Keberlanjutan Pengembangan Ilmu Pengetahuan

April 19, 2015 . by . in Artikel Bined . 0 Comments

Keberlanjutan Pengembangan Ilmu Pengetahuan

Disampaikan pada Seminar Nasional Pengembangan Sains Dasar Antar Disiplin, Peringatan Seperempat Abad AIPI, Surabaya, 20 April 2015.

Pengembangan ilmu pengetahuan di masa mendatang sama pentingnya dengan upaya pengembangannya di masa sekarang. Terjaminnya peningkatan penguasaan dan pengembangan ilmu pengetahuan pada generasi mendatang tentu harus dirancang strateginya hari ini. Ini juga yang akan menjamin kuatnya ekonomi bangsa di hari esok.

Namun, kecenderungan keadaan penguasaan ilmu pengetahuan oleh anak-anak kita sejak lebih dari 14 tahun lalu sampai sekarang belum tampak peningkatan berarti. Walau tentunya belum tentu benar mutlak dan pasti mengandung galat, berdasar tes terstandardisasi internasional, kenyataannya anak-anak kita berada di peringkat hampir terbawah. Misalnya keadaan ini dapat disimak dari tes internasional semacam Programme for International Student Assessment (PISA) atau Trends in International Mathematics and Science Study (TIMSS) sejak tahun 2000.

Untuk terjaminnya keberlanjutan pengembangan ilmu pengetahuan di Indonesia pada masa mendatang membutuhkan solusi yang harus dipikirkan hari ini. Walaupun mungkin terlambat, kebijakan dan peta rencana jangka panjang (30 tahun) bagi generasi mendatang perlu disiapkan sekarang.

Citra

Pengertian bahwa kekuatan ekonomi negara di masa sekarang dan mendatang bergantung pada tingkat kepandaian para pemudi-pemudanya terkait penguasaan ilmu pengetahuan umumnya sudah disadari. Artinya, masyarakat kebanyakan telah meyakini pengertian bahwa ilmu pengetahuan berguna serta dibutuhkan dalam pembangunan negara. Hal ini juga sudah jamak ditekankan banyak pemimpin dan politisi dalam berbagai pernyataannya.

Malah, karena penekanan pada sisi kebergunaan ini sering berlebihan dan tak utuh, masyarakat luas kerap berpandangan bahwa tujuan belajar ilmu pengetahuan untuk kebergunaannya semata. Kenyataannya sekarang, anak belajar ilmu pengetahuan terbatas karena terpaksa. Alasan murid berilmu-pengetahuan menjadi sekedar karena akan diujikan. Akibatnya, kesungguhan belajar atau penguasaan ilmu pengetahuan direduksi menjadi untuk sekedar alasan karir dan ekonomi.

Lebih merisaukan, pemahaman para politisi pada teori belajar dan pengalaman berilmu-pengetahuan mungkin kurang cukup. Akibatnya, beberapa pernyataan pemimpin dan politisi terkait pengembangan ilmu pengetahuan ini kerap kontra produktif. Pernyataannya malah kerap menempatkan murid dan anak sebagai pekerja atau hambanya, bukan sebagai subjek pengembang ilmu pengetahuan. Pernyataan di media kerap tak bijak dan tak berpihak pada pengembangan kepribadian anak, seperti “Pilih mana ada 100 orang stres atau 100 juta anak bodoh?” Nuansanya macho, keras dan jauh dari suasana keibuan yang sejatinya mengayomi, mengajak, merangkul, dan melibatkan. Akibatnya, tertanam citra di anak bahwa belajar ilmu pengetahuan merupakan keharusan dan beban yang dipikul, menyusahkan, jauh dari citra kenikmatan.

Kecuali itu, seperti pernyataan di atas, kebijakan terkait pendidikan dan ilmu pengetahuan kerap hanya berdasar mitos yang belum tentu benar. Hampir tak pernah melibatkan teori belajar. Ke depan, perlu penyadaran bahwa kepandaian utuh anak akan efektif tercapai hanya jika menyala gairah belajar dari dorongan diri, bukan pemaksaan dari luar. Anak-anak sejatinya memandang belajar ilmu pengetahuan sebagai berkat, bukan beban. Mendengar kata sains dan matematika sejatinya membuat mata anak berbinar-binar, bukan helaan nafas panjang.

Keberhasilan ekonomi berbasis ilmu pengetahuan tak cukup disokong pekerja terampil semata, tetapi harus digerakkan oleh anak-anak yang percaya diri, gemar bernalar, dan “menggilai” ilmu pengetahuan, sampai kasmaran berilmu-pengetahuan.

Keindahan dan Kebermainan

Pandangan masyarakat terhadap ilmu pengetahuan dari sudut kebergunaannya semata perlu dilengkapkan. Sisi kebergunaan, keindahan, dan kebermainan dari ilmu pengetahuan perlu disemaikan pada anak secara berimbang.

Dalam sejarahnya, justru mulanya ilmu pengetahuan dipelajari karena keindahannya. Jauh sebelum ilmu pengetahuan berguna, dimanfaatkan, dan punya nilai komersial, manusia mempelajarinya untuk memuaskan hasrat ingin tahu dan merasakan keindahannya. Bahkan dalam peradaban lebih dari 2000 tahun silam sampai era Pencerahan, di Timur maupun di Barat, keindahan seni dan ilmu pengetahuan menyatu. Yang mengembangkan ilmu pengetahuan juga mengembangkan kesenian. Terlebih lagi, upaya seseorang mengembangkan ilmu pengetahuan menyatu dengan pengembangan spiritualitas diri. Pengembangan jiwa dan karakter pelajar di masa itu tidak dipertentangkan dengan pengembangan ilmu pengetahuan apalagi dengan peningkatan kecakapan kognitifnya seperti bernalar.

Citra ilmu pengetahuan lain yang juga penting disemaikan ialah unsur kebermainannya. Hampir semua ilmuwan sejujurnya sedikit banyak kegiatan berilmu-pengetahuannya dipicu oleh hasrat bermain. Bahkan matematika yang kerap dianggap disiplin paling kaku dan dingin, sejatinya merupakan lelucon (Bellos, 2014). Citra ilmu pengetahuan yang sudah sempurna, formal, kantoran, dan elite, harus dilengkapi dengan citra kembarannya sebagai kegiatan yang masih berkembang, lucu, konyol, dan manusiawi.

Bermain dalam berilmu-pengetahuan merupakan sikap yang baik. Melalui bermain, manusia sungguh-sungguh melakukan kegiatannya berdasar dorongan intrinsik sejati, berintegritas penuh, dan tanpa pamrih. Justru rasanya ketiadaan unsur kebermainan ini yang menanduskan tradisi berilmu-pengetahuan hari ini.

Untuk itu, tepat saatnya dalam usianya yang ke-25 Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia bersama Kemdikbud, Menristekdikti, LIPI, dan lembaga non-pemerintah membincangkan rangkaian kebijakan serta kampanye yang bersahabat dengan anak. Langkah ini untuk menjamin keberlanjutan pengembangan ilmu pengetahuan di beberapa generasi mendatang. ***

Tags: , 1860 Views

Iwan Pranoto

Iwan Pranoto adalah Atase Pendidikan dan Kebudayaan, Kedutaan Besar Republik Indonesia di New Delhi. Sebelumnya, ia adalah guru besar Matematika di Institut Teknologi Bandung. Opini yang ditulis di situs ini adalah opini pribadi dan tidak mewakili lembaga.

Post a Comment

Your email is never published nor shared. Required fields are marked *

*
*