Setiap tahun, mereka mengecat ulang dinding kelas dan menggambarinya dengan gambar yang mereka suka.” ujar seorang guru dari SMA Negeri 1 Kota Bangun. “Saya ajak siswa di kelas saya untuk membuat prakarya, dan meletakkannya di dinding kelas. Tapi itu hanya di kelas saya saja.” ujar seorang guru dari SMP Negeri 1 Muara Badak. “Karya-karya siswa itu sengaja kita letakkan di dalam ruang kelas. Biar lebih ceria.” ujar seorang guru SD Negeri 028 Tenggarong.

SDN 028 Tenggarong

Tiga cerita yang berbeda, yang tak pernah terhubungkan satu dengan lainnya. Para guru mencoba menemukan sebuah cara untuk memicu kenyamanan belajar mengajar di dalam ruang kelas. Hingga mengajak para siswa untuk berpartisipasi dalam mengelola ruang kelasnya. Hasilnya, tak ada sekat, dan kreativitas itu bermula dari ruang kelas.

SMPN 1 Muara Badak

Dua tahun lalu, saat mengajak membuka cara berpikir bagi mahasiswa D4 Akuntansi Politeknik Negeri Samarinda, diakhir pertemuan, seorang mahasiswi berujar “Bolehkah kami mendandani ruangan kelas kami ?“. Dan seorang dosen lalu menjawab, “Silahkan, asal kalian komunikasikan dengan pengguna lain ruang kelas ini.“. Sebuah lompatan dihasilkan dari membelahkan kebuntuan berkomunikasi. Ada keinginan, ada keterbukaan. Mempertemukannya hanya membutuhkan sebuah keberanian. Dan ketika ruang kreasi itu dibuka di dalam ruang kelas, hasilnya menjadi tak biasa. Gairah energi itu akan terus berputar, hingga hanya terhenti bila sang pengajar mulai berhenti sebagai pembelajar.

Coretan di dinding kelas SMA Negeri 1 Kota Bangun

Namun, berkreasi akan lebih ditemukan, ketika mulai belajar di luar ruang kelas. Membongkar sekat dinding yang menghalangi pandangan kita pada lapangan yang luas, hamparan pasir putih yang membawa pekat, hingga alunan senandung burung yang sibuk bermain di pagi hari. Belajar pada alam, tak perlu jauh dari ruang kelas. Menemukan berbagai pengetahuan baru, yang tak mudah ditemukan dalam buku-buku bacaan.

“Sudah sering lihat pesut ?” | “Iya, tapi dulu.” | “Memangnya sekarang susah melihatnya ?” | “Iya” | “Tau kenapa ?” | “Hmm… iya ya.. kenapa ya ?”

Daya kritis pembelajar akan terus bergerak, ketika menemukan hal yang baru. Berbincang dengan pengurus OSIS sebuah SMA, menemukan pancaran baru. Mereka antusias. Hanya saja masih ada sekat yang membatasnya. Akses internet yang tanpa batas, yang dimiliki oleh sekolah, hanya bisa digunakan saat mata pelajaran Teknologi Informasi. Mereka tak boleh membawa laptop. “Takut mereka membuka situs porno” ujar seorang guru SMA tersebut. Padahal pada sekolah lain, yang sangat berjauhan, terlihat para siswa sibuk bermain game, tanpa akses internet. Siswa diperbolehkan menggunakan laptop di sekolah, namun tanpa internet.

SMA Negeri 1 Kota Bangun

Generasi negeri tak perlu disibukkan dengan Ujian Nasional. Para pembelajar hanya memperlukan ruang kreasi dan menggelorakan semangat muda mereka. Sekolah merupakan ruang besar yang mampu mendorong kelahiran generasi kritis-kreatif. Dan negeri ini sangat membutuhkan generasi muda luar biasa dan berani ini. Hingga sistem pendidikan nasional kembali membodohkan anak negeri, sudah waktunya untuk meloncat keluar dari kotak.

*telah dipublikasikan juga di http://timpakul.web.id/kreatifitas-itu-bermula-dari-ruang-kelas.html