yang seharusnya.

Tapi asal tahu saja, Bu Siami tak sendirian di pinggir, berbekal senjata keimanan pada yang MahaMelihat, Maha Menilai, walaupun minoritas, orang-orang yang memilih (dan atau terpaksa) untukberjalan di pinggir, bersama terus berjalan menuju muara tujuan, tentu saja dengan semak dan rimbarintangan yang lebih banyak dibanding mengikuti arus, sambil berusaha mewaspadai untuk tidakterbawa sekaligus menyadarkan yang terbawa arus untuk kembali pada kejujuran walaupun harusminggir. Bukan tak mungkin akan ada yang berguguran tapi tak mustahil yang terpinggir ini berhasilmenyurutkan arus, jika bersama, yakin dan terus gunakan senjata!

 

Arie Aisyah