Melanjutkan posting saya sebelumnya tentang pelajaran yang bisa kita ambil dari cara mengajar para Master di film animasi Kung Fu Panda, kali ini kita melihat cara mengajar Po, bintang utama film ini. Po adalah seekor panda gendut yang bercita-cita menjadi ahli kung fu. Tidak ada yang melihat bakatnya, kecuali Master Oogway yang kemudian meminta Master Shi Fu melatih Po (dengan metode kreatif) untuk menjadi Master kung fu. Dalam sequel film Kung Fu Panda yang berjudul Secrets of the Furious Five, Po sendiri telah menjadi Master Kung Fu dan diberi tugas oleh Master Shi Fu untuk melatih anak-anak kecil dalam kelas “Introduction to Kung Fu”. Di sini ia menggunakan teknik yang mulai pudar digunakan dalam pendidikan anak di kelas maupun di rumah. Teknik apakah itu?

Alih-alih mengajari anak-anak ini dasar-dasar gerakan kung fu, Po justru memilih untuk… mendongeng. Di hari pertamanya sebagai guru, jangankan mengajari satu saja gerakan kung fu, ia bahkan tidak mengajari anak-anak ini teori kung fu apa pun, apalagi latihan soal. Po mengumpulkan anak-anak itu dan menceritakan kepada mereka kisah masa lalu teman-teman seperguruannya, yaitu kisah Master Mantis, Master Viper, Master Crane, Master Tigress, dan Master Monkey (kelompok yang dikenal dengan nama The Furious Five) saat mereka menemukan pembelajaran-pembelajaran luar biasa dengan berlatih kung fu. Dari kisah masa lalu lima jagoan ini, murid-murid Po mendapat pembelajaran tentang lima nilai penting dalam kung fu, yaitu Kesabaran, Keberanian, Rasa Percaya Diri, Disiplin, serta Belas Kasih. Di akhir film diceritakan bahwa Master Shi Fu datang dan menguji beberapa murid Po tentang makna dari kung fu, mendapat jawaban yang memuaskan, dan merasa terkesan dengan cara Po mendidik murid-muridnya.

Dongeng pertama kali dikenal oleh anak-anak dalam konteks berhubungan dengan orang lain, saat mereka memperoleh kemampuan menceritakan tentang diri mereka sendiri dan pengalamannya dalam narasi dan kata-kata. Seperti orang dewasa, anak-anak menggunakan narasi untuk terus menerus membentuk hidup mereka, dengan membayangkan apa yang bisa atau seharusnya terjadi, dan mengevaluasi apa yang telah terjadi (Stern, 1985). Dongeng atau kisah memiliki fungsi sosial dan evaluatif yang saling berhubungan (Dyson & Genishi, 1994). Itu teorinya (berat juga ya). Prakteknya saat ini, dengan segala manfaatnya, mendongeng dan bercerita justru sudah mulai ditinggalkan di kelas. Saya tidak tahu apakah mendongen juga sudah mulai ditinggalkan di rumah-rumah keluarga Indonesia. Semoga tidak.

sumber foto: www.sacredstorytelling.org

Ingin tahu manfaat apa saja yang bisa didapat murid di kelas dari aktivitas mendengarkan kisah atau secara aktif ikut mendongeng? Banyak! Yang standar adalah belajar verbalisasi, percaya diri, serta pengembangan karakter diri dengan memahami pesan-pesan moral dari sebuah kisah. Namun sebenarnya jauh lebih dalam dari itu. Berikut ini daftar manfaat stortytelling di sekolah yang saya dapat dari situs The Crick Crack Club, sebuah organisasi pendukung storytelling di Inggris:

Hiburan. Jelas lah. Kita selalu terhibur saat mendengarkan dongeng, cerita, atau kisah. Apapun latar belakang usia, sosial, agama, budaya, maupun ras kita, dongeng selalu menarik. Bila digunakan dengan tepat dan melibatkan para siswa, kelas dapat menjadi lebih hidup dan tidak membosankan. Lagipula menurut John Medina di bukunya, Brain Rules, kita tidak memperhatikan hal-hal yang membosankan. Mau diperhatikan oleh siswa? Banyak menggunakan cerita yang menarik adalah salah satu caranya.

Rasa familier. Dongeng dan kisah membuat siswa dapat menangkap dan mencerna konsep, ide, dan topik baru tanpa harus berusaha beradaptasi dengan cara mengajar guru yang belum tentu familier dengan siswa. Sedangkan saat berhadapan dengan dongeng, siswa yang sudah terbiasa dengan pengalaman naratif sejak kecil akan lebih merasa familier sehingga lebih mudah pula mencerda dan mencari konteks dari topik pelajaran yang kompleks. Apalagi kalau mereka diminta bercerita kembali pemahaman mereka akan ide tersebut.

