Dimuat di Kompas Siang, 7 November 2013

Konvensi JK

Kemdikbud ngotot bertahan terus dengan kebijakan Ujian Nasionalnya dengan mencoba meraih lejitimasi baru melalui Konvensi UN baru-baru ini. Kemdikbud bahkan menghadirkan politisi senior Jusuf Kalla untuk meyakinkan masyarakat bahwa UN perlu dipertahanakan dengan perbaikan teknis di sana sini. Ini aneh karena sebelumnya Mendikbud berwacana bahwa urusan UN adalah ikhwal akademik, tapi konvensi UN tersebut justru mencari justifikasi politis. Ini juga janggal karena Kemdikbud justru menyibukkan diri dengan persoalan teknis seperti pencetakan soal UN, tidak menyibukkan diri dengan persoalan-persoalan stratejik kebijakan. Jadinya pendidikan nasional seperti lari cepat dengan membawa beban berat, tapi ke arah yang keliru!

Tulisan Acep Iwan Saidi dan Mohammad Abduhzen baru-baru ini di harian ini pula telah menguliti sesat pikir dan legal kebijakan UN. Dapat dipastikan UN akan terus menjadi polemik nasional, justru karena Kemdikbud kurang fokus pada arah pendidikan di lansekap baru Abad 21. Anggaran yang besar untuk Kemdikbud terbukti tidak efektif meningkatkan relevansi pendidikan nasional. Mengapa? Kemdikbud keliru mengambil pertempuran yang sebenarnya. Masalah pendidikan kita sebenarnya tidak di UN, tapi di sekolah.

UN sebenarnya hanya gejala dari penyakit kronis yang disebut schoolism. Dia adalah seperti demam akibat malaria. Ini adalah penyakit yang muncul akibat menyamakan pendidikan dengan persekolahan. Anak yang tidak bersekolah langsung dianggap kampungan dan tidak terdidik. Orang yang tidak punya gelar dianggap tidak kompeten. Para pejabat negara berlomba memburu gelar dengan cara apapun agar dianggap kompeten.

Saat ini kita melihat bahwa semakin banyak sekolah dan kampus dibangun tapi masyarakat kita tidak lebih terdidik. Ketua MK yang ditangkap KPK baru-baru ini adalah doktor hukum. DPR dipenuhi oleh orang dengan gelar akademik sederet tapi DPR adalah salah satu lembaga publik paling korup.

Salah satu fitur paling mencolok dari peradaban yang dengan congkak kita sebut modern ini adalah kerusakan lingkungan, konsumerisme, kehancuran rumah tangga, dan sekolah! Memang sejak semula sekolah diciptakan sebagai pendukung pokok bagi industri yang berkembang selama 200 tahun terakhir ini dengan menyediakan tenaga trampil untuk bekerja di pabrik-pabrik skala besar. Sejarah menunjukkan kemudian bahwa tugas pendidikan oleh keluarga di rumah diambil alih oleh sekolah,  dan tugas produktif berbasis rumah tangga berskala kecil diambil alih oleh pabrik. Bersamaan dengan itu kita saksikan kehancuran lembaga keluarga. Data-data menunjukkan bahwa saat ini terjadi sekitar 35 perceraian/jam di Indonesia.

foto: Merdeka.com

Tawuran pelajar antar-sekolah di kota-kota besar, penyalahgunaan narkotika oleh remaja, penggunaan kendaraan bermotor tanpa SIM oleh pelajar, angka kematian Ibu melahirkan yang tinggi, dan gizi buruk adalah bukti betapa keluarga Indonesia saat ini dalam kondisi mengdapi tantangan besar tapi dilupakan dalam banyak kebijakan publik. Perilaku pelajar di bawah umur putra seorang pesohor yang menyebabkan kecelakaan maut baru-baru ini oleh Daoed Joesoef ini disebut salah asuhan. Saya menyebutnya asuhan sekolah saat keluarga tidak lagi kompeten mendidik anak-anak biologis yang dilahirkannya. Sekolah-sekolah saat ini praktis beroperasi hampir sama dengan panti asuhan yatim piatu.

Bersamaan dengan pelemahan lembaga keluarga, sekolah menjadi tempat untuk menyombongkan diri. Konsep diri anak tidak dibentuk di rumah, tapi di sekolah, atau di luar sekolah seperti geng motor. Bagaimana banyak pelajar di Kamal, Madura, kebut-kebutan menjelang maghrib hampir setiap hari dengan suara knalpot memekakkan telinga bisa mengejutkan kita. Ikatan alumni sekolah “favorit” menjadi simbol kebanggaan kelompok masyarakat tertentu, sementara alumni sekolah pinggiran kehilangan kepercayaan dan harga diri.

Sugata Mitra

Sementara itu, gelombang internet diam-diam sedang merobohkan tembok- tembok sekolah. Hampir semua pertanyaan murid bisa dicari jawabnya di internet, bahkan jauh lebih kaya daripada jawaban yang mampu diberikan oleh kebanyakan guru. Sir Ken Robinson mengatakan bahwa sekolah sudah tidak kita butuhkan lagi. Sementara itu, Sugata Mitra membuktikan bahwa anak-anak yang normal tidak membutuhkan sekolah untuk belajar. Dia menyebut Self-Organized Learning Environment (SOLE) dengan kurikulum yang lentur menyesuaikan kebutuhan, bakat dan minat anak bisa mengganti sekolah dengan biaya yang jauh lebih murah, tapi jauh lebih efektif untuk belajar.

40 tahun yang lalu, sebelum internet ada, Ivan Illich telah mengusulkan jejaring belajar (learning webs) untuk menggantikan sistem persekolahan. Sekolah bisa menjadi salah satu simpul dalam jejaring belajar ini. Pusat-pusat kegiatan masyarakat seperti toko, bengkel, pasar, klinik, museum, perpustakaan, radio, kebun binatang,  bahkan kantor polisi dan terminal bisa menjadi simpul-simpul SOLE yang menyediakan kesempatan magang dan learning by doing atau learning by making things. Keluarga adalah salah satu SOLE terpenting dalam jejaring belajar tersebut. Belajar dan bekerja terjadi secara sekaligus dan sistemik.

Pada saat peran sekolah semakin berkurang dalam sistem pendidikan kita di era digital baru ke depan ini, keluarga di rumah perlu kita perkuat agar mampu memikul tugas-tugas pendidikan dan produktif. Di tengah krisis lingkungan, krisis ekonomi, dan krisis keluarga dalam skala global ini, harapan kita terletak di rumah,  tidak di sekolah. ***