Ini adalah posting bagian keempat dari seri video Dr. Tae. Setelah posting pertama, kedua, dan ketiga membahas tentang masalah yang kita temui di sekolah formal, pada video ketiga ini Dr. Tae merekapitulasi penyebab masalah serta menawarkan solusinya. Di posting kali ini saya akan bahas rekapitulasi masalahnya.

Jadi, apa saja yang salah di sekolah? Saya akan bahas beberapa perbandingan yang ada pada videonya:

>> Sekolah memiliki waktu dan periode belajar yang kaku. Yang terjadi adalah seorang siswa bisa dipotong proses belajarnya untuk mendapat materi baru walaupun ia belum paham konsep materi sebelumnya. Dalam proses belajar di sekolah, siswa akhirnya memasukkan faktor waktu sebagai salah satu faktor penentu. Mereka akan beranggapan bahwa bila mereka tidak bisa paham teori dasar kalkulus dalam waktu satu minggu maka mereka tidak akan pernah bisa pahami teori itu selamanya.

Cara semacam itu sama dengan seandainya semua bayi yang sedang belajar berjalan kita beri kesempatan 10x percobaan, yang berhasil kita kasih nilai 10, yang gagal kita kasih nilai 4, setelah itu kita pindah ke pelajaran lain tanpa memastikan semua akhirnya bisa berjalan. Aneh… Bila materi yang diajarkan itu penting, bukankah siswa tersebut selayaknya diberi kesempatan mempelajari sampai benar-benar paham? Bila materi yang diajarkan itu tidak penting untuk si siswa, lalu kenapa diajarkan? 🙂

>> Sekolah itu koersif alias memaksa. Bukannya memberi alasan yang baik bagi siswa untuk belajar, biasanya sekolah melakukan pemaksaan dengan menggunakan kewenangan memberi nilai sebagai alat kekuasaan. Proses belajar harusnya self-motivated. Memunculkan motivasi diri siswa itulah yang jadi tantangan bagi para guru. Siapa yang bilang jadi guru itu mudah? 🙂

>> Pemberian nilai di sekolah oleh guru adalah sertifikasi semu. Banyak siswa mengira mereka sudah menguasai dan menjadi ahli dalam suatu materi karena mendapat nilai baik, dan lebih banyak lagi yang mengira bahwa mereka tidak akan pernah bisa menguasai suatu materi karena mendapat nilai jelek di sekolah. Pembelajaran yang baik seharusnya bisa memfasilitasi siswa untuk secara jujur mengevaluasi diri sendiri.

>> Sekolah juga harus memikirkan masalah kecurangan atau ketidakjujuran akademis oleh para siswanya. Sebenarnya akan lebih baik bila sekolah meniadakan “insentif” untuk berbuat curang, dalam hal ini: nilai. Di sekolah dikembangkan budaya kompetisi dengan teman satu tingkat. Padahal di dunia nyata saat ini, kolaborasi justru menjadi kata kunci kesuksesan. Menurut saya, siswa seharusnya belajar berkompetisi dengan standar performa diri yang ia tetapkan sendiri, bukan dengan teman-temannya yang seharusnya lebih didorong untuk saling berkolaborasi.

Jadi kesimpulan Dr. Tae, kalau kita ingin menciptakan suasana pembelajaran yang baik, buat seperti saat orang belajar skateboarding (lihat posting kedua). Sedangkan kalau ingin mengacaukan proses pembelajaran, buatlah sistem seperti persekolahan saat ini. Waduh, nyelekit juga ya? Tapi saya juga pernah membaca kesimpulan semacam ini di buku Brain Rules karya John Medina yang mengungkapkan hasil riset-riset ilmiah tentang cara kerja alami otak. Katanya: para ilmuwan neuro-biologi belum tahu bagaimana format kelas yang ideal, tapi para ilmuwan tahu bahwa format kelas yang ada di sekolah saat ini adalah yang paling bertentangan dengan cara kerja otak.

Nah lho… Lalu apa solusi yang ditawarkan Dr. Tae? Lihat di posting berikutnya ya.***