Dalam posting kali ini saya akan melanjutkan pembahasan mengenai video dari Dr. Tae tentang membangun budaya belajar dan mengajar yang baru. Video di bawah ini adalah video ke-2 dari Dr. Tae, sedangkan link untuk bagian pertama dan terakhir ada di bawahnya.

Setelah sebelumnya membahas masalah pertama dari tiga masalah yang ia ajukan sebagai penyebab buruknya kelas sains secara khusus dan pendidikan pada umumnya saat ini, sekarang saya akan merangkum tentang masalah kedua dan ketiga:

Masalah 2: Format kelas

Dr. Tae adalah seorang Fisikawan, maka dalam video ini ia lebih banyak membahas tentang kelas sains. Ternyata menurut Dr. Tae, kelas sains yang ada saat ini pun tidak memenuhi kaidah-kaidah sains. Nah lho? Padahal saya pikir kelas-kelas yang ada di sekolah formal saat ini cocoknya ya hanya untuk pelajaran sains karena mengorbankan pelajaran non-sains seperti seni, sejarah, dan lainnya. Ternyata menurut Dr. Tae kelas sains yang ada sekarang justru mematikan minat siswa pada sains. Mengapa?

Karena kelas sains seringkali justru tidak “scientific”. Para siswa hanya duduk saja, kalaupun ada kegiatan lab biasanya membosankan atau tidak meyakinkan.  Biasanya siswa harus menghapalkan diagram, rumus, dan istilah-istilah sulit di untuk diuji, walaupun mereka tidak paham maksudnya. Para guru sains tidak perlu memaparkan banyak bukti karena mereka toh punya otoritas. Terletak di mana otoritasnya? Pada haknya memberi nilai bagi para siswa.

“Siapa yang butuh bukti? Sains sudah pasti benar karena gurunya berkata begitu, dan para siswa harus setuju dan menghapalkan bila ingin mendapat nilai bagus.” Inilah pesan yang tersampaikan pada para siswa bila gurunya tidak paham sains. Padahal ini sangat bertentangan dengan sains.

Menurut Dr. Tae, harusnya kelas sains dijalankan seperti acara Mythbusters di TV. Pada acara itu, sekumpulan ilmuwan dihadapkan pada “mitos ilmiah” yang umum dipercaya, untuk dibuktikan kebenarannya (atau kesalahannya). Di bawah ini saya berikan contoh video Mythbusters. Kelas sains seharusnya penuh berisi eksperimen dan menemukan prinsip-prinsip sains sendiri.

Yang dicontohkan Dr. Tae ini memang kelas sains. Namun masalah format kelas yang tidak cocok dengan pelajaran dan tujuan yang ingin dicapai ini sebenarnya tidak hanya pada kelas sains saja. Demikian pula yang terjadi pada pelajaran lain. Kelas bahasa, misalnya. Almarhum kakek saya yang kepala sekolah dan guru bahasa (Inggris, Belanda, Jerman, dan Jepang) dulu sering mengatakan bahwa siswa di sekolah diajari bahasa Inggris, bukan diajari berbahasa Inggris.

Namun bila mau kita tarik lebih jauh, format kelas yang salah pun bukanlah akar masalah di Indonesia. Format kelas yang ada saat ini sudah tepat… bila yang dikejar adalah menjejalkan seluruh isi kurikulum yang begitu padat untuk dihapalkan oleh siswa dalam periode singkat tahun ajaran sebelum diujikan pada mereka di Ujian Nasional. Ya, Ujian Nasional, yang memaksa guru melakukan “teaching to the test”, adalah salah satu sumber masalah terbesar pada pendidikan kita. ***