Sebagai negara dengan penduduk yang (sangat) padat, tak heran rasanya apabila masyarakat Indonesia memiliki perilaku yang sangat beragam, meskipun untuk SATU TUJUAN.

Mencontoh kasus yang dialami Ibu Siami, beliau dan masyarakat Desa Tendes, Surabaya sebenarnya memiliki satu tujuan yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa. Dimata Ibu Siami mencerdaskan kehidupan bangsa dilakukannya dengan memprotes tindakan curang sejumlah murid SDN Gadel 2 Tandes. Pesannya adalah mencontek bukan hal yang patut dilestarikan sehingga kebiasaan ini harus segera dihentikan. Terpuji. Dimata masyarakat Desa Tendes, mencerdaskan kehidupan bangsa adalah dengan membuat anak-anak mereka yang bersekolah di SDN Gadel 2 Tandes mendapat nilai ujian yang bagus. Anak-anak mendapat nilai yang memuaskan, nama sekolah terangkat, orang tua bangga. Selesai persoalan. Bagaimana anak-anak mereka bisa mendapatkan nilai yang memuaskan? itu lain urusan. Menyedihkan.

Bias. Apa yang tidak bias dari negara ini? Kewajiban untuk berjihad diartikan sebagai ‘kewenangan untuk merampas keselamatan orang lain’. Pelesiran diartikan sebagai study banding atas nama kepentingan rakyat.

Kejujuran yang sifatnya sangat sederhanapun dibuat bias di negara ini. Bukan diapresiasi namun justru dijadikan anak tiri. Yang jujur harus mundur. Benarkah ini yang sekarang berlaku di Indonesia?

“All our knowledge has its origins in our perceptions.” – Leonardo da Vinci
Karina A.T
Jakarta, 16 Juni 2011.