Mendengar dan berkonsentrasi. Kalau tidak ingin ketinggalan cerita, pendengar harus berkonsentrasi mendengarkan kisah yang disampaikan, mengikuti urutan naratifnya serta mencari hubungan sebab akibat. Latihan yang bermanfaat bukan?
Fokus dan investigasi. Kisah bisa digunakan untuk melatih fokus dan kemampuan investigasi. Maksudnya bagaimana nih? Pertama, cerita biasanya memiliki fokus tertentu, entah itu kejadian, tempat, benda atau tokoh. Pendengar akan langsung berkonsentrasi pada fokus ini. Setelah itu, bersama pendongeng, mereka akan menginvestigasi lebih jauh elemen-elemen pendukung di sekitar fokus tersebut. Kemampuan berfokus dan menginvestigasi ini juga sangat bermanfaat bagi siswa.
Visualisasi dan persepsi. Saat mendengarkan kisah, pendengar biasanya memberi respon imajinatif, bagaikan memiliki layar bioskop pribadi di pikirannya. Bayangan visual ini akan lebih diingat oleh para siswa daripada sekedar fakta-fakta belaka. Apalagi kalau bayangan visual ini diciptakan sendiri oleh imajinasi para pendengar. Lebih jauh, bila si pendongeng memiliki kemampuan storytelling yang bagus, ia akan melibatkan kelima indera para pendengar. Dan, masih menurut John Medina di Brain Rules, semakin banyak indera yang dilibatkan saat kita menerima sebuah informasi akan semakin mudah kita mengingatnya di masa mendatang.

sumber foto: www.homeaway.com

Berempati, berimajinasi, memaknai, dan memberi tanggapan. Saat mendengarkan kisah, kita akan memberi respon secara langsung dan bersamaan dengan narasi yang kita dengar. Respon ini dibumbui oleh imajinasi, rasa empati terhadap tokoh dan situasi, pemaknaan kita akan cerita, serta visualisasi dari hubungan-hubungan yang ada di dalamnya. Persepsi setiap individu terhadap elemen-elemen dalam sebuah cerita akan berbeda-berbeda. Menceritakan kembali kisah yang kita dapat akan melibatkan perasaan, pikiran dan ide-ide yang kita miliki. Ini pun adalah latihan yang sangat bernilai untuk para siswa.

Menjelajah, menjelaskan, dan mengajukan pertanyaan. Ini terjadi saat berlangsungnya interaksi antara pendongeng dan pendengar; baik saat pendongeng menceritakan kisahnya maupun saat pendengar menceritakan kembali narasi yang dipahaminya.

Mengurutkan, menganalisa, merefleksikan, membandingkan, dan membuat penilaian. Proses-proses ini adalah pengembangan lebih jauh dari proses sebelumnya. Pendengar belajar menganalisa kisah yang didengar lebih dalam, misalnya menganalisa motivasi tokoh dalam cerita, mengapa dan bagaimana para tokoh berinteraksi, serta mencari hubungan sebab akibat antar elemen-elemen dalam cerita termasuk dengan cara membandingkannya dengan kisah-kisah lain yang pernah mereka dengar.

Antisipasi dan pemecahan masalah. Dongeng dan kisah dipenuhi dengan hal-hal yang menyenangkan. Kita pun selalu berusaha menebak-nebak ahir cerita saat mendengarkan dongeng dan kisah. Masalah-masalah yang dialami tokoh-tokoh dalam dongeng bisa dijadikan bahan diskusi untuk pemecahan masalah. Improvisasi dari pendongeng pun dapat memancing pendengarnya berpikir secara kreatif.

Membangun makna, mengasimilasi dan mengaplikasi pemahaman. Saat proses mendongeng terjadi proses usaha saling memahami antara pendongeng dan pendengar dan secara bersama-sama membangun makna dari cerita yang disampaikan. Lebih jauh lagi, pendengar berusaha membangun makna dengan cara mengaitkannya dengan situasi, konteks, dan pengalaman pribadi yang lebih familier baginya.

Menerima, memahami, dan mengelola perubahan. Dalam dongeng selalu terjadi perubahan yang dialami oleh tokoh-tokohnya. Pendengar akan memahami bahwa perubahan terjadi pada semua orang, tanpa kecuali, serta belajar dari para tokoh tentang cara yang tepat (atau yang tidak tepat) dalam menghadapi dan mengelola perubahan.

Dengan semua hidden curriculum ini, tentu rugi kalau kita tinggalkan aktivitas mendongeng atau berkisah dalam proses belajar mengajar. Selama ini mungkin penggunaan cerita hanya terbatas pada beberapa pelajaran seperti sejarah dan agama. Namun dengan melihat semua manfaat di atas, siswa harusnya bisa mendapat manfaat besar pula bila para guru bisa memanfaatkan dongeng dan cerita dalam pelajaran-pelajaran seperti matematika, fisika, dan lainnya. Kisah inspiratif tentang kerja keras para ilmuwan terkenal, misalnya. Alat bantu untuk ini pun sudah banyak. Buku-buku atau video berisi kisah menarik untuk disampaikan di kelas bisa menjadi referensi bagi guru dan orang tua.

Sebegitu besarnya manfaat dongeng, kisah dan cerita, sampai-sampai saat ini para pakar manajemen dan bisnis pun menganjurkan penggunaannya di dalam perusahaan untuk bahan pembelajaran dan peningkatan motivasi karyawan (yang jelas-jelas orang dewasa semua). Masa kemudian dunia pendidikan malah meninggalkannya? Semoga tidak. ***