Versi lebih pendek dari tulisan ini dimuat di Kompas, 12 Agustus 2013

Belajar adalah inti terdalam dari gagasan pendidikan. Tanpa mampu belajar, pendidikan adalah sebuah kata yang hampa, tidak penting sama sekali. Pendidikan tak pernah pasti membuat seseorang pandai, tetapi belajar pasti. Pendidikan atau tepatnya persekolahan formal pada praktiknya kerap terlepas dari belajar, atau malah menghambatnya.

BELAJAR

Banyak perusahaan besar era sekarang justru memasukkan isu belajar sebagai bagian pengembangan profesi bagi para stafnya. Tentu, mengapa tidak? Bahkan saat memanfaatkan waktu senggang, banyak manusia modern justru memilih belajar. Entah belajar menanam anggrek, belajar melukis kaligrafi, belajar bahasa asing, dsb.

Dalam opini yang ditulis oleh Edward J. Ray, Presiden Oregon State University, dikutipkan sebuah survei yang mengungkap bahwa lebih dari 90% CEO yang diinterview mengharapkan pekerjanya mampu belajar hal baru secara berkelanjutan (Huffington Post College, 24 Juli 2013). Ini artinya, kemampuan mempelajari pengetahuan dan kecakapan baru bukan saja dibutuhkan siswa di sekolah dasar tetapi juga pekerja profesional di industri. Terlebih lagi, sejumlah pekerjaan baru seperti Analis Media baru ada di dekade ini. Tidak ada sebelumnya. Jadi, jika mau menekuni karir itu, harus belajar. Intinya, di era sekarang, jika mau berkarir, harus berhasrat belajar. Sebaliknya, jika ada suatu pekerjaan yang tak mengharuskan pekerjanya untuk belajar, mungkin dalam 7 tahun mendatang pekerjaan tersebut sudah dikerjakan oleh mesin.

Kecuali itu, dengan teknologi yang semakin cepat dan luas penerapannya dalam kehidupan, kecakapan mendasar manusia sejak pra sejarah itu semakin terasa dibutuhkannya. Manusia adalah mamalia yang perlu waktu belajar sangat lama dalam hidupnya. Bahkan, untuk bergerak seperti sosok dewasanya, yakni berjalan, berlari, dan melompat, manusia perlu belajar sekitar lima tahun. Sebagai pembanding, bayi kuda atau sapi yang baru lahir langsung dapat berlari di rerumputan. Kebanyakan manusia modern di kota besar saat sekarang butuh waktu sekitar 18 tahun (lulus sekolah menengah) untuk belajar hidup mandiri. Belajar dan manusia memang dua unsur yang tak terpisahkan.

Robert Hutchins dalam The Learning Society (Hutchins, 1969) dan beranggapan bahwa masyarakat belajar merupakan motor pembangunan sebuah negara. Organisation of Economic Cooperation Development (OECD) mengadopsi gagasan masyarakat belajar ini dalam model budaya pendidikan dunianya atau World Education Culture tersebut. Ini alasannya mengapa mutu pendidikan, khususnya literasi membaca, matematika dan sains, dikaji secara mendalam dan mendunia lewat Programme for International Student Assessment (PISA) sejak tahun 2000an. Khususnya, agar ekonomi negara kuat perlu didasari pendidikan bermutu. Kesatuan dari kecakapan belajar, hasrat belajar, dan fasilitas belajar yang diistilahkan budaya belajar ini harus digarap  masyarakat peduli dan Pemerintah mendatang.

Masyarakat yang berhasrat belajar juga akan menjamin inovasi dan pengembangan yang dibutuhkan pembangunan. Tidak itu saja, masyarakat belajar juga akan merawat keselarasan sosial. Keselarasan sosial ini adalah dampak langsung mutu pendidikan. Pendidikan yang memperhatikan pengembangan kecerdasan sosial akan menyediakan peluang bagi siswanya untuk belajar mendebat, menyangkal, dan menyepakati. Kecakapan dan pengalaman ini akan memampukan masyarakat dalam menyelesaikan masalah kompleks seperti konflik sosial. Oleh karenanya, budaya belajar harus menjadi bagian penting dari keseharian masyarakat.

KEMENTERIAN BUDAYA BELAJAR

Di saat sekarang, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan sepertinya sebuah kementerian yang menggarap dua hal terpisah: pendidikan dan kebudayaan. Oleh karenanya perlu upaya perumusan ulang yang lebih sesuai zaman dan sekaligus menggagas kedua konsep itu menjadi satu keterpaduan yang erat saling terjalin.

Kebudayaan di era sekarang perlu dimaknai bukan sekedar tarian, seni patung, atau barang-barang kuno. Namun, ini adalah segala pemikiran, upaya, dan tindakan manusia yang mungkin terkait atau tak terkait dengan kehidupan manusia banyak. Oleh karenanya, sebuah hal yang kokoh nalar bagi Pemerintah mendatang jika merumuskan ulang kementerian pendidikan, misalnya, menjadi Kementerian Budaya Belajar. Tugas utamanya adalah menjamin penyediaan pengalaman belajar bermutu bagi setiap warga, sehingga hasrat belajar terawat di masyarakat.

Kementerian baru ini tidak saja menyatukan pendidikan dan kebudayaan, tetapi juga menegaskan peran paling mendasarnya dalam negara, yakni merekacipta kesejahteraan di masa depan. Langkahnya dengan menebarkan benih kasmaran belajar ke seluruh warga, bukan saja siswa sekolah formal. Dengan mengupayakan pengalamanan belajar bermutu bagi setiap warga di manapun, setiap warga dapat mengembangkan dirinya serta sanggup berperan efektif dalam era ini.

Sudah barang tentu, menebar serta mengembangkan layanan belajar ke seluruh masyarakat di semua penjuru kota, desa, pulau, dan sudut Nusantara luas ini tidak mudah. Terlebih lagi, jelas sulit jika menggunakan cara pandang dan peralatan dua abad lalu. Apalagi ketersediaan dan penyebaran  guru bermutu juga terbatas. Namun teknologi sudah mengubah segalanya.

TEKNOLOGI

Suka atau tak suka, pemanfaatan teknologi dalam dunia belajar-mengajar sudah ada di depan mata. Bukan lusa atau esok, tetapi detik ini, teknologi sudah berperan. Dua ilustrasi berikut meyakinkan kenyataan ini.

Ilustrasi pertama dari pengurus Dewan Pendidikan Jawa Timur, Bapak Sulistyanto Soejoso. Beliau mengisahkan bahwa di dekat sebuah masjid di Surabaya, di bulan Ramadhan tahun ini, ada yang menjual kerak telor. Ini tentu penganan khas Betawi. Ternyata sang penjual yang dari Jombang, Jatim, belajar membuat kerak telor melalui Internet. Ini bukti gamblang bahwa belajar berbasis Internet sudah berfungsi. Masyarakat kelas bawah juga sangat terbantu oleh Internet guna belajar serta mengembangkan dan menyejaterahkan dirinya.

Ilustrasi kedua dari eksperimen One Laptop per Child oleh Nicholas Negroponte, staf Massachusetts Institute of Technology (MIT Technology Review, 29 Oktober 2012). Bersama timnya, beliau membagikan sejumlah sabak digital ke anak-anak di dua desa sangat terpencil di Ethiopia.

Saat memberikan sabak digital yang dilengkapi sumber daya listrik bertenaga surya, mereka tidak menjelaskan cara penggunaannya, kecuali hanya cara mengisi ulang dayanya. Tim peneliti ini membagikan tiap sabak digital tersebut dalam keadaan masih terbungkus rapat dalam kardus pengemasnya. Perlu dicatat, penduduk di desa ini benar-benar buta huruf, bahkan tak sedikit yang belum pernah melihat bahan cetakan seperti buku, koran, atau kardus pengemas sepanjang hidupnya.

Tiap minggu tim merekam apa yang telah dikerjakan satu minggu itu dengan tiap sabak. Hasil temuannya sangat mengejutkan para peneliti. Ternyata, setelah hanya lima hari pertama, anak-anak ini telah mengoperasikan 47 aplikasi dalam sabak tersebut setiap harinya. Beberapa anak terus asyik belajar menyusun aksara menjadi kata dan beberapa yang lain belajar mengeja lewat nyanyian. Satu anak bahkan sanggup meretas sistem operasi untuk mengubah pengaturan sabak tersebut agar kameranya berfungsi, karena sebelumnya kameranya dimatikan tim. Jadi, kita harus yakin dengan kemampuan anak-anak di pedalaman untuk beradaptasi serta memanfaatkan teknologi. Anak-anak kita di pelosok sudah sangat siap belajar dengan peralatan modern. Kendalanya mungkin hanyalah pikiran kebanyakan kita yang meremehkan kemampuan anak-anak ini dalam belajar dan juga fasilitasnya.

AWAN BELAJAR

Kementerian Budaya Belajar bersama masyarakat harus menebarkan kasmaran belajar.  Menebarnya dapat dengan menginisiasi Awan Belajar yang merupakan fasilitas maya tempat pengetahuan, piranti lunak, dan bersosialisasi. Ini adalah masa depan teknologi belajar-mengajar. Jika permasalahan ketersediaan dan penyebaran guru bermutu di negara kita seperti masalah tak berjawab saat ini, awan belajar dapat membantu. Setiap pelajar, bahkan orang tua di pelosok mana pun dapat mengalami pembelajaran bermutu di tempatnya secara cuma-cuma melalui awan belajar ini. Mungkin saja para petani di pegunungan terpencil dapat belajar teknik baru menanam sayuran atau nelayan di pulau terluar dapat belajar teknik mengawetkan ikan. Kasmaran belajar pada semua warga harus diwujudkan.

Pelayanan pendidikan bermutu bagi setiap warga dapat diwujudkan. Ditambah penyediaan sumber listrik tenaga surya atau alternatif lain yang teknologinya semakin terjangkau saat ini, pemerintah mendatang diharapkan memfasilitasi upaya menumbuh-kembangkan kasmaran belajar di pelosok Nusantara yang belum terjamah.

Sampai kapan harus menunggu tersedianya kurikulum dan buku bermutu? Sampai kapan harus menunggu tersebarnya guru kelas dunia di lereng pegunungan terpencil? Sampai kapan harus menunggu adanya fasilitas laboratorium sekolah di pedalaman? Sampai kapan harus menunggu usainya transaksi politik dalam kebijakan pendidikan? Anak bangsa ini tak punya kemewahan untuk menunggu. Masyarakat dan lembaga pendidikan yang berdaya harus bergerak untuk meyakinkan agar setiap anak segera menjalani pengalaman belajar bermutu yang mendukung pengembangan kecakapan belajar dan berpikir. ***