Versi lebih singkat dimuat di Koran Tempo, 13 Februari 2015

Kurikulum 2013 sudah dimasukkan “bengkel” di Puskurbuk-Balitbang, untuk diperbaiki. Hasil perbaikannya diharapkan bermanfaat sekaligus memudahkan guru dalam merancang pengalaman belajar, sehingga tiap pelajar mampu mengembangkan dirinya dalam kehidupannya secara optimum.

Sebuah rancangbangun kurikulum atau kerangka kurikulum perlu memuat tiga komponen utama, yakni daftar sasaran yang harus dikembangkan murid, cara mengevaluasi pencapaian sasaran tersebut, dan cara membelajarkan di kelas. Komponen pertama menjawab pertanyaan, “Murid kita mau ke mana?” Sedang yang kedua menjawab pertanyaan, “Bagaimana kita tahu bahwa murid kita telah mencapai sasaran?” Dan, yang ketiga menjawab pertanyaan, “Bagaimana cara kita mengelola komunitas pelajar agar tiap murid mengembangkan kecakapannya untuk mencapai sasaran secara optimum?”

Seperti melukis atau mengarang lagu, mencipta kurikulum merupakan sebuah seni. Pengetahuan teori kurikulum bertumpuk bukan jaminan untuk mampu mencipta kurikulum baik. Seorang guru besar musik, belum tentu sukses mengarang musik indah.

Sasaran

Komponen sasaran (termasuk kompetensi) ditulis dalam bentuk frasa. Sebagai contoh, berikut sasaran ini diambil dari Pendidikan Jasmani (Bulutangkis) pada kurikulum Rochester Academy Charter School, AS: “Menggunakan hasil belajar secara mandiri untuk berpartisipasi dan membuat skor dalam pertandingan bulutangkis ganda.” Kemudian, murid perlu Pengetahuan seperti apa arti serve, smash, drop shot, dsb. Ini unsur pengetahuan. Lalu, murid perlu mengembangkan Keterampilan dalam melakukan tindakan tertentu, seperti praktik melakukan serve, smash, dsb.

Selain unsur Pengetahuan dan Keterampilan itu, ada Pemahaman yang perlu dikembangkan murid. Pemahaman ini mirip pesan moral. Unsur sikap yang mungkin diangankan pencetus Kurikulum 2013 sebenarnya masuk di unsur pemahaman ini. Jika pengetahuan itu dari luar masuk ke dalam diri, maka pemahaman justru dari dalam diri diekspresikan ke luar. Kegagalan membedakan pengetahuan dengan pemahaman ini sesungguhnya salah satu sumber penyebab absurditas rumusan KI/KD di Kurikulum 2013.

Dalam ilustrasi pelajaran “Bulutangkis Ganda” di atas, unsur pemahaman atau moralnya antara lain adalah “Keterampilan dan strategi kerjasama merupakan unsur esensial dalam olahraga berpemain ganda/tim.” Pesan moral atau kebijaksanaan ini bertumbuh dalam diri pelajar melalui refleksi dan renungan bersama. Kebijaksanaan seperti juga moral merupakan hasil pengolahan akal dan rasa. Harus diingat bahwa kebijaksanaan tak akan efektif jika dipaksakan, dijejalkan, didongengkan secara naif pada murid. Bagi Generasi Digital, khususnya, cara ini tak cocok. Ketaktepatan ini yang jadi sumber lain penyebab absurditas KI/KD Kurikulum 2013.

Penulis kurikulum PD Bulutangkis di atas harus memang gemar bulutangkis sekaligus piawai menulis, sehingga frasa yang ditulis mengungkapkan apa yang diangankan dan sekaligus mudah dipahami guru (dan orangtua murid.) Khususnya, kata kerja yang dipilih dalam frasa tersebut harus masuk akal, spesifik, dan terukur.

