Pertanyaan yang seringkali diajukan oleh orang awam tentang homeschooling atau home education adalah : bagaimana dengan sosialisasi anak?

Jawaban yang sering saya lontarkan adalah : salah satunya melalui komunitas homeschooling.

Ya, itulah fungsi utama komunitas homeschooling. Homeschooling sebagai suatu metode belajar yang tidak melibatkan banyak anak dalam proses belajarnya, memang seringkali terkait dalam urusan sosialisasi. Kita bisa saja menjawab bahwa tidak dibutuhkan sosialisasi dengan teman yang seabrek, atau sosialisasi cukup dengan sedikit orang tapi berlangsung dengan efektif. Semua jawaban tersebut memang betul, namun tidak mencukupi bagi beberapa orang yang memiliki anak dengan sifat-sifat yang sangat sosial.  Disatu sisi orang tua ingin menerapkan homeschooling, si anak pun suka dengan belajar ala homeschooling, namun disisi lain anak seringkali ingin belajar bersama banyak teman. Dengan situasi yang demikian, komunitas homeschoolinglah yang dibutuhkan.

Bagaimana sebenarnya bentuk dari komunitas homeschooling? Sebagai “komunitas” tentu saja keseluruhan aktivitasnya melibatkan anggotanya, tidak hanya diatur oleh satu orang. Sebagai komunitas yang berlandaskan pada kermandirian keluarga dalam mengatur pendidikannya, komunitas homeschooling juga tetap memberikan kebebasan bagi keluarga homeschool untuk memilih sendiri segala dasar pendidikannya mencakup kurikulum, materi belajar, dan cara belajar. Dan sebagai suatu kesatuan masyarakat, ada proses saling bantu, saling berbagi pengalaman, dan berbagi informasi.

Aktivitas komunitas homeschooling juga diadakan sesuai kesepakatan anggotanya, dan seharusnya melibatkan orang tua, tidak hanya anak-anak. Walaupun memang ada suatu aktivitas yang tampaknya hanya melibatkan anak, namun orang tua juga tetap terlibat, tak bisa lepas tangan begitu saja, karena homeschooling adalah urusan keluarga dengan sistem pendidikan, bukan urusan anak saja.

Dengan model komunitas ini, keluarga homeschooling bisa memaksimalkan sosialisasi anak, secara online maupun pertemuan langsung bersama teman sekomunitasnya. Dari komunitas homeschooling ini pula anak menyadari bahwa dirinya tidak sendiri dalam menempuh homeschooling. Anak bisa saling belajar dengan temannya, saling mendukung, anak pun bisa menjalin persahabatan dengan teman homeschooling sekomunitas, karena umumnya komunitas homeschooling terbentuk berdasarkan kedekatan secara lokasi tempat tinggal.

Sebagai suatu komunitas, pembentukannya adalah berdasarkan kesepakatan bersama dari beberapa keluarga homeschooling. Lalu diikuti dengan berbagai pertemuan rutin sesuai kesepakatan bersama.

Dengan bentuk yang demikian, komunitas homeschooling/home education adalah suatu hasil dari interaksi beberapa keluarga homeschooling. Dalam interaksi ini ada pertukaran ilmu dan opini, inilah yang akan menghidupkan keberadaan komunitas dan menjamin keyakinan diri masing-masing anggota komunitas untuk terus mandiri dalam memenuhi kebutuhan pendidikan yang spesifik tersebut. Sama dengan berbagai komunitas lain, hidup-matinya komunitas homeschooling ditentukan oleh anggotanya, bukan oleh satu orang saja.

Apakah komunitas homeschooling anda seperti yang saya sebutkan di atas? Silakan menilainya sendiri. ***