20120519-123249.jpg

Masih melanjutkan tulisan saya sebelumnya tentang konsep insentif & disinsentif dalam berbagai kebijakan dan inisiatif dunia pendidikan kita. Beberapa waktu lalu saya mendapat kesempatan berbagi tentang inisiatif Bincang Edukasi di acara ISAMMU 2 yang diadakan oleh Majalah Intisari. Namun bukan tentang sesi berbagi saya yang ingin saya bicarakan, melainkan tentang sesi seorang pembicara lain.

Pembicara itu adalah Bapak Anies Baswedan dan (lagi-lagi) beliau diminta bercerita tentang inisiatif Indonesia Mengajar yang memang luar biasa. Saya sudah beberapa kali melihat beliau bicara tentang Indonesia Mengajar, namun dalam sesi kali ini saya mendapat tiga contoh kreativitas beliau mengutak-atik ”insentif” untuk berbagai program agar mendapat ”buy-in” dari banyak pihak.

Cerita pertama adalah tentang inisiasi Indonesia Mengajar. Masalah yang coba dipecahkan adalah distribusi guru berkualitas. Perlu diketahui bahwa rasio guru:murid di Indonesia adalah 1:20. Sebenarnya cukup. Yang jadi masalah adalah distribusinya tidak merata serta kualitas masih kurang. Pak Anies lalu mempertanyakan mengapa lulusan yang berkualitas dari perguruan tinggi jarang sekali yang ingin menjadi guru? Belum ada penelitian pasti, namun mungkin karena profesi guru tidak menjanjikan secara finansial untuk jangka panjang.

Nah, kalau begitu bagaimana bila mereka tidak perlu mengajar selamanya, namun cukup 1-2 tahun saja? Mereka akan dikirim ke daerah terpencil yang membutuhkan guru selama satu tahun secara bergantian, membantu memecahkan masalah kurangnya guru berkualitas di daerah-daerah itu, serta mendapatkan pengalaman tambahan yang akan sangat bagus untuk ditampilkan di CV mereka nantinya. Apakah ini bisa menjadi insentif yang menarik bagi lulusan berkualitas dari perguruan tinggi? Faktanya, ada 1.000+ pendaftar untuk batch pertama Indonesia Mengajar yang akan mengirimkan 40+ orang saja! Sedangkan pada batch ke-3, ada 8.000+ pendaftar yang memperebutkan 70+ posisi!

Cerita kedua masih tentang Indonesia Mengajar. Salah satu dari biaya terbesar dari program ini adalah biaya transportasi untuk menerbangkan para Pengajar Muda menuju daerah tujuan. Meminta dukungan dari salah satu perusahaan penerbangan menjadi pilihan yang logis. Maka menghadaplah Pak Anies kepada Garuda Indonesia. Namun, alih-alih meminta Garuda menyumbangkan tiket begitu saja bagi para Pengajar Muda, cara yang beliau usulkan benar-benar kreatif.

Beliau meminta Garuda membuka satu akun frequent flyer khusus bagi Indonesia Mengajar di mana para pelanggan Garuda bisa menyumbangkan poin frequent flyer-nya pada akun tersebut untuk membantu mengirim para Pengajar Muda ke tempat tujuan. Brilyan! Dengan cara ini Pengajar Muda bisa dikirim ke tempat tujuan secara gratis, banyak orang juga mendapat kepuasan karena turut berbuat sosial dengan membantu menyumbangkan poin frequent flyer mereka, dan Garuda pun mendapat citra positif sebagai pendukung inisiatif Indonesia Mengajar tanpa harus mengeluarkan biaya baru malah mengurangi piutang mereka! Benar-benar utak-atik insentif yang luar biasa.

Cerita terakhir Pak Anies bukan tentang Indonesia Mengajar, namun dari perguruan tinggi. Saya tidak jelas dari mana, kemungkinan Paramadina. Beliau mencari dukungan dari berbagai perusahaan dan organisasi untuk memberikan beasiswa. Program yang beliau ajukan bukanlah ”membiayai orang”, tapi ”membeli kursi”. Ini bukan hanya masalah perbedaan istilah, tapi perbedaan cara pandang terhadap masalah yang berujung pada cara penyelesaian yang kreatif.

Beliau memberi ilustrasi bahwa biaya yang dibutuhkan untuk seorang mahasiswa berkuliah sampai lulus selama empat tahun adalah 100 juta rupiah. Bukannya meminta perusahaan membantu 25 juta per tahun secara terus menerus, yang diajukan adalah perusahaan memberi bantuan 100 juta sejak awal periode. Uang 100 juta itu akan dimanfaatkan sambil diinvestasikan. Pada akhir tahun ke-4, pemanfaatan sambil investasi ini akan membawa return sebesar 30%. Bila hal ini dilakukan secara rutin selama lima tahun saja, maka satu kursi ini menjadi gratis untuk selamanya. Inilah konsep dana abadi. Perusahaan lebih tertarik dengan konsep seperti ini. Hanya ada satu penekanan tambahan dari Pak Anies. Beliau mengatakan pada para pemimpin perusahaan yang ingin mendukung bahwa jangan berpikir ini sebagai suatu investasi, namun pandanglah sebagai ”pay back” alias membayar hutang budi kepada dunia pendidikan yang telah membuat mereka duduk di posisi mereka saat ini.

Ketiga kisah yang disampaikan Pak Anies Baswedan saat acara ISAMMU 2 ini semakin meyakinkan saya tentang pentingnya memikirkan insentif dan disinsentif dari setiap program yang ingin kita jalankan. Bagaimana caranya membuat banyak pihak tidak hanya mendapat manfaat, namun juga secara alami merasa senang ikut terlibat. Serta memikirkan apa saja perilaku yang akan secara alami terdorong atau tertahan dengan program yang kita ajukan. Semoga para penguasa pendidikan kita juga memahami konsep Behavioral Economics seperti yang diterapkan oleh Pak Anies Baswedan dalam berbagai inisiatifnya. Omong-omong, adakah yang punya contoh lain penerapan prinsip insentif yang kreatif dalam berbagai program dan inisiatif di dunia pendidikan kita?***

[image by Crs Indika, released to public domain licensing, taken from Wikipedia]