Beberapa hari setelah saya berbagi panggung dan belajar dari Pak Anies Baswedan di acara ISAMMU 2,saya mengikuti diskusi pendidikan di Al Hidayah International Green School di Sumedang. Acara ini diadakan untuk mendiskusikan solusi bagi permasalahan rendahnya kualitas guru di Indonesia. Acara dihadiri berbagai elemen pendidikan, mulai dari pemilik sekolah alternatif, guru, psikolog, dewan pendidikan dan juga saya yang pada dasarnya adalah pengusaha online marketing. 🙂

Diskusi mengarah pada penyusunan standar kompetensi guru serta pelatihan guru. Cukup lama peserta diskusi mencoba membicarakan kompetensi apa saja yang perlu dimiliki oleh guru ideal. Dalam pembicaraan ini saya mendapatkan informasi bahwa sebenarnya sudah banyak orang atau lembaga yang membuat standar kompetensi guru di dunia, mulai dari Bobby de Porter sampai Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan kita pun sudah punya. Saya pun berpikir, bila memang sudah ada banyak panduan standar kompetensi guru yang bisa kita adopsi, apa memang yang sudah ada belum efektif sehingga kita perlu mendefinisikan dari awal? Ataukah ada masalah lain sehingga berbagai usaha meningkatkan kualitas guru kurang berjalan efektif?

Teringat kepada keterkaitan antara prinsip insentif dan efektivitas program-program pendidikan, saya menjadi penasaran apakah mungkin berbagai program peningkatan kualitas guru tidak berjalan efektif karena sistem insentif/disinsentif tidaklah tepat bagi para guru yang menjadi sasarannya? Pertanyaan lanjutan lalu muncul, sebenarnya apakah insentif/disinsentif yang efektif dan mengena bagi guru-guru kita? Atau lebih mendasar, apa saja faktor-faktor yang menggerakkan guru-guru kita untuk mau meningkatkan kualitas dan profesionalitasnya, dan juga sebaliknya, faktor-faktor apa yang menahan sehingga mereka enggan berusaha memperbaiki diri? Singkatnya, apakah ”drive” dan ”anti-drive” guru-guru kita?

Saya pun bertanya pada para peserta diskusi, apakah sudah ada penelitian semacam ini? Selama ini kita sering mengira-ngira faktor apa saja yang menjadi penggerak bagi guru, namun apakah sudah ada yang membuktikan dengan riset ilmiah? Jawaban yang saya terima, sepanjang pengetahuan para peserta diskusi belum ada riset semacam ini di Indonesia. (Beberapa hari kemudian saya juga mendapat jawaban yang sama dari Mbak Dhitta Puti, Direktur Litbang Ikatan Guru Indonesia.)

Akhirnya saya mengajukan permintaan kepada beberapa peserta diskusi yang juga akademisi di perguruan tinggi untuk mendorong diadakannya riset tentang faktor-faktor apa saja yang menjadi ”drive”, terutama ”external drive”, yang bisa kita sediakan bagi guru-guru agar mereka mau meningkatkan kualitas dirinya. Istilah untuk ”drive” ini ada banyak variannya. Ekonom menyebutnya ”insentif”, psikolog menggunakan istilah ”reinforcement”, ada juga yang menyebutnya ”katalisator” atau bahkan ”bahasa yang dimengerti oleh guru”. Apa pun istilahnya, riset terhadapnya perlu diadakan untuk membantu para inisiator program peningkatan kualitas guru menyusun ”reward” yang memang benar-benar tepat dan akan disambut oleh para guru. Saya juga merasa bahwa kompetensi guru ideal akan cukup seragam di seluruh dunia, namun untuk urusan drive akan lebih terpengaruh budaya sehingga akan berbeda-beda di tiap negara (bahkan mungkin propinsi dan kabupaten/kota). Artinya, untuk standar kompetensi guru, masih mungkin kita mengadopsi dari contoh di negara lain. Namun untuk urusan drive rasanya kita perlu adakan riset tersendiri bagi guru di Indonesia.

Beberapa pertanyaan yang saya harap dapat ditemukan jawabnya melalui penelitian tersebut:
>> Apakah faktor-faktor yang menjadi penggerak bagi para guru di Indonesia untuk mau meningkatan kualitas dan profesionalitas dirinya?
>> Apakah faktor-faktor yang menjadi penahan bagi guru untuk mau meningkatkan kualitas dirinya?
>> Apakah faktor-faktor yang menjadi pendorong, dan sebaliknya, penahan, bagi lulusan top perguruan tinggi untuk menjadi guru?
>> Apakah variabel yang mempengaruhi masing-masing faktor-faktor pendorong dan penahan ini? Daerah asal? Usia? Pengalaman mengajar? Latar belakang keluarga? Tingkat ekonomi? Latar belakang pendidikan? Gender?
>> Apakah faktor-faktor ini berubah-ubah atau cenderung tetap?
>> … dan masih banyak pertanyaan lain

Riset semacam ini mungkin memerlukan kolaborasi dari keilmuan Pendidikan, Psikologi, Ekonomi dan Antropologi. Yang menggembirakan, dalam diskusi di Sumedang itu, permintaan saya langsung disambut oleh Ibu Rostiana, seorang psikolog yang juga mantan Dekan Fakultas Psikologi Universitas Tarumanegara. Beliau mengatakan akan mendorong diadakannya riset tersebut dan meminta bantuan kepada semua peserta diskusi untuk ikut menyebarkan kuisioner untuk riset itu nantinya. Tentu saja peserta diskusi antusias untuk membantu.

Semoga riset ini dapat benar-benar terwujud dan memberi manfaat bagi efektivitas program-program peningkatan kualitas guru yang diselenggarakan berbagai pihak. Tapi sementara itu, kira-kira faktor apa saja ya yang mungkin menjadi alasan pendorong atau penahan bagi guru-guru kita mau meningkatkan kualitas dan profesionalitas dirinya?***