Bicara pendidikan, hampir pasti kita bicara pengetahuan. Walaupun pendidikan (semestinya) tidak berhenti pada pengetahuan belaka. Pengetahuan – mengenai apapun, apabila ditilik secara holistik, adalah sangat kompleks, luas dan dinamis. Yang sangat penting di sini, keluasan dan kompleksitas yang melingkupi butir-butir pengetahuan tersebut, sebetulnya merupakan bagian tak terpisahkan dari pengetahuan itu sendiri.

Mengumpulkan pengetahuan adalah salah satu titik awal proses belajar manusia yang serba kompleks dan multidimensional. Setelah sekian lama sekolah-sekolah melalui para guru berupaya mengajari siswanya berbagai pengetahuan yang (menurut kita para pendidik) dibutuhkan oleh para siswa bagi kehidupannya sewaktu dewasa, ada baiknya kita berhenti dan melihat kembali apa dan bagaimana sebetulnya butiran-butiran pengetahuan yang kita jadikan bahan ajar (materi) untuk anak-anak kita. Apakah yang sesungguhnya telah kita lakukan dalam memandang dan menggambarkan pengetahuan dalam proses pembelajaran anak-anak kita di sekolah? Apakah cara kita menyajikan pengetahuan memang membantu mereka dalam proses belajar, selain untuk mengetahui, juga memahami dan kemudian menghayatinya.

Linear Thinking

Dari A ke B ke C…

Dalam ranah proses kognitif, ilustrasi di atas menggambarkan apa yang disebut sebagai Linear Thinking. Ini adalah bagaimana konstelasi pengetahuan yang serba kompleks, penuh dinamika dan saling terkait diterjemahkan ke dalam satu rangkaian proses yang linier, satu arah, satu jalur, dari satu hal ke hal lain, dari satu bab menuju bab berikutnya. Singkatnya begitu banyak hal-hal yang dihilangkan dari kompleksitas dan dinamika situasi yang sesungguhnya. Disederhanakan, dihilangkan kerenikannya. Membuatnya lebih parah adalah bagaimana pengetahuan ini kemudian disampaikan di sekolah. Sekolah (saat ini) melalui guru-gurunya menyuguhkan rangkaian pengetahuan yang linier – satu dimensional – dilakukan dalam jam pelajaran dan bidang studi yang terpisah-pisah oleh guru mata pelajaran yang berbeda pula.

Dua atau Tiga dimensional?

Lalu bagaimana cara yang tepat mengajak anak dalam memandang pengetahuan? Apakah pengetahuan lebih tepat dipetakan secara dua dimensional – seperti peta pikiran (mind-map) di atas ini? Pengetahuan digambarkan sebagai sebuah jaringan (web) dan kita bisa melihat bagaimana satu hal dapat dijabarkan lebih jauh ke cabang-cabang yang lebih kecil.  Sebaliknya, hal yang menjadi pusat mind-map sebenarnya adalah bagian dari jaringan yang lebih besar lagi. Jadi, apakah pemetaan dua dimensional ini memadai, sepertinya juga tidak, karena kompleksitas realita adalah luar biasa – mungkin tak terbatas – dan sangat multi dimensional.

Kita coba bergerak lagi. Bagaimana kalau kita bayangkan lembaran mind-map tadi kita jadikan pembungkus sebuah bola, saya kira ini akan menghasilkan penggambaran pengetahuan yang lebih mendekati. Peta pengetahuan tidak lagi dua dimensional tapi menjadi tiga dimensional. Lebih lanjut, bola pengetahuan tersebut kita imajinasikan sebagai sebuah gelembung sabun yang transparan / bening – dengan butiran pengetahuan yang saling berkaitan tergambarkan di atas permukaannya, kita bisa melihat bahwa setiap butiran pengetahuan tidak pernah berdiri sendiri, selalu ada hal lain yang terkait (koneksi) dan melingkupi / melatar-belakanginya (konteks) – dan selalu bergerak. Melalui analogi ini, kita seharusnya bisa mulai memahami bagaimana kita tidak pernah bisa (boleh) mengisolasi materi pembelajaran apapun dari koneksi atau konteksnya. Kalau hal tersebut kita lakukan, butir pengetahuan tersebut akan kehilangan maknanya. Selanjutnya pada saat makna pengetahuan tersebut hilang, sang pembelajarpun akan mengalami kesulitan untuk memahaminya.

Dimensi ke Empat dalam Analogi Gelembung Sabun

Peta Pengetahuan Tiga Dimensional

Dalam upaya menyelami kompleksitas konstelasi pengetahuan, kita mungkin bisa juga menyadari bahwa ada satu dimensi lain yang kerap terabaikan (atau jangan-jangan sengaja diabaikan) saat kita menyajikan berbagai butiran pengetahuan ke alam pembelajaran anak-anak di sekolah. Dimensi ke empat – dimensi waktu. Dimensi waktu adalah salah satu dimensi terpenting yang sering dihilangkan. Inilah yang menjadikan bahan pelajaran seakan-akan bisa ‘dibekukan’. Padahal dimensi waktu adalah satu hal yang senantiasa mengubah segala sesuatu di alam semesta ini. Tidak ada sesuatupun yang tidak berubah. Sebongkah batu di sudut suatu taman yang tidak pernah tersentuhpun tidak pernah sama kondisinya, detik ini dari detik yang lalu.“Nothing stays the same”; segala sesuatu selalu berubah dan dengan demikian pengetahuan-pun senantiasa berubah.

Dalam ranah pendidikan, kepingan pengetahuan atau keterampilan yang dibutuhkan di satu waktu bisa jadi sangat tidak dibutuhkan oleh peserta didik di dalam konteks waktu (atau situasi) yang berbeda. Sebagai contoh, satu pesies yang di tahun lalu kita sebut sebagai binatang langka, jangan-jangan di hari ini spesies tersebut sudah punah. Inilah sebabnya kita tidak bisa lagi sekedar bersandar pada buku-buku paket untuk panduan pembelajaran anak-anak di kelas. Saat ini perubahan terjadi begitu cepat. Materi pembelajaran di sekolah seharusnya dipandang sangat dinamis sifatnya, tidak mungkin distandarisasikan dan serba di sama ratakan. Lebih jauh lagi, yang semestinya dibangun pada anak-anak adalah kemampuan mereka untuk menggali dan mengolah pengetahuan sesuai kebutuhan kehidupannya – sekarang maupun kelak. Yang menjadi penting adalah bukan butir pengetahuannya semata – yang kita tahu pasti akan berubah dan nyaris bisa dipastikan tidak lagi relevan pada saat anak kita dewasa. Dari sudut pandang ini, kita bisa memahami kenapa pertanyaan-pertanyaan tertutup, pilihan ganda yang mengandalkan hafalan belaka hampir tidak ada manfaatnya bagi proses berpikir dan belajar anak-anak kita.

Kembali ke analogi gelembung sabun, saat melayang di udara, gelembung sabun senantiasa bergerak, ada yang saling menempel, berputar, ada yang kemudian pecah dan lain sebagainya. Demikianlah kompleksitas dan dinamika pengetahuan yang terserak di semesta ini. Sementara semesta tidak berhenti menghembuskan gelembung-gelembung pengetahuan yang baru. Kita harus mampu mengajak anak-anak belajar memahami pengetahuan di dalam kompleksitas dan dinamikanya sekaligus agar mereka mampu menempatkan diri dan mengolah butiran pengetahuan tersebut menjadi bermanfaat bagi dirinya dan lingkungan sekitarnya.

Koherensi Proses Pembelajaran dan Pemetaan Pengetahuan 

Kompleksitas dan Dinamika Pengetahuan – Analogi Gelembung Sabun

Apa yang saya coba uraikan di sini adalah pentingnya kita memahami karakteristik pengetahuan itu sendiri, sebelum kita mulai mengolah dan menyajikannya kepada para murid. Hal ini adalah salah satu penentu keberhasilan proses pembelajaran. Metode, pola atau pendekatan yang diambil sangat bergantung pada bagaimana kita memandang pengetahuan.

Kata kuncinya adalah KOHERENSI – yang mungkin dapat diterjemahkan secara sederhana sebagai kesejajaran. Apakah pengetahuan yang disusun dan disajikan di ke dalam ruang belajar anak-anak kita – di kelas – mampu merepresentasikan situasi nyata dari mana pengetahuan tersebut bersumber. Semakin kecil tingkat koherensinya, kita harus berani berpikir bahwa tingkat keberhasilan pembelajaran akan semakin sulit dicapai karena pengetahuan yang kita sajikan begitu berjarak terhadap apa yang sesungguhnya ada / terjadi. “Gak nyambung”, begitu kira-kira. Pada saat pengetahuan gak nyambung di dalam ruang pembelajaran anak-anak, tentunya pengetahuan betapapun pentingnya, menjadi tidak bermakna. Dalam bahasa gaul anak-anak kita sekarang istilahnya “GJ” (Gak Jelas) dan kemudian tidak salah apabila merekapun berujar: “EGP” (Emang Gua Pikirin?).

Kesimpulannya? Untuk menemukan maknanya di dalam pembelajaran, komponen pengetahuan tidak boleh dilepaskan dari kompleksitasnya. Dalam pandangan pendidikan holistik, koneksi dan konteks-lah yang justru menjadi penting untuk membangun makna bagi setiap butiran pengetahuan yang ingin kita sajikan kepada anak-anak kita. ***