Menteri Anies Baswedan menyatakan kurikulum 2013 itu setengah matang dan dipaksakan untuk dilaksanakan di seluruh Indonesia (JPNN, 18/11). Kesimpulan itu disampaikan Menteri Anies setelah melakukan rapat evaluasi yang melibatkan pihak luar kementrian. 

Mengapa kurikulum 2013 yang setengah matang disahkan untuk dilaksanakan? Bila setengah matang, apa yang perlu dilakukan dengan kurikulum 2013? Diubah atau diganti?

Kurikulum Seolah-olah
Seolah-olah saintifik, tapi ternyata mengabaikan budaya ilmiah. Sebuah kesimpulan dari hasil analisis persoalan yang dilakukan Majelis Guru Besar ITB (4/13). Kesimpulan tersebut tepat bila kita memeriksa kompetensi inti yang tercantum dalam kurikulum 2013. Sikap spritual dimasukkan dalam semua pelajaran dengan menggunakan indikator yang reduktif seperti menerima anugerah Tuhan yang Maha Esa berupa Bahasa Indonesia.

contoh kd kurikulum 2013 1 contoh kd kurikulum 2013 2

Seolah-olah pendekatan interdisipliner, tapi ternyata multidisipliner yang dipaksakan. Persoalan kedua yang disampaikan Majelis Guru Besar ITB ini ketika melihat dua disiplin diintegrasikan jadi satu tema tanpa basis ontologi dan epistemologi yang mengikatnya.

Seolah-olah lebih ringan, tapi ternyata lebih membebani. Kesannya guru punya lebih banyak waktu karena ada tambahan jam belajar dan pengurangan kompetensi yang harus dicapai. Tapi perubahan proses belajar dan penilaian yang sangat rumit membuat guru justru semakin terbebani. Penilaian pada kurikulum 2013 bahkan lebih rumit dari penilaian kinerja yang digunakan pada dunia kerja atau industri.

Seolah-olah lebih menyenangkan, tapi ternyata lebih menyusahkan. Kurikulum 2013 dikesankan akan mengubah proses belajar menjadi lebih menyenangkan. Tapi kenyataannya, anak lebih lama belajar karena penambahan jam belajar, juga karena tugas yang lebih banyak. Praktis kurikulum 2013 menyita waktu anak untuk bermain dan melakukan aktivitas sosial lainnya. Proses belajar semakin terasa nuansa kejar target yang ditetapkan dalam kurikulum.

Seolah-olah berpusat pada siswa, tapi ternyata berpusat pada pemerintah pusat. Berpusat pada siswa berarti siswa yang menjadi nahkoda pembelajaran. Siswa belajar sesuai potensi dan kebutuhan siswa. Tapi tidak ada penjelasan tentang mekanisme mengenali potensi dan kebutuhan siswa. Proses dan materi belajar pun diatur demikian rinci dalam buku kurikulum 2013.

Keempat “seolah-olah” itu menunjukkan kurikulum 2013 mengandung kontradiksi dalam dirinya sendiri. Daftar seolah-olah akan bertambah banyak bila melihat implementasi kurikulum 2013. Semisal, buku kurikulum 2013 seolah gratis ternyata memotong dana BOS dan itupun sebagian sekolah belum menerima bukunya.

Apa akibat kurikulum seolah-olah? Pertama, kualitas yang seolah-olah membuat banyak pihak kurang kritis terhadap kurikulum 2013. Mereka membayangkan keindahan yang sebenarnya hanya semu, ibarat fatamorgana di tengah padang pasir. Tidak heran kurikulum 2013 meski sejak awal mendapat banyak protes dari masyarakat tetap ditetapkan dan dilaksanakan.

Dampak lain, lahir perdebatan dan kontroversi di tengah masyarakat. Banyak orang terpesona melihat seolah-olah indahnya kurikulum 2013. Banyak yang hanya mendengar perkataan para pejabat, atau bahkan hanya melihat iklan kurikulum 2013 yang bertebaran di media massa. Banyak dari mereka tidak membaca langsung dokumennya sehingga tidak mengetahui kontradiksi yang terkandung dalam kurikulum 2013.

Agenda Pembenahan Kurikulum
Bagaimana membenahi kurikulum pendidikan kita? Pertama, segera canangkan moratorium kewajiban menggunakan kurikulum 2013. Sekolah dibebaskan untuk menggunakan kurikulum yang sesuai dengan kapasitasnya. Moratorium ini solusi sementara bagi problem kurikulum, sekaligus mengembalikan kewenangan pembelajaran pada satuan pendidikan. Beri dukungan yang berimbang pada sekolah yang memilih kurikulum KTSP maupun kurikulum 2013.

Kedua, lakukan riset untuk dasar penyempurnaan sistem kurikulum pendidikan Indonesia. Tujuan riset adalah memetakan kualitas pendidikan di Indonesia. Riset global yang dilakukan sebuah konsultan internasional menyebutkan kurikulum pendidikan harus sesuai dengan kemampuan satuan pendidikan. Tidak ada kurikulum tunggal yang bisa efektif untuk semua kondisi.

Riset juga diperlukan untuk melakukan identifikasi kebutuhan belajar dari sudut pandang komunitas atau organisasi sosial, industri dan orang tua. Jadikan kebutuhan masyarakat sebagai salah satu capaian kurikulum. Libatkan masyarakat sejak awal perencanaan untuk menumbuhkan kontribusi terhadap kemajuan pendidikan.

Ketiga, menyusun cetak biru pendidikan berdasarkan hasil riset dan melibatkan masyarakat. Cetak biru ini yang akan memandu arah pendidikan dalam jangka panjang sekaligus sebagai dasar untuk menyusun kurikulum baru.

Keempat, menyusun sistem kurikulum yang memberdayakan masyarakat untuk menyusun kurikulum lokal yang menjawab kebutuhan setempat. Sistem kurikulum yang demikian akan menghasilkan proses belajar yang relevan bagi anak maupun masyarakat, tidak mengasingkan lulusan pendidikan dengan daerahnya sendiri. Penyusunannya dapat belajar dari praktek baik sistem sertifikasi profesi yang telah dijalankan Badan Nasional Sertifikasi Profesi.

Dengan langkah demikian, Menteri Anies bisa memastikan pendidikan sebagai urusan strategis. Pendidikan menjadi relevan dengan kebutuhan beragam kebutuhan masyarakat. Lulusan pendidikan adalah mereka yang mandiri dengan memberi manfaat pada masyarakatnya.

Bukik Setiawan
Anggota Koalisi Reformasi Pendidikan
Ketua Indonesia Bercerita

Tertarik mengkaji Kurikulum 2013? Unduh di Kurikulum 2013