Semua pendidik pastinya pernah bertanya pada dirinya sendiri “Apa yang paling utama dibelajarkan ke murid?” Entah saat malam terjaga atau pagi hari saat berangkat mengajar, jawab pertanyaan itu pasti pernah dicoba direnungkan.

Apakah tiga hal, yakni sikap, keterampilan, dan pengetahuan, yang sudah begitu jamak diucapkan itu memang paling utama? Apakah murid yang sampai meninggalnya tetap ingat tanggal lahirnya R.A. Kartini itu menunjukkan gurunya berhasil? Apakah murid yang sampai meninggalnya mampu mengulang rumus luas segitiga menunjukkan gurunya berhasil?

Jadi, apa yang paling utama dibelajarkan?

PEMAHAMAN

Selain sikap, keterampilan, dan pengetahuan, ada yang lebih mendasar, yakni pemahaman. Dan, pemahaman ini justru yang sebenarnya menentukan pengembangan sikap, keterampilan, dan pengetahuan seseorang dalam hidupnya. Tanpa pemahaman, maka sikap, keterampilan, dan pengetahuan tak akan mungkin berkembang secara berkelanjutan.

Pemahaman beda dengan pengetahuan. Jika pengetahuan adalah kata benda, pemahaman adalah frasa. John Dewey menyatakan pengetahuan sebagai kumpulan fakta, sedangkan pemahaman sebagai pemaknaan terhadap kumpulan fakta.

Di pelajaran Sejarah, misalnya, kapan Perang Diponegoro terjadi adalah pengetahuan. Tetapi, bahwa sejarah adalah cerita dan siapa yang menceritakannya mempengaruhi bagaimana sejarah itu disajikan adalah pemahaman. Di pelajaran bahasa atau membaca, bahwa kadang penulis menyampaikan gagasan secara tak tersurat langsung dan pembaca harus menafsirkan pesannya adalah contoh sebuah pemahaman. (Mc Tighe dan Wiggins, 2004, hal. 85-86.)

Pengetahuan dapat ditemukan saat membaca buku, tetapi pemahaman hanya dapat dibangun justru saat menutup buku, mereflesikannya, dan kerap mendiskusikannya. Pemahaman itu seperti pesan moral dari sebuah novel. Pemahaman awalnya sering tak terlalu obvious atau gamblang, tetapi secara perlahan akan menjadi semakin mengkristal tepat menggambarkan makna dari kumpulan fakta yang diamati. Pengetahuan dapat diceramahkan, tetapi pemahaman harus diresapi sendiri oleh sang pemelajar.

Pernyataan Winston Churchill bahwa sejarah ditulis oleh pemenang adalah sebuah contoh pemahaman. Kesesuaian pernyataannya dengan realitas serta nuansa sindiran yang disiratkannya perlu ditafsirkan dahulu. Rumus Newton F = ma adalah pengetahuan. Tetapi, bahwa berat bukanlah massa merupakan pemahaman. Bahwa berat benda tergantung pada lokasi benda itu juga merupakan pemahaman. Ini fakta versus makna dari fakta.

Rangkaian benda adalah pengetahuan, tetapi pola dari rangkaian benda itu adalah pemahaman. Perbedaan ini diungkapkan dengan apik dalam film A Beautiful Mind. Saat John Nash bersama calon istrinya memandang bintang di langit, John dapat melihat berbagai objek pada susunan bintang itu. Dia menemukan pola dari rangkaian bintang dan memaknainya.

Saat seseorang merefleksikan berbagai pemahaman dalam hidupnya, diharapkan rangkaian pemahaman ini akan mengkristal menjadi value atau nilai yang dipegang. Nilai-nilai seperti integritas, mencintai sesama, kedermawanan, dsb terbangun berfondasikan susunan pemahaman.

KURIKULUM

Dalam beberapa dokumen kurikulum pendidikan atau standar belajar era sekarang, pemahaman sudah dituliskan secara eksplisit dan sistematis bersama pengetahuan dan keterampilan yang terkait. Hal ini sangat membantu guru dalam merekacipta pembelajaran sekaligus menjalankan proses pembelajaran sehari-hari. Ini memampukan guru fokus mengorkestra proses pembelajaran agar para murid merajut pemahaman yang disasar tersebut.

Sebagai ilustrasi, standar belajar matematika di negara bagian Virginia, AS, sudah menuliskan secara eksplisit pemahaman apa bagi siswa di tiap jenjang. Misalnya, sebuah pemahaman yang harus dirajut siswa kelas 1 adalah “satu himpunan benda dapat dipisah-kelompokkan (sort) dengan banyak cara yang berbeda.” Pengetahuannya adalah bentuk, warna, ukuran, dsb. Keterampilannya adalah memisahkan, mengelompokkan, dsb. Perlu dicatat di sini bahwa kalimat pemahaman yang canggih sarat makna itu bukan untuk dibaca siswa, tetapi bagi guru dan akan membantu guru dalam memperkaya pembelajarannya. Sasaran pembelajaran akan menjadi jelas dan terpusat.

Tidak saja di luar negeri, beberapa sekolah di tanah air sekarang pun sudah merumuskan pemahaman untuk tiap jenjang dalam dokumen kurikulumnya. Sekolah-sekolah ini telah berhasil menuliskan secara rinci pemahaman lengkap dengan pengetahuan dan keterampilan yang harus dibelajarkan.

Dari keadaan yang baik ini, sebenarnya Balitbang Kemdikbud dapat menindakinya. Ke depan, sejatinya Balitbang Kemdikbud bersama Dinas Pendidikan dapat memfasilitasi pengimbasan kecakapan merumuskan kurikulum di tingkat sekolah itu ke semua sekolah. Sasarannya agar pendidik di Indonesia cakap dalam mengembangkan kurikulum yang sesuai dengan sekolahnya. Juga agar sikap para pendidik yang sudah memiliki gairah mengembangkan kurikulum dapat menular ke pendidik lain. Yang penting bukanlah dokumen kurikulumnya, tetapi justru kemampuan merumuskan kurikulum yang memperhatikan pemahaman, pengetahuan, dan keterampilan dengan rinci dan akurat. Dokumen adalah benda mati, tetapi kemampuan akan senantiasa hidup.

Karena itu, jika belum ada, Balitbang perlu merancang strategi pengembangan profesi guru dalam peningkatan kecakapan merekacipta kurikulum sekaligus mengevaluasi pemahaman. Di zaman sekarang dan esok, guru yang memahami pemahaman adalah keharusan. ***