Ok, posting kali ini kelihatannya ringan dan main-main. But I’m all serious! Sebenarnya posting ini saya buat untuk memenuhi permintaan teman saya yang jagoan NLP, Teddy P. Yuliawan. Ketika saya pamer blog post saya di Facebook, ia mengajukan request agar saya membahas gaya mengajar Master Oogway dan Master Shifu. Permintaan yang aneh. Butuh Googling sebentar sebelum saya ingat bahwa dua nama ini adalah tokoh fiktif dalam film animasi Kung Fu Panda yang kebetulan saya juga suka! Kung Fu Panda bercerita tentang Po, seekor panda gendut yang bercita-cita menjadi jago kung fu. Pada awalnya semua orang (kecuali Master Oogway), bahkan termasuk Po sendiri, tidak percaya bahwa ia bisa menjadi ahli kung fu hebat karena penampilan fisiknya dan juga sikapnya yang urakan. Akhirnya toh ia bahkan bisa menjadi lebih hebat dari gurunya (tugas utama seorang guru kung fu: menjadikan muridnya lebih hebat dari dirinya!). Setelah saya melihat ulang film ini, ternyata memang ada pelajaran penting yang bisa diambil oleh para guru, dan ini sering dilupakan. Saya akan bahas satu pelajaran yang bisa didapat dari tiap guru. Apa sajakah kekuatan para Master ini? Read on…

Master Oogway

Master Oogway adalah kura-kura raksasa dan master senior di Jade Palace. Ia sangat bijak dan memiliki keahlian fisik luar biasa. Ia lah yang memilih Po menjadi Dragon Warrior yang terpilih untuk menerima rahasia kung fu dari Dragon Scroll. Banyak orang mengira ia sebenarnya hendak memilih Master Tigress yang memang ahli kung fu, namun secara tidak sengaja memilih Po yang belum bisa kung fu sama sekali. Namun ia tetap pada pendiriannya dan meminta Master Shi Fu untuk melatih dan, yang lebih penting lagi, percaya sepenuhnya pada potensi yang dimiliki Po.

 

Dari Master Oogway kita belajar dua hal. Yang pertama adalah mengidentifikasi bakat, kekuatan dan kelemahan siswa. Master Oogway benar-benar luar biasa untuk hal ini. Ia bisa mengetahui kelemahan Tai Lung (musuh utama di film Kung Fu Panda) adalah pada sifat ego dan tidak sabaran, sehingga ia menolak memberikan Dragon Scroll padanya sampai ia bisa menjadi lebih dewasa. Ia juga bisa mengetahui potensi kung fu dalam diri Po yang masih tersembunyi. Dalam film Secrets of the Furious Five, dalam menghadapi Master Monkey muda yang nakal, alih-alih langsung menghukumnya, ia justru menyadari bahwa ada trauma psikologis yang dialami Monkey yang membuat ia bersikap demikian.

Pada konsep StrengthsFinder dari Gallup yang pernah saya bahas di posting sebelumnya, kemampuan yang dimiliki Master Oogway ini dinamakan Individualization. Seseorang dengan kemampuan Individualization sangat tertarik kepada kualitas unik yang dimiliki setiap orang lain. Orang seperti ini memiliki bakat untuk melihat perbedaan antara orang yang satu dengan yang lainnya, mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan setiap orang, dan menemukan cara bagaimana setiap orang yang berbeda ini bisa bekerja bersama secara produktif.

Kekuatan Individualization akan sangat bermanfaat bagi para guru untuk mengidentifikasi bakat dan minat serta kekuatan dan kelemahan setiap siswanya. Ingat cerita Sir Ken Robinson tentang Gillian Lynne? Saat guru-guru di sekolahnya melihatnya sebagai anak yang bermasalah karena tidak pernah berkonsentrasi di kelas, dokternya justru bisa menemukan bakat dan minat Gillian Lynne dalam dunia tari. Dokter ini, seperti juga Master Oogway, memiliki kekuatan Individualization dan menyelamatkan Gillian Lynne dari dianggap murid bermasalah sepanjang sisa hidupnya.

Master Shifu

Master Shifu adalah murid dari Master Oogway. Ia adalah guru yang sangat sangat keras. Ia tidak memiliki kekuatan Individualization seperti Master Oogway. Awalnya ia tidak percaya bahwa Po memiliki potensi menjadi master kung fu dan ia justru melatih Po secara keras agar Po tidak tahan dan keluar dari perguruan. Namun setelah disadarkan Master Oogway, ia pun mencoba percaya pada Po dan menghargainya. (Ralph Waldo Emerson mengatakan bahwa rahasia sukses pendidikan adalah saat guru bisa menghargai muridnya.) Masalahnya muncul saat ia harus melatih Po secara cepat untuk menghadapi Tai Lung. Secara tidak sengaja ia melihat bahwa Po dapat melakukan hal-hal fisik yang luar biasa saat termotivasi oleh makanan. Maka ia pun mengubah metode pengajarannya dengan menggunakan makanan sebagai alat dan media melatih kung fu. Po pun berhasil mengalahkan Tai Lung.

 

Dari paparan di atas sudah jelas bukan apa pelajaran yang bisa diambil dari Master Shifu? Ia fleksibel dalam menerapkan metode pengajaran alias tidak kaku menggunakan kurikulum dan metode yang sama untuk semua siswa. Metode pengajarannya disesuaikan dengan minat dan bakat siswa. Ia kreatif menggunakan ketertarikan siswa terhadap suatu hal untuk dikaitkan dan dijadikan konteks dalam proses pengajaran yang dilakukan. Dalam mengajari lima muridnya yang lain, yaitu Master Tigress, Master Mantis, Master Crane, Master Monkey, dan Master Viper, ia pun tidak memberikan pelajaran yang sama persis. Setiap muridnya diajarkan untuk tetap menjaga keunikan dirinya, mengerti kekuatan alaminya, dan mengeksploitasi keunikan dan kekuatan itu sebaik-baiknya. Setiap murid itu akhirnya memiliki gaya kung fu yang berbeda-beda. Mereka tidak diwajibkan mendapat nilai baik di semua pelajaran ataupun diwajibkan mengikuti standardized test seperti Ujian Nasional.

Dalam konsep StrengthsFinder, kemampuan yang dimiliki Master Shifu ini disebut Maximizer. Seseorang dengan kemampuan ini berfokus pada kekuatan setiap orang dan menstimulasinya menjadi kesempurnaan pribadi orang tersebut dan juga kelompoknya. Seorang Mazimizer berusaha mengubah sesuatu yang sudah kuat menjadi luar biasa. Ia tidak memaksa orang lain menjadi baik pada kelemahannya, dan ia pun fleksibel dan adaptif dalam membantu orang lain mencapai potensi optimalnya. Kemampuan seperti ini rasanya diperlukan oleh setiap guru.

Master Po

Sebagai bonus buat teman saya yang mengusulkan topik ini, saya akan tambahkan juga pelajaran dari Master Po, tapi di posting part ke-2 nanti. Yup, di sequel film Kung Fu Panda yang berjudul Secrets of the Furious Five, Po sendiri telah menjadi guru kung fu yang ditugasi melatih anak-anak kecil di kelas “Introduction to Kung Fu”. Di situ, ia menggunakan teknik yang telah banyak dilupakan oleh orang tua dan guru saat ini, dan sedang berusaha dibangkitkan kembali dalam dunia pendidikan oleh para pakar. Teknik apakah itu? Baca posting berikutnya yah.