Pada bidang Matematika, misalnya, organisasi Mathematical Association of America sudah menyusun daftar puluhan kata kerja yang dikaitkan dengan tiap jenis berpikir: dari mengingat, merangkum, menerapkan, mengevaluasi, sampai mencipta. Sejatinya, pembuat kurikulum perlu memilih kata kerja dengan cermat.

Karena melalui kurikulum, Negara mempercayakan pada pendidik guna merekacipta Masa Depan, tentu pencipta kurikulum mendalami perkiraan kehidupan, lapangan kerja, dan tantangan dunia esok. Dari situ, dia memperkirakan serta mendata pengetahuan, keterampilan, dan sikap apa yang akan dibutuhkan di kehidupan mendatang.

Khususnya pertanyaan yang sampai sekarang kita belum pernah sepakati adalah profil warga Indonesia seperti apa yang diangankan Sang Republik. Yang ada baru profil lulusan pendidikan hasil kompromi politik populis. Sulit dikatakan bahwa rumusan profil ini berdasar nalar. Dari profil warga Indonesia itu, perekacipta kurikulum harus mendata pemahaman, pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang harus dikembangkan peserta pendidikan. Kita sungguh butuh kepemimpinan yang menjuarakan nalar, untuk memungkinkan perumusan profil ini.

Evaluasi dan Desain Pengajaran

Penulisan sasaran yang masuk akal, terukur, dan spesifik akan memudahkan guru mengevaluasi dan menilai kemajuan muridnya dengan akurat. Jadi, jika akhir semester lalu banyak guru yang kesulitan menilai murid dengan Kurikulum 2013, belum tentu karena guru tak cakap menilai. Besar kemungkinan justru dikarenakan sasaran belajar di dokumen kurikulum sampai akibatnya di buku ajar tidak terumus baik.

Yang dimaksud kurikulum sebagai program pembelajaran lengkap pada masa kini juga memuat cara mengevaluasi proses pembelajaran. Beberapa contoh soal atau tugas yang memungkinkan murid menunjukkan pencapaian belajarnya biasanya disertakan. Hasil pencapaian ini terutama berguna sebagai umpanbalik ke murid dan guru, sehingga proses belajar-mengajar dapat ditingkatkan. Artinya, sebelum kurikulum diterapkan, cara mengevaluasi sudah harus tertulis dengan lengkap. Contoh tugas, PR, kuis, sampai ulangan sudah harus direncanakan sebelum awal tahun ajaran. Bahkan, cara menilai tugas, kuis, tes, dan ulangan sudah harus dibuat sebelum kurikulum diterapkan.

Sesudah tata cara evaluasi terumus, kurikulum harus dilengkapi dengan berbagai pilihan strategi pembelajaran. Di sini termasuk buku pustaka dan sumber ajar (klip video, rekaman suara, gambar, permainan interaktif maya, dsb) yang dapat dipilih guru untuk mengajar. Di sini pula dituliskan berbagai pilihan strategi pembelajaran seperti individu, kolaboratif, di luar kelas, penemuan terbimbing, atau yang lain. Di jaman sekarang, ada baiknya strategi pendekatan pembelajaran ini dilengkapi dengan cuplikan video, agar lebih jelas.

Kurikulum di era sekarang lengkap dan canggih, bukan lagi sekedar daftar silabus. Ini kecuali agar membantu guru mengajar tepat sasaran, juga antara lain karena paradigma keunikan karakteristik tiap murid telah diterima. Ke depan, regulasi dan kebijakan pendidikan nasional harus mendorong inovasi penciptaan kurikulum di tingkat satuan pendidikan atau daerah.

Sesungguhnya, beberapa sekolah di Tanah Air, melalui tim riset dan pengembang kurikulumnya di tingkat sekolah sudah menciptakan kurikulum yang baik. Bahkan beberapa lebih bermanfaat bagi guru serta meyakinkan strategi pengembangan sikapnya ketimbang Kurikulum 2013.  ***