Beberapa waktu lalu ketika saya sedang browsing di Internet, saya menemukan video menarik dari Dr. Tae yang berjudul “Building a New Culture of Teaching and Learning”. Video yang dipecah menjadi tiga ini sungguh menarik! Pada intinya ia berusaha menjelaskan kenapa sekolah formal dan universitas itu payah. Dr. Tae sendiri adalah pribadi yang menarik. Minatnya ada di bidang Fisika, Pendidikan, dan skateboard! Bila ingin mengenalnya lebih jauh, silahkan kunjungi situsnya.

Dr. Tae membagi video ini menjadi empat bagian: tiga bagian untuk menjelaskan masalah yang ada di universitas dan sekolah saat ini, serta satu bagian terakhir untuk menjelaskan solusi yang ia tawarkan. Saya akan merangkum secara singkat masalah yang ia bicarakan beserta solusi akhirnya.

Masalah 1: Sekolah tidak merekruit guru berkualitas

Prof. Leon Lederman, seorang peraih Nobel di bidang Fisika pada tahun 1988 yang juga memiliki sekolah sains, berkata pada sebuah wawancara bahwa universitas saat ini gagal mempertahankan antusiasme siswa yang baru lulus dari SMA dalam bidang sains. Ia menjelaskan data statistik bahwa 50% mahasiwa sains mengalihkan fokus studinya ke bidang non sains setelah beberapa waktu. Kenapa?

Karena kelasnya tidak terasa personal. Kelas begitu penuh dengan murid lain, lalu dosen (atau seringkali hanya asistennya) tidak bisa membuat suasana kelas menjadi hidup, para mahasiswanya mengerjakan hal-hal lain termasuk mengecek Facebook dan Twitter mereka. Btw, kalau di Indonesia sih masalah depersonalized classroom ini sudah sejak sekolah menengah! Masalahnya bukan hanya dosen dan gurunya, tapi juga pada kepemimpinan di lembaga-lembaga pendidikan kita yang mengijinkan format kelas semacam itu sebagai format yang bisa diterima untuk mengajar dan belajar! Bapak Ibu pengelola lembaga pendidikan, silahkan baca buku Brain Rules karya John Medina yang menunjukkan bukti-bukti ilmiah bahwa format kelas semacam itu sangatlah bertentangan dengan cara kerja alami otak manusia.

Kembali ke video Dr. Tae. Ia kemudian menjelaskan bahwa di level pendidikan menengah di Amerika juga ada krisis pengajar. Ada data statistik menunjukkan bahwa lebih dari 90% guru yang mengajar kelas IPA dulunya tidak pernah berfokus mengambil pelajaran IPA saat kuliah. Ya, saya tidak salah ketik, bukan 9% atau 19%, tapi lebih dari 90%! Di sini? Tidak tahu data pastinya, saya sepertinya harus mencari tahu.

Jadi, inti masalah pertama ini adalah: sekolah tidak merekruit guru-guru yang berkualitas. Universitas merekruit dosen untuk melakukan riset, bukan untuk mengajar. Ini maksudnya di Amerika ya, kalau di sini sih buat mengerjakan proyek pemerintah. He he. Dr. Tae mengatakan bahwa banyak dosen di Amerika yang mengatakan kelas-kelas yang harus mereka ajar sebagai “teaching burden” alias “beban mengajar” Wah, sama donk, di sini juga! Makanya di sini, semakin senior dosen, semakin sedikit dia mengajar kelas (ditimpakan ke dosen yunior) dan semakin banyak mengerjakan proyek. Betul kan? Lalu untuk sekolah menengah, Dr. Tae mengatakan masalahnya adalah banyak guru yang bersertifikasi tapi tidak punya kualifikasi mengajar. Wah, sama lagi nih! Di sini pun demikian, guru pada rebutan sertifikasi, tapi kualifikasi tetap dipertanyakan.

Dr. Tae menjelaskan bahwa ia terjun ke dunia sains karena pengaruh dua orang guru hebat yang menjadi sumber inspirasinya, bukan karena peralatan canggih di lab sekolah, atau papan tulis interaktif, dll. Ya, saya sepakat. Sepanjang saya membaca berbagai literatur dan artikel pendidikan, semuanya sepakat bahwa faktor paling berpengaruh terhadap kualitas pendidikan adalah kualitas guru. Saya ulangi, semuanya sepakat! Begitu pentingnya arti guru bagi pendidikan. David Griffith berkata, “…hal terpenting yang bisa kita lakukan untuk meningkatkan kualitas kelas sains kita adalah dengan cara merekruit, menghargai, dan mempromosikan guru yang berkualitas.”

Sayangnya para guru kita masih belum bersinergi untuk mendobrak sistem pendidikan yang membelenggu murid dan membelenggu para guru sendiri. Beberapa guru saja di sana-sini yang secara sporadis berani melakukan eksperimen di luar sistem yang kaku. Kalau saja para guru menyadari bahwa kalau mereka belum menjadi bagian dari solusi masalah, maka mereka masih menjadi bagian dari penyebab masalah…

Dua masalah berikutnya serta solusi yang ditawarkan Dr. Tae akan saya bahas di beberapa posting berikutnya. Tungguh yah. ***