Satu lagi nih metode belajar mengajar alternatif yang menarik untuk diterapkan. Nama kerennya: Inquiry Based Learning. Dalam IBL, proses pembelajaran dibangun atas pertanyaan-pertanyaan yang diajukan siswa. Di sini para siswa didorong untuk berkolaborasi untuk memecahkan masalah, dan bukannya sekedar menerima instruksi langsung dari gurunya. Tugas guru dalam linkungan belajar berbasis pertanyaan ini bukanlah untuk menyediakan pengetahuan, namun membantu siswa menjalani proses menemukan sendiri pengetahuan yang mereka cari. Jadi, guru berfungsi sebagai fasilitator dan bukan sumber jawaban. Nah, kalau baca definisi ini, pasti deh banyak pembela pendidikan formal yang bilang, “Lha, kalau itu sih kita sudah tahu, memang itu seharusnya tugas guru!” Pertanyaannya, sudah dijalankan belum, hayo? Coba baca lebih jauh dulu.

IBL didasari atas pemikiran John Dewey, seorang pakar pendidikan Amerika, yang mengatakan bahwa pembelajaran, perkembangan, dan pertumbuhan seorang manusia akan optimal saat mereka dikonfrontasikan dengan masalah nyata dan substantif untuk dipecahkan. Ia percaya bahwa kurikulum dan instruksi seharusnya didasarkan pada tugas dan aktivitas berbasis komunitas yang integratif dan melibatkan para pembelajar dalam tindakan-tindakan sosial pragmatis yang membawa manfaat nyata pada dunia. Wuihh, serem juga ya teorinya?

Sifat-sifat yang ingin dimunculkan dari para siswa dalam lingkungan IBL ini, menurut Neil Postman dan Charles Weingartner, adalah:

  • Percaya diri terhadap kemampuan belajarnya.
  • Senang saat berusaha memecahkan masalah.
  • Percaya pada penilaian sendiri dan tidak sekedar bergantung pada penilaian orang lain maupun lingkungan.
  • Tidak takut menjadi salah.
  • Tidak ragu dalam menjawab.
  • Fleksibilitas pandangan.
  • Menghargai fakta dan mampu membedakan antara fakta dan opini.
  • Tidak merasa perlu mendapat jawaban final untuk semua pertanyaan dan lebih merasa nyaman saat tidak mengetahui jawaban dari pertanyaan sulit daripada sekedar menerima jawaban yang terlalu disederhanakan.

Sedangkan guru dalam lingkungan IBL ini harus bersikap berbeda daripada guru di lingkungan pendidikan konvensional. Mereka selayaknya:

  • Menghindari mendikte siswa tentang apa yang perlu mereka ketahui.
  • Lebih banyak menggunakan pertanyaan saat bercakap-cakap dengan siswa, terutama pertanyaan yang bersifat mengeksplorasi dan tidak hanya memiliki satu jawaban.
  • Tidak menerima jawaban singkat dan terlalu sederhana terhadap pertanyaan. (Jadi sebaiknya tidak memberi pertanyaan yang terlalu sederhana pula.)
  • Mendorong siswa saling berinteraksi langsung satu sama lain dan menghindari menghakimi apa-apa yang dikatakan siswa saat saling berinteraksi.
  • Tidak menyimpulkan diskusi siswa.
  • Tidak merencanakan sebelumnya arah pasti dari pengajaran, namun membiarkannya berjalan sesuai respon dan minat para siswa.
  • Memastikan pengajaran yang diberikan menantang para siswa menyelesaikan masalah.
  • Menilai keberhasilan pengajaran dari perubahan perilaku siswa dalam mengajukan pertanyaan-pertanyaan dan seberapa jauh siswa memenuhi karakteristik pembelajar optimal yang disebutkan di paragraf sebelumnya.

Bila dijalankan dengan benar, Inquiry Based Learning akan membawa manfaat-manfaat antara lain:

  • IBL adalah pendekatan yang baik dalam proses belajar mengajar untuk memberi siswa kesempatan belajar dengan lebih bebas namun juga tetap mengenalkan dan mendidikkan keahlian-keahlian dasar.
  • IBL bersifat fleksibel dan cocok untuk bermacam-macam proyek mulai dari yang sangat terbatas sampai yang ekstensif, mulai dari yang berorientasi riset sampai yang kreatif, di dalam laboratorium ataupun di internet.
  • Dalam banyak kasus, siswa yang bermasalah di sekolah formal karena tidak merespon terhadap proses menyerap maupun mengingat kembali pelajaran malah bisa bersinar dalam lingkungan kelas IBL, membangun rasa percaya diri, minat, dan harga diri mereka.
  • Ini yang seru: IBL memungkinkan pembelajaran multidisiplin secara langsung! Kalau di kelas konvensional, siswa belajar matematika sebentar, lalu belajar geografi, lalu belajar seni, dst. Kalau di kelas IBL, karena berbasis pertanyaan dan proyek, maka siswa bisa dan bahkan perlu belajar dari beberapa subjek sekaligus.
  • Kelas IBL memungkinkan siswa mendapat pembelajaran secara fisik, emosi, dan kognitif. Kalau kelas konvensional? Bohong lah kalau kita bilang kelas konvensional tidak cenderung berat ke arah kognitif saja.
  • IBL cocok untuk mengajarkan pembelajaran kolaboratif. Siswa diajarkan saling berinteraksi dan berkolaborasi memecahkan masalah. Coba perhatikan, di dunia nyata kita lebih butuh berkolaborasi atau berkompetisi? Kenapa ya di kelas konvensional siswa dilatih untuk berkompetisi, mengerjakan hampir semuanya sendiri-sendiri, bersaing dalam nilai dengan teman-temannya, serta tidak boleh berinteraksi kalau di dalam kelas?
  • IBL cocok untuk segala usia. Walaupun siswa yang lebih dewasa bisa mengajukan pertanyaan dan proyek yang lebih canggih dan berbobot, namun semangat mengajukan pertanyaan dan aktivitas mengejar jawabannya bisa juga dididikkan pada siswa-siswa yang lebih muda.
  • Pendekatan IBL menyadari bahwa tiap anak telah membawa pengalaman dan pengetahuannya sendiri ke dalam kelas dan justru membawa manfaat bagi pembelajaran kolektif. Kalau di kelas konvensional, semua siswa mendapat pengajaran yang standar dan telah ditentukan oleh kurikulum, tidak peduli latar belakang siswa.

Keren banget kan? Padahal ini hanya satu metode belajar mengajar alternatif. Masih banyak yang seperti ini yang kita abaikan, seperti Problem Based Learning, Project Based Learning, dll, dan kita hanya berpikir bahwa metode belajar mengajar itu ya hanya yang seperti di kelas-kelas konvensional itu. Kalau kita ingin siswa-siswa kita berpikir di luar kotak, kita sendiri dulu yang harus berpikir di luar kotak